AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

REMBANG malam telah menjelmakannya kelelawar. Dulu, setelah tiba di rumah sepulang kantor, mandi, berganti pakaian, dan minum susu sekadarnya yang disiapkan istrinya barulah dia menjadi kelelawar. “Nggak usah makan malam. Kan malam ini aku makan dengan klien. Minum seteguk dua teguk, cukuplah,” katanya, dulu. Selalu.
Di kemudian hari, suami itu tak sempat lagi lebih dulu pulang ke rumah sebelum kemudian menjadi kelelawar. “Nggak usah makan malam. Malam ini aku makan dengan klien,” kata suami itu dari seberang telepon. Kalimatnya tak lagi lengkap. Perempuan itu paham, tak perlu lagi dia menyiapkan minuman susu. Bersamaan dengan itu sekaligus perempuan itu juga tak lagi pernah mencium harum parfum yang disemburkan suaminya sebelum meninggalkan rumah – berangkat menjadi kelelawar.
Harum parfum dengan aroma tertentu yang sangat dikenal benar oleh perempuan itu –karena dialah yang membelikan parfum itu– menjadi penanda suaminya yang habis mandi itu akan menjadi kelelawar. Jika usai mandi senja suaminya hanya memercikkan eu de cologne, perempuan itu tahu suaminya tak akan pergi lagi, tak akan menjadi kelelawar, sehingga perempuan itu bukan saja perlu menjerang air panas untuk minuman susu hangat, tapi juga mereka akan makan malam bersama di rumah.
Sejak beberapa bulan terakhir, perempuan itu tak lagi pernah membaui eu de cologne atau eu de toilette dan harum parfum tertentu itu. Cuma cuping hidungnya yang kemudian bergeletar karena aroma sangit menyergapnya. Itu artinya, suaminya sedang berada di samping ranjangnya sepulang menjadi kelelawar. Perempuan itu tak hendak menafsir-nafsir bau sangit itu dikarenakan suaminya lamban terbang dan terlambat menghindari sinar matahari pagi yang keburu menyengat sayapnya.
Perempuan itu makin yakin tak perlu menanyakan musabab bau sangit itu, karena suaminya tak menunjukkan tanda-tanda mengeluh. Apalagi dari balik jaket suaminya kemudian berontokan berkarung-karung beras, berkantong-kantong tepung terigu, berjerigen-jerigen minyak goreng, berkilo-kilo telur, bergalon-galon air mineral, berpeti-peti roti, dan berpak-pak frozen food.
“Cukup untuk persediaan sampai habis bulan?” ujar suaminya sambil memilih dan memilah barang-barang bawaannya untuk disimpan dalam kulkas, dalam freezer, atau rice box.
“Besok kubawakan yang lain, khusus untukmu. Parfum, dupa ratus, aroma terapi, maskara, blush on, lipgloss, lotion….,” suaminya mengebas-ngebaskan jaketnya untuk memastikan bahwa semua yang terselip dan melekat di jaket itu sudah semuanya tertumpah.
Perempuan itu tak hanya tak sempat menanggapi, namun juga dia tak hendak bertanya. Dia tahu suaminya tampak capek. Wajahnya kusut dan lecek. Sebagaimana biasa –seperti juga saat pulang dari kantor– suaminya akan mencuci tangan dan kaki serta membasuh muka. Bedanya, saat pulang pagi suaminya akan lebih dulu rebahan beberapa menit sebelum kemudian kembali meninggalkan rumah, menuju kantor tempatnya bekerja.
***
PEREMPUAN itu tak akan pernah bertanya perihal bau sangit itu, karena dia mendapatkan jawabannya ketika dia pergi arisan para ibu, atau saat kondangan, atau nonton bioskop di sinepleks.
“Apakah Jeng menjadi kelelawar kalau malam?” seorang ibu dalam sebuah arisan bertanya padanya sambil menutupkan kipas kayu cendana miliknya persis di depan hidung – terkesan dia sedang menghalau bau tak sedap.
Perempuan itu hanya tersenyum. Sesungguhnya dia ingin menjawab bahwa suaminyalah yang menjadi kelelawar. Karena tak ingin memamer-mamerkan diri, akhirnya perempuan itu menjawab pertanyaan ibu itu hanya dengan senyuman. Senyuman yang tak termaknakan, atau malah maknanya berlipat-lipat dan berlapis-lapis.
