AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Dengan hati berat ku tutup telfon dari emak di Madura sana.Lagi-lagi emak menanyakan jawabanku atas lamaran seorang pemuda yang sudah ku kenal sejak kecil itu, Ismail teman sepermainanku dulu yang sekarang telah menyandang gelar Lc, di belakang namanya dan ter kenal sebagai pemuda yang bagus ibadahnya dan baik akhlaqnya juga kaya.
Seperti biasanya emak memulai pembicaraan dengan menanyakan bagaimana pekerjaanku sebagai seorang Desainer sebuah butik muslimah yang cukup mempunyai nama di kota Bandung, tempatku mencari nafkah saat ini untuk membiayai adikku yang masih duduk di bangku SMP, karna epak sering sakit-sakitan di Madura sana.Lalu berlanjut dengan menanyakan umurku yang sebentar lagi akan menginjak kepala tiga, kapan aku akan memberi beliau cucu, dan terakhir jawabanku atas lamaran Ismail yang telah datang tiga kali dan juga telah kutolak tiga kali.
Deddhi bebinik je’ lemile ka lakeh Nak. yang penting dia serius sama kamu . Masih terngiang kata-kata emak di telingaku.Ah…emak bukannya aku terlalu memilih-milih mak hanya saja saat ini aku masih menunggu, menunggu seseorang yang telah lama menghuni hatiku. Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Bandung untuk melanjutkan studyku ke perguruan tinggi. Walaupun dia tak pernah tahu tapi, aku akan tetap menunggu sampai aku yakin bahwa dia sudah ada yang memiliki.
Ku pandangi sebuah foto yang ada di meja kerjaku, foto waktu aku mendaki ke gunung Merapi dulu sewaktu aku masih kuliah, foto bersama teman-temanku dan salah satunya adalah dia.Namanya Iman, teman pertamaku di kampus sekaligus penghuni pertama hatiku sejak saat itu dan saat ini dia telah menjadi seorang direktur disebuah perusahaan, warisan dari ayahnya yang terletak tepat di depan butik tempatku bekerja saat ini.Tapi sifatnya tak pernah berubah, tetap baik,humoris,dan rendah hati.Itulah yang semakin membuat aku jatuh hati padanya.Dan hubungan pertemanan kamipun semakin dekat, walaupun aku tak pernah menangkap sinyal-sinyal hubungan kami akan berlanjut ke jenjang yang ku inginkan tapi itu sudah lebih dari cukup.Setidaknya aku masih bisa melihat senyumnya setiaphari.

/.,;’//;;’/.,/////.,;’/…’’;

“Lia, ada temannya tuh di depan,”tiba-tiba mbak Rani menghampiriku dengan senyum dikulumnya.
“Siapa mbak?” Tanyaku tanpa mengalihkan sedikitpun perhatianku dari sebuah kertas yang berisi sketsa rancangan baju muslimah terbaruku.
“Iman”,jawab mbak Rani sambil menepuk bahuku lembut.Seketika itu juga langsung ku beranjak untuk menemuinya.
“Siang Lia…”,sapanya ketika melihatku dengan senyum khasnya.Aku membalas senyumnya sepintas dan cepat- cepat menundukkan pandanganku,tak ingin hatiku semakin ternodai.

“Ada apa Man?” Tanyaku langsung.
“Aku ingin mengajakmu makan siang”, jawabnya lugas.
“Di mana?” Tanyaku.
“Di kafe depan kantorku”. Aku tersenyum mendengar jawabannya.Seakan mengerti pikiranku Ia tertawa lirih.
“Aku tidak mungkin mengajakmu ke tempat yang bisa menimbulkan fitnah Lia.Bukankah tempat itu ramai kalau siang-siang begini?Banyak karyawanku yang memilih makan di sana jadi kau tak usah canggung”. Terangnya.
“Kau muslimah yang baik Lia”,bisiknya sebelum kami menuju kafe yang dia maksud.Aku hanya tersenyum mendengar pengakuannya.

