AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

TERIMA KASIH TUHAN..!

Posted by Areiz Hiugan 0 Comment

Entah berapa lama aku duduk termangu didepan jendela ini, jendela satu-satunya kamarku. Sembari menatap indahnya pagi, mentari memburatkan sinar keemasan mengakhiri percakapan sang embun dengan rerumputan, angin dingin membelai dedaunan pagi, mereka seakan menari diiringi oleh alunan sendu gemerincik air sungai yang melompati bebatuan.
Ku renungi lagi suratan takdirku, kuhayati garis ketentuan-Nya atasku. Aku sadar, aku hanya manusia yang tak berdaya. Aku hanya bisa berharap, namun akhirnya, tetap saja keputusan ada di tangan-Nya. Walau terkadang aku merasa tidak puas akan hal itu, lalu kepada siapa aku harus mengadu?, Dan siapa yang mesti aku salahkan?. Aku pun masih ingat pada cita-citaku, pada Ambisiku dan keinginanku yang masih ingin aku capai, walau kini seakan pupus dariku. Mengapa ini harus terjadi?.
Suara percikan air dari dalam kamar mandi yang tak jauh dari tempat aku duduk mengembalikan lagi kebimbangan yang aku rasakan. Entah berapa lama orang itu mandi. Dan memang, orang itulah yang selalu menggangu pikiranku akhir-akhir ini. Kehadirannya dalam hidupku memaksaku merubah idealisme yang selama ini kupertahankan.
Pintu kamar itu mandi perlahan-lahan terbuka sejurus kemudian orang itu keluar, seorang wanita dengan sarung diikat di atas dadanya, handuk putih melekat di bahunnya. Kuakui, ia memang cantik, tutur katanya lembut, manja dan menyenangkan. Bibirnya selalu menyunggingkan senyuman manis menghiasi mukanya yang bulat. Oh, sungguh sempurna ia bagiku. Dengan basa-basi kutanyakan
“Sudah mandi, ya?”
“Sudah Mas.”
Lantas ia mendekatiku dan memeluk pundakku. Sikapnya yang ramah membuatku sulit untuk menolak setiap keinginannya. Suara halus terdesir dari bibirnya menyeruak masuk ketelinga kiriku
“Mas! mandi sana, bau.” Dahiku mengernyit mendengar permintaannya dan aku mengiyakan dengan senyum agak di paksakan. Kemudian ia melanjutkan “nanti, kalau Mas sudah mandi. Aku bawakan teh hangat dan sarapan.” hatiku luluh mendengar kata-katanya dan aku yakin aku tak akan pernah mampu untuk sekedar mengatakan tidak kepadanya.
Ia berlalu dariku. Setelah mengenakan baju iapun keluar dari kamar. Dalam kesendirian aku putar ulang kaset kehidupanku, rentetan memori itu kembali memenuhi pikirannku.
Kamis 25 juli, tepatnya lima hari yang lalu. Siang itu aku baru duduk di kamarku, melepaskan penat dan lelah yang kurasakan setelah selesai menyelesaikan tugas edukasiku. Seorang santri datang mengucapkan salam dan memanggil namaku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Oh, ustadz Dimas! Ada yang menelpon anda. Katanya sih penting.” Jawabnya dengan napas tersengal-sengal.
“Siapa?. Laki-laki apa perempuan?”
“Laki-laki.”
“Ya. Sebentar lagi aku datang.” Tukasku mengakhiri percakapanku dengannya.

Siapa kira-kira yang menghubungiku siang-siang begini dan ada perlu apa? gumamku. Tapi, yang pasti ia bukan temanku. Kalau memang temanku pasti ia akan menghubungi nomer Hp-ku. Karena memang, jabatanku sebagai Ustadz baru memperbolehkanku memiliki Hp. Aku yakin ia keluargaku, karena aku belum sempat memberitahu mereka bahwa aku sudah mempunyai Hp.