“Jeng dari wilayah mana? Kompleks tetangga diserang pagebluk lho…,” sapa seseorang dalam sebuah kondangan perkawinan di sebuah gedung pertemuan. Lagi-lagi perempuan itu hanya menorehkan senyuman. Tapi dia merasa ada nada sindiran dalam pertanyaan itu. Seseorang yang bertanya itu juga menutup hidungnya dengan ujung selendangnya saat berhadap-hadapan dengan perempuan itu. Saat itu, perempuan itu datang bersama suaminya.
“Pagebluk itu apa sih?” tanya perempuan itu pada suaminya begitu mereka sama-sama memasuki mobil mereka di tempat parkiran.
Lingkaran purnama dalam posisi sepenggalah di langit tenggara.
“Pagebluk itu wabah penyakit,” jawab suaminya sambil menyalakan mesin mobil setelah memasang sabuk pengaman.
“Ooo. Sepertinya aku pernah dengar,” perempuan itu juga mengatupkan ujung sabuk pengaman ke ujung cengkeramannya. Sambil mengokang kopling, menginjak dan melepas pedal gas, suaminya bercerita.
Malam-malam, dari balik kamar, penghuni rumah jadi terjaga karena mendengar suara aneh di balik jendela. Setelah mencoba mempertajam pendengaran, suara di luar rumah di balik jendela kamar itu dipastikan sebagai suara binatang seukuran manusia dewasa bersayap lebar. Suara sayap yang berkepak dengan suara gegap itu membuat yang berada di dalam kamar memperkirakan hewan di balik jendela kamar itu sedang keberatan karena memanggul beban. Karena itu, hewan itu sekadar bisa melompat-lompat berat karena sayapnya tak mampu membuatnya terbang.
Begitu suara kepak sayap itu makin menjauh, matahari pagi pun tiba dan berpercik-percik embun di dedaunan menjadi luruh seperti peluh. Penghuni kamar yang semalam mendengar suara kepak sayap di balik jendela kamarnya, ditemukan tewas tanpa musabab yang jelas.
Hanya yang mendengar kepak sayap itulah yang terbetot nyawanya. Penghuni lain yang serumah –bahkan sekamar– yang tak mendengar apa pun, tetap saja dalam keadaan bugar.
“Jangan-jangan hewan bersayap itu malah malaikatul maut46,” perempuan itu berkomentar. Suaminya tak menanggapi. Dia terkesan mendadak meminggirkan mobilnya di jalanan arteri. Bulatan purnama masih di langit tenggara.
“Okay, kamu bisa pulang sendiri kan? Hari keburu malam,” kata suaminya sambil melepas seat belt-nya. Belum sempat perempuan itu pindah tempat duduk menggantikan suaminya di belakang kemudi, sekelebat perempuan itu mendengar suara kepak dari sayap yang lebar. Kepakan itu mengibaskan angin yang menyergap muka perempuan itu. Suaminya terbang menuju langit tenggara ke arah rembulan.
Bau sangit menyebar.
Tahulah perempuan itu: tamu dalam kondangan perkawinan yang menanyainya tadi –juga seorang ibu dalam arisan– tidak saja sedang menyindir, melainkan mendakwa. Perempuan itu yakin, ibu di arisan dan tamu dalam kondangan itu telah menghirup aroma tengik dari tubuh suaminya.
Setelah pindah ke kursi kemudi, sambil mengoper kopling, perempuan itu membaui tubuhnya sendiri. Cairan bayfresh yang baru dipasang dan dilekatkan di dashboard mobil langsung mengering.
Sejak itu, perempuan itu tak pernah lagi pergi kondangan, atau menghadiri arisan, nonton film di gedung bioskop, belanja di mal atau pasar swalayan. Perempuan itu membaui, kalung yang dia kenakan juga menyengat hidung, juga cincin, binggel, gelang, dan anting. Bahkan embusan napasnya juga bisa menggocok-gocok pernapasan siapa pun yang dengannya berpapasan.
***
MENDADAK perempuan itu ingin menjadi kelelawar.
“Ajari aku caranya,” kata perempuan itu pada suaminya.
Suaminya sama sekali tidak menanggapi.
Padahal, kalaulah misalnya suaminya menolak permintaannya, setidaknya perempuan itu berharap ada sebersit pertanyaan –sebasa-basi macam apa pun. “Kenapa?” misalnya seperti itu.
“Aku akan mengajarimu memilih parfum apa yang harus kau rengkuh, lipstik apa yang harus kau petik, kalung apa yang kau jemba, kutang apa yang kau oleh-olehkan untukku. Aku akan menemanimu memilih-milih barang bawaan, yang tidak menguarkan udara busuk, tengik, sangit, dan lengur.” Itu kemungkinan kalimat yang dia siapkan.
Tapi, jangankan menanggapi, suami perempuan itu bahkan terkesan sama sekali tak mendengar sekadar perkataan istrinya. Apalagi pertanyaan.
Lelaki itu bahkan menuang sendiri minumannya sekalipun istrinya sudah menyediakannya. Perempuan itu merasa sedang berada di tempat lain, yang sangat asing dan tiada sesiapa dan apa pun di sekeliling.
Tiba-tiba dalam kepala perempuan itu berkelebatan para bekas kekasihnya sebelum akhirnya dia menikah dengan lelaki yang kian kerap menjadi kelelawar itu.
“Aku semakin tak mengenalnya,” gumam perempuan itu. Makin tak mengenal, karena sesungguhnya perempuan itu belum mengenal benar siapa sosok yang kini menjadi suaminya itu.
Perempuan itu sama sekali tak tahu silsilah suaminya. Adakah dia bermoyang Pteropus vampyrus? Atau Cheiromeles torquatus, Taphozous saccolaimus, Rhinolophus? Jangan-jangan malah Tylonycteris robustula1…..
Di antara berderet kekasihnya, lelaki yang kini menjadi suaminya itulah yang paling dulu meminangnya. Hanya itu keistimewaannya. Kalau saja misalnya waktu itu yang mengajaknya menuju altar pelaminan adalah kekasih yang lain, perempuan itu juga akan sama penuh taklim tak akan menolak lamarannya.
Kini, dengan kesibukan suaminya menjadi kelelawar, perempuan itu menjadi merasa tak berguna. Suaminya hanya butuh menjadikan dirinya sendiri kelelawar.
Dan dalam aroma lengur yang makin memenuhi segenap ruang dalam rumahnya, perempuan itu diam-diam menabung rasa kangen pada para kekasihnya. Dia begitu ingin ketemu setidaknya dengan salah satu di antara deretan kekasihnya itu, setidaknya dalam mimpi.
“Hanya mimpi. Tak ada perzinaan dalam mimpi,” perempuan itu membatin. “Hanya mimpi yang menyelamatkan kesetiaanku terhadap lelakiku. Suamiku menjadi kelelawar bukanlah mimpi.”
Tak mudah bagi perempuan untuk memicingkan mata. Sebagaimana biasa, dia coba pancing rasa kantuknya dengan menonton acara televisi – televisi saluran mana pun, televisi dalam negeri, televisi luar negeri lewat jaringan, atau televisi langsung lewat antena parabola. Bahkan hingga matahari menyentuhkan sinarnya dan meluruhkan embun di lembar-lembar daun, layar televisi yang tak dimatikan telah kembali memulai acaranya lagi, mata perempuan itu masih tetap membelalak. Cuping hidungnya tak lagi peka membaui aroma tengik dan sangit sebagai tanda suaminya sudah hinggap pulang dari perjalanan malamnya. Bukan saja karena bau lengur itu sudah memenuhi seluruh ruang rumahnya, tapi memang sudah lama suaminya tak pernah kembali sebagai kelelawar atau menyemburkan parfum khas saat menjelang meninggalkan rumah dan menjelma menjadi kelelawar.
Perempuan itu senantiasa gagal memejamkan matanya, mengistirahatkan pikirannya, dan menidurkan benaknya. Sampai akhirnya pada dini hari keempatpuluhan ia berhasil merangkulkan tidur selama tujuh menit, dalam mimpinya dia mendapati suaminya sedang penuh gairah menyerap nektar, sebelum kemudian melompat ke putik bunga lain untuk kembali mengisap nektar lagi, lalu terbang dan hinggap mengisap nektar lain lagi di pucuk-pucuk kembang yang berjajar-jajar.
