RSS
 

Pengertian dan Bentuk-bentuk ‘Amr

19 Nov

1.Pengertian dan Bentuk-bentuk ‘Amr

Amr adalah perintah untuk melakukan suatu dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya pada pihak yang lebih rendah kedudukannya.Menurut Khudari  pik dalam bukunya ad beberapa bentuk ‘amr:

a.Perintah tegas yang menggunakan ‘amara dan yang seakar dengannya.an-nahl :90

* ¨bÎ) ©!$# ããBù’tƒ ÉAô‰yèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ǜ!$tGƒÎ)ur “ÏŒ 4†n1öà)ø9$# 4‘sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.x‹s? ÇÒÉÈ

90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

 

 

b.Perintah dalam bentuk pemberitaan bahwa perbuatan itu diwajibkan atas seseorang dengan memakai kata kutiba(diwajibkan)al-baqarah :178

c.Perintah dengan redaksi pemberitaan(jumlah khabariyah)namun yang dimaksud adalah perintah.al-baqarah:228

d.Perintah dengan menggunakan kata-kata kerja perintah secara langsung.Surat al-baqarah:238

e.Perintah  dengan menggunakan kata kerja mudhari’(kata kerja untuk sekarang atau yang akan datang.al-haj:29

f.Perintah dengan menggunakan kata faradha(mewajibkan)al-ahzab:50

g.Perintah dalam bentuk penilaian bahwa perbuatan itu adalah baik.al-baqarah:220

h.Perintah dalam bentuk menjanjikan kebaikan yang banyak atas pelakunya.al-baqarah:245

2.Hukum-Hukum yang mungkin Ditunjukkan dalam Bentuk ‘Amr

a.Menunjukkan hukum wajib seperti perintah untuk shalat.

b.Untuk menjelaskan bahwa sesuatu itu boleh untuk dilakukan.a-mu;min :51

c.Sebagai anjuran,al-baqarag:282

d.Untuk melemahkan,al-baqarah:23

e.Sebagai ejekan dan penghinaan,misalnya firman Allah berkenaan dengan orang yang ditimpa siksa diakhirat nantisebagai ejekan atas diri mereka dalam surat ad-dukhan:49

3.Kaidah-Kaidah yang berhubungan dengan ‘Amr

Kaidah pertama, al-aslu filamri lilwujubi ,meskipun suatu perintah bisa menunjukkan berbagai pengertian ,namun pada dasarnya suatu perintah menunjukkan hukum wajib dilaksanakan,kecuali ada indikasi atau dalil yang memalingkannya dari hukum tersebut.Kesimpulan ini,disamping didasarkan atas kesepakatan ahli bahasa ,juga atas ayat 62 surat an-nur yang mengacam akan menyiksa orang-orang yang menyalahi perintah Allah.Adanya ancaman siksaan itu menunjukkan bahwa suatu perintah wajib dilaksankan.Contoh perintah yang terbebas dari indikasi yang memalingkan dari hukum wajib adalah ayat 77 surat an-nas.Ayat tersebut menunjukkan hukum wajib mendirikan shalat 5 waktu dan menunaikan zakat.Contoh perintah yang diserati indikasi yang menunjukkan hukum selain wajib,ayat 283 surat al-baqarah.

Perintah untuk menyerahkan barang jaminan utang dalam ayat tersebut oleh mayoritas ulama fiqih dipahami sebagai anjuran,karena bagian berikutnya dari ayat tersebut menjelaskan:”Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain,maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanah-Nya(hutangnya)dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah..”