Aku berangkat dari kamarku, asrama Blok Garuda. Pondok pesantrenku, Al-Ihsan mempunyai 5 asrama. Blok Garuda asrama yang dikhususkan santri baru. Terdiri dari 6 kamar ; empat kamar untuk santri, satu kamar untuk para pengurus rayon dan yang satu lagi untuk para guru. Yang itulah kamarku!. Blok Garuda bersebelahan dengan Blok Nusantara dan didepannya adalah Blok Merdeka. Ada dua Blok lagi yang agak jauh dari Blokku yaitu, Blok Pancasila dan Blok pahlawan. Nama Blok-blok itu erat sekali dengan peristiwa kemerdekaan banggsa ini. Alasannya tak lain karena pendiri pondok ini adalah mantan pejuang kemerdekaan, jiwa patriotismenya sangat mempengaruhi pondok ini.
Sesampainya ditempat penerimaan telepon, di gedung ‘Aliyah. Aku duduk di kursi yang di sediakan sembari menunggu telepon berdering. Kusapukan pandanganku kesekeliling ruangan 4×4 cm ini. Ruangan yang tak lain adalah kantor Bagian Informasi dan Transformsi (BAFORTRANS). Ruangan ini juga dipenuhi dengan Koran.
Di pondok ini, satu-satunya tempat penjualan Koran hanyalah kantor ini. Ada sekat yang membelah ruangan menjadi dua; satu untuk penerimaan telepon dan yang satu lagi untuk penjualan Koran. Didindingnya tetulis kata-kata bijak ‘MEMBACA ADALAH JENDELA DUNIA, INFORMASI ADALAH PETA DUNIA’. Telepon berdering. Lantas, santri yang bertugas mengangkatnya.
“Ini untuk anda Ustadz” ucapnya mempersilahkanku.
“Terima kasih” kuterima gagang telepon itu darinya.
“Halo. Assalamu ‘alaikum” ucapku pada orang yang ada disebrang sana.
“Wa ‘alaikum salam” jawabnya. ”ini benar kak Dimas” ia melanjutkan.
“Iya, ini aku. Ada apa Roni?”
“Gini kak, nanti malam di rumah ada acara haul ibu kita. Abah menyuruh kakak pulang” terang Roni.
“Kakak tahu. Insya-Allah kakak pulang.”
“Ingat lo kak. Pulang! Abah menunggu di rumah” lanjut Roni
“Iya, iya. Kakak pasti pulang.” Aku mengakhiri percakapanku dengan salam. Kemudian aku bergegas kembali kekamarku. Aku agak heran, kenapa Abah memakasaku pulang. Padahal ketika aku menjadi santri, ia tak pernah merestuiku untuk itu kecuali ketika liburan saja. Ah! Aku harus berbaik sangka. Mungkin karena aku sudah di anggap dewasa lantas Abah menyuruhku pulang.
Sesampainya di kamar aku langsung sholat Dzuhur. Kemudian kurebahkan tubuhku diatas sejadah, kuistirahatkan sejenak. Baru seusai sholat Ashar aku akan berangkat. Perjalanan pulang kerumah tak memakan waktu lama, hanya kira-kira satu setengah jam saja.
Sore ini, matahari pun hendak kembali ke peraduannya. Sinarnya menyulam awan agak keemas-emasan dan menerobos celah-celah pohon Cemara menerpa wajahku dari jedela taksi yang kutumpangi. Kulihat kantor polisi didepan sana dan juga lapangan yang menyimpan kenang-kenangan masa kecilku, menandakan bahwa aku sudah hampir sampai kerumah. Kemudian di pertigaan setelah lapangan itu aku turun dari taksi. Taksi terus melaju lurus ke utara sedang rumahku bebelok kearah barat. Aku harus menunggu jemputan keluargaku untuk sampai ke rumah. Rumahku tidak terlalu jauh dari sini, meski kutempuh dengan jalan kaki mungkin membutuhkan waktu 15 menit saja. Namun, adikku akan datang menjemput, setelah aku hubungi dan kuberutahu bahwa aku ada di sini.
