We Love Agriculture

Just another Blog UMY site

TEKNOLOGI PASCA PANEN
PENANGANAN PASCA PANEN SAYURAN DAUN
PAKCHOY (Brassica rapa var. Pekinensis)

Oleh:
Jati Romayanti
20150210160
Program Studi Agroteknologi

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2017

A. KEMASAKAN DAN KUALITAS

A.1. Pendahuluan
Sayuran dan buah-buahan dianggap sebagai makanan fungsional.yang mampu untuk memenuhi kebutuhan fisiologis sekaligus memberikan banyak manfaat bagi kesehatan (Kaur dan Kapoor 2002 dalam Azizuddin et al., 2016). Konsumsi buah dan sayuran yang tinggi akan memasok sejumlah besar nutrisi seperti mineral, Vitamin (vitamin A, vitamin C, vitamin B6, niacin dan thiamin) dan serat makanan (Azizuddin et al., 2016). Salah satu permasalahan penting produk hortikultura khususnya sayuran daun adalah pada proses penanganan pasca panen. Di Amerika Serikat kehilangan buah dan sayur segar diperkirakan berkisar 2%-23%, dengan rata-rata sekitar 12% kehilangan terjadi pada saat panen dan saat perjalanan ke tangan konsumen (Cappellini and Ceponis, 1984; Harvey, 1978 diacu dalam Anolita, 2008).

Gambar 1. Pakchoi (Brassica rapa var. Pekinensis)

Pakchoi (Brassica rapa var. Pekinensis) merupakan tanaman sayur daun yang termasuk ke dalam famili Brassicaceae dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pakchoi (Brassica rapa var. Pekinensis) memiliki genus yang sama dengan Kubis (B. oleracea var Capitata) dan juga biasa disebut sebagai Chinese chard, Chinese cabbage, petai bunga dan Buk choy. Ciri-ciri Pakchoi adalah memiliki daun halus (tidak berbulu) dan tidak mampu membentuk krop. Penampilan dari Pakchoi mirip dengan sawi akan tetapi lebih pendek dan kompak. Tangkai daun lebar dan kokoh, tulang daun dan daun seperti sawi hijau tetapi lebih tebal (Hariyanto et al., 2003 dalam Anolita, 2008). Pakchoi berasal dari Cina, kemudian berkembang pesat di daerah subtropis maupun tropis. Menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1998) dalam Anolita (2008) Pakchoi memiliki banyak kelebihan dibandingkan famili sawi-sawian yang lain diantaranya, waktu panen singkat, daya adaptasi luas (tidak peka terhadap perubahan suhu), dan kualitas produknya tahan lama karena dapat disimpan hingga 10 hari setelah panen pada suhu 0-5oC dengan kelembaban 95 %.
Seperti sayuran berdaun lainnya, Pakchoi memiliki daun yang rapuh dan kadar air yang tinggi, sehingga rentan terhadap kehilangan kualitas selama penanganan pasca panen. Setiap usaha dalam pananganan pasca panen perlu dilakukan untuk melindungi daging dan tangkai daun Pakchoi tetap turgid. Penanganan pasca panen yang kasar dapat menyebabkan kerusakan dan memar sehingga dapat menyebabkan Pakchoi layu dan mengalami kerusakan mekanis serta penurunan berat. Kehilangan atau penyusutan utama sayur Pakchoi selama penanganan pasca panen disebabkan oleh kerusakan mekanis yang akibat pengemasan dilapangan; penumpukan kemasan yan berlebih serta pencucian dan pengangkutan (Xianyang dan Bangshaw, 2001 dalam Anolita, 2008).

A.2. Indeks Kemasakan
Pakchoi dipanen apabila sudah berumur cukup tua (30-40 hari). Tingkat kematangan Pakchoi didasarkan pada ukuran krop atau pembentukan daunnya. Yaitu, daun dan pelepah daun yang sudah cukup besar dan cukup keras tetapi belum berbunga (kelewat masak daun dan pelepahnya menjadi ulet dan pahit, tangkai bunga memanjang). Bagian kepala batang kompak, karena apabila telah kelewat masak maka kepala batang akan pecah. Cara panen ada 2 macam yaitu dengan mencabut seluruh tanaman beserta akarnya ataupun dengan memotong bagian pangkal batang dengan pisau tajam (Marita Cantwell, 2014).