Rasa cemburu langsung menyergap perempuan itu, dan di puncak kecemburuannya, perempuan itu terbangunkan oleh kibasan sayap kelelawar yang menggendong berenteng-renteng kunci mobil. Suami perempuan itu baru saja pulang.
“Aku mau jadi kelelawar!” sergah perempuan itu dengan mata nyalang.
“Nggak perlu,” lirih suaminya menanggapi. Tanggapan pertama di antara bertumpuk-tumpuk keinginan yang pernah diungkapkan perempuan itu.
“Kenapa nggak perlu?” cecar perempuan itu.
“Biar aku saja yang tersiksa,” suaminya berujar, tampak bersabar.
“Tersiksa? Apanya yang tersiksa? Kau celupkan moncongmu ke sana kemari, kamu teguk rasa nikmat sari madu bunga, kamu bilang siksaan? Munafik!” perempuan itu menyumpah-nyumpah, dan mendadak merasa jijik berada di dekat suaminya. Baginya, kini, kenyataan adalah kelanjutan dari mimpi, sementara mimpi adalah harapan yang terus dia gantang dan gantungkan agar terwujudkan.
Saat wajah suaminya mendadak setengah terhenyak karena serapah istrinya, perempuan itu menjadi yakin, suaminya yang mencecapi madu-nektar itu adalah benar-benar kenyataan. Bukan mimpi.
“Menjadi kelelawar sama artinya jadi makhluk yang tak mati-mati. Bahkan susah untuk mati,” kata lelaki itu setelah berusaha menguasai diri.
“Kalau begitu, biarkan aku mengetahui, merasakan, dan memahami siksa tak mati-mati itu,” sinis kata-kata perempuan itu sambil menyorongkan urat nadi di lehernya untuk segera dipatuk suaminya.
Lelaki itu sama sekali tak menggubris. Masih dengan sisa sayap yang belum terkatup seluruhnya, lelaki itu menggelayut ke lemari es dan menjemba sebotol air mineral yang langsung ditenggak hingga berteguk-teguk.
“Atau biarkan aku menjelma bunga. Akulah bunga yang berlimpah nektar, madu, juga serbuk sari,” perempuan itu meradang.
Suaminya memandang dengan tatapan penuh ruang luang.
“Lalu?” tanya lelaki itu asal-asalan.
“Kalau aku menjelma bunga, nektarku akan kukucurkan untuk kekasih-kekasihku. Biar mereka ramai-ramai menyusu atau bergiliran mencecapku.”
“Aku juga kekasihmu,” suaminya menukas pelan.
“Tak ada larangan kamu untuk ikut mengantre menakik nektarku. Risiko tanggung sendiri kalau kekasih-kekasihku sudah melumat dan mengeringkan serbuk dan nektarku.”
Sejak itu, perempuan itu jadi mudah terlelap dalam tidur, dan dalam tidurnya dia saksikan suaminya berloncatan dari satu bunga ke lain bunga, dari belepot nektar yang satu ke belepot nektar lainnya. Selalu. Tak ada mimpi yang lain. Tak ada mimpi sebagaimana dia kehendaki.
Sejak itu, perempuan itu makin tak pernah mampu memperkirakan kapan suaminya pulang. Bisa saja pagi-pagi sekali suaminya pulang untuk kemudian segera bergegas siap-siap berangkat ke tempat kerja, sementara perempuan itu begitu nyenyak tidur sehingga ketika terbangun suaminya sudah berada di jalanan yang macet ke arah kantornya.
Yang dia yakin, untuk menjelma menjadi kelelawar, suaminya tak pernah berangkat dari rumahnya. Perempuan itu tak pernah lagi menghirup harum parfum dengan aroma khas itu. Sebotol ukuran large parfum itu –berdampingan dengan berbotol-botol eu de cologne– masih tegak diletakkan di rak dinding kaca samping kamar tidur mereka. Tutupnya tetap tersegel.***

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...