AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

PEREMPUANKU

Posted by Areiz Hiugan 0 Comment

Aku terlahir sebagai seorang perempuan. Kaum yang sering tertindas oleh kebiadaban budaya. Terlahir dengan segala kelemahan dan ketakberdayaan. Aku memang ingin seperti Kartini. Tapi aku bukan Kartini. Aku juga punya cita-cita tinggi seperti kaum Adam. Tapi tak mungkin terealisasi. Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah pasrah pada kenyataan. Aku memang tak perlu menyesal karena terlahir demikian. Iu sudah menjadi takdirku. Diary, selain mengeluh padamu tak ada yang bisa kulakukan untuk saat ini! Terima kasih telah sudi mendengar keluh kesahku.
Kututup diary usangku. Sudah waktunya menyiapkan makan malam. Sebentar lagi ayahku pulang. Dan dia akan kesal jika mendapatkan meja makan masih kosong. Kulihat jarum pendek yang ada pada jam dinding menunjukkan angka 4, sedangkan jarum yang lebih besar berada tepat di posisi 6. sudah setengah lima. Dua puluh menit lagi ayahku akan tiba di rumah. Ibuku juga belum datang. Setelah sholat Ashar tadi, ia memang langsung pergi ka lading untuk mengambil kayu-kayu kering di sana. Kayu-kayu kering itulah nantinya yang menjadi bahan bakar memasak kami. Hitung-hitung pengiritan pengeluaran. Apalagi harga BBM melonjak tanpa memperhatikan nasib keluarga pas-pasan seperti kami. Pemerintah kita memang seperti kacang lupa pada kulitnya. Yang penting pemerintah bisa gembira meski rakyat yang harus menanggung segala derita (sengaja, hiperbola). Biaya pendidikanpun tak mampu terjangkau oleh keluarga seperti keluargaku. Coba pendidikan di negara ini bisa gratis seperti di Arab Saudi, atau paling tiddak bisa terjangkau seperti di Malaysia. Pasti nasibku tak akan seperti ini. Aku bisa sekolah tinggi dan mengejar cita-citaku. Aku pasti bisa meraih gelar-gelar yang biasanya diraih oleh kaum Adam di desaku. Tak muluk-muluk. Cukup SI!
Ah…kutepis angan-anganku itu. Aku harus bisa menerima kenyataan yang ada di depan mataku. Ku lihat kembali jam dinding berbentuk masjid itu. Jam dinding warisan itu masih sangat berguna bagi kami meski usianya sangat melebihi usiaku bahkan usia ayahku. Lima menit lagi akan terdengar derum sepeda motoa ayahku. Makanan inipun harus sudah siap sebelum kedatangannya. Aku harus mempercepat masakanku. Guabrak…! Terdengar suara sebuah kayu dibanting. Ibu sudah datang. Untung aku sudah selesai masaknya.
“Ti…sudah selesai masaknya?” ibu langsung menghampiriku di dapur.
“Sudah Bu! Baru aja selesai goreng ikan.”sahutku sambil memperlihatkan ikan yang masih hangat dan harum itu.
“Ayahmu belum datang? Tumben ya.. biasanya jam segini sudah nyampe rumah. Mampir ke mana ya Ti?” pertanyaan ibu lebih mirip seruan yang tak perlu kujawab. Sebenarnya aku juga heran. Tak biasanya ayah pulang terlambat. Sekarang sudah jam 17: 20 menit. Terlambat 20 menit. Aku menangkap guratan kekhawatiran pada wajah ibu. Kupandangi wajah ibu. Manis. Meski agak sedikit hitam, garis-garis manis masih terlihat di wajahnya. Seandainya ibu tidak perlu pergi ke ladang setiap hari, mungkin Dia akan terlihat lebih manis dan cantik. Apa hendak di kata, wajah itu harus rela setiap hari menerima sinar matahari tanpa sedikitpun polesan tabir surya.
“Ti…coba kau tanya sama Om Ahmad, mungkin dia tahu dimana ayahmu sekarang.” Aku masih terlena dengan wajah manis ibu, ketika beliau untuk kedua kalinya menyuruhku
“Ti…apa kamu dengar permintaan ibu?” ibu sedikit mengangkat suaranya. Membuatku kaget.
“I..iya Bu.” Aku langsung ke rumah om Ahmad. Aku memang melihat beliau sudah datang jam lima pas tadi. Beliau adalah tetangga sebelahku. Beliau juga bekerja di gudang dan pada juragan yang sama dengan ayahku. Jujur saja, aku tidak suka istri om Ahmad. Entah kenapa sikapnya terhadap keluargaku ngga’ pernah ramah. Paling juga pada saat-saat tertentu dia bersikap ramah padaku dan pada ibuku. Seperti pada hari pertunanganku sebulan yang lalu. Itupun karena ada maunya. Sepertinya dia ingin menarik perhatian calon mertuaku. Entah apa yang dia inginkan sebenarnya. Tapi di hari itu dia terus nempel padaku karena tak mau lepas dari pandangan camerku.
