AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, mengapung, berayun berbaku-lantun bagai saling tindih? Ada, jawab orang-orang yang pernah naik kereta antara dua kota, yang dipisahkan oleh lembah dan perbukitan itu. Begitu kereta lepas dari jembatan dan kemudian keluar dari terowongan menuju kota sebelah timur, rel akan lurus beberapa ratus meter dengan dinding terjal di kiri-kanan. Maka di situlah, di bagian rel yang bagai membelah bukit itu, dalam waktu yang tak tentu, para penumpang serta-merta akan menegakkan kepala, memasang telinga; dan mendengarnya.
Tangis itu, mulanya samar, timbul tenggelam dalam jig-jes gesekan roda. Kemudian meninggi, melengking, dan tiba-tiba menghenyak, lirih, untuk kemudian mengapung bagai berayun, berbaku lantun, pada dua tebing di kiri kanan kereta. Para penumpang, seperti biasa, akan terkesima. Tetapi ia, yang waktu itu masih stoker (juru api atau asisten masinis), tak bisa disebut hanya terkesima. Dan juga, berbeda dari para penumpang yang setelah lewat lokasi bisa segera melupakannya, ia akan terpaku, lama. Tubuhnya menggigil, basah berpeluh, dingin bagai berembun. Perasaan seperti apakah, wahai, yang menggasaknya?
Karena tak tahan, setiap lewat di lokasi itu, ia pun kemudian memilih menutup telinga. Bertahun-tahun itu ia lakukan, sampai kemudian ia temukan cara lain: membunyikan peluit kereta (yang dalam istilah perkeretaapian disebut “semboyan 35”) terus dan berulang-ulang, mengalahkan semua suara. Itu, bertahun-tahun pula. Sampai kemudian ia dipindahkan ke trayek lain. Dan jadi masinis.
***
MEMANG, ia tak lagi mendengarnya. Tetapi, toh bukan berarti sekalian ia bakal lupa. Walau jauh dari trayek itu, pada waktu-waktu tertentu, pikirannya tetap disergap bayangan: Terowongan, rangkaian lepas, lok meluncur, dan pemandangan gerbong-gerbong berhantaman terjajar-jajar di kedua tebing. Lalu pekik, jerit tangis, lolong pilu… meski konon telah puluhan tahun, dan sangat buram, ia sempat melihat fotonya. Bagaimana bisa, semua itu, bagai abadi menembus waktu?
Menembus waktu … itulah persoalannya. Di trayek baru, berbeda, tetapi sama.
Bocah manis, gadis kecil. Seragam putih-merahnya bagai jelas di depan mata.
Dari jauh, ia telah melihatnya. Lokasi itu memang melintasi kampung pinggiran kota. Ada sungai kecil, di atasnya bersisian jembatan KA dan jalan raya. Dari pengalaman-dan seperti sering ia khawatirkan-kanak-kanak suka memilih meniti rel daripada menyeberang di jembatan biasa. Dan dengan ringan, gadis kecil, berkucir, berseragam putih merah, bertas punggung dengan sebelah tangan mendekap buku lebar itu, melangkah turun dari jalan aspal untuk naik ke bantalan rel. Begitu tenang. Tanpa waswas. Bagai tak ada sesuatu apa pun di depan.
Padahal, stoker-nya telah membunyikan peluit. Tapi, ia tak melihat reaksi si bocah. Secepat kilat ia segera melepas gas, dan menarik, menekan rem pada posisi mati. Roda mengunci, rel bergedecit, tetapi kereta terus melaju. Dengan kecepatan sisanya yang masih sekitar 30 kilometer perjam, kereta menyambar, melindas tubuh kecil, mungil… berkeping! Ada bagian yang tersangkut di rangka jembatan, ada potongan yang jatuh ke sungai, berserakan bersama buku-buku yang berhamburan dari tas.
Padahal, kalau bocah itu segera berlari ke ujung jembatan, masih akan sempat. Tetapi, tubuh kecil itu hanya terpaku, mendekap buku lebarnya dengan mata terbelalak, berteriak, “Emaaaaakkk…!” Dan ketika lokomotif masuk depo di kota berikut, barulah ia tahu buku lebar itu ikut terbawa, entah bagaimana caranya, tertelungkup di lantai lok. Saat ia raih dan lihat, ternyata buku gambar. Baru satu halaman yang terisi. Dan gambar itu … gambar serangkaian kereta yang tengah melaju. Di bagian bawah, dengan huruf-huruf besar yang terkesan masih berserak, tertulis: Kereta Lebaran.
Ia menggigil. Gemetaran. Saat itu, memang, minggu depannya adalah lebaran.
***
TANGIS itu pun kembali mengapung, berayun, berbaku-lantun. Tak ada tebing yang melantunkan, tetapi semua: pohon-pohon, belukar, rumah-rumah, gedung, tiang-tiang, daun, bahkan debu, bahkan udara pun, telah menjelma sesuatu seperti tebing yang tak putus-putus tak henti-henti melantunkan tangis. Terowongan, lok meluncur, gerbong berbelintangan, bertindihan dengan wajah manis, mungil, berkucir, teriakan memanggil “Emaaakk!”, dan gambar bertulisan Kereta Lebaran.