////.,;/’./;’’///;.’/;,/;

“Cerita tanah kelahiranmu dong!”,pintanya tiba-tiba ketika kami tengah menikmati menu makan siang kami.
“Maksud kamu Madura?” aku meyakinkan.
“Iya, emangnya kamu lahir di dua tempat?” Candanya. Aku tersenyum simpul mendengar kelakarnya.
“Madura itu jauh Man, desa lagi. Panas.Tapi masyarakatnya ramah-ramah.Rata-rata pekerjaannya petani,kalau gak ya nelayan tapi ada juga yang pedagang, ada juga yang bekerja di tambak garam”.
“Garam?”,Ulangnya
“Iya, garam yang kamu makan setiap hari itu asal mulanya air laut lalu di proses sampai jadi butiran butiran halus seperti yang kamu tahu itu”, jelasku sambil membenahi kerudung putihku.
“Bagaimana prosesnya?” Ternyata dia cukup penasaran juga.
“Makanya sekali- kali liburan ke Madura kek!” Tawarku untuk yang kesekian kalinya dan aku yakin pasti jawabannya tidak akan berubah seperti biasanya.
“Aku akan ke Maduramu kalau aku telah manemukan sesuatu yang menarik di sana”, benar dugaanku, jawabannya masih saja seperti yang dulu.
“Tidak ada sesuatu yang istimewa di sana, namanya juga pulau kecil Man”, jawabku sambil meminum air putihku.
“Sesuatu itu pasti ada sisi istimewanya, hanya saja terkadang tidak kita sadari.Siapa tahu aku menemukan seorang bidadari disana”, timpalmu santai sambil tertawa lirih yang membuatku merasa agak kikuk, untunglah aku bisa menguasai keadaan.
“Mimpi kali ye…”, balasku yang di sambut dengan tawa riangnya yang semakin membuatku ingin tersenyum.
Seandainya saja akulah bidadari yang kamu maksud itu.Ya… seandainya saja.

////.,./;.’/.,;;/’./;////

Bulan Ramadhan tinggal dua hari lagi.Aku telah mempersiapkan diriku untuk mudik ke Madura beserta oleh-oleh yang telah kupersiapkan untuk keluargaku di sana.Tak sabar rasanya ingin segera bertemu emak dan epak. Ada sebersit rasa keharuan yang menyeruak tatkala mengingat mereka.Ah…Betapa rindunya aku pada Madura.

Tapi tak kupungkiri, ada sebersit rasa sedih di hatiku bila mengingat harus ada yang ku tinggalkan di sini karna tak mungkin aku membawanya serta ke Madura.Ya, tak mungkin aku akan membawa Iman.Aku pasti akan selalu merindukannya.
Tes…Tanpa ku sadari setetes air mata jatuh membasahi mukenahku.Malam ini ku bersujud dalam tahajjudku pada-Nya.Aku merasa kerdil dengan kuasa-Nya.Segera ku memohon ampunan pada-Nya setelah ku sadari bahwa selama ini aku telah mengagumi ciptaan-Nya tanpa izin dan tanpa bisa ku cegah.Hamba memang lemah ya Allah…
Bandung lengang malam ini, terlihat dari jendela kamar apartementku.

//.,./;’./;./,/////.;’’

Aku menarik nafas panjang sambil meletakkan setumpuk kertas yang telah berisi sketsa rancangan baju muslimah terbaru.Pekerjaanku selesai sudah.Kulangkahkan kakiku menuju kafe yang terletak di depan kantor Iman.Ku habiskan penat di sana.
“Assalamu’alaikum…” ku dengar seseorang mengucapkan salam tepat di depanku.Suara yang telah lama ku kenal.
“Wa’alaikumus Salam…” jawabku tanpa mengalihkan sedikitpun perhatianku dari buku yang tengah ku pegang walaupun konsentrasiku tak lagi terfokus pada buku itu.
“Serius amat sih neng?” Godanya sambil duduk di depanku tanpa ku persilahkan.
“Bagaimana dengan kabar anda direktur muda?” Balasku sambil mulai memperhatikannya dan menyimpan kembali buku itu ke dalam tas.
“Jadi nih yang mau mudik?” Tanyanya.
“Iya.” Jawabku pendek.
“Kapan?”
“Besok”.
“Sudah beli oleh-oleh buat keluarga di Madura?” Aku mengangguk.
“Sudah makan siang?” Tanyanya lagi.Aku menggeleng.
“Mas…” dia memanggil pelayan untuk memesan makan siang untuk kami.
Siang ini kami kembali makan siang bersama.Mungkin akan menjadi makan siang terakhirku bersamanya.Bukankah ajal tidak ada yang tahu datangnya kapan,walaupun aku tak pernah inginkan itu.

