Mengenal Sayuran Andewi (Cichorium Endivia) lebih dekat

I. Kesamakan dan Kualitas

A.1 Informasi Umum ( pendahuluan)

Andewi (C. Endivia) merupakan sayuran daun yang berasal daerah (negara) beriklim sedang. Menurut sejarah telah dibudidayakan sejak 2,500 tahun yang lalu. Tanaman ini diduga berasal dari Asia Barat, akan tetapi sumber genetik (Plasma nutfah) berasal dari kawasan Amerika Serikat. Berawal dari kawasan tersebut menyebar ke Kalibria, Malaysia, Afrika Timur, Tengah, Barat serta Filipina. Namun perkembangan selanjudnya budidaya tanaman Andewi ini telah menyebar luas ke negara-negara yang beriklim sedang maupun panas di belahan dunia. Beberapa negara yang menaruh perhatian yang sangat serius terhadap tanaman Andewi ini diantara lain adalah: Jepang, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan belanda.

Di Indonesia perkembangan Andewi belum berkembang pesat sebagai sayuran komersial. Daerah yang banyak ditanami masih dipusat-pusat produsen sayuran seperti Cipanas (Cianjur) dan Lembanga Bandung. Untuk melakuakn budidaya tanaman ini dapat dilakukan pada daerah yang memiliki suhu hari 10oC sampai 30oC. Curah hujan harus memiliki tidak terlalu tinggi atau sedang, bertujuan untuk tidak terjadinya kerusakan pada daun (Steve, 2009). Untuk medium tanam sebaiknya mengandung bahan organik, gembur, ramah dan tidak mudah tergenang air. pH tanah antara 6,0 – 6,8 akan tetapi pH idealnya adalah 6,5 (Afpia, 2013).

Indeks kemasakan didasarkan pada ukuran chicon dan kekompakan dan bervariasi sesuai kultivar dan kualitas dari akar (jumlah cadangan karbohidrat). Bagian endive (chicons) dipanen dengan cara melepaskannya dari akar (Postharvest Technology, 2001).

A.2 Index Kemasakan

Indek kamasakan sayuran Andewi ini dilihat dari daun-daun mulai sudah kompak maksimum atau seragam. Selain itu dilihat dai ukuran dari Chiconnya dan bagian kandungan karbohidrat di akarnya (Postharvest Technology, 2001).

A.3 Index Kualitas

Indek Kualitas didsasarkan pada bentuk, warna, ukuran dan keserempakan daun. Setelah pemanenan daun tidak mengalami kerusakan seperti sobel, warna Chiconsnya harus berwara putih denga titik kuning ckrem.

II. Lingkungan Penyimpanan dan Sifat Komoditas

B.1 Temperatur Opimum dan Frezing Injury

Suhu optimum  penyimpanan Andewi yaitu  0oC. Pada suhu tersebut, umur simpan Andewi diperkirakan 21-28 hari, sedangkan pada suhu 5oC  umur simpan sekitar 14 hari. Sayuran andewi biasanya setelah dilakukan pengemasan langsung didinginkan. Apabila disimpan pada suhu beku akan menyebabkan perubahan warna pada sayuran tersebut. Kerusakan akibat suhu beku dapat mempengaruhi kesegaran daun dan bisa menyebabkan peluruhan bakteri lebih cepat. Selama penyimpanan, kerusakan akibat suhu beku bisa terjadi apabila sayuran andewi disimpan pada suhu dibawah  0oC. Kerusakan akibat suhu tersebut dapat menyebabkan kerusakan daun sehingga rentan bisa menyebabkan pembekuan.

B.2 Kelembapan Optimum

Kelembapan untuk andewi sekitar 95% (Interempresas, 2017).