A.3. Indeks Kualitas
Para konsumen memperhatikan nilai kualitas suatu buah dan sayuran berdasarkan pada penampilan dan tingkat kekerasan yang baik, nilai rasa dan gizi. Kriteria yang mudah dilihat pada Pakchoi adalah pada perubahan warna daun terluar. Setelah memangkas daun bagian luar sayur Pakchoi, warna daun Pakchoi yang sesuai adalah warna khas kultivar (hijau), berat sesuai ukuran dan bebas dari serangga, pembusukan, pemunculan akar pada batang dan cacat lainnya. Daun harus crispy dan tetap turid, kemudian daun harus nampak kencang (Marita Cantwell, 2014).

B. LINGKUNGAN PENYIMPANAN DAN SIFAT PAKCHOI

B.1. Temperatur Optimum dan Freezing Injury
Sebagian besar sayuran dari keluarga Brassicaceae disimpan pada suhu 0 ° C (32 ° F) untuk mengoptimalkan umur simpan. Pakchoi lebih mudah rusak daripada jenis kubis lainnya sehingga harus didinginkan beberapa jam setelah panen dan disimpan secepat mungkin pada suhu ideal 0 ° C. Pakchoi dapat disimpan 2 sampai 6 bulan tergantung pada kultivarnya dan disimpan pada suhu 0 ° C sampai 2,5 ° C (32 ° F sampai 36 ° F) (National Agricultural Research Institute (NARI), 2016). Kerusakan sayuran dari keluarga Brassicaceae selama penyimpanan dikaitkan dengan pertumbuhan tangkai batang atau biji (baut), pertumbuhan akar, kerusakan internal, absorpsi daun, perubahan warna, pembusukan dan bintik hitam. Pada penyimpanan jangka panjang biasanya dilakukan pemangkasan pada daun yang rusak (Marita Cantwell, 2014).
Pakchoi yang disimpan pada suhu dibawah suhu beku (Freezing Injury) akan mengalami kerusakan fisiologis. Freezing Injury pada pakchoi akan menimbulkan gejala basah/encer pada bagian daun atau batang, yang kemudian akan memburuk dengan cepat setelah dicairkan. Freezing Injury dapat terjadi jika Pakchoi disimpan di bawah suhu -0,6 ° C (31 ° F) (Marita Cantwell, 2014).

B.2. Kelembaban Optimum
Pakchoi adalah sayuran daun yang rentan terhadap kehilangan kelembaban dan layu setelah panen. Sehingga untuk meminimalkan kerugian akibat rendahnya RH selama penyimpanan kelembaban relatif (RH) perlu diperhatikan (Hansen and Bohling 1981; Mathiassen 1986). Pakchoi dapat disimpan pada suhu 0 ° C selama beberapa minggu, Asalkan kelembaban relatif lebih besar dari 85% (Marita Cantwell, 2014).

B.3. Laju Respirasi
Pakchoi (Brassica rapa var. Pekinensis) adalah sayur an daun yang relatif tidak tahan lama dan dapat disimpan selama 3 bulan atau lebih dalam kondisi ideal (Schouten 1985; Wang 1985). Pakchoi dianggap memiliki laju respirasi yang cukup rendah (Marita Cantwell, 2014).yaitu:

B.4. Laju Produksi Etilen
Laju produksi etilen sayur Pakchoi umumnya sangat rendah. Namun Pakchoi peka terhadap pemberian etilen, sehingga dalam penyimpanannya diperlukan ventilasi agar laju etilen Pakchoi dapat dikontrol dan tetap rendah untuk menghidari adanya kerusakan fisik.

B.5. Respon Pakcoi Terhadap Etilen
Pakchoi peka terhadap etilen, dalam kondisi penyimpanan jangka panjang atau kondisi yang tidak menguntungkan, Pakchoi rentan terhadap absorbsi daun yang diinduksi etilen (Wang 1985) sehingga dapat menimbulkan menguningnya daun, bercak pada petiole yang juga dikenal seperti gomasho, flek hitam atau nekrosis vena (Phillips dan Gersbach 1988; Mathiassen 1986), pembusukan (Peters dkk. 1986; Pelleboer dan Schouten 1984), dan penurunan berat (Yong et al 1993). Ventilasi yang memadai selama penyimpanan penting untuk menjaga kadar etilen tetap rendah (Andreas et al., 2001).

