Manusia, Fungsi dan Perannya Menurut Al-Qur’an

Sebagai mahluk yang tidak memiliki qudrah untuk menguasai ruang dan waktu dalam hidup, kita sebagai manusia ciptaan Allah tentu dan harus mempunyai suatu ukuran atau standart hidup. Karena kita tidak bisa memastikan apakah kita mampu menjalankan amanah Allah sebagai makhluk yang paling mulia atau malah tergilas dengan roda zaman.
Manusia makhluk yang terbaik rohaniyah dan jasmaniyah, tetapi mereka akan dijadikan orang yang amat rendah jika tidak beriman dan beramal shaleh, lantas apa peran yang harus dimainkan oleh manusia untuk mengangkat harkat, derajat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Allah dan khalifah di muka bumi.
Beberapa pemikir dan failosof barat ada yang mempunyai pandangan yang negatif terhadap manusia, dan menilai rendah martabatnya. Ada yang menyamakannya secara general dengan binatang, seperti serangga yang hina dan ulat yang kotor (russel) dan lain sebagainya. Tetapi Al-qur’an berbeda dengan mereka, ia menempatkan manusia pada posisi yang mulia, lebih mulia dari kebanyakan makhluk ciptan Allah. Firman Allah dalam Al-Qur’an:
“dan sesungguhnya telah kami mulyakan anak-anak Adam, kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”.
Manusia mulia martabatnya karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, antara lain :
1. Sruktur tubuhnya paling top dan ideal. Dalam istlah Al-Qur’an “fii ahsani taqwiim “ dalam bentuk yang sebaik-baiknya, firman Allah :
Allah memperindah rupa manusia “ ahsanah suwarokum” dan dengan struktur yang sempurna dan seimbang, firman Allah :
“yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh )mu seimbang.
2. Manusia dikaruniakan akal fikiran, hati sanubari dan jiwa (ruh) yang biasa mengangkat martabatnya di atas binatang dan beberpa makhluk lainnya.
3. Manusia diberi hak menikmati dan mengekspoitasi makhluk Allah sesuai dengan ketentuan dari ajaran-Nya seperti rotasi siang dan malam (QS. Yunus 10 : 67) Bumi yang lapang, tenang dan gampang dijinakkan (QS. Az-Zukhruf 46 :10) (QS. Ghafir 40 : 64) air untuk diminum dan irigasi (QS. AL-Waqi’ah) 56 :68-69) (QS. As-Shaad 32 : 2) sungai dan laut untuk transportasi dan agar digali serta dimanfaatkan isi kandungannya (QS. Al-Jatsiyah 45: 12 ) dsb.
4. Allah SWT. mengangkat manusia sebagai khalifah di atas muka bumi yang bertugas untuk mengejawantahkan dan mengimplementasikan syari’at Allah secara adil ditengah-tengah makhluk-Nya (QS. Al-Baqarah 2 : 30) (QS. Shad 38: 20), sebagai pengemban amanah Allah (QS. Al-Ahzab 33: 72) dan penguasa dunia apabila mereka beriman dan beramal shaleh (QS. An-Nuur 24 : 55)
5. Manusia mendapat suatu kehormatan yang besar dari Allah SWT berupa terpilihnya sebagian dari merka sebagai Rasul dan Ambiyaa’-Nya, yang membawa missi kerasulan dan kenabian untuk ummat manusia yang lain, bahkan Nabi Besar Muhammad SAW, beliau membawa Rahmat untuk semesta alam.
Dari hal tersebbut di atas betapa pentingnya persiapan SDM sehingga mampu melaksanakan missi yang diembankan dan diamanahkan kepadanya, terbukti dengan bagaimana Allah SWT menyiapkan Nabi Adam di Surga dengan bekal ilmu, keterampilan berkomunikasi dan pendidikan etika menghadapi cobaan syetan dan hawa nafsu serta kesiapan untuk kewaspadaan tinggi menghadapi godaan berikutnya dari Iblis. Juga proses penyiapan SDM kerasulan ini tampak nyata dikalangan Ulum Azmi dan Nabi Muhammad SAW, terutama dalam menghadapi beraneka ragam ujian, godaan dan tantangan yang datang silih berganti. Dalam rangka implementasi kehendak Allah SWT, agar menjadikan kalimatullah hiyal ulya dan kalimatul kafirin hiyas sufla searta terlaksananya Syari’at-Nya secara utuh dan kaffah : Allah SWT memerintahkan kita agar menggalang potensi ummat secara optimal agar musuh-musuh Islam merasa getir dan kalah mental.
Dari pembahasan singkat di atas, diharapkan akan membuka cakrawala berfikir kaum muslimin sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling semurna. Segala pengalaman yang dialami kaum musliman di masa lalu dan sekarang adalah sebagai titik tolak dalam menu masa depan yang lebih cemerlang. Untuk itu pada akhir makalah ini sengaja saya titipkan beberapa pesan sebagai bahan renungan kita di masa-masa yang akan datang:
A. Marilah kita tingkatkan kualitas iman, takwa, hidup, karya dan pikiran kita. Buang jauh-jauh segala kendala psikologis yang mungkin tersisa, dan kita harus menggalang persatuan dan kerjasama kongkrit positif agar pengabdian kita kepada Allah swt sebagai khaira ummatin kian efektif dan bermanfaat.
B. Untuk meningkatkan usaha pemahaman dan pengamalan ajaran agama kita, dari sumber-sumbernya yang benar dengan selalu bersikap hakim, bijaksana, tetap tegas berpegang kepada prinsip sesuai dengan petunjuk Allah swt dan rasul-Nya.

Akhirnya, hanya kepada Allah lah kita berdo’a dan bermunajat semoga kita dan kaum muslimin dari hari ke hari diberi kekuatan untuk menjalankan amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi demi menegakkan agama yang suci dan kita semua mendapatkan taufiq, hidayah maunah dan ridla-Nya, amien….

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

membuka dunia dengan membaca