AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh elit politik? Dalam sudut pandang praksis tidak terlalu sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut. Paling tidak ada dua hal mendasar yang perlu mendapat sorotan sebagai referensi untuk menjawab pertanyaan di atas.
Aspek pertama adalah komitmen dalam tujuan (aim or end). Secara teoritis, dalam studi politik memang dikatakan bahwa tujuan dari politik adalah kekuasaan (power). Pembentukan partai politik dalam sebuah tatanan kenegaraan diorientasikan sebagai kendaraan untuk mencapai kekuasaan di dalam pemerintahan. Dalam sistem kepartaian seperti apapun (baik bipartai maupun multipartai), tidak ada satu pun partai yang dibangun selain untuk berkompetisi dalam politik guna meraih kekuasaan. Dan itulah yang sejatinya membedakan antara partai politik dan organisasi kemasyarakatan, walaupun keduanya berada pada garis yang hampir sejajar dalam sebuah sistem politik sebagai infra struktur politik.
Namun begitu, eksistensi kekuasaan itu sendiri pada dasarnya merupakan alat untuk melakukan sebesar-besar apa yang bisa dilakukan oleh elit politik dalam mengelola negara. Seberapa pun besarnya kapabilitas dan kompetensi seorang elit, jika dia tidak memiliki alat yang disebut kekuasaan maka akan sangat sulit bagi dia untuk melaksanakan secara langsung role dalam penyelenggaraan negara.
Maka kekuasaan sebenarnya hanyalah salah satu kapital politis yang harus dimiliki oleh elit politik, dan kemudian digunakan untuk menyeleggarakan negara atau pemerintahan. Yang berarti pula, kekuasaan itu digunakan untuk membangun negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Jadi, idealnya, kekuasaan yang diraih oleh elit politik harus bermuara pada kepentingan rakyat.
Dalam sejarah kepemimpinan nasional di Indonesia, sangat sulit untuk mencari bukti-bukti konkrit bahwa kompetisi politik yang dilakukan oleh para elit untuk meraih kekuasaan berujung pada sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Sebab ketika kekuasaan sudah diraih oleh sebuah rezim, tidak tampak kekuasaan tersebut diartikulasikan untuk mewujudkan kepentingan sebagian besar rakyat Indonesia. Kekuasaan yang diraih lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir kelompok yang berada di sekitar kekuasaan, baik partai politik yang menjadi kendaraan, pengusaha atau konglomerat dan bahkan juga keluarga.
Ke depan, elit politik harus meluruskan komitmennya dalam menentukan tujuan yang akan diejawantahkan dalam kompetisi politik yang dilakoninya. Dan tujuan tersebut tidak lain adalah untuk kepentingan rakyat. Jika tidak, sangat sulit untuk mengangkat bangsa dan negara ini dari keterpurukan demi keterpurukan yang dihadapi. Karena jika kekuasaan yang diraih tidak dimanfaatkan untuk mewujudkan dan melindungi kepentingan rakyat, maka itu sebenarnya berarti menambah masalah bangsa ini.
Krisis yang muncul menimpa Indonesia lebih banyak disebakan oleh masalah politik. Krisis dahsyat yang menghancurkan sendi-sendi perekonomian Indonesia yang berimplikasi pada bidang politik pertengahan 1997 sampai 1998, tidak termasuk dalam wacana hipotetis ini. Sebab, sebagian besar kita maklum bahwa krisis saat itu lebih karena faktor global yang menimpa Asia hamper secara keseluruhan, yang semakin diperparah oleh lemahnya fundamen bangunan ekonomi Indonesia. Selebihnya, krisis tersebut disebabkan oleh faktor politik yang melibatkan elit, kebijakan politik, dan sebagainya.
Jika saja, dengan tidak berpretensi untuk sekedar berandai-andai, elit politik memiliki komitmen yang sama untuk mewujudkan dan melindungi kepentingan rakyat, maka bukan mustahil Indonesia akan segera bangkit seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan negara-negara Asia lainnya.
Aspek kedua yang harus diluruskan adalah komitmen dalam cara (manner). Tataran ideal yang harusnya dikonstruksi dalam korelasi antara tujuan, tujuan harus baik dan cara yang digunakan untuk meraih tujuan tersebut juga harus baik.
Bangsa ini sudah 58 tahun kurang lebih dipertontonkan dengan berbagai macam style kompetisi politik yang dilakukan oleh kontestan kompetisi politik, baik personal maupun institusional. Tidak mudah—untuk tidak mengatakan sangat sulit—untuk menemukan model kompetisi politik para elit yang elegan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan berbagai sector kegidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.
Pada masa-masa ke depan terutama seiring dengan hangatnya atmosfer persaingan elit untuk meraih tampuk kepemimpinan nasional saat ini, kompetisi politik yang dilakukan idealnya dilingkupi oleh ajektif yang secara keseluruhan relevan dengan demokratisasi yang sedang digalakkan.

.

Categories: Article

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...