Jepara adalah ikon Produk Furniture Indonesia

mebel jepara
mebel jepara

Jepara adalah ikon produk furnishings Indonesia –  Kalau dunia menyebut Furniture Indonesia, maka yang mereka maksud adalah Mebel Jepara. Begitu juga di Indonesia sendiri, hampir semua daerah bangga jika di rumahnya ada produk Mebel Jepara, apakah dalam bentuk kursi tamu, couch, buffet, lemari dan sebagainya. Produk Mebel Jepara membuat status sosial pemilik rumah naik sekian derajat, karena dinilai punya selera bagus tentang furniture.

Kejayaaan Produk Furniture Jepara Bukan Sekarang Saja

Waktu Belanda masih menjajah Indonesia, produk furniture Jepara sudah mengisi kediaman-kediaman para pejabat Belanda maupun penguasa lokal di berbagai daerah di Indonesia. Perahu phinisi adalah sarana transportasi utama yang banyak disebut-sebut sebagai media penyebaran produk furniture Jepara ke seluruh kota-kota besar di Indonesia. Ke mancanegara memang belum begitu terdengar, tapi kapal-kapal dagang Belanda, Portugis, Spanyol dan Inggris, kalau singgah di pelabuhan Jepara—yang waktu itu menjadi tempat docking dan rehabilitasi kapal-kapal asing yang rusak—pasti juga akan membawa beberapa produk Mebel Jepara sebagai muatannya. “Saya masih ingat cerita orang tua saya, bagaimana mebel Jepara itu sampai ke mana-mana,” ujar M. Zakir

Salah satu pengusaha lokal Mebel Jepara. “Kalau sekarang mebel lokalan marak, saya tak heran, itu cuma mengulang sejarah lama,” tandas Zakir. Sahuri, pengusaha furniture lokal Jepara lainnya, sependapat. “Mebel Jepara sudah dikenal lama dan sangat dikagumi orang di berbagai daerah di Indonesia. Kalau mereka menyebut mebel, maka yang terbayang dalam kepalanya pasti mebel Jepara. Itu membuat saya bangga menjadi orang Jepara dan itu pula yang mendorong saya masuk ke sekolah menengah kejuruan (SMK) khusus perkayuan di Jepara,”katanya. Merek dagang yang sudah benar-benar mantap itu—menurut Sahuri seyogyanya dipertahankan, dan tidak dibiarkan tenggelam seperti sekarang. Tenggelam?Benar. Sejak krisis ekonomi melanda Eropa dan Amerika Serikat medio dekade 2000-an, kondisi bisnis furnishings Jepara yang belakangan lebih agresif ke mancanegara mulai terpuruk. Akibat turunnya permintaan, banyak produsen menghentikan produksi, mengurangi pekerja, menyewakan, mengalihfungsikan atau menjual pabrik (gudang). Menurut Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara Purwanto Setijo Utomo, nilai ekspor furnitur Jepara tahun 2012 tercatat US$ 118,65 juta, naik tipis sebanyak US$ 1,46 juta dari tahun sebelumnya (Kontan, 8-14 Oktober 2012, halaman 14) yang senilai US$ 117, 19. Kedengarannya menggembirakan, tapi sebenarnya tidak, masalahnya dalam kurun waktu 1999 – 2000 menurut catatan Asmindo (Asosiasi Mebel Indonesia) Jepara, nilai ekspor produk furnitur Jepara pernah mencapai US$ 201,forty two juta setahun. Perluasan pasar ke negara-negara ekspor non tradisional seperti India, China, Timur Tengah, Afrika dan pasar lokal yang selama ini tak digarap menjadi penyumbang kenaikan persentase ekspor produk furniture Jepara tahun itu. Itu karena produsen tidak mau lagi menunggu pulihnya pasar AS dan Eropa. Pasar-pasar baru harus dibuka dan ditemukan, kalau perlu diciptakan. Lokalan kembali marak.

