AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Saat ini, ada kebutuhan yang besar akan spiritualisme, baik di dunia secara umum maupun di kalangan muslimin. Kebutuhan akan spiritualisme di Negara-negara maju sudah lama terasa, dibandingkan dengan Negara-negara berkembang. Di Amerika Serikat, misalnya, kebutuhan akan spiritualisme itu sudah kuat terasa sejak tahun 1960-an. Hal ini bisa kita lihat dari maraknya budaya hippies, yang memberontak terhadap nilai-nilai kemapanan. Mereka pun mencari-cari alternatif baru. ada yang positif, namun tidak sedikit pula yang tampak negatif.
Di antara argumentasi yang dikemukakan dalam konteks ini untuk memperkuat asumsi bahwa zaman sekarang adalah zaman yang penuh paradoks dari abad Sains dan Teknologi, dan abad kecemasan. Manusia modern, seperti kisah-kisah yang sering dilaporkan dalam buku-buku psikologi bahkan film dan drama TV, menghadapi persoalan makna hidup, karena tekenan yang amat berlebihan kepada segi keterkaitan terhadap peristiwa-peristiwa tragis dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. Sudah lama psikologi menyadari, bahwa kehidupan sosial kita sebagai manusia, ditentukan oleh pilihan-pilihan. Antara lain pilihan tersebut kembali kepada eksistensi yang alamiah (pra-manusiawi), atau mengembangkan diri hingga manusia mencapai eksistensi dirinya yang lebih manusiawi. Kedua pilihan ini, setidak-tidaknya dalam pandangan psikoanalisis humanistik, tidak terelakkan, karena “akar-akar” psikis manusia seperti terlihat pada analisa klinis, mengarah pada dua kemungkinan, yang tentu saja, menimbulkan impikasi masing-masing yang berbeda.
Di satu sisi, kembali kepada eksistensi yang pra-manusiawi (binatang), akan menyebabkan manusia mengalami kemunduran mental-psikologis, sementara sebaliknya, berarti kita menyempurnakan kemanusiaan. “menjadi manusia” berarti menjalin hubungan dengan sesama dan dunia sebagai modus dasar kebersamaan.
Dalam encounter pertemuan subyek-subyek manusia mengalami dunia sebagai realitas objektif, yang tidak tergantung kepada siapapun; sebuah dunia yang dapat dimengerti. Sedangkan menjadi binatang, berarti tenggelam dalam realitas dan tidak berhubungan dengan dunia. Disinilah titik perbedaan mendasar antara menjadi manusia dan binatang.
Dalam perkembangan teori psikologi kepribadian, soal ini yang menggambarkan tentang “kualitas-kualitas manusiawi” begitu ditekankan; bahwa menjadi manusia tidak hanya berarti ada dalam dunia, tetapi sekaligus ada bersama dunia. Ibarat nya dalam kodrat manusia yang pra-manusiawi, manusia dituntut untuk mengembangkan kualitas-kualitas kemanusiaannya yang sejati kearah kesempurnaan diri sebagai manusia. Dalam ungkapan lain, jika dalam kodratnya yang pra-manusiawi, seorang manusia dituntut untuk memuaskan kebutuhan jasmaninya secara penuh, maka dalam pengembangan kodratnya yang manusiawi, manusia perlu mencari keseimbangan dan harmoni, sesuai dengan eksistensi sebagai makhluk yang bersifat ; jasmani-rohani. Jadi, di tengah situasi krisis manusia modern inilah, manusia harus manemukan kembali eksistensi dirinya.
Itu sebabnya, sebagai manusia, ia perlu menemukan arti eksistensinya itu, yang akan memberikan kepadanya apa yang disebut “makna hidup” (the meaning of life). Pencarian makna hidup berarti berusaha menemukan pemecahan masalah (problem solving) yang muncul atas setiap ketegasan eksistensi. Persoalan ini – yakni, persoalan makan ahidup dan pemecahan kreatif atas ketegangan eksistensi yang dihadapi seseorang pada hakekatnya adalah sumberpertumbuhan dirinya, yang kan memberikan kekuatan sebagai manusia. Tetapi disini lain, pradoksnya sumber di atas, juga bisa menjadi sumber nafsu-nafsu efeksi dan kecemasan.