Aroma asri desa Batu Ampar dapat aku rasakan. Desa tempat aku lahir dan tumbuh menjadi dewasa ini, tak mengalami banyak perubahan sejak dulu waktu aku masih kecil sekarang. Hari sudah mulai gelap. Orang-orang sibuk menyiapkan diri menyambut datangnya malam. Rumahku telah tampak dari kejahuan. Pagarnya tetap saja berwarna putih dengan gerbang berwarna hijau dibiarkan terbuka.
Halaman rumahku dipenuhi oleh kursi-kursi yang tertata rapi, tempat para undangan untuk acara nanti. Didepannya terdapat panggung kecil untuk para Kiyai yang akan memimpin jalannya acara. Aku masuk kedalam rumah, kudapati Abah duduk di ruang tamu lantas kucium tangannya. Selain itu ada paman Habibi dengan istrinya, tante Hani, Mas Bakar, Mas Ikhwan, Mas Luthfi dan ada Mbak Ita dan Mbak Dewi dan keluargaku yang lainnya. Nampaknya acara haul ini di hadiri oleh seluruh keluarga. Paman Hilal yang dari Jember pun ikut datang dan sepupu-sepupuku dari kota lainnya ada di sini juga.
“Dimas! Lebih baik kamu mandi dulu dan ganti baju. Bajunya sudah disiapkan oleh Abahmu. Acaranya akan dimulai setelah sholat Isya’” kata paman Hilal, ialah paman yang paling perhatian padaku. Ia melanjutkan. “oh iya, kamu ganti di kamar adikmu dulu, Karena kamarmu pakai Mas Bakar. Bajumu ada di sana kok.” Aku mengiyakan saja. Aku masuk kekamar adikku, mandi dan sholat sekaligus santai sejenak menunggu di mulainya acara.
Jam 7.30 WIB. Acara yang dimaksud akan segera dimulai. Para undangan mulai berdatangan dan menyesaki tempat yang disediakan. Sebentar lagi aku akan keluar bersama Roni, adikku. Dengan mengenakan baju koko putih, kopiyah putih ala Yaman dan sarung merah tua yang disiapkan oleh Abah khusus untukku. Entah sejak kapan Abah begitu perhatiaan padaku! Ketus hatiku. Aku memilih untuk duduk dibarisan kursi tengah, bercengkrama dengan besama Budi, Hafidz, Badri dan teman-teman SD-ku dulu.
Acarapun dimulai dengan pembacaan Yasin, dilanjutkan dengan bacaan sholawat dan do’a seperti lazimnya acara kumpulan di Madura. Acara dipandu oleh para tokoh masyarakat yang hadir menempati panggung kecil didepan. Kulihat Kiyai Hadirin dan Gus Musthofa, guru ngajiku dulu, Ikut menghadiri acara ini. Tampaknya acara haul ini diperingati besar-besaran. Aku tak ambil pusing akan hal itu, kuikuti saja sampai akhir.
Tapi yang membuatku heran, setelah pembacaan do’a. Mengapa tidak ada orang beranjak dari tempatnya dan makanannya pun tidak dihidangkan?. Aku sempat bertanya pada Hafidz yang duduk disampingku. “ada apa lagi sih? Kok acaranya belum selesai”.
“aku tidak tahu” jawabnya singkat sambil mengangkat kedua bahunya. Ia tersenyum aneh. Tidak hanya Hafidz teman-teman yang lain juga begitu, semakin lengkaplah kebingunganku.
Kubiarkan diriku terbenam dalam keheranan dan kebingunganku, Kutunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa saat kemudian, Abah berdiri di panggung dan tampaknya ia akan berbicara sesuatu. “Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Selamat malam hadirin sekalian! Kami atas nama keluarga besar Rofi’ie mengucapkan terima kasih atas kehadiaran anda semua. Malam ini, sungguh malam bersejarah bagi keluarga kami, selain memperingati haul meninggalnya Nyai Fatmah, istriku sebagaimana telah kita laksanakan tadi. Kami juga akan melangsungkan acara pernikahan putra kami yang pertama ananda Mohammadi Maschan dengan putri Kiyai Hadirin, Nurul Qomariyah..”
