AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Ketika saya bertanya kepada salah seorang teman saya “wanita dengan ciri-ciri seperti apakah yang akan kau jadikan istrimu nanti ?”. Dia lalu menjawab “wanita itu harus tinggi, berhidung mancung, berkulit putih, dan pokoknya wah dah”. Begitu juga ketika saya bertanya kepada salah seorang teman lainnya “wanita cantik itu kalau menurut kamu seperti apasih ?”. Ternyata jawaban teman saya yang kedua ini tidah jauh beda dengan teman saya yang pertama tadi. Ia berkata “wanita cantik kalau menurut saya itu adalah yang bertubuh langsing dan tinggi, berkulit putih, berhidung mancung dan lain sebagainya”. Saya juga pernah bertanya pada seorang teman wanita saya “laki-laki dengan ciri-ciri seperti apa yang kau idamkan untuk menjadi pendamping hidupmu ?”. Dengan nada pasti ia menjawab “lelaki ideal yaitu yang tampan dan gagah, artinya berkulit putih, berhidung mancung, postur tinggi, badan tegap dan kekar”. Jawaban semacam ini begitu banyak saya temui apabila saya melontarkan pertanyaan yang sama.
Di sisi lain, pada kasus yang berbeda saya pernah mendengar seorang anak gadis yang meminta kepada orang tuanya agar ia diperkenankan untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Tetapi jawaban orangtuanya begitu mengecewakan gadis tersebut. Menurut mereka bahwa anak perempuan percuma berpendidikan tingi-tinggi. Karena bagaimanapun nantinya tugas mereka hanyalah menjadi ibu rumah tangga yang tidak jauh dari dapur, sumur dan kasur. Pemikiran seperti ini masih banyak kita temui di masyarakat ortodok yang tinggal di pelosok desa.
Dari dua kasus diatas marilah kita cermati satu demi satu. Yang pertama adalah konsep tentang cantik dan ganteng. Benarkah cantik atau ganteng yang ada di benak kita itu benar-benar murni pemikiran kita atau pola pikir kita yang sudah dijajah oleh pola pikir lain sehingga kita memiliki pemikiran demikian. Terlepas dari pernyataan bahwa cantik itu relatif atau ada standar umum tentang cantik, marilah kita cermati konsep cantik di atas.
Kiranya kita masih teringat pelajaran sejarah nasional di sekolah dulu yang menerangkan bahwa tiga setengah abad lamanya bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda. Selama itu pula kehidupan bermasarakat kita dibatasi oleh mereka, ditambah tiga setengah tahun bangsa kita menjadi pendudukan Inggris. Kedua bangsa tersebut adalah bangsa Eropa yang nota bene bangsa berkulit putih.
Di Eropa, para penguasa dan para raja pada umumnya adalah orang-orang berkulit putih. Bahkan mereka menguasai dan menjajah hampir di seluruh belahan bumi. Tak sekalipun orang berkulit hitam berkuasa di Eropa, bahkan orang kulit hitam sering kali mendapat perlakuan yang tidak adil di sana. Contoh kasus adalah perlakuan rasis yang diterima kaum drafida (berkulit hitam) yang yang dibantai oleh Nazi yang menganggap bahwa kaum atau ras Arya adalah ras tertinggi, atau yang belum lama terjadi adalah perlakuan rasis yang dialami oleh Samuel Etoo di Barcelona, Mohammad Kallon di Milano, atau Didier Drogba di London dan masih begitu banyak kasus-kasus yang lain. Selain itu, ada indikasi bahwa orang eropa membenci orang berkulit hitam karena Islam tumbuh subur di daerah Afrika yang mayoritas dihuni oleh bangsa berkulit hitam.
Ketika orang-orang penjajah datang ke negeri jajahannya dengan modal yang besar dan menggaet kaum franzendeiro, menumpas kaum cangaceiro memberi pengaruh pada dukungan masyarakat setempat yang pada gilirannya mereka menguasai wilayah di sekitarnya. Posisi mereka yang berkuasa inilah yang kemudian membuat keberadaan dan diri mereka menjadi idola. Pola pikir yang bloon kemudian menganggap tubuh mereka yang menjadi kriteria manusia yang ideal dengan cirri-ciri bekulit putih, tinggi dan berhidung mbetet (mancung). Siapa yang yang tidak ingin dan tidak tergiur kekuasaan. Pola pikir seperti inilah yang kemudian terus di-kecambah-kan di Indonesia oleh para penjajah. Pada awalnya memang hanya membentuk konsep tantang cantik, elok, ayu, atau ganteng saja namun lambat-laun mengarah pada kebencian terhadap bangsa berkulit hitam yang pada gilirannya nanti bukan hanya orang eropa yang membenci orang-orang berkulit hitam, karena logikanya adalah jika putih, tinggi dan mancung sudah menjadi idola, bagaimana jika sebaliknya kalau berkulit hitam, hidung tidak mancung dan tidak tinggi. Dengan demikian mereka telah berhasil menyebarkan kebencian terhadap kaum berkulit hitam.