B.3 Laju Respirasi

Laju respirasi sayuran andewi meliki tingkat moderat, yaitu suhu 0oC, 10oC, dan 20oC  ml CO2/kg jam 4-5 14-17 dan 35-44. Untuk menghitung energi panas yang dihasilkan yaitu perbanyakan ml CO2/kg jam sampai 440 untuk mendapatkan BTU/ton/hari atau dengan 122 untuk mendapatkan kcal/metrik ton/hari.

B.4 Laju Produksi Etilen

Tingkat produksi etilen chicton dipanen masing-masing adalah <0,1, 0,2, dan 0,7 μL / kg · jam masing-masing pada 0, 10 dan 20 ° C (32, 50 dan 68 ° F).

B.5 Respon terhadap Etilen

Respon sayuran andewi cukup sensitif terhadap paparan etilen. Gejala utama cedera etilen adalah peluruhan akselerasi dan perubahan warna pada tepian daun. Ethylene juga dapat diharapkan untuk menginduksi absorpsi daun, namun efek ini mungkin memerlukan waktu yang sangat lama pada suhu penyimpanan rendah.

B.6 Respon terhadap Controlled Atmosphere

Kontrol atmosfer sangat dibutuhkan untuk memperpanjang umur simpan sayuran Andewi. Kontrol atmosfer dilakukan dengan menurunkan kadar 02 dan menaikkan kadar CO2. Berdasarkan bebrapa penelitian bahwa O2 yang sesuai yaitu 3-4% dan CO2 4-5% pada suhu 0-5oC. Kontrol atmosfer berfungsi menghambat browning pada tepi daun. Untuk mengendalikan warna hijau, konsentrasi O2 harus rendah yaitu dibawah 0,1%.

III. Kerusakan Fisik dan Fisiologis

Browning

Kerusakan akibat Browning ini diakibatkan karena adanya paparan suhu yang tinggi yang akan terlihat pada bagian permukaan dan ujung daun. Kerusakan ini juga di duga karena adanya kekuranan unsur hara kalsium.

Kerusakan Fisik

Kerusakan pada bagian tepi  daun yang sering terjadi saat pemanenan, pemangkasan dan pengemasan. Hal ini menyebabkan peningkatan warna coklat  pada daun (broening) dan daun  lebih cepat mengalami pembusukan.

IV. Kerusakan karena penyakit

Kerusakan yang terjadi pada sayuran andewi antara lain, sebagai berikut:

  1. Mosaik atau Belang Daun

Tanaman sayuran daun Andewi yang daunnya terdapat belang – belang hijau tua dan hijau muda dengan pola tertentu dan bentuk daun sedikit berubah (gambaran mosaik). Dan disertai dengan adanya lepuh – lepuh, tulang – tulang daun menjadi pucat. Gejala ini terjadi karena terganggunya pembentukan klorofil di tempat – tempat tertentu. Akibat penyakit mosaik, pertumbuhan tanaman menjadi terhambat sehingga produksinya sangat berkurang. Penyakit Mosaik pada tanaman selada hijau disebabkan oleh virus mosaik turnip (lettuce mosaik virus). Virus ini termasuk ke dalam golongan virus Y kentang (Potato virus y) (Rukmana, 1994).

  1. Busuk Basah

Tanaman Andewi yang diserang bakteri Erwina carotovora (Jones) Dye menunjukkan gejala pada bagian yang terinfeksi terdapat bercak kebasahan. Selanjutnya, bercak tersebut akan membesar dan melekuk, berbentuk tidak beraturan, dan berwarna cokelat tua kehitaman (jaringan membusuk). Jaringan yang telah membusuk tersebut tidak berbau. Akan tetapi, lama – kelamaan jaringan yang telah membusuk menjadi berbau tidak enak. Kondisi yang lebih parah ini disebabkan adanya serangan bakteri sekunder pada bagian yang telah terinfeksi tersebut. Pembusukan tersebut dapat berlangsung dengan cepat apabila udara lembap (kelembapan lebih dari 90%) dan suhu udara tinggi (berkisar antara 25oC – 30OC). Dalam kondisi lingkungan yang demikian, maka dalam waktu yang singkat seluruh bagian tanaman akan membusuk dan tanaman mati. Penyakit busuk basah selain menyerang tanaman selada di kebun, juga menyerang di dalam penyimpanan dan pengangkutan.Kerusakan ini diakibatkan oleh penyakit busuk basah yang juga dikenal dengan sebutan penyakit busuk lunak (soft rot). Penyebab penyakit ini adalah bakteri Erwinia carotovora pv. Carotovora (Jones) Dye yang dahulu disebut sebagai Erwina carotovora (Jones) Holland. Bakteri ini dapat bertahan hidup di dalam tanah dan sisa – sisa tanaman di lapang (Rukmana, 1994).