Mendengar kata-kata Abah, seketika puluhan pasang mata memperhatikanku. Mukaku merah padam, aku tertunduk malu dan aku tak bisa menegakkan kepalaku barang sedikitpun. Keringat dingin mulai bercucuran dan membasahi tubuhku. Tanganku gemetar, kakiku seakan tidak berpijak ke bumi. Lidahku kelu, tak ada satu patah katapun yang mampu ucapkan. Perasaan gugup, malu dan bingung bercampur aduk didalam batinku. Aku baru mengerti mengapa temen-temanku sejak tadi tersenyum aneh ketika melihatku. Bahkan sekarang ada yang mengucapkan selamat padaku dan ada pula yang memukul pundakku dengan tertawa ria. Aku yakin, hal ini telah direncanakan tanpa sepengetahuanku. Abah sudah mengira bahwa aku pasti akan menolak kalau disuruh menikah. Tapi kalau sudah dipaksa depan khalayak ramai aku tak mungkin bisa menolak, aku tak mungkin membuat Abah malu depan semua orang.
Aku terjebak. Ya, aku terjebak sekarang. Aku tak mungkin bisa menghindar. Gus Musthofa menjemputku dan membawaku ke panggung depan. Kalimat nikahpun dikumandangkan sebanyak dua kali. Meskipun berat hati, kujawab kalimat tersebut dengan dituntun sang penghulu. Yang pertama, karena saking gugupnya jawabanku dianggap kurang sah. Baru yang keduakalinya jawabanku dianggap sah di sambut oleh teriakan “sah” para saksi.
Aku masih tidak percaya pada kejadian ini. Kucubit pipiku berkali-kali sampai aku yakin ini bukan mimpi. Dan aku masih tidak percaya, aku sudah tidak single lagi, aku sudah mempunyai istri, Istri yang tak kukenal sebelumnya. Yang pasti ia datang dengan tanggung jawab yang harus aku pikul. Pada hal aku sudah berjanji pada diriku sendiri, setelah ibuku meninggal tiga tahun yang lalu bahwa aku tidak akan menikah sampai bisa menggapai cita-citaku dan aku mempunyai pekerjaan sendiri sehingga mampu membiayai hidupku tanpa bantuan sipapun.
Acara pernikahan telah terlaksana. Kemudian, aku didudukkan di ruang tamu bersama keluargaku dan keluarga mertuaku yang tak lain adalah kerabatku sendiri. Wajah mereka tampak begitu sumringah, karena mereka sukses menjalankan misi mereka yaitu menikahkanku. Aku sudah menikah, meskipun begitu, aku tidak tahu seperti apa paras istriku. Kata adikku ia cantik, namun aku tak yakin bisa cocok dengannya. Oh, dia sungguh bodoh sekali mau menerima pernikahan yang ia tidak kenal siapa pasangannya. Lalu mengapa ia mau menikah denganku?. Hatiku mengerutu, sedang keluargaku berpesta pora di tengah kalutnya perasaanku. Puluhan ucapan selamat tertuju kepadaku, tak hanya itu saja bahkan godaan-godaan teman-temanku semakin membuatku malu.
“Nak” panggilan Abah memecah kekalutanku.
“Abah yang merencanakan semua ini. Maklum, Abah kan sudah tua, hidup abah tak akan lama lagi. Jadi sebelum meninggal, Abah ingin menimang cucu. Ya, itu dari kamu, anak tertuaku”. Kata-kata Abah bagaikan titah seorang raja yang tak boleh aku tolak. Tapi aku hanya mengungkapkan kekawatiranku.
“Bah, aku takut aku tidak bisa membahagiakannya. Aku masih belum bisa mencari nafkah sendiri” keluhku pada Abah.
“Sudahlah jangan khawatirkan masalah nafkah. Harta Abah masih cukup untuk hidup kalian berdua. Masalah istrimu, Abah yakin dia orang yang baik. Apa lagi dia lulusan pesantren juga sama seperti kamu. Pasti dia bisa mengerti keadaanmu.” Jawaban Abah mencoba meyakinkanku.