Aku sudah membayangkan yang ngga’-ngga’ melihat wajah tante Lis yang menatapku dari terasnya. Waduh…bakalan ada gosip baru nich Jika tante Lis tahu aku dan ibu tidak tahu ke mana ayah mampir hingga jam segini belum pulang.
“Tan…om Ahmad mana?” kuberanikan diri bertanya padanya. Ih…mukanya judes banget. Kalau bukan karena menghargai om Ahmad sepupu ibuku, tak sudi aku bermanis-manis di depannya.
“Ada tuh di dapur lagi makan. Emangnya ada perlu apa?” Aduh. Jadi bingung. Nanya’ apa ngga’ Ya…
“Ehm….anu tan…” belum sempat kulanjutkan pertanyaanku, terdengar derum sepeda motor ayahku. Meski belum sampai di depan rumah, aku sangat tahu persis bunyi sepeda motor ayah. Langsung saja kuurungkan niatku untuk bertanya tentang keberadaannya pada om Ahmad. Dalam hati aku bersyukur. Si ratu gossip ngga’ bakalan nemu gossip baru tentang keluargaku. Alhamdulillah.
Ku sambut kedatangan ayah dengan senyum. Begitu juga dengan ibu. Ibu memang beda dengan perempuan lainnya. Ibuku tidak menjejali ayah dengan pertanyaan-pertanyaan seputar keterlambatannya. Tapi menyambutnya dengan senyum termanisnya.
“Sudah makan belum? Tia sudah masak makanan kesukaanmu. Semuanya sudah tersaji di meja makan. Ayo aku temani” sungguh manis. Aku semakin bangga terhadapmu ibu. Sebagaimana aku juga bangga terlahir tepat pada hari dirayakannya hari ibu. Ayah tersenyum.
“Belum. Ayo kita makan sama-sama. Sebentar lagi adzan maghrib.” Kami bersama menuju ruang makan. Hendak makan bersama. Aku senang sekali.
“Lho Ti, mana adikmu? Sekalian kita makan bareng. Panggil gih sana.”
“Lagi main sama temen-temennya yah, di lapangan voly. Sebentar lagi juga pulang. Biasanya pas adzan baru pulang.” Aku malas mau memanggil Zaki. Karena pasti jawabannya “bentar lagi kak, nanggung nih…”setiap kali aku memanggilnya untuk sekedar memenuhi perintah ayah.
“Ya…sudah, kita makannya nanti saja. Ayah mau cerita kenapa ayah pulang terlambat tadi sekalian nunggu Zaki.” Pasti begitu. Apakah karena Zaki anak laki-laki, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti jika aku yang tidak ada, hal ini tidak akan terjadi. Ayah tidak akan menunggu tapi menyuruh ibu untuk mengambilkan makananku.
“Iya yah! tidak biasanya ayah pulang telat. Hampir setengah jam lagi telatnya. Ibu sangat khawatir lho yah…! takut ayah ke mana-mana.” Aku berusaha menekan perasaan tertekanku. Ya. Aku merasa tertekan menjadi anak perempuan yang selalu harus mengikuti apa yang menjadi keputusan ayahku. Tanpa bisa memilih. Sedih harus menjadi kaum terjajah. Apakah perempuan selamanya harus seperti ini? Entahlah sampai kapan hukum ini berlaku padaku, atau bahkan semua perempuan yang hidup di negara ini. Terpinggirkan.
“Tadi ayah bertemu dengan sahabat lama ayah sewaktu SMP dulu. Kami ngobrol tentang banyak hal. Ternyata dia juga punya anak perempuan dan sekarang seumuran kamu Ti. Namanya Hatin. Tapi ayah ngga’ tahu nama lengkapnya. Sekarang dia melanjutkan sekolahnya ke Universitas Trunojoyo Bangkalan. Anaknya pinter lho Ti. Sahabat ayah itu bilang, kalo’ Hatin selalu mendapat nilai sempurna untuk semua mata pelajaran sewaktu dia masih di SMA. Pantes saja jika sahabat ayah berusaha untuk menyekolahkannya sampai Perguruan Tinggi.” Aku tak tahu harus menanggapi cerita ayah atau lebih baik diam. Aku sadar, aku tak sepintar Hatin. Tapi aku juga punya cita-cita tinggi melanjutkan studiku ke tingkat kuliah jadi mahasiswi. Wow…begitu indahnya jika Allah berkenan mengabulkan cita-citaku. Sebenarnya aku tak pernah mendapatkan nilai buruk, meski tidak sempurna. Untuk beberapa mata pelajaran, aku mendapat nilai 9 sempurna! Jadi apa salahnya jika ayah sedikit saja punya keinginan untuk menyekolahkanku hingga tingkat yang kuinginkan.

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...