Profesionalisasi Guru Dan Penyiapan Sumber Daya Manusia Berkualitas

Globalisasi ilmu pengetahuan, dan teknologi yang diikuti era industrialisasi (semestinya era industrialisasi yang diikuti era globalisasi) membutuhkan tenaga terampil dalam bidang yang relevan. Demikian pula pertumbuhan ekonomi sebagai dampak pembangunan membutuhkan tenaga yang andal, tidak hanya dalam keterampilan dan teknologi, tetapi juga manusia yang mampu memecahkan masalah secara cerdik dan akurat. Kemampuan profesional dapat menjadi alat ampuh untuk merealisasikan dan mengaktualisasikan diri sebagai warga negara yang bertanggung jawab terhadap masalah sosialnya. Pembinaan sumber daya manusia hanya mungkin dilakukan jika bangsa memiliki guru, pelatih dan tenaga pendidik yang tangguh dan profesional.
Berangkat dari apa yang disampaikan oleh Prof. DR. Jusuf Amir Feisal diatas, sudah sepatutnya bagi kita untuk “membaca” kembali realita sosial di sekitar kita. Suatu realita kehidupan dimana derasnya arus informasi-komunikasi mampu menembus tatanan kehidupan masyarakat yang telah dibina selama ini. Tatanan kehidupan yang mengantarkan kita menapaki jenjang kehidupan yang penuh dengan kompetisi. Di tengah pesatnya persaingan hidup ini, hanya manusia-manusia berkualitas atau unggul saja yang mampu eksis dan siap bermain didalamnya, sedangkan bagi mereka yang minim keterampilan hidup (life skill) akan terlindas oleh perputaran zaman. Oleh karena itu, peningkatan sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk dapat mengimbangi kemajuan zaman. Dan salah satu wahana untuk meningkatkan sumber daya manusia itu adalah pendidikan, sehingga kualitas pendidikan harus senantiasa ditingkatkan. (DR. E. Mulyasa, M. Pd, 2002:3).
Sungguh tugas yang berat bagi kita untuk mempersiapkan anak didik yang hidup dinamis dan penuh kompetitif dalam perubahan zaman yang luar biasa cepatnya akibat dari kemudahan mengakses informasi dan berkomunikasi. Bagi anak didik yang miskin pengetahuan dan keterampilan hidup, akan sulit sekali untuk beradaptasi dan memahami arah perputaran zaman. (Drs. Dyaiful Bahri Djamarah, 2002:VII). Dan ini merupakan tugas kita untuk membebaskan mereka dari belenggu kebodohan agar mereka terhindar dari perangkap-perangkap kenikmatan zaman yang pada akhirnya hanya menjerumuskan mereka ke lembah kesengsaraan. Kendatipun ini merupakan tugas berat, namun hal ini terasa ringan seiring dengan diundangkannya undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, yang pada hakekatnya memberi kewenangan dan kekuasaan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat tanpa adanya intervensi dari pihak manapun. Adanya otonomi daerah ini juga berimplikasi pada bidang pendidikan. Apabila sebelumnya manajemen pendidikan merupakan wewenang pusat, dengan berlakunya undang-undang tersebut, kewenangan dalam mengelola pendidikan telah dilimpahkan ke pemerintahan kota, sehingga pemerintah kota berhak mengelola dan mendesain sistem pendidikan agar memiliki sikronisasi dengan kebutuhan masyarakat setempat. (DR. E. Mulyasa, M. Pd, 2002:5). Pada gilirannya kebutuhan masyarakat akan tersedianya produk pendidikan yang sesuai dengan kultur dan kekayaan alam daerah, sedikit banyak akan mudah terealisasikan.
Wewenang pemerintah daerah untuk mengatur sistem pendidikan, semestinya disertai pula dengan tersedianya guru yang profesional, karena tanpa kehadirannya, campur tangan pemerintah daerah dalam dunia pendidikan akan terasa hampa. Maka disinilah letak pentingnya keberadaan guru yang profesional, artinya orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga dia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. (Drs. Moh. Uzer Usman, 2001:15). Karena semakin profesional para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tersedianya sumber daya manusia yang dibutuhkan. Dengan kata lain, potret dan wajah diri bangsa di masa yang akan datang tercermin dari potret diri para guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra para guru di tengah-tengah masyarakat. Mengingat kemuliaan seorang guru tercermin dari kepribadiannya sebagai manifestasi dari sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sedikit cela dan nista dari pribadi guru, maka masyarakat akan mencaci makinya habis-habisan dan hilanglah wibawa guru. (Drs. Syaiful Bahri Djamarah).
Sedikit menoleh kebelakang, akhir-akhir ini hampir setiap hari media masa memuat berita tentang guru. Bahkan fenomena keguruan tidak pernah lepas dari sorotan masyarakat, entah itu gaji guru yang rendah, tindak kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap anak didiknya maupun kejadian-kejadian lainnya. Begitu pula dengan kalangan bisnis atau industrialis, mereka memprotes guru karena kualitas para lulusan sebuah lembaga pendidikan dianggapnya kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaan mereka. Sebenarnya kritik masyarakat tersebut bukan tanpa alasan, karena ada sebagian oknum guru yang melanggar atau menyimpang dari kode etiknya. (Drs. Moh. Uzer Usman, 2001:1). Maka apabila ini dibiarkan terus berlanjut, cepat atau lambat akan menjerumuskan martabat guru. Akankah demikian nasibmu wahai pahlawan tanpa tanda jasa?
Kualitas guru yang memprihatinkan itu disebabkan oleh tidak tersedianya lembaga khusus yang mengelola tenaga keguruan yang dididik selama 24 jam penuh (sistem pendidikan integratif seperti yang selama ini dipakai oleh dunia pesantren). Dimana potensi dan bakatnya dipompa semaksimal mungkin demi terciptanya kemampuan yang handal dalam mengajar, disamping pula sikap dan perilakunya yang terkontrol dan terbentuk oleh aturan yang berlaku, karena sosok guru merupakan orang yang diguguh dan ditiru. Penyebab yang kedua adalah manajemen tenaga pendidikan kurang akurat yang meliputi:
 Tidak adanya sistem perencanaan pegawai, sehingga lembaga pendidikan tidak mengetahui jenis pegawai seperti apa yang dibutuhkan oleh lembaga tersebut.
 Tidak adanya wewenang lembaga pendidikan daerah untuk merekrut pegawai sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan.
 Tidak adanya kepastian karir, baik itu gaji, fasilitas hidup atau yang lainnya. Padahal guru juga memiliki keluarga yang membutuhkan nafkah, sehingga tidak mengherankan apabila banyak guru yang bekerja sampingan seperti menjadi tukang ojek dengan dalih sebagai usaha memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga. Maka bagaimana mereka dapat mempersiapkan diri dengan baik sebelum mengajar apabila waktu mereka telah banyak tersita untuk urusan pemenuhan nafkah keluarga.
Untuk mengantisipasi terciptanya oknum-oknum baru dalam dunia pendidikan dimasa yang akan datang, maka perlu kiranya lembaga pendidikan dan pemerintah melakukan berbagai upaya dalam rangka memperbaiki citra guru serta sebagai usaha penyediaan tenaga pendidik yang profesional dibidangnya. Ciri-ciri guru yang profesional menurut Drs. Moh. Ali yang dikutip oleh Drs. Moh Uzer Usman dalam bukunya “Menjadi Guru Profesional” antara lain:
 Menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep ilmu pengetahuan yang mendalam.
 Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
 Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai.
 Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya.
 Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
 Terlatih serta terbentuknya kepribadian dan mental (akhlak) yang baik.
Atas dasar persyaratan tersebut, jelaslah jabatan profesional harus ditempuh melalui jenjang pendidikan yang khusus mempersiapkan jabatan itu. Jenjang pendidikan khusus tersebut dapat berupa pembuatan lembaga khusus yang mengelola calon guru dengan sistem pendidikan guru yang dikemas selama 24 jam. Sehinga kelak akan tercipta tenaga pendidik yang unggul dalam pengertian menguasai ilmu pengetahuan, adaptif, kreatif, inovatif, dan berkepribadian. (Prof. DR. Jusuf Amir Feisal, 1995:132-133). Maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai modal awal berdirinya lembaga tersebut, yaitu:
 Orientasi kurikulum serta program pendidikan berdasarkan pada identifikasi kebutuhan masyarakat sebagai pemakai jasa lembaga tersebut.
 Adanya proporsi yang tepat antara bidang studi khusus, penguasaan akademik, pengembangan intelektual, kepribadian guru dan penguasaan teknologi. (Prof. DR. Jusuf Amir Feisal, 1995:133).
 Adanya upaya pencarian dan pengajaran tentang keterkaitan antara disiplin ilmu dan metodologi pengajarannya sehingga calon guru dapat menguasai disiplin ilmu secara menyeluruh beserta metodologi pengajarannya. (Prof. DR. Jusuf Amir Feisal, 1995:138).
 Adanya proporsi yang tepat antara bidang studi khusus, penguasaan akademik, pengembangan intelektual, kepribadian guru dan penguasaan teknologi. (Prof. DR. Jusuf Amir Feisal, 1995:133).
 Seluruh aktifitas sehari-hari dapat diarahkan dalam dimensi pendidikan yang dikemas dalam aturan-aturan yang berlaku.
 Aspek sikap dan perilaku sehari-hari dijadikan pula sebagai komponen penilaian (kelulusan) layak tidaknya untuk menjadi seorang guru disamping pula ujian praktek mengajar.
Dengan kemasan sistem pendidikan integratif (selama 24 jam) dan dengan struktur program seperti itu akan menambah tersedianya guru yang profesional.
Dan yang tidak kalah pentingnya dalam upaya mencetak guru-guru yang profesinal adalah menajemen tenaga kependidikan, seperti apa yang disampaikan oleh DR. E. Mulyasa, M.Pd dalam bukunya “Manajemen Berbasis Kompetensi” yang meliputi:
 Perencanaan pegawai, kegiatan ini bertujuan untuk menentukan kebutuhan pegawai, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif dengan diawali analisis pekerjaan dan analisis jabatan sehingga mendapatkan gambaran tentang pekerjaan dan kualitas pegawai yang dapat diterima.
 Pengadaan pegawai atau kegiatan rekruitmen, yaitu usaha untuk mencari dan mendapatkan calon-calon pegawai yang memenuhi syarat sebanyak mungkin, untuk kemudian dipilih calon terbaik. Untuk itu perlu adanya seleksi melalui ujian lisan, tulisan dan praktek baik oleh lembaga pendidikan terkait maupun oleh pemerintah.
 Pembinaan pegawai, dengan maksud agar personilnya dapat melaksanakan tugas secara optimal dan menyumbangkan segenap kemampuannya untuk kepentingan pendidikan. Hal ini dapat berupa tunjangan hidup, gaji yang ideal atau fasilitas perumahan yang memadai.
Oleh karena itu sudah selayaknya apabila saat ini kita mulai menata kembali pendidikan kita sehingga nantinya dapat tercipta produk-produk pendidikan berkualitas yang mampu bersaing di era kompetisi ini. Namun walaupun kita hendak menciptakan peserta didik yang memiliki kecakapan hidup dengan segala macam bentuk keterampilan, hendaknya kita tidak melupakan faktor-faktor penunjang kearah itu. Salah satu faktor utama demi terciptanya produk pendidikan yang dimaksud adalah keberadaan seorang tanaga pendidik yang profesional, karena menurut Drs. Moh. Uzer Usman sampai kapanpun peran guru tetap tidak akan bisa digantikan sekalipun dengan mesin canggih.

.

membuka dunia dengan membaca

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE