AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Setelah sekian tahun bangsa kita ini mengembara entah kemana, untuk menghadapi berbagai kemungkinan setelah tumbangnya orde baru, kini malah segalanya lebih menjadi amat gelap. Padahal, tujuan utamanya adalah untuk memberantas KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) dan menegakkan demokrasi untuk menumbuhkan rasa loyalitas pemerintah terhadap masyarakat menengah ke bawah. Jalan-jalan kebenaran yang dulu pernah tertanam kuat dalam diri, menjelma ibarat serpihan belahan kaca yang teramat sulit untuk disambung kembali. Tuntunan agama menjadi kabur, ajaran adat berubah menjelma ibarat sketsa patah-patah yang teramat sulit untuk ditafsirkan apalagi dimengerti. Untuk kembali ke Rumah Bunda Pertiwi, tampaknya sulit dilakukan. Untuk kembali ke jalan yang benar tampaknya tiada arah. Untuk kembali keharibaan Allah, sungguh akan jauh lebih rumit. Hanya kasih sayang dan petunjuk Allah lah satu-satunya jalan yang dapat mengembalikan ini semua.
Setelah bangsa ini berjalan jauh dari nilai-nilai kebenaran, kini saatnya kita sebagai sebuah entitas bangsa berusaha sekuat tenaga dan daya yang tersisa, untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kesadaran ilahiyah secara bersama untuk “kebali” ke kampung halaman. Tak ada jalan lain untuk ditempuh kecuali dengan “taubat” apalagi bangsa kita dikenal sebagai bangsa religius yang tentunya harus menjungjung tinggi nilai religiusitas.
Taubat, berarti “kembali”; kembali dari suatu perbuatan yang dicela oleh syara’ dicerca oleh adat, ditentang oleh hukum, dikecam oleh konstitusi, menuju perbuata terpuji. Sabda Rasul ; “menyesali kesalahan, merupakan suatu bentuk taubat”. Dalam dunia lingkungan dunia islam, taubat adalah tingkatan pertama (Al-Maqamul Awwal) di antara sederetan tingkat kondisi rohaniyah penempuh jalan mutashawwif.
Taubat minimal mempunyai tiga makna : pertama, menyesali kesalahan; kedua, bertetapan hati untuk tidak kembali melakukan pada apa yang telah dilarang oleh Allah SWT ; dan ketiga menyelesaikan dan membela orang teraniaya. Dari rangkaian dasar ini, sudahkah kita menyiapkan diri untuk bertuabat agar Allah mengembalikan hidayah-Nya kepada Bangsa Negara kita?. Kalau jawabannya belum, kita harus mengakui secara jujur dan ikhlas bahwa moral sebagai fondasi kehidupan berbangsa kita sudah rusak parah. Prosese timbulnya krisis multi dimensi, harus kita mulai dari kesadaran yang tinggi bahwa kita jauh menyimpang dari jalan yang benar, sudah terlalu jauh mengembara bersama nafsu, dan yang pasti bahwa kita telah melupakan janji abadi dengan Tuhan Semesta Alam sebagai hamba Allah sekaligus khalifah yang khairah di muka bumi ini.
Sebagai komunitas agama, bangsa kita sudah telalu jauh menyimpang, terlalu sering menghiyanati perjanjian dengan Allah, terlalu banyak orang-orang yang didzalimi, teramat besar jumlah saudar kita menjadi miskin karena kesewenag-wenangan orang-orang jahil yang hanya mementingkan dirinya tampa memikirkan likungan dan masyarakat disekitarnya.
Yang menjadi soal sekarang, benarkah kita telah menyadari bahwa kita telah menyimpang, pernahkah kita mengaku kalau kita bersalah, sadarkah kita bahwa ini semua terjadi karena ulah kita ?. kalau pertanyaan ini dijawab dengan negatif, maka kita sungguh berata jauh dari kualifikasi sebagai hamba yang hendak bertaubat.
Dalam hal ini, kesadaran pribadi amatlah tidak memadai untuk dijadikan starting-point, karena kita hidup sebagi sebuah bangsa. Mari bersama-sama meski pelan untuk mendekati garis yang sebenarnya, sambil pernah lupa untuk meneguhkan persatuan. Tidak saling caci, saling umpat, saling sanggah, karena semuanya harus jujur mengaku salah. Kita akui kesalahan-kesalahan secara bersama-sama sambil mencoba menghidupkan moral pendidikan bangsa yang mengalami kehancuran, bertekad untuk membangun manajemen sosial, membentuk karakter serta bagaimana mengeksploitasi dan mengeksplorasi kekayaan alam .
Tampaknya bangsa kita Indonesia kalau tetap dengan manajemen seperti sekarang, bangsa ini harus sabar dan berlapang dada untuk menanti seorang pemimpinyang berdaya kuat, berani melakukan terobosan-terobosanyang holistik. SDM-SDM yang dimiliki bangsa ini hidupnya sebatas dalam lembaran-lembaran buku. Lantas, kalau ini gambaran yang sesungguhnya, bagaimana dengan lahan yang tidur dengan umat yang tidur ?, maka akan terjadi pengangguran di atas lahan yang menganggur.
“tidak ada manusia yang bisa memberi hati orang, kecuali dengan izin Allah”, (Innaka La Tahdi Man Ahbabta Walakinnallaha Yahdi Man Yasya’ Wahua A’lamu Bil Muhtadun), sehingga kita hanya dapat berbuat satu hal (taubat), sambil memohon kepada Dzat yang memberikan hidayat, untuk menyalakan kembali pelita hati dengan nour cahaya ilahi yang dapat membuka kegelapan hati dari tumpukan dosa, dari rangkaian sifat tercela. Amien……….

.

Categories: Article

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...