  1. Busuk Daun

Pada tanaman Andewi yang mengalami busuk daun, mula – mula terjadi bercak – bercak bersudut berwarna hijau muda pucat sampai kuning yang terdapat di antara tulang –tulang daun. Sedangkan pada bagian permukaan bawah daun terbentuk jamur putih yang jumlahnya banyak (bercak – bercak putih) yang merupakan sporangiofor dan sporangium jamur. Selanjutnya bercak – bercak yang besar berwarna coklelat (busuk daun). Busuk daun dapat berkembang terus dipenyimpanan dan pengangkutan. Busuk daun pada tanaman Andewi disebabkan oleh cendawan (jamur) Bremia latucae regel. Cendawan tersebut dapat bertahan dari musim ke musi pada tanaman hidup. Tumbuhan inang cendawan Bremia latucae regel adalah dari familia aster – asteran (andewi, kenikir, selada, dahlia, bunga matahari, bunga kertas, herbras, kosmea, solidago, dan sonecio). Infeksi cendawan ke tanaman melalui mulut kulit (Rukmana, 1994).

  1. Bercak Daun Cercospora

Tanaman Andewi yang mengalami bercak daun Cercospora, mula – mula pada tepi daun terjadi bercak – bercak kecil kebasahan. Kemudian secara bertahap, bercak – bercak tersebut berkembang semakin ke dalam dan jaringan yang terinfeksi (sakit) menjadi berwarna kecokelatan dan pada bercak terdapat titik – titik hitam. Hal tersbeut diakibatkan oleh penyakit bercak daun Cercospora pada daun Andewi yang disebabkan oleh cendawan Cercospora iongisima sacc. Nama lain cendawan tersebut adalah Cercospora lactucae stev, Cercospora lactucae indicae saw (Rukmana, 1994).

Pustaka

Steve Christman .2009. Cichorium endevia. http://floridata.com/Plants/Asteraceae/Cichorium%20endivia/927. Diakses pada tanggal 11 Mei 2017.

Afpia Duwi. 2013. Andewi Hijau Cichorium endevia. https://prezi.com/s1dpahub6tzj/andewi-hijau-cichorium-endivia/ . Diakses pada tanggal 11 Mei 2017

Interempresas Media. 2017. Endive, Cichorium endivia/Composite. http://www.frutas-hortalizas.com/Vegetables/Postharvest-Endive.html. Diakses 16 Mei 2017.

Postharvest Technology. 2001. Belgian Endive (Cichorium endivia L.). http://postharvest.ucdavis.edu/Commodity_Resources/Fact_Sheets/Datastores/Vegetables_English/?uid=4&ds=799. Diakses 13 Mei 2017.

Rukmana, I. H. R. (1994). Bertanam Selada & Andewi. Kanisius.\

Anonim. 2017. https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiFxsO-gPfTAhXGpI8KHZFlA98QjRwIBw&url=http%3A%2F%2Faplusfreshshop.com%2Fpublic%2Findex%2Fcategory%2Fid%2F1%2Fpage%2F5&psig=AFQjCNGRBW-iU_pRVCnaw6fsrN1a3dCOVQ&ust=1495113049463494 Diakses 13 Mei 2017.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Lewat ke baris perkakas