Karena itulah tampa landasan eksistensial, yang menjadi tema besar psikologi humanistik atau yang sering dipakai ” fenomena penderitaan ” segala kegiatan manusia, tidaklah manusiawi. Dalam dorongan hati-nurani, manusia dihadapkan kepada kenyataan eksistensinya. Usaha kearah itu, akan dilakukan manusia dengan uji; coba dan salah (trial and error), sublimasi, identifikasi, dan sebagainya. Letak eksistensi manusia ada pada penerimaan, penhargaan dan dicintai orang lain. Kesadaran akan keterpisahan, tanpa penyatuan kembali oleh cinta, akan menjadi sumber rasa malu. Dan pada saat yang sama, juga menjadi sumber rasa bersalah dan kecemasan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah “psikologis baru” yang daoat memecahkan persoalan akan krisis makna hidup manusia dewasa ini.
Dalam kerangka inilah, cara pandang baru psikologi dalam melihat manusia dewasa ini, telah menjadi kecenderuangan mutakhir abad ini, yang disebut dengan aliran “psikologi humanistik”, yang salah satu temanya adalah persoalan makna hidup manusia. Namun, yang lebih menarik dari paradigma humanistic ini adalah: causa prima, yakni aktifitas manusia tidak lagi terletak dalam libido (nafsu-nafsu kesenangan, terutama seksual). Libido bukanlah sumber terakhir yang mendorong hasrat manusia. Pendorong tekuat dan mendasar tindakan manusia, menurut psikologi humanistik ini adalah kondisi eksistensinya, yaitu “situasi manusia” dan makna hidup yang didapatnya dalam pertemuannya dengan sesama.
Nah, kalau kritik terhadap psikoanalisis ini benar, maka seluruh individu dan sosial harus dipandang sebagai totalitas yang memberikan “kelahiran” kembali pada dirinya, sejalan dengan perkembangan akal-budi dan ruhnya. Inilah tujuan conseling humanistic. Bahkan sejaran manusia individu maupun sosial, harus dilihat sebagai rentetan “proses kelahiran terus menerus”, yang bukan lagi bersifat fisikal saja, tetapi telah menyentuh aspek psikis, sosiologos, relegius dan yang justru terpenting pada aspek spiritual. Kelahiran tersebut berlangsung menuju proses “kesadaran diri”( self-conscious ness) yang semakin matang, yang pada akhirnya mengandaikan pada identitas dan moralitas dalam proses pencapaian sebagai manusia sempurna. Itulah sebabnya, seluruh persoalan kebudayaan manusia dari sudut pandang psikoanalisa pada dasarnya sama; bagaimana mengatasi problem eksistensial dan mendapatkan makan hidup, dari mana pun itu akan diperolehnya, baik melalui pergumulan hidup maupun dalam proses keberagamaan. Apalagi, seluruh kebudayaan ternyata memang menyediakan bentuk-bentuk pemecahan atas masalah eksistensial manusia itu, yang diusahakan demi mendapatkan kepuasan (psikologis).
Disinilah menariknya, apapun pandangan kita terhadap agama teitis atau non-teitis dari sudut pandang psikologi humanistic pada dasarnya adalah usaha memberikan pemecahan atas problem eksistensial manusia dan makna hidup. Karena, sejarah agama adalah sejarah jawaban-jawaban atas cara manusia memecahkan masalah eksistensialnya itu. Perbedaan diantara cara beragama yang satu dan lainnya, hanyalah dalam kadar jawaban yang diberikannya; ada yang lebih baik dan ada pula yang lebih buruk; ada yang lebih memuaskan dan ada yang kurang memuaskan.
Tetapi lepas dari itu semua, baik atau buruk, memuaskan atau kurang memuaskan, setiap agama pada dasarnya memberikan jalan ke arah penemuan makna hidup itu kepada setiap pemeluknya (ummat beragama). Dari sudut pandang ini, maka seluruh kebudayaan adalah relegius, dalam artian memberikan kerangka orentasi dan obyek pengabdian setiap pemeluk agama.

.

Categories: Article

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...