Kaidah kedua ,dalalatul’amri ‘alatiqrori awilwahdati ,adalah suatu perintah haruskah dilakukan berulang kali atau cukup dilakukan sekali saja?,menurut Jumhur ulama ushul fiqhpada dasarnya suatu perintah tidak menunjukkan harus berulang kali dilakukan kecuali ada dalil untuk itu.Karena suatu perintah hanya menunjukkan perlu terwujudnya perbuatan yang diperintahkan itu dan hal itu sudah bisa tercapai meskipun hanya dilakukan satu kali,contohnya ayat 196 suat al-baqarah perintah melakukan haji dalam ayat trsebut sudah terpenuhi dengan melakukan haji selama hidup adanya kemestian pengulangan,bukan ditunjukkan oleh perintah itu sendiri tapi ada yang lain,misalnya al-isra’ ayat 78.Ayat tersebut berbicara tentang shalat zuhur yang wajib dilakukan berulang kali,karena dikaitkan pada peristiwa yang terjadi berulangkali,yaitu setiap tergelincir matahari.Menurut sebagian ulama ushul fiqh,Abu ishaq al shirazi,Ahli ushul fiqh dari kalangan syafi’iyah seperti di nukil Muhammad Adib Salih ,suatu perintah pada dasarnya menunjukkan brulangkali dilakukan sepanjang hidup,kecuali ada dalil yang menunjukkan cukup dilakukan satu kali.

Kaidah ketiga ,dalaltul’amri ‘alalfauri awittarakhi adalah suatu perintah haruskah dilakukan segra mungkin atau bisa ditunda-tunda?pada dasarnya suatu perintah tidak menghendaki untuk segera dilakukan selama tidak ada dalil lainyang menunjukkkan untuk itu karena yng dimaksud oleh suatu perintah hanyalah terwujudnya perintah yang diperintahkan.Pendapat ini dianut oleh Jumhur ulama ushul fiqh.Menurut pendapat ini ,adanya ajaran agar suatu kebaikan selalu dilakukan,bukan ditarik dari perintah itu sendiri,tetapi dari dalil lain,misalnya secara umum terkandung  dalam al-baqarah:148.

Menurut sebagian ulama,antara lain Abu al-Hasan al-Karkhi,seperti dinukil Muhammad Adib Shalil,bahwa suatu perintah menunjukkan hukum wajib segera dilakukan.Menurut pendapat ini ,barangsiapa yang tidak segera melakukan suatu perintah diawal waktunya,maka ia berdosa.

b.Nahi(Larangan)

1.Pengertian dan Bentuk-bentuk Nahi

Mayorita ulama Ushul Fiqh mendefinisikan nahi sebagai :Larangan melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya dengan kalimat yang menunjukkan atas hal itu.

Dalam melarang suatu perbuatan ,seperti disebutkan oleh Muhammad Khudari Bik,Allah juga memakai berbagai ragam gaya bahasa .Diantaranya adalah:

a)      Larangan secara tegas dengan memakai kata naha atau yang seakar dengannya yang secara bahasa berarti melarang.Misalnya Surat an-Nahl ayat 90:

b)      Larangan dengan menjelaskan bahwa suatu perbuatan diharamkan.Misalnya ,ayat 33 Surat al-A’raf

c)      Larangan dengan menegaskan bahwa perbuatan itu tidak halal dilakukan.Contohnya,ayat 19 Surat an-Nisa:

d)     Larangan dengan menggunakan kata kerja mudhari’(kata kerja untuk sekarang/mendatang)yang disertai huruf lam yang menunjukkan larangan.Misalnya,ayat 152 Surat al-AN’am:

e)      Larangan dengan memakai  kata perintah namun bermakna tuntutan untuk meninggalkannnya.Misalnya ,ayat 120 Surat al-An’am:

f)       Larangan dengan cara mengancam pelakunya dengan siksaan pedih.Misalnya,ayat 34 Surat at-Taubah:

g)      Larangan dengan mensifati perbuatan itu dengan keburukan.Misalnya,ayat 180 Surat Ali Imran:

h)      Larangan dengan meniadakan wujud perbuatan itu sendiri seperti dalam ayat 193 Surat al-Baqarah:

2)Beberapa Kemungkinan Hukum yang Ditunjukkan Bentuk Nahi

Seperti yang dikemukakan Adib Saleh,bahwa bentuk larangan dalam penggunaannya mungkin menunjukkan berbagai pengertian ,antara lain:

a)Untuk menunjukkan hukum haram,misalnya ayat 221 Surat al-Baqarah:

b)Sebagai anjuran untuk meninggalkan,misalnya ayat 101 Surat al-Maidah:

c)Penghinaan,contohnya ayat 7 Surat al-Tahrim:

d)Untuk menyatakan permohonan,misalnya ayat 286 Surat al-Baqarah:

3)Kaidah-kaidah yang Berhubungan dengan Nahi(Larangan)

Para ulama Ushul Fiqh,seperti dikemukakan Muhammad Adib Salih,merumuskan beberapa kaidah yang berhubungan dengan larangan,antara lain:

Kiadah pertama, al ashlu fin nahyi,pada dasarnya suatu larangan menunjukkan hukum haram melakukan perbuatan yang dilarang itu kecuali ada indikasi yang menunjukkan hukum lain.Contohnya,ayat 151 Surat al-An’am.Contoh larangan yang disertai indikasi yang menunjukkan hukum selain haram adalah ayat 9 Surat Jumu’ah.Larangan berjual beli dalam ayat tersebut menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh menunjukkan hukum makruh karena ada indikasi,yaitu bahwa larangan tersebut bukan ditujukan kepada esensi jual beli itu sendiri tetapi kepada hal-hal yang diluar zatnya,yaitu adanya kekhawatiran akan melalaikan seseorang dari bersegera pergi shalat jum’at.Oleh karena itu, orang yang tidak wajib shalat jum’at seperti wanita tidak dilarang melakukan jual beli.

Kaidah kedua,al ashlu fin nahyiyutlaqu fasaad mutlaqan,suatu larangan menunjukkan fasad(rusak) perbuatan yang dilarang itu jika dikerjakan.Seperti dikemukakan oleh Muhammad Adib Shalih,kaidah tersebut disepakati oleh para ulama Ushul Fiqh bilamana larangan itu tertuju kepada zat atau esensi suatu perbuatan,bukan terhadap hal-hal yang terletak di luar esensi perbuatan itu.

Contoh larangan terhadap suatu zat ialah larangan berzina,larangan menjual bangkai ,dan dalam masalah ibadah seperti larangan shalat dalam keadaan berhadas,baik kecil maupun besar.Larangan-larangan dalam hal-hal tersebut menunjukkan batalnya perbuatan-perbuatan itu bilamana tetap dilakukan.Ulama berbeda pendapat bilamana larangan itu tidak tertuju pada esensi suatu perbuatan,tetapi kepada hal-hal yang berada diluarnya.Misalnya,larangan jual beli waktu azan jum’at dan larangan menyetubuhi istri yang sedang haid.

Menurut jumhur ulama dari kalangan Hanafiyah,Syafi’iyah,dan Malikiyah,larangan seperti ini tidak mengakibatkan batallnya perbuatan itu jika tetap dilakukan.Menurut sebagian kalangan Mazhab Hanbali dan Mazhab Zahiri,larangan dalam bentuk ini  menunjukkan hukum batal,sama dengan larangan terhadap esensi suatu perbuatan seperti tersebut di atas.Alasannya,melakukan suatu yang dilarang baik terhadap esensinya maupun terhadap sesuatu yang bukan esensinya adalah sama-sama melanggar ketentuan syari’at,dan oleh karena itu hukumnya batal.

Kaidah ketiga,an nahyu ‘an syai’i amrun bididdihi,suatu larangan terhadap suatu perbuatan berarti perintah terhadap kebalikannya.Contohnya,ayat 18 Surat Luqman.Larangan tersebut mengajarkan agar berjalan dipermukaan bumi dengan rendah hati dan sopan.

 

 

 
 

Tags:

Leave a Reply