//.,./;’/;’./,./;;’/.///

“Hati-hati di jalan ya…!” Pesan mbak Rani padaku sambil mencium pipi kanan dan kiriku.
“Makasih mbak,”jawabku pelan.
“Sudah pamit pada pangeranmu?” Goda mbak Rani.
“Pangeran Lia yang mana mbak?” Tanyaku sambil tertawa lirih.
“Siapa lagi kalau bukan si Direktur Muda itu.”
“Dia sibuk mbak, Lia gak mau ganggu.”
“Sekedar kiri SMS kan gak ada salahnya.”Saran mbak Rani lembut.Selama ini hamya mbak Rani yang mengerti akan rasaku pada Iman,jadi dia tahu betul bagaimana perasaanku saat ini.
“Gak usah mbak,makasih udah ngertiin Lia,” tolakku halus.

“Sabar ya, kalau jodoh gak akan ke mana kok!” Hibur mbak Rani.Aku tersenyum simpul mendengar kata-katanya.
Ya benar,kalau jodoh gak akan kemana-kemana.Serahkan semuanya pada Allah.pasti yang terbaik selalu untuk hamba-Nya.

//.,./;’/.;’///..,,’;/.;;///

Tak terasa dua puluh delapan hari sudah aku menghabiskan masa-masa liburanku di Madura,dan selama itu pula tak pernah sekalipun aku berhubungan dengan Iman, walaupun hanya sekedar SMS.

Aku menunggu adzan maghrib dengan duduk-duduk di teras.Memandangi bocah-bocah yang sedang bermain angklek di halaman rumah.Betapa indahnya hidup mereka.Tanpa sedikitpun beban yang singgah di pikiran mereka.
“Alakoh apah bing?” Tiba-tiba emak telah duduk di sampingku.
“Adhek mak,”jawabku sambil melabuhkan kepalaku di pangkuannya.
“Tak amainah ka romanah Fatim bing?”Tanya emak menyebutkan nama salah satu temanku waktu SMP dulu yang ku dengar baru melahirkan itu.
“Lain kali saja mak,” tolakku.
“Kapan kamu akan menikah dan memberikan emak cucu seperti si Fatimah itu Lia?” Pertanyaan yang selalu ku takutkan itu akhirnya harus kudengarkan lagi sore ini.
“Lakeh ngak apah yang kamu inginkan?”
Kayak Iman mak, jawabku dalan hati.
Adzan maghrib mengakhiri perbincanganku bersama emak sore ini.Ku tahu emak agak kesal karena pertanyaanku dari tadi tak ada satupun yang aku jawab.Mafkan Lia mak.

//,./;’/.;///..;’///..,//;’////

Pagi ini takbir menggema.Lebaran telah tiba.Betapa banyak dosa yang telah aku perbuat dan sekarang saatnyalah aku menghapusnya.Semoga Allah mangampuninya.Amien…
Selamat hari lebaran Man,maaf bila selama ini aku mempunyai salah padamu.

/////////.,.;’’/;./’’//.,.’’/.

Aku keluar dari kamarku ketika ku dengar suara epak memanggilku dari ruang tengah, masih dengan memakai mukenah karna baru saja aku selesai melaksanakan shalat maghrib ku temui beliau.
“Ada apa pak?” Tanyaku sambil duduk di korseh di depan epak.
“Sebelumnya epak minta maaf Lia.Tadi pagi sewaktu kamu ke rumah Fatim keluarga Ismail datang lagi ke sini.Maksud mereka tetap sama. MELAMARMU! Sekarang bagaimana denganmu nak?Epak tak ingin memaksa hanya saja epak tidak mengerti denganmu nak,kau selalu saja menolaknya.Apa kau sudah punya yang lain? Epak todus ke keluarganya Ismail Lia.Selalu saja mereka menerima kekecewaan dari

keluar kita tapi mereka tetap saja baik.Epak tak maksa’ah, hanya saja tolong jangan kau buat epak dan emakmu ini malu untuk yang kesekian kalinya.
“Baiklah, epak kasih kamu waktu sampai telasan topak,kalau sampai hari itu kamu belum juga mempunyai calon mungkin Ismail memang yang terbaik untukmu.Maaf kalau epak sedikit memaksa tapi epak tidak mau kamu terlalu sibukdengan pekerjaanmu sampai-sampai kamu lupa dengan umurmu yang sebentar lagi akan berkepala tiga.” Epak berlalu dengan menyimpan sejuta kekesalannya padaku.Ada perih yang merayap di hati bila mengingat perkataan epak barusan.
“Se sabbher yeh bing!” Ujar emak sambil mengusap punggungku penuh sayang.Ku tumpahkan semua tangis dan kesedihanku di pelukannya..

/.,./;’/.;/’.;/////;.’,///;;

“Aku hanya ingin dia yang terbaik untukku ya Allah.Maaf bila aku terlalu lancang tapi aku sudah terlalu lelah untuk mengharapkannya.Dua hari lagi aku harus memutuskan.Bila memang dia untukku berilah aku pertanda begitu pula bila dia tak bisa lagi ku harapkan.Bantu aku ya Allah…Amien…” Aku larut dalam sujudku subuh ini.Kutumpahkan segala kegundahanku , segala bebanku hanya pada-Nya.Tuhan penguasa alam beserta isinya.
“Tok…tok…tok,” tiba –tiba ku dengar pintu depan ada yang mengetuknya.Siapa gerangan subuh-subuh begini yang hendak bertamu.Dengan rasa penasaran aku keluar kamar dengan masih menggunakan mukenah.Ku lihat epak dan emak juga hendak keluar kamar.
Ku sibak sedikit kelambu di ruang tamu untuk melihat siapa gerangan tamu yang tidak tahu adat sopan santun bertamu itu.Malingkah?Orang baik-baikkah? Sayang, hanya bayangannya saja yang terlihat.Dengan membaca Bismillah perlahan ku buka pintu.
Aku terpaku di tempatku ketika melihat siapa yang tengah berdiri di depanku saat ini.Penampilannya begitu berantakan, tidak seperti direktur muda yang selama ini ku kenal.Rambutnya acak-acakan,dasinya berantakan begitu pula dengan kemeja putihnya,sedangkan jasnya tak ku lihat ada di padanya.
“Iman?” Aku tergeragap melihat sosoknya kembali hadir di depanku saat ini.Berjuta rasa berkecamuk dalan hatiku.Ada rasa marah,kesal karna selama ini dia menghilang begitu saja dan rasa rindu yang mengalahi segalanya.
“Lia?” Iman melihatku seperti orang yang kebingungan.Sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu padaku tapi dia hanya melihatku.Ku dengar langkah kaki epak dan emak menyusulku.
“ Lia maafkan aku kalau selama ini aku tidak pernah memberi kabar, aku hanya takut mengganggu acara liburanmu.Akhir –akhir ini aku selalu saja dilanda kebingungan.Kebingungan yang tak pernah aku rasakan.Sampai akhirnya ku temukan jawabannya dan langsung ku putuskan untuk menyusulmu tanpa persiapan apapun.Bahkah untuk sampai ke rumahmupun aku masih harus bertanya pada setiap orang yang ku temui di jalan.” Ada perasaan kasihan yang menyusup di dadaku ketika mendengar ceritanya .
“Ada apa Man sampai begitu kau paksakan untuk menyusulku ke Madura?” Akhirnya keluar juga suaraku yang sedari tadi tertahan di tenggorokan.

“Lia, aku butuh bantuanmu.Bukankah dulu sudah pernah kukatakan padamu bahwa aku akan ke Madura bila ada sesuatu yang istimewa pada Maduramu ini ,dan sekarang aku telah menemukannya.Ku rasa kau pasti mengenalnya.”
Deg! Satu pukulan telak tepat mengenai ulu hatiku.Apa yang telah dia katakan barusan?Sesuatu yang istimewa?Seorang bidadarikah yang dia maksud itu?Dan dia rasa aku mengenalnya?Ya Allah…inikah jawabanmu atas do’a-do’aku?Inikah akhir dari segala penantianku ?Ku rasakan panas menjalari hati dan mataku.
“Aku telah menemukan bidadariku di sini dan apakah kau yakin dia akan menerimaku?” Demi menyenangkan hatinya ku anggukkan sedikit kepalaku walaupun sangat terpaksa.
“Namanya…Maukah kau menikah denganku Lia?”
Aku tak mampu lagi berkata-kata.Seketika ku rasakan seluruh persendianku luruh bersama do’a yang selama ini tak pernah lupa untuk ku panjatkan.Ya Allah inikah jawaban terakhirmu atas do’a-do’aku selama ini?
Ku lihat matahari mulai menampakan senyumnya.
Fabiayyi alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan.Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...