Seperti dulu, ia berusaha menyingkirkan suara tangis itu dengan berbagai cara. Tetapi, tak bisa. Bahkan ia mohon pindah trayek-dan diizinkan, bahkan pindah rumah, tapi semua hanya sia-sia. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, barulah ia sadar ada yang berbeda. Tangis itu tak berayun dan berbaku-lantun di udara; akan tetapi pada suatu tempat di dalam dirinya. Bagaimana bisa ia melupakan, bila tubuhnya selalu ia bawa?
Terlebih lagi, saat lebaran itu tiba. Dadanya akan sesak, lalu bagai rengkah, dengan tangis yang bagai menyembur ke udara. Tangis itu akan saling raih, berbaku-tindih, dengan suara takbir dan beduk yang bagai menyambut di angkasa. Dan dengan berbagai alasan, ia akan mangkir menyurukkan tubuh dengan berjalan di gang-gang di lorong-lorong tak tentu arah, berharap agar bisa lupa. Tetapi, ke lorong atau ke gang mana pun, akhirnya, selalu ia akan sampai ke rumah itu.
Bukan, bukan rumah. Tetapi, hanya sebuah gubuk di pinggir kota. Berlantai tanah, tak ada kamar, hanya balai-balai dan sebuah meja. Di satu sudut, seorang ibu tengah membungkuk, mengaduk-aduk sesuatu di atas tungku. Seorang bocah perempuan, mungil, berkucir, duduk menekuk tubuh sangat dalam bagai telungkup di balai-balai asyik menulisi buku lebar yang masih baru.
“Mak, aku menggambarnya.”
“Menggambar apa?”
“Ini.” Si bocah berdiri, berjalan ke arah si ibu menghadapkan buku gambarnya.
“O, kereta lebaran?”
“Ya, bagus kan?”
“Bagus, bagusss…”
“Jadi kan, kita melihat Nenek?” ujar si bocah kemudian.
“Y-ya, ya.” Si ibu tergagap. “Tapi, seperti yang Mak katakan, kalau kita…”
Si bocah memotong, “Kalau kita ada uang? Kalau kita dapat kereta? Aaa, Emak!”
TENTULAH bocah kecil itu telah berkali-kali meminta, merengek-rengek kepada si ibu, mudik ke tempat neneknya merayakan lebaran. Dan ibunya, selalu, dengan berat hati akan berkata hal itu bisa mereka lalukan hanya kalau mereka punya cukup uang dan juga keberuntungan: mendapat tempat di kereta. Pernahkan suatu kali mereka gagal naik kereta, dan batal mudik, hanya karena kalah kuat berdesak-desakan?
Tentu pula, hal itu, akan membuat keinginan si bocah semakin kuat. Begitu kuatnya, sehingga, bila malam, mungkin akan terbawa ke mimpi dan siangnya ia menggambar itu: kereta lebaran. Di manakah kampung mereka? Dan… nenek, kenapa hanya nenek? Apakah ia tak memiliki kakek? Ah, kakeknya tentu telah meninggal, seperti juga ayahnya, sehingga ibunya yang masih muda itu terpaksa berjuang sendiri menghidupi mereka. Kenapa … kenapa mereka tak pulang kampung saja? Kenapa si ibu memilih hidup di kota? Apakah pekerjaannya?
Atau, mungkin sebenarnya mereka tak memiliki kampung. Sebenarnya mereka tak lagi memiliki siapa-siapa tetapi si ibu sengaja berbohong menyenang-nyenangkan hati anaknya. Semua orang punya kampung, semua orang mudik ketika lebaran. Dan pekerjaan si ibu… pekerjaan si ibu sebenarnya… ah, segera ia membalikkan tubuh, bergegas meninggalkan gubuk itu tak tahan pada semua. Dan di rumah, ia disambut oleh istrinya. Istri! Istri yang… wajahnya begitu mirip dengan ibu muda itu. Dan di sana, di ruang tengah, menekuk kepala sangat dalam bagai terpuruk ke meja, seorang bocah perempuan, mungil, berkucir, asyik menulisi buku lebar yang masih baru. Anaknya?
Istrinya. Anaknya.
***
ADAKAH seseorang, di dunia, yang tak henti tak putus-putus menggigit bibir, menghela napas, menahan tangis dari dadanya? Ada, jawab pohon-pohon, jawab belukar, jawab rumah-rumah, gedung, tiang-tiang, daun, bahkan jawab debu, bahkan jawab udara di sepanjang lintas rel yang dilalui si masinis. Bahkan mereka juga tahu, masinis itu sama sekali tak memiliki istri, tak memiliki anak. Sepanjang waktu, entah telah sejak berapa puluh tahun, ia hanya hidup dalam bayangan.
Sepanjang hidup, ia hanya ada dalam kesedihan. Dalam kepedihan. Dalam gilas suara roda: jig-jes, jig-jes, jig-jes… yang di dadanya selalu menjelma: tangis, tangis, tangis…***

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...