Malam semakin larut. Para tamu sudah pulang kerumah masing-masing. Abah repot dengan urusannya sendiri. Namun teman-temanku tetap saja bercanda dan menggodaku. Karena mungkin, akulah yang lebih dulu menikah ketimbang mereka. Malahan ada yang memintaku untuk bercerita besok pagi.
“cerita apa? Kenal saja, tidak” kilahku.
“Jam 9.30. sudah tiba waktunya.” kata si Budi.
“Waktunya apa?” aku bertanya padanya heran!
“Nanti kamu akan tahu sendiri”
Apa lagi yang mereka rencanakan!. Kulihat Dewi memberi kode dengan ujung jempol dan jari telunjuk bertemu dan membentuk bulatan, sementara tiga jari lainnya terbuka. Katanya.
“ Ok, sudah siap”
“Siap apa?” elakku.
“Eh, mau berbuat apa kalian.” Bagaikan seorang tersangka aku dipegangi oleh teman-temanku.
“Mau kemana kita” tanyaku.
“Sudah, ikut saja! Apa susahnya.” Ucap si Hafidz.

Dan ternyata mereka membawaku kekamarku, kamar yang katanya dipakai oleh paman Bakar. Oh, aku baru mengerti ini adalah kamar pengantin. Mereka ingin mempertemukanku dengannya.
“Aku belum siap, aku…”. Belum selesai menolak, Badri berkata
“Nanti, persiapannya di dalam saja.”

Jantungku berdegup semakin kencang seperti genderang mau perang. Pintu kamar itu ada didepanku. Ya, pintu kamar pengantin. Mereka malah tambah tertawa karena mukaku terlihat begitu gugup dan merah. Lantas mereka mendorongku ke dalamnya. Aku tak bisa menolak, mereka mengunci pintu dari luar.
“Hei! Buka pintunya dong!” pintaku pada mereka. Tapi tak ada satupun yang menggubris permintaanku. Aku merasa di permainkan oleh teman-temanku sendiri. Atau lebih seperti tahanan saja. Ingin rasanya aku berteriak!
Aku berdiri bersandar pada pintu. Kulihat kamarku banyak mengalami perubahan, dindingnya dicat ulang dengan warna putih mengkilap dan juga terdapat tulisan ‘selamat menempuh hidup baru’. Ada beraneka ragam hiasan yang digantungkan di langit-langit kamar. Selain itu, ada meja rias dengan kursinya yang diletakkan di samping jendela satu-satunya kamar ini. Aku merasa asing di kamarku sendiri!
“Ini bukan kamarku.” Hatiku berbisik ketika melihat perubahan yang beritu mencolok. Aku menghampiri ranjang tidur yang juga diganti, seprei, bantal, guling dan semua serba baru. Diatasnya, ditaburi dengan bunga melati. Oh, sungguh baunya yang khas membuatku aneh duduk di ranjang baru ini.
Suara gaduh terdengar dari luar, pintu terbuka kembali. Hatiku bergetar, tangan dan kakiku tak hentinya gemetar, keringat dingin mengalir lagi dari tubuhku kala seorang wanita masuk dibalut dengan kebaya berwarna putih, ia tertunduk dan tersipu berdiri tak jauh dariku.
“Inikah istriku?” Gumamku. Kuakui, ia memang cantik, kulitnya kuning langsat, matanya agak sipit sesuai dengan ukuran hidungnya yang mungil. Mukanya bulat dan bibirnya tipis memerah. Tapi apa yang harus aku lakukan padanya! Jangankan memikirkan yang tidak-tidak, untuk berbicara saja terasa ada yang mengganjal di tenggorokanku.
“Ehm..” tegorannya membuatku kaget seakan ia tahu kegugupanku.
“Oh, anu. Kamu..” belum selesai kulontarkan kata-kataku. Ia langsung menyergahku
“Ria Mas, namaku Nurul Qomariyah” ungkapnya padaku.
“Kata Abah, kamu lulusan pondok pesantren?”