Pasar-pasar tradisional mulai ditinggalkan, menunggu keajaiban. Sahuri mengungkapkan rasa sedihnya dengan kondisi bisnis furniture di Jepara saat ini. “Gara-gara ambruknya pasar Eropa dan Amerika, banyak teman saya yang berhenti menjadi pengukir ataupun pengusaha mebel, termasuk yang di kawasan Karang Gundang dan Bondo, Kecamatan Monggo, yang biasa memasok mebel untuk ekspor ke Eropa,” katanya. Rata-rata mereka pindah ke daerah lain karena dikejar-kejar penagih hutang, baik dari pihak bank, para tengkulak dan teman sejawat. “Hidup sangat tidak nyaman dikejar hutang setiap saat,” kata Sahuri menggambarkan nasib teman-temannya dan dia sendiri. Akibatnya Jepara mulai kehilangan pengukir-pengukir handal, karena rata-rata pengusaha tersebut juga pengrajin ukir potensial. “Memang ada juga yang sukses sebagai pengusaha mebel di daerah lain itu, tapi bukan mereka lagi yang menjalankan, hanya sebagai pekerja, samalah seperti di sini, kami menjadi buruh murah di pabrik-pabrik yang masih tersisa,” kata Sahuri. Sahuri sendiri sudah menjelajah ke berbagai daerah, seperti Lampung dan Kalimantan, mencari peluang yang tersisa. Di Kalimantan dia trenyuh sekali. “Ada tempat di mana kayu-kayunya besar-besar dan banyaksekali, tapi karena tak mau membiayai pendirian pabrik atau gudang, kayu-kayu itu dibiarkan saja bergelimpangan tak berguna dan akhirnya dibakar.” “Gila! Kayu sebagus dan sebanyak itu pasti akan menghasilkan ratusan miliar di Jepara, tapi itulah mereka tak berpikir ke sana dan tak bisa membayangkan keuntungannya, padahal saya sudah memberikan gambaran, mereka cukup bangun gudangdan melengkapi peralatan, saya akan bawa tenaga pengukir dari Jepara, tapi mereka tidak mau, ya saya mau apa?” ungkapnya menyesalkan. M. Zakir mengatakan hal serupa. “Teman-teman dan kolega saya banyak yang pindah ke daerah lain, alih profesi. Ada yang jadi tukang baso, padahal sebelumnya menangani ekspor sampai milliaran rupiah,” katanya. Tapi mau bagaimana lagi, di daerah sendiri tak bisa usaha lagi. “Paling berantem tiap hari sama yang nagih hutang,” ungkap Zakir prihatin.

Potensi Masih Sangat Besar Meski harga bahan baku terus naik, terutama jati prison dari PN Perhutani atau jati rakyat dari kebun-kebun masyarakat non hutan, Sahuri melihat, tak ada masalah dengan kayu. “Kita bisa buat mebel dari kayu apa saja, lagipula pasar lokal tak senjelimet pasar Eropa atau Amerika,” katanya. Buktinya permintaan dari berbagai daerah terus naik. M. Zakir mengiyakan. “Mebel lokalan dibuat dengan kayu kelas dua dengan kualitas yang juga nomor dua, tapi pembelinya di berbagai daerah sudah sangat puas dengan kualitasnya,” katanya. “Permintaan tetap banyak, dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sampai Papua, lihat aja sibuknya daerah Krapyak sekarang,” tambahnya. H. Achmad Mulyono, pengusaha fixtures lokal Jepara di Desa Sekuro, Kecamatan Monggo sependapat.“Saya juga mulai tertarik dengan mebel lokalan, begitu asset saya laku, saya akan terjun lagi ke bisnis mebel lokalan, ekspor prevent dululah,” katanya. Mulyono juga tak mempersoalkan bahan baku. “Pembeli lokalan tak peduli, mereka sudah yakin saja mebel dari Jepara pasti dari kayu bagus, makanya kita bisapakai kayu apa saja, jati, mahoni, akasia, rambutan, mangga, nangka, durian, karet, apa sajalah, asal ditangani pengrajin ukir dari Jepara sudah jaminan mutu lah,” ujarnya yakin. Bahan baku kayu yang disebut Mulyono masih berlimpah di sekitar Jepara. Setiap hari kayu tersebut masuk Jepara ratusan truk. Bakul-bakul kayu, tempat kayu-kayu itu distock para pedagangnya, di seluruh Kecamatan Jepara, penuh oleh kayu gelondongan, bahkan juga kayu-kayu balokan dari Sulawesi. “Di sini kayu datang dari berbagai daerah, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, banyaklah, Jepara tidak kekurangan inventory kayu,” kata Sutrisno, pedagang kayu di kawasan Mulyoharjo.