Kalau kita bandingkan konsep cantik atau ganteng seperti di atas, sangat berbeda dengan konsep cantik pada zaman dahulu. Kalau zaman dahulu ketika orang ditanya tantang cantik dia akan menjawab “wanita cantik kulite nyawo mateng (kulitnya sawo matang atau kalu dalam warna adala campuran raw senna, umber, english red, salmon pink dan sedikit mengandung hijau), alise naggal sepisan (alisnya seperti bulan ketika pertamakali terlihat), netrane nanggal limolas (matanya lebar), rambute ngombak seghoro (rambutnya lurus agak berombak), lembehane mblarak sempal (gaya jalannya berpijak pada satu garis lurus), bokonge nyigar nongko (pantatnya seperti nangka dibelah dua), untune nguwiji timun (giginya seperti biji mentimun),lan drijine mucuk eri (jarinya kecil panjang)”. Dari kedua kriteria cantik di atas, sebenarnya manakah konsep cantik menurut kita ? yang terahir disebut atau memang otak kita tidak beres karena sudah terjajah seperti yang yang pertama.
Pada kasus yang kedua, terjadi pembatasan-pembatasan pada ruag gerak perempuan. Perempuan dianggap sebagai kaum lemah, hanya bisa manjadi obyek, tidak bisa menjadi subyek. Kalau perempuan sekolah tinggi dianggap sia-sia karena dianggap tidak pantas bergerak diwilayah publik dan hanya pantas mengurusi wilayah domestik saja.
Selama ini kita menganggap perempuan adalah kaum lemah, karena kita telah mengecat diri mereka dengan sifat-sifat lembut, seperti anggapan bahwa kaum hawa itu peka, halus dan mudah tersentuh perasaannya, tidak pantas jadi kuli artinya bekerja kasar yang biasanya dilakukan oleh kaum adam, tidak bisa menghasilkan yotro. Selama ini kita juga menganggap bahwa laki-laki itu superordinat dan perempuan itu subordinat atau the second human. Pola pikir seperti inilah yang kemudian membuat peran kaum perempuan menjadi termarginalkan dan ruang geraknya menjadi terbatas. Tapi, anehnya kaum perempuan begitu suka dengan sifat-sifat yang menepel pada dirinya. Banyak dari mereka yang bangga ketika disebut sebagai kaum yang lembut, peka perasaannya, mudah tersinggung atau tidak pantas kerja kasar. Loh, ini kan sama artinya bahwa mereka suka ditindas, suka dibatasi, suka disepelekan. Diakui atau tidak ini adalah kenyataan, walaupun di sisi lain banyak perempuan yang memperjuangkan emansipasi wanita, menuntut hak yang sama dengan kaum pria – tetapi menolak untuk diperlakukan dan diberi kewajiban yang sama.
Sekarang, mari kita telaah lebih lanjut tentang sifat-sifat yang diperuntukan bagi kaum wanita itu. Sebenarnya apasih yang membedakan kaum laki dengan kaum perempuan. Hal ini merupakan masalah gender. Dan perbedaan yang berkaitan dengan masalah gender itu ada dua aspek :
Natural Production, yaitu bentukan alamiyah, meliputi ciri-ciri fisik, seperti alat kelamin, jenggot, tonjolan di leher, kumis untuk laki-laki, sedangkan payudara atau bisa hamil, melahirkan, nifas dan menstruasi setiap bulan – walaupun ada yang tidak – untuk perempuan. Ciri-ciri seperti ini sudah ada sejak lahir dan hanya operasi atau amputasi yang bias mengubahnya. Jika ada seseorang tidak memiliki ciri-ciri seperti ini, terang bisa dikatakan bahwa orang tersebut mengalami kelainan fisik dan tidak normal.
Social Construction, yaitu bentukan manunsia atau masyarakat, meliputi kuat, lemah, manja cengeng, lembut, mudah tersentuh perasaannya dan ketidak-pantasan-ketidak-pantasan. Ciri-ciri seperti ini masih bisa dirobah – karena hanyalah bentukan sosial yang sebagai landasannya adalah anggapan-anggapan dan klaim-klaim – dengan bibinahu (belajar) atau priyatin (latihan). Jika seorang laki-laki sejak lahir sudah terbiasa dimanjakan, diperlakukan lembut – bukan tidak mungkin – akan menjadi lelaki yang lemah bahkan wanita jadi-jadian. Begitu juga sebaliknya, jika seorang anak perempuan sejak kecil dilatih untuk melakukan pekerjaan kasar dan mandiri – bisa jadi – ia akan memiliki kemampuan – baik secara fisik maupun kejiwaan – yang melebihi kaum laki-laki. Buktinya ada lelaki yang lemah, manja, dan lembut seperti bencong atau Dorce Gamalama. Ada juga wanita yang kuat secara fisik seperti Rumbawes atau Laila Ali, maupun secara prinsip seperti Margaret Techer atau Rabiah Al-‘Adawiyah.
