creativity without limits…

Innovation Better Than Tomorrow

Tulisan ini terkhusus untuk kalangan akademisi yang mengakui bahwa dirinya seorang pelajar atau mahasiswa atau orang terdidik.

Barusan saya mendapat telepon dari Ibu saya di Makassar, dia khawatir sekiranya kejadian yang sungguh sangat memalukan apakah juga terjadi di sini di Yogyakarta? Karena katanyanya beberapa hari yang lalu terjadi tawuran yang melibatkan lagi orang-orang terdidik dan juga orientasi mahasiswa sampai memakan korban jiwa lagi! Saya menjawab, di sini juga banyak kok teman – teman dari makassar yang merantau ke Jogja atau ke daerah mana pun di Jawa untuk menempuh pendidikan, namun perilaku beringas seperti itu alhamdulillah tidak ada dari kami. Kawan-kawan yang dilingkungan kami juga orangnya baik-baik dan ramah. Kami di sini kalau pun ada cek-cok membuat forum dan duduk bersama menyelesaikan masalah tidak sampai melakukan hal seperti itu. Kita disini bertempur dan bersaing dengan sepenuh jiwa raga dalam hal PRESTASI. Kemarin saya sewaktu Mataf/Ospek benar-benar merasakan namanya pengenalan kampus, pengenalan lintas fakultas dan jurusan, membina keakraban antara senior dan junior tapi disini tidak ada istilah senior junior karena terlalu mengkasta-kastakan. Kami sadar sebagai keluarga baru atau adik menghormati kakaknya begitu pula kakak menghormati dan menyayangi adiknya. Semua yang diperlakukan kepada kami secara beradab dan disambut sebagai orang yang harus dibina baik-baik agar kelak kami menjadi lulusan yang baik pula, saya menerangkan sampai ibu saya mengerti bagaimana kondisi dijogja dan dikampus saya sebenarnya.

Sungguh saya tidak habis kepikiran, bagaimana mereka yang terdidik itu melakukan hal seperti itu sampai-sampai memakan korban JIWA! Kita ini orang-orang terdidik, mana ada dosen atau guru yang mau agar kita menjadi preman-preman kampus, parasit, dan penghancur! Sampai saat ini saya masih bingung bagaimana cara pemikiran mereka dalam memanusiakan manusia, apakah sekedar memakai akal? ego? menunggangi teman-teman kita? Dunia kerja dan pendidikan tidak melihat prestasi anda dilapangan pertarungan siapa yang hidup atau mati. Kalau anda ataupun kelompok-kelompok anda ingin di agung-agungkan atau di hormati bangunlah dengan sesuatu yang positif. Sungguh kerugian yang sangat parah dan dahsyat menimpa kita seandainya hal seperti itu terus berlanjut. Paradigma seperti inilah yang harus di REVOLUSI oleh kawan-kawan di Makassar yang berpikir logis..

Sudahlah luruskan pemikiran kolot itu, anda-anda itu orang yang akan menjadi penerus sebuah bangsa yang besar ini. Bagaimana kelak nasib bangsa ini jika para penerusnya seperti itu? bagaimana bangsa kita bisa menjadi maju jika penerusnya seperti itu? Sudahlah kawan, kalau ingin bertarung, bertarung dengan karya-karya kalian, bangunlah sesuatu hal yang positif, pupuk rasa persaudaraan anda, anda di didik orang tua agar anda-anda dapat menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri dan orang disekitarmu.

Categories: Young On Top

PROFIL AKU

tulen


Popular Posts

Tawuran Masih Jaman

Tulisan ini terkhusus untuk kalangan akademisi yang mengakui bahwa dirinya ...

[Lomba Blog] Memulai

Sebuah kampus yang sering orang citrakan sebagai sesuatu yang berbau ...

Menikmati Hidup Di J

Hampir dua bulan hidup di Jogja merupakan pengalaman yang tak ...

[Tugas] Elektronika

Berikut beberapa rangkuman penjelasan dari materi perkuliahan Elektronika 1 yang ...

[Interview] Universi

Menjadi yang terbaik bukanlah suatu hal yang mudah, banyak tantangan ...