Maraknya pasar lokal sekarang membuat Sutrisno yang pernah bangkrut kembali bergairah. “Kalau terus begini, saya yakin, para pengrajin dan pengusaha mebel yang dulu kabur ke luar Jepara berangsur-angsur pulang kembali, karena sudah ada harapan lagi,” kata Sahuri yang tetap saja masih memimpikan pasar ekspor. Chamdan, pengusaha mebel lokal Jepara lainnya juga yakin dengan potensi permebelan Jepara. “Klien saya dulu pejabat-pejabat Jawa di berbagai daerah, ada yang di Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Jambi, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta. Mereka fanatik mebel Jepara, sampai sekaran masih sering telepon, padahal saya sudah four tahun absen. Mebel Jepara punya kesan yang wah, citra yang tak bisa dilawan oleh produk mebel setempat,” katanya. Tak Cukup Hanya Kreativitas Ditanya soal kreativitas pengrajin Jepara, Sahuri mengatakan tak ada masalah, karena keahlian itu sudah melekat pada diri mereka. “Tak ada persoalan, karena keahlian mengukir itu seperti kepandaian yang sengaja dianugerahkan Tuhan kepada orang Jepara,” katanya. M. Zakir dan Mulyono berpendapat sama. Masalahnya bukanlah tenaga pengrajin atau bahan baku, tapi customer. Kalau buyernya ada dan kontiniu, mebel Jepara akan hidup lagi seperti dulu,” kata Mulyono yakin.

“Meski pasar lokal tak semenguntungkan pasar luar, kalau pesanan dan pembayaran lancar, saya percaya teman-teman saya akan kembali ke Jepara, berproduksi dan berbisnis lagi,” ujar M. Zakir. Selain order yang jelas, kontiniu dan pembayaran yang lancar, ketiga pengusaha mebel asli Jepara ini mengatakan persoalan tarif, keuangan dan kompetitor adalah kendala yang juga dapat mematikan lagi usaha furnishings di Jepara. Sahuri berpendapat tarif angkutan ke daerah tujuan masih kelewat tinggi. “Kita sulit menetapkan harga, biaya transportasi membuat harga mebel masih mahal. Gara-gara itu pengusaha terpaksa mengubah konstruksi mebel, jadi knock down. Praktis dan lebih murah ongkos angkutnya, tapi sangat mengganggu kekuatan dan ketahanan mebel pada akhirnya,” katanya. Dukungan finansial dari bank masih tetap akan diperlukan, tapi kondisinya harus diubah. “Selama ini financial institution primary aman aja, faktor resiko tak dimasukkan dalam skema hutang, urusan pembinaan juga mereka abaikan, jadi mereka tak ubahnya rentenir belaka, yang hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri, bukannya untuk membantu pengusaha seperti kita, malah sebaliknya kita yang membantu mereka, kita hanya jadi obyek usaha bagi mereka, bukan mitra binaan, ” kata Mulyono. M Zakir berpikiran sama. “Selama bank masih seperti itu, saya kuatir pengusaha tetap saja tak terbantu,” katanya. “Selama mereka hanya melihat pengusaha sebagai mangsa untuk merampas harta bendanya, selama itu pula financial institution takkan berguna bagi pengusaha dan pengrajin mebel Jepara,” tambahnya. Ketiganya berpendapat financial institution seharusnya tak sekedar menyetujui kredit,lalu lepas tangan dan tidak peduli lagi sama nasabahnya.