Pada aspek natural production – mungkin – tidak ada masalah, akan tetapi pada aspek social construction inilah yang sering kali kita memiliki anggapan yang kurang tepat. Kita mungkin sering – paling tidak pernah – menjumpai seorang leki-laki yang tidak doyan pekerjaan asor (kasar) atau lelaki pendiam yang mudah tersinggung perasaannya atau juga memiliki sifat-sifat feminis. Begitu juga sebaliknya – mungkin – salah satu dari teman cewek kita yang biasa mengerjakan pekerjaan yang selama ini dianggap hanya dan Cuma pantas dilakukan golongan berotot (pria) saja; bahkan diantara mereka ada yang beringas tak ubahnya seorang pejantan atau bahkan preman. Sebagai bukti, pernah ada salah seorang cewek alumnus MAN I (keluaran 1999) Jember yang bekerja sebagai montir di sebuah bengkel mobil, kenek perempuan di daerah semarang, copet cewek yang tertangkap di sebuah terminal, atau seorang perempuan yang menjadi pengayuh becak atau sopir angkutan seperti yang diberitakan oleh Jawa Pos beberapa bulan yang lalu, bahkan seorang ibu-ibu yang diekspor ke luar negeri untuk mencari nafkah bagi keluarganya sementara suaminya di rumah tenang-tenang saja. Tidak usah jauh-jauh, pada waktu pembangunan rayon Al-Jadied – di pesantren kita ini – beberapa orang kuli bangunannya adalah dari kaum hawa. Selain itu kita juga sering melihat ibu-ibu merumput untur ternak di sekitar asrama tempat kita tinggal saat ini, atau gadis-gadis yang terbiasa mengumpulkan sampah-sampah kotor. Semua pekerjaan tersebut pada umumnya adalah pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum adam, yang dulu hal ini merupakan masalah yang nggak ilok (tabu). Tapi lagi-lagi, ini adalah bukti bahwa sifat-sifat (social construction) yang selama ini selalu menempel pada kaum perempuan bisa dihilangkan.
Anggapan bahwa perempuan lebih lemah dari pada laki-laki akan mengatarkan kita pada pola pikir patriarkisme yang konon pola pikir ini sangat subur di daratan eropa. Pada zaman dahulu ketika otoritas gereja dalam masa kegelapan dan penafsiran Injil lebih banyak ditujukan pada kaum pria maka mereka kurang memperhitungkan keberadaan dan ruang gerak wanita di wilayah publik dibatasi. Mereka memberikan ruang gerak pada kaum perempuan hanya sampai di wilayah domestik saja. Baru setelah mereka terpengeruh oleh pemikiran Ibnu Rusd dan pemikir-pemikir Islam lainnya setelah terjadinya perang salib, mereka mulai menemukan pencerahan dan tidak lagi membatasi ruang gerak kaum perempuan. Sementara saat ini banyak dari kita yang masih kukuh dengan pola pikir seperti ini. Memang pada waktu Indonesia dijajah orang eropa sudah tidak memakai anggapan ini, namun untuk melemahkan bangsa yang dijajah mereka menyuburkan pola pikir seperti ini. Bukankah dalam Islam ada konsep bahwa “wanita adalah tiang negara, jika baik wanitanya maka baik pula negara itu, jika rusak wanitanya maka rusak negara tersebut”. Ini berarti jika wanitanya bisa berprestasi maka negaranya ikut diperhitungkan oleh negara lain. Dan jika wanitanya selalu dibatasi, negaranyapun akan sulit maju; atau jika wanitanya dilarang sekolah negaranya akan tetap menjadi negara bodoh, karena ketika anak baru lahir orang yang paling dekat dengannya adalah ibunya pola pikirnya paling banyak mempengaruhi pola pikir sang anak sebagai generasi bangsa. Islam juga mewajibkan menuntut ilmu pada semua penganutnya – bukan laki-laki saja. Jadi, bagi kaum berjenggot yang masih menganggap bahwa wanita adalah the second human dan dirinya adalah superordinat, kiranya mencermati kembali apa yang menyelimuti tempurung kepalanya. Dan bagi kaum berpayudara kiranya menyadari hal ini – bukan malah bangga dengan predikat lembut, halus, peka perasaannya. Juga, hendaknya semakin melepaskan diri dari ketertindasan, terus meningkatkan prestasi, membuang predikat imperior, jangan bangga ditindas, jangan gampang apalagi suka mengeluh, terus memperjuangkan emansipasi wanita; dengan catatan tuntuntannya tidak tanggung-tanggung. Jangan hanya menuntut persamaan hak saja sementara kewajiban tetap dibiarkan.
Dari kedua uraian di atas itu hanyalah contoh kecil dari pemikiran kita yang perlu kita kaji lagi, dan masih banyak lagi pola pikir yang lain yang membutuhkan hal yang sama, seperti konsep sukses, erotis, tabu, dll. Dengan demikian bukan berati saya mengajak untuk mengubah apa yang sudah matang dalam pikiran kita, melainkan hanya mencoba mengajak untuk berhati-hati dalam mengambil kesimpulan atau memelihara apa yang ada di otak kita. Selamat berpikir.

Categories: Article

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...