AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Malaikat Kecil

Posted by Areiz Hiugan 0 Comment

MESKIPUN tubuhku telah rapat pukulan Bapak, masih saja pukulan demi pukulan itu kuterima. Teriakan dan tangisan minta ampunku pun gagal meredam amarahnya. Dengan wajah beringas menumpahkan sumpah serapah penuh aroma alkohol, Bapak terus menghajarku, serupa petinju kelas berat menghajar sansak. Pukulan bertubi-tubi itu mengantarkan aku ke puncak rasa sakit, hingga akhirnya, aku tak merasakan lagi rasa sakit itu. Sejak saat itu, tangisku pun terhenti. Aku masih menyisakan perlawanan dengan menatap Bapak lekat-lekat.Sekarang pukul aku, bajingan cilik!” Aroma alkohol Bapak membadai di ruang hidungku. “Ayo pukul! Ayooo pukul!!!”
Aku tetap berdiri mematung. Pelan-pelan kuraih pisau lipat dari kantung celana, dan beberapa detik kemudian kurasakan tanganku berkelebat. Wajah Bapak tergores. Darah menetes. Bapak tersenyum sambil mengusap pipi dan menjilat darah yang melekat di jari tangannya.
“Aku senang kamu mulai berani melawan. Ayo teruskan. Teruskan! Aku ingin kamu jadi bajingan besar. Pembunuh besar! Bukan pengecut!” Bapak terus mendesakku, hingga aku terpojok di sudut ruangan. Mulut Bapak hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Aroma alkohol terus membadai. “Aku ingin kamu jadi bajingan besar. Maling besar. Tak hanya jadi pencopet yang hanya bisa mengutil kerupuk!” Bapak kembali melayangkan pukulan tepat di ulu hatiku. Rasa nyeri menggerayangi sukmaku. Aku terhuyung. Dengan sisa-sisa kekuatanku, kuayunkan pisau lipat. Namun, hanya angin yang bisa kurobek. Tawa Bapak berderai, mengiringi rebah tubuhku.
Ibu, yang sejak tadi menangis terisak, langsung menubruk tubuhku. Kurasakan airmatanya yang hangat menetes di pipiku.
“Tinggalkan kami bajingan tua!” kutuk Ibu dengan suara gemetar.
Bapak tertawa. Sinis. “Justru kamu yang harus pergi. Aku tidak ingin anakku dididik pelacur malang seperti kamu.”
“Bagaimanapun dia anakku. Aku yang mengandungnya. Kamu tak lebih dari pejantan….”
“Dasar mulut ember! Kamu mestinya merasa bersyukur karena aku mau menitipkan benihku di rahimmu!”
Tangis Ibu terhenti. Ia tertawa. Masam. “Sebelum aku kau tiduri, entah berapa lelaki telah menggauliku. Hingga aku hamil. Jadi, tak ada yang bisa menjamin kalau Socra ini anakmu. Bisa saja dia anak cendekiawan, seniman, politikus, pengusaha, birokrat, atau koruptor, manusia sejenis ular, kadal, macan, buaya, setan atau bahkan iblis. Kamu tak berhak mendidiknya menjadi maling atau pembunuh macam kamu, meskipun mungkin saja ia berdarah tukang jagal, garong atau rampok sekalipun. Titisan darah pembunuh tak harus jadi pembunuh! Bukankah ia juga punya hak untuk menjadi semacam malaikat kecil?” Ibu terus memelukku. Melindungiku dari serangan Bapak.
“Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai mulut pelacur?”
Mendadak handphone Bapak menjerit.
“Ya, dengan saya sendiri. Ini siapa ya? Oooo Bapak. Ada apa Pak? Apa yang bisa saya bantu? Eeeeee… bisa-bisa… Soal itu gampang. Bapak bisa langsung kirim ke rekening saya. Tidak mahal Pak. Bapak tahu sendiri, ini risikonya kan besar. Oke. Terima kasih…”
Tanpa memandang kami sedetik pun, Bapak langsung bergegas. Beberapa menit kemudian kudengar deru mobil Bapak meninggalkan halaman rumah.
ITULAH saat terakhir aku bertemu Bapak. Mungkin dua puluh tahun. Atau mungkin lebih. Yang kuingat, tubuhku masih lekat dengan seragam sekolah menengah umum. Bapak begitu membenci jika kenakalanku hanya sedang-sedang saja: berkelahi dengan kawan, tawuran atau kegiatan remeh lainnya. “Jadi apa saja, kalau hanya tanggung, ya tak menghasilkan apa-apa!” bentaknya.
“Aku ingin jadi politisi saja. Saya harap Bapak mau membiayaiku kuliah…”
“Untuk apa? Sudah terlalu banyak orang yang hidup dari kebohongan.”
“Bapak ingin saya jadi maling atau pembunuh?”
“Itu jauh lebih jantan dibanding mereka yang berkedok kemuliaan padahal yang dilakukan sama, mengais-ais rezeki di lumpur comberan. Kalau jadi maling atau pembunuh, hanya tanganmu yang kotor. Tapi tidak mulutmu. Mencuci tangan jauh lebih gampang daripada mencuci lidah. Kamu sama sekali tak berbakat bersilat lidah…”
Ketika aku lulus SMU, Bapak meninggalkan ibu. Tak ada yang ditinggalkan, selain sumpah serapah. Ia pergi bagai angin. Entah ke mana. Ibu juga tidak merasa perlu untuk mencari Bapak. Bentakan kemarahannya selalu menumpas kerinduanku pada Bapak. “Tak ada yang perlu disesali. Bahkan harus disyukuri, termasuk jika Bapakmu pergi ke neraka sekalipun!”
Dengan susah payah, Ibu membiayai aku kuliah di Kota Besar: sebuah peradaban baru yang melucuti keprimitifanku. Otakku bekerja keras menyerap gagasan-gagasan gemerlap yang mungkin datang dari langit. Tidak serupa “kuliah” rutin Bapak yang mengajarkan kekerasan… darah… darah… dan darah!
Aku sangat sedih, ibu tak bisa merasakan kebahagiaan ketika aku berhasil menyelesaikan kuliah. Di tengah pergulatan melawan kanker rahim yang ganas, Ibu pernah mengucap. “Aku ingin kamu jadi malaikat kecil yang dengan sayap-sayap kecil terbang mengawal arwahku kelak…” Akhirnya, Ibu harus menyerah pada maut.
Satu-satunya caraku membalas pengorbanan Ibu hanyalah berusaha menjadi malaikat kecil yang terbang mengawal arwah Ibu. Malaikat kecil? Ah aku yakin, Ibu terlalu berlebihan. Harapan Ibu itu seperti sinar matahari yang berupaya menghancurkan kegelapan malam yang muncul dari rongga impian pemabuk seperti Bapak, “Aku lebih bangga kamu jadi maling besar. Pembunuh besar!”
Dengan pedih, kata-kata Bapak itu hingga kini terus terngiang. Juga siang itu, ketika aku mengunjunginya di penjara Wallcatraz yang lembab, dingin dan terkenal “angker”. Hanya penjahat-penjahat besar yang berhak menginap di penjara tua yang terletak di pulau terpencil itu. Aku memasuki lorong-lorong kompleks penjara itu dengan sedikit gemetar. Di sepanjang lorong berulang kali kutemui laki-laki berwajah sangar digelandang para sipir dengan ringan cambukan dan pukulan. Langkahku terasa berat menyusuri lorong-lorong panjang itu, hingga sampai di ruang besuk.
“Socra ya?” Rupanya ingatan Bapak masih cukup tajam. Ia dengan cepat mengenaliku. Tubuhnya tampak kurus. Kumis dan jenggot tumbuh sangat lebat, selebat sumpah serapahnya yang selalu lekat kukenang. Meskipun tampak sedikit lemah, Bapak masih menatapku dengan nanar. Bola matanya serupa bola api. Keharuan menggenang di kantung batinku. Aku tak kuasa menahan dua anak sungai yang mengalir di pipiku.
“Tangisan hanya menunjukkan kelemahan.”
Aku tersengat. Ada rasa bangga yang diam-diam merayap di rongga jiwaku. Bagaimana mungkin Bapak bisa setegar itu? Bukankah hidupnya di ambang maut? Besok pagi, dia harus menghadapi regu tembak. Belasan timah panas akan merobek jantungnya!
“Jantungku telah kuberikan kepada hidup…” Bapak mendesis, seperti ular licik yang tetap tegar menghadapi sayatan belati pemburu.
“Tapi kenapa Bapak harus membunuh Hakim Agung Lopez Mannees itu? Bahkan sampai menghabisi keluarganya?”
Bapak tersenyum. Sama sekali tak menunjukkan penyesalan.
“Ya, kenapa tidak? Itu memang pekerjaanku. Ada orang yang merasa dirugikan oleh keputusan Pak Lopez. Ia berani membayarku dengan mahal. Dan aku sepakat pada aturan permainan. Tidak akan menyebut nama dia.”
“Tapi kalau Bapak mau mengungkap otak pembunuhan itu, barangkali hukuman Bapak tidak akan seberat ini.”
“Untuk apa? Sejelek-jeleknya pembunuh adalah yang mengingkari kesepakatan dan bersikap pengecut. Eeeee… kamu sendiri bagaimana? Sudah sangat lama kita tak bertemu, sudah berapa orang yang kau bunuh, anakku.”
“Maafkan aku. Aku telah mengecewakan Bapak. Aku sudah berusaha keras. Tapi ternyata aku sama sekali tak berbakat menjadi perampok, maling atau pembunuh macam Bapak… Maafkan aku…” Suaraku tertahan. Air mataku hendak tumpah, tapi cepat kecegah. Aku tak ingin Bapak tertawa geli melihat kecengenganku.
“Lantas selama ini kamu jadi apa? Dan apa saja yang kau kerjakan?”
Kata-kata Bapak membadai dalam rongga jiwaku. Pertanyaan itu begitu telak, setelak pukulan tinju Bapak yang dulu hinggap di ulu hatiku. Otakku bekerja keras merancang kalimat yang hendak kuucapkan. Tapi, kalimat-kalimat itu justru menjelma gumpalan-gumpalan aneh yang menyumbat tenggorokan. Tarikan demi tarikan napas kulakukan untuk menenangkan jiwaku yang gelisah. Tapi tak juga menolong. Aku tetap saja gagal menguasai diriku.
“Bapak telah siap menghadapi maut?” ucapku tiba-tiba, mencoba mengalihkan pembicaraan. Bapak memandangku dengan tatapan yang tetap saja nanar. Bola-bola api itu berpendar-pendar di matanya.
“Kapan pun aku siap. Dan sedikit pun aku tak gentar pada maut. Aku mampu mereguk segala kenikmatan dan kemewahan juga atas jasa maut. Jadi kalau kini sang maut itu berbalik meremas jantungku, aku dengan senang hati menerimanya.”
“Apa yang Bapak inginkan menjelang kematian? Mungkin ada pesan?”
“Satu-satunya yang kusesali adalah kegagalanku membinamu menjadi maling besar, atau pembunuh besar…”
“Bukan itu. Maksud saya yang lebih berkaitan dengan perjalanan Bapak nanti…”
“Aku sama sekali tak takut dengan kematian. Karena selama ini aku hidup dari kematian orang lain. Dan kematian itu sangat indah, anakku. Berulang kali aku membikin orang mengerjat-ngerjat kesakitan, kemudian nyawanya loncat… bersama angin… ah… fantastis…”
“Mungkin Bapak perlu bimbingan untuk berdoa?”
“Kenapa kamu bilang begitu? Apakah kamu…?”
“Ya. Aku ditugaskan untuk membimbing bapak untuk berdoa.”
“Jadi kamu ini pendoa? Semacam rahib, anakku? Apakah Tuhan sudi menerima doa pendosa macam aku ini?”
Aku mengangguk, pelan. Kulihat mata Bapak berkaca-kaca. Baru kali ini kulihat air mata Bapak menitik.
“Ibu mengharapkan aku menjadi semacam malaikat kecil yang terbang mengawal perjalanan arwah Ibu.”
“Mungkin juga arwah Bapakmu…” Bapak langsung memelukku. Erat. Sangat erat. Baru kali ini kurasakan kasih sayang seorang Bapak mengalir dan menggenangi ceruk-ceruk jiwaku. Pelukan Bapak merenggang, ketika terdengar suara sol sepatu menghajar kesunyian.
“Sudah siap Bapa?” ujar seorang petugas dengan sangat santun.
“Biarkan kami bicara dulu,” ucapku pelan.
Petugas itu pelan-pelan meninggalkan kami. Ruang penjara kami rasakan sangat kuat menekan kami. Pelan-pelan, dinding-dinding yang dingin itu terasa menghimpit kami. Kami berpelukan. Erat sekali. Seolah-olah kami tak bisa dipisahkan oleh kekuatan apa pun. Kurasakan pundakku basah.
KUTINGGALKAN penjara dengan langkah yan sangat berat. Waktu terasa melaju begitu cepat. Gerimis putih yang menaburi senja membuat hari semakin tua, semakin gelap. Selebihnya adalah detik-detik arloji yang mengiris waktu, menjadi kepingan-kepingan masa lalu yang muram.
Suara ledakan senapan regu tembak itu membentuk dinding rongga jiwaku. Aku melihat wajah Bapak tersenyum. Kematian itu begitu indah. Tapi tidak untuk yang ditinggalkan. Arwah Bapak pun terbang menyusun arwah Ibu. Tapi aku tak pernah tahu, apakah aku bisa menjelma malaikat kecil yang terbang mengawal arwah mereka.

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...