Bank juga harus memberikan bimbingan dan binaan dalam masalah pengelolaan keuangan agar nasabah bisa mendayagunakan pinjaman dengan maksimal. Kalau ada masalah kredit macet, harus dilihat dulu bagaimana persoalannya dan memberikan solusi yang masuk akal. “Jangan cuma bersikap bagai drakula dengan menerapkan bunga berbunga yang sangat mencekik leher,” kata mereka senada.”Itu kan gaya rentenir, apa bank ini rentenir?” gugat mereka. Selanjutnya, mereka melihat ada masalah dengan kompetitor. “Karena tak menguasai medan, pengusaha kita akan selalu kalah dari pengusaha dari luar Jepara. Mereka tahu daerahnya, mereka punya jaringannya, mereka sudah mengakar lama,” kata Sahuri. Menurut Sahuri selama ini yang bermain di lokalan bukanlah pengusaha Jepara, tapi pengusaha dari luar Jepara. “Kebanyakan dari daerah tujuan kirim, seperti Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah non jepara, Jawa Timur, Bali, Lombok, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua, mereka bahkan memboyong pengrajin Jepara ke sana untuk proses completing di showroom-showroom yang mereka bangun,” paparnya panjang lebar. “Kalau tidak ada terobosan, kejadiannya akan sama lagi dengan apa yang kita alami dengan client dari luar negeri, mereka menguasai jaringan pemasarannya, mereka tahu seluk beluk daerahnya, mereka sudah membina hubungan lebih lama, dan mereka menguasai bahasanya, ini bukan kendala yang gampang,” katanya lagi. Mulyono membenarkan.

“Harus ada solusi yang cepat dan jelas agar pengusaha Jepara bisa eksis dan bertahan di daerah tujuan,” katanya. Bagaimana dengan pemerintah?Ketiganya menggeleng cepat. “Kita tak pernah dibantu pemerintah dalam berbisnis, yang ada kita dipungutin terus ini itunya,” kata M. Zakir. Sahuri menambahkan, “Seharusnya pemerintah membantu pengusaha mebel Jepara, misalnya dalam mencarikan pasar lokal atau memberikan pelatihan yang memadai bagaimana caranya menghadapi tantangan pasar lokal, bukannya dilepas begitu saja dan dikutip biaya ini itu. Untuk itu kan dananya ada dialokasikan di APBD?” katanya. Bagaimana dengan faktor sikap intellectual dan fashion konsumtif para pengusaha mebel lokal?Sahuri mengakui susah mengubah sikap mental konsumtif dan kebiasaan menganggap remeh purchaser di kalangan pengusaha lokal. “Kalau sudah pegang uang, ya lupa itu uang apa, DP atau kredit financial institution digunakan aja dulu untuk yang lain, urusan produksi belakangan, itu biasa aja di sini,” katanya. Kalau ada kesulitan saat produksi, tambah Sahuri, mereka gampang saja meminjam ke sesama teman pengusaha, kerabat, saudara atau tetangga.

“Mereka yakin saja, karena kalau usaha udah jalan uang biasanya juga gampang,” kata Sahuri yang mengaku tidak mau seperti itu. “Jangankan itu, barang teman saya dari Pare-pare enak aja dijual oleh yang completing, alasannya didesak financial institution, padahal barang orang,” kata Nanang, penguasaha mebel lokal Jepara lainnya. Mereka terbiasa menganggap remeh klien dan tak memandang jauh ke depan. “Karakter buruk seperti ini harus diubah kalau kita ingin maju dan sukses,” kata M. Zakir. Mulyono sependapat. Mereka berdua tak menolak fakta banyaknya pengusaha lokal Jepara yang nakal dan tidak bertanggungjawab ini, tapi keduanya yakin hukum pasar akan membunuh orang yang culas seperti itu. “Suara dari mulut ke mulut akan mematikan mereka, tapi yang kasihan nanti pengusaha yang jujurnya, mereka akan ikut kena getahnya, semoga klien bisa berpikir jernih dan tidak menyamaratakan pengusaha mebel Jepara,” kata M. Zakir.

Selengkapnya : http://www.Kompasiana.Com/imranrusli/furniture-jepara-bukan-cuma-soal-kreativitas_551fc1bea333112d31b66dd5

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Skip to toolbar