B.6. Respon Tehadap Controlled Atmosphere
Storage athmosphere merupakan penyimpanan sayuran dalam ruang simpan yang komposisi udaranya diatur (dikendalikan). Komposisi udara di dalam ruang simpan dapat mempengaruhi umur simpan sayuran. Controlled atmosphere storage merupakan penyimpanan dalam udara terkendali dengan menurunkan konsentrasi oksigen dan meningkatkan konsentrasi karbondioksida.
Keuntungan Controlled Atmosphere (CA) pada penyimpanan hasil panen Pakchoi adalah penurunan laju respirasi produk dan faktor terkait yang berhubungan dengan pematangan dan penuaan normal. Selain itu, konsentrasi O2 dan CO2 spesifik dapat mengurangi tingkat kerusakan fisiologis dan mengurangi kerentaan terhadap patogen. Aplikasi teknologi CA pada sayuran Pakchoi (Brassica rapa var. Pekinensis) dapat memperpanjang umur simpan, menjaga warna dan rasa kubis, menghambat pertumbuhan akar dan batang, dan mengurangi absorpsi daun (Paul Daly dan Bruce Tomkins, 2016).
Wang (1983) dalam Paul Daly dan Bruce Tomkins (2016), menyatakan bahwa pada suhu 0oC, atmosfir O2 1% dapat memperpanjang masa penyimbanan Brassica sampai lima bulan. Setelah tiga bulan penyimpanan diudara, pemangkasan daun yang ekstensif diperlukan untuk mempertahankan kemampuan penjualan. Di bawah Controlled Atmosphere (CA), kadar asam askorbat dan gula menurun pada tingkat yang lebih lambat, peluruhan berkurang dan tingkat kehilangan klorofil berkurang dibanding dengan penyimpanan di udara. Namun, Menurut Apeland (1984a) O2 pada sayur Pakchoi yang berada di bawah 1% akan menyebabkan fermentasi yang disebabkan oleh respirasi anaerob. Kemudian atmosfir CO2 yang lebih dari 10% akan menyebabkan perubahan warna internal (Paul Daly dan Bruce Tomkins, 2016).

C. KERUSAKAN FISIK DAN FISIOLOGIS

Pakchoi yang terkena sinar matahari langsung setelah panen akan mengalami penguapan sel-sel daun yang cukup tinggi sehingga sayur mudah layu karena ketegaran pada jaringan daun berkurang. Selain itu kerusakan fisik Pakchoi juga disebabkan oleh pengikatan sayur sesaat setelah sayur dipanen dan ditumpuk. Penanganan seperti ini dapat menyebabkan batang daun patah dan tidak tegar sehingga kondisi ini dapat berpengaruh pada rendahnya nilai jual sayur Pakchoi. Pengikatan batang Pakchoi dengan kuat dapat menyebabkan batang memar sehingga dapat menstimulasi proses kehilangan air pada produk dan membuka peluang kerusakan oleh mikroorganisme. Hal tersebut akan mengakibatkan pembusukan dan pelayuan pada daun (Desi dan Renie, 2015). Kerusakan batang Pakchoi juga sering terjadi selama pengemasan di lapangan yang menyebabkan peningkatan browning dan kerentanan terhadap pembusukan. Kerusakan fisik Pakchoi akibat Chiling Injury) dapat terjadi selama penyimpanan pada suhu 0 ° C (32 ° F) setelah 3 bulan atau lebih. Gejala utamanya adalah perubahan warna pada pelepah, terutama pada daun luar (Marita Cantwell, 2014).

Gambar 2. Memar atau Rusak pada Pakchoi (Desy dan Renie, 2015)

Black speck merupakan salah satu kerusakan fisiologis Pakchoi yang terjadi karena adanya perubahan warna luka baik yang kecil ataupun besar pada batang dan vena daun. Gejala tersebut dapat terjadi karena suhu rendah di lahan pada saat pemanenan, namun biasanya berhubungan dengan kondisi transit dan penyimpanan. Suhu penyimpanan rendah diikuti oleh suhu yang lebih hangat dapat meningkatkan kerusakan (Marita Cantwell, 2014).

D. KERUSAKAN KARENA PENYAKIT

Kerusakan yang sering terjadi pada sayur Pakchoi karena serangan penyakit biasanya disebabkan oleh bakteri, jamur dan virus.
D.1. Bakteri
Busuk hitam (Black rot) disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris. Pada saat curah hujan tinggi atau berembun dan suhu berkisar antara 16-21oC, penyakit ini bisa menyebar dengan cepat dan mengakibatkan kerugian panen yang sangat tinggi. Pada tanaman yan telah dewasa jaringan internal di dekat tempat infeksi akan berubah menjadi hitam atau coklat (Marita Cantwell, 2014).
Busuk lunak (disebabkan oleh berbagai jenis bakteri termasuk Erwinia, Pseudomonas). Bakteri busuk lunak dapat mengakibatkan kerusakan jaringan yang terinfeksi, dan memungkikan terjadi infeksi jamur. Pemangkasan daun luar, pendinginan cepat dan penyimpanan suhu rendah mengurangi perkembangan pembusukan ini, walaupun Botrytis dan Alternaria akan tumbuh pada suhu penyimpanan rendah. Kemudian penyakit busuk daun disebabkan oleh Phytotora sp., penyakit ini bila menyerang pada tanaman pakchoi maka gejala yang terlihat pada daun akan menguning, terdapat lendiran dan juga daun akan membusuk(Paul Daly dan Bruce Tomkins, 2016).