“Iya Mas. Tapi maaf, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan Mas?.” Aku mengangguk mengiyakan. Iapun melanjutkan
“Tapi, aku belum lulus, aku masih duduk dikelas dua ‘aliyah” jawabnya meyakinkan. Tak tampak darinya rasa gugup dan enggan kepadaku.
“Duduk saja disini” aku mempersilahkannya duduk disampingku.
“Terima kasih Mas” balasnya.
“Kalau boleh aku bertanya, mengapa kamu mau kawin sama Mas?” ungkapku padanya. Tapi ia tidak menjawab dan malah tersenyum, tidak mengiyakan tidak juga bilang tidak. Mungkin inikah yang disabdakan oleh Rosul bahwa diamnya perempuan adalah jawaban setujunya.
“Ria! Mas capek. Kita tidur saja” pintaku padanya sambil melepas baju koko dan kopyahku. Aku hanya mengenakan kaos. Lalu, kurebahkan tubuhku diatas ranjang. Ia juga merebahkan tubuhnya di sampingku.
Beberapa saat berlalu, aku tak bisa tidur, kurasa ia pun juga begitu. Kutolehkan kepalaku kala ia membisikiku sesuatu
“Mas boleh tidak Ria ganti kaos. Ria panas”
“Ya boleh. Tapi apa kamu tidak takut aku berbuat yang tidak-tidak?” tanyaku.
“Aku pasrah Mas, karena hakku adalah melayanimu, aku kan istrimu” jawabnya.
“Ya sudah tidur saja.”
Setelah itu, ia kembali tidur disampingku. Semerbak bau rambutnya yang hitam terurai memenuhi hidungku. Dan kembali aku mencoba memjamkan mataku, tetap saja aku tak bisa. Bagaimana aku bisa tidur, kalau di sampingku ada seorang wanita yang kini halal bagiku, tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Selang beberapa waktu berlalu. Kembali aku menoleh padanya.
“Ada apa” tanyaku.
“Ria tidak bisa tidur” katanya dengan nada manja.
“Kenapa lagi?”
“Sejak aku kecil sebelum aku tidur, biasanya aku mengelus kulit tangan ibuku. Kalau tidak, aku tidak akan bisa tidur sampai pagi.”
“Kok bisa” ungkapku heran.
“Sudah sejak dulu aku begitu, di pondok begitu juga, Aku tidur bersama kakak sepupuku yang mengerti kebiasaanku.” Terangnya padaku.
“Terserah kamulah” kuserahkan tanganku untuk di elusnya. Meskipun aku agak risih, aku takut membuatnya kecewa. Dan tak berapa lama tangannya pun terlepas, nampaknya ia sudah tertidur. Mukanya yang bulat tampak terlihat lebih manja pada saat begitu. Rasanya, aku tak akan pernah tega menyakitinya.
Pintu terbuka dari luar. Ria, istriku masuk dengan segelas teh hangat dan sarapan untukku. Membuyarkan rentetan memori yang aku putar tentangnya. Sudah sebulan ia menjadi istriku, namun jarang sekali aku bersikap mesra padanya. Aku sungguh merasa berdosa kepada Tuhan karena aku telah menyia-nyiakan amanah-Nya, kepada Abah dan juga kepadanya yang mencoba setia mendampingiku. Aku harus mengambil keputusan tentang masa depan rumah tanggaku. Apakah aku harus menyudahi sampai disini saja, Atau sebaliknya?. Dan aku rasa tekadku sudah bulat, aku memutuskan.
“Sayang” kupanggil istriku dengan sebutan yang asing baginya. Ia terkejut, pipinya memerah dan senyum tersungging di bibirnya.
“Apa Mas?, Ria enggak dengar”
“Sayang. Memangnya tidak boleh aku memanggil istriku dengan sebutan sayang” kataku sedikit menggodanya. Senyum pun makin mengembang di bibirnya, ia tampak bahagia sekali dan heran atas perubahanku. Aku dekati, kukecup keningnya dan kupeluk tubuhnya erat-erat. Ku berjanji akan mejaga dan membahagiakannya seumur hidupku. Terima kasih Tuhan..!

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...