Menebar Ukhuwah

Blognya Ibnu Syarif Hidayat

Seminar Nasional Pendidikan Islam

Posted by Ibnu Syarif Hidayat 3,907 Comments

Selasa 19 April 2011, HMJ PAI dan IMM FAI UMY mengadakan Seminar Nasional Pendidikan Islam dengan tema “Urgensi Pendidikan Islam Untuk Perdamaian Dunia “ , Menggagas Kembali Orientasi dan Kurikulum Untuk Sekolah ,Madrasah dan Pesantren. di gedung AR Fachruddin B Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Menghadirkan Bapak Noor Huda Ismail, M.A (direktur yayasan prasasti perdamaian dan penulis buku best seller “ temanku teroris”). Dengan Tema “pesantren di tengah isu terorisme dan urgensinya dalam membangun perdamaian” Beliau bercerita tentang pengalamannya ketika di Ngruki, ketika beliau memilih jalan yang berbeda dengan temannya yg melakukan aksi bom terorisme. Sedangkan dia memilih untuk jalur perdamaian. Beliau terkejut ketika temannya satu kamar yang menjadi salah satu pelaku terorisme di Indonesia.

Menurut beliau, kebanyakan karena mempunyai ide purifikasi yang kebablasan dan karena  lemahnya tradisi “critical thinking”. Sebenarnya pesantren itu bukan produksi teroris tapi hanya saja beberapa pelaku memang pernah di pesantren. Beliau pernah ke irlandia utara, yang pelaku teroris ya bukan orang islam, orang non islam malahan. Yang ada di Eropa peperangan terorisme malah bukan karena agama, tetapi malah karena Persepakbolaan, alias terorisme peperangan karena perbedaan supporter bola.” Memang teroris ada yang muncul di pesantren, tetapi tidak semua orang di pesantren seperti itu” seperti beliau ini, malah dia memilih jalur perdamaian untuk dunia, sehingga beliau membuat Yayasan yang bernama Yayasan Prasasti Perdamaian dan Penulis Buku Best Seller  “Temanku Teroris”. Alumni Pondok Pesantren Al-Islam Ngruki Solo .

Beliau bercerita, bahwa mungkin karena kondisi seorang teroris, salah satunya adalah temannya dulu di Pondok Pesantren, bahwa Karena psikologi pengebom di Indonesia contohnya, itu karena mereka melihat di luar negeri, ketika ummat Islam dibantai di Palestina, Irak, Afghanistan dan sebagainya. Jadi ketika Psikologi seseorang itu sudah tergoyahkan karena saudara-saudara seagamanya disakiti seperti itu, jadi mereka berpikir untuk membalasnya dengan aksi-aksi yang serupa, yang diidentikkan dengan musuh mereka. Jadi mereka merasa tidak rela, ketika saudara-saudara seagamanya di mainkan, di murtadkan dan sebagainya.

Perdamaian Sosial, 4 tahapan CT Prevention (Pencegahan) : Kurikulum pendidikan Islam harus dipikirkan secara kritis, jangan hanya sami’na wa atho’na. Pre Detention, Detention, Post Detention. Kemudian dapat memfasilitasi dalam membuat pola ajar yang lebih terpadu. (Respecting vibrant local culture)

Beliau senang di undang universitas, karena mahasiswa adalah agen bangsa. Generasi penerus yang akan memimpin bangsa ini. Kesimpulan beliau untuk pendidikan yang cinta damai :

1. Diperlukan bahan dan cara pengajaran yang lebih menekan ‘critical thinking’ dari pada hafalan.

2. Aksi terorisme didasari sebuah ideology bahwa : “Aksi terorisme mereka ini adalah jihad sebagai aksi ‘qishos’ (balas dendam) yang dibenarkan oleh syariah.”

3. “In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa-‘tum falaha” (Al-Isra : 7)

(Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri)

Orang yang terlibat aksi kekerasan, mereka mendefinisikan bahwa Jihad itu adalah qisos, aksi pembalasan mereka terhadap penganiayaan orang-orang kafir terhadap ummat Islam. Jadi mereka menghalalkan itu. Padahal, kafir itu ada dua, yaitu kafir Dzimmi, dan Kafir Harbi. Kafir Dzimmi adalah kafir yang haram untuk diperangi. Bahwa darah, kehormatan mereka itu haram bagi kaum muslimin karena mereka tidak memerangi kita, kaum muslimin dan mereka juga taat kepada pemerintah Islam. Beda dengan kafir Harbi yang memang memerangi kaum muslimin, mereka halal darahnya karena memusuhi kita. Yaitu karena kita mempertahankan diri bukan untuk menyerang terlebih dulu. Berbeda dengan dimana Negara yang sedang diperangi oleh orang-orang kafir adalah kaum Muslimin. Beliau membuat buku karena ingin berjuang melewat tulisan. Kalau anda ingin merubah dunia mulailah dari diri anda. Ketika kita menulis, kita sudah mentransfer pendapat kita untuk kemajuan bangsa lewat tulisan kita. Kita bisa bedakwah lewat apa saja, kita bisa berdakwah lewat ceramah misalnya, lewat media, lewat artikel. Dan sebagainya. Isu teroris bisa dipublikasikan dengan mudah lewat media. Maka saranbeliau, ummat Islam harus menguasai media yang ada . karena isu-isu tersebut mudah sekali digulirkan oleh media. Orang-orang cepat sekali menjustice terorisme terkait dengan agama tertentu misalnya. Karena media itu memang tidak ada yang netral. (Ibnu Syarif Hidayat-HMJ PAI)

Categories: Berita

PROFIL AKU

Profile photo of Ibnu Syarif Hidayat

Ibnu Syarif Hidayat


Popular Posts

Ilmu Developer Prope

Saya Pernah mengikuti seminar wirausaha developer properti yang diadakan ...

Asyiknya Kumpul di W

Beberapa waktu yang lalu, saya blogwalking ke beberapa sobat blogger, ...

Falsafah Hidup

Pada postingan saya kali ini, saya akan menyuguhkan kepada pembaca ...

Seminar Nasional Pen

Selasa 19 April 2011, HMJ PAI dan IMM FAI UMY ...

Buah Amal KH. Ahmad

Entah apa yang dipikirkan Darwisy waktu itu. Pernahkah dia berpikir ...