Gambar 3. Penyakit Busuk Daun Disebabkan oleh Phytotora sp.

D.2. Jamur
Busuk berair atau busuk putih disebabkan oleh jamur Sclerotinia sclerotiorum. Pada awalnya bagian batang dan daun di dekat tanah berair seperti terendam air. Kemudian pada stadium lanjut penyakit ini, daun akan layu, tanaman menjadi ambruk dan kditutupi dengan massa jamur kapas yang mengandung banyak warna hitam keras berbentuk tidak teratur yang disebut sklerotia yang terlihat jelas. Infeksi ini dapat menyebar apabila suhu berkisar antara 0 – 28oC, dengan kisaran optimum antara 16 dan 21oC (Paul Daly dan Bruce Tomkins, 2016).
Penyakit busuk rhizoctonia atau bottom root disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani. Jamur ini banyak ditemukan di permukaan tanah dengan miselium berwarna putih dan kelihatan seperti sarang laba-laba. Penularan ke daun terjadi bila daun bersinggungan dengan tanah atau tertular lewat air yang mengandung jamur tersebut. Daun yang tua atau dekat dengan tanah sering terserang gejala ini. Daun tersebut mempunyai bercak cokelat yang mengendap. Lama kelamaan bercak tersebut basah, berlendir, dan busuk. Gejala ini menular dengan cepat di lingkungan yang lembab (Paul Daly dan Bruce Tomkins, 2016).
.

E. PUSTAKA
Andreas K. et al. 2001. Chinese Cabbage Management Before and After Harvest. ACIAR Proceedings 105. http://aciar.gov.au/files/node/2249/p105chapter2.pdf. Diakses Pada Tanggal 14 Mei 2017.
Anolita, D. 2008. Pengaruh Hydrocooling dan Pengemasan Terhadap Mutu Pakchoi (Brassica rapa var. pekinensis) Selama Transportasi Darat. Institut Pertanian Bogor.http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/41364/10/2008ade_abstract.pdf. Diakses Pada Tanggal 14 Mei 2017.
Azizuddin et al. 2016. Effects of Postharvest Storage Conditions on Physico-Chemical Analysis and Antioxidant Capacity of Brassica rapa L. Bangladesh J. Bot. 45(1): 85-92, 2016 (March).
Desy, N dan Renie, O. 2015. Kajian Teknologi Pascapanen Sawi (Brassica juncea, L.) Dalam Upaya Mengurangi Kerusakan dan Mengoptimalkan Hasil Pemanfaatan Pekarangan. http://jambi.litbang.pertanian.go.id/ind/images/PDF/DesyN2.pdf. Diakses Pada Tanggal 15 Mei 2017.
Marita Cantwell. 2014. Cabbage (Round & Chinese types): Recommendations for Maintaining Postharvest Quality. http://postharvest.ucdavis.edu/Commodity_Resources/Fact_Sheets/Datastores/Vegetables_English/?uid=8&ds=799. Diakses Pada Tanggal 15 Mei 2017.
National Agricultural Research Institute (NARI). 2016). Cabbage: Postharvest Care and Market Preparation Information Sheet. New Guyana Marketing Corporation (NGMC). http://www.newgmc.com/gmc_docs/brochures/Cabbage.pdf. Diakses Pada Tanggal 15 Mei 2017.
Paul Daly dan Bruce Tomkins. 2016. Production and Postharvest Handling of Chinese Cabbage (Brassica rapa var. pekinensis). Department of Environment and Primary Industries. RIRDC Publication No. 97/1. https://www.researchgate.net/publication/239930923. Diakses Pada Tanggal 15 Mei 2017.

Categories: Pasca Panen

PROFIL AKU

Profile photo of Jati Romayanti

Jati Romayanti


Popular Posts

Hello world!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

Manfaat Bunga Melati

Saya yakin hampir dari kita semua tahu dan mengenal dengan ...

Teknologi Budidaya S

Memasuki abad 21, masyarakat  mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh ...

Penyelamatan Lingkun

Di jaman yang semakin maju ini kerusakan-kerusakan alam juga semakin ...

Pemanfaatan Blog unt

Di era yang serba cepat ini teknologi dan komunikasi berkembang ...