Tasawuf di Era Globalisasi

Melalui sebuah hadits qudsi, Tuhan berfirman, ” Bumi-Ku tak mampu memuat zat-Ku. Begitu juga langit-Ku. Sesungguhnya yang sanggup menjadi singgasana-Ku hanyalah hati hamba-Ku yang beriman, jernih, dan penyayang.” Ia juga berjanji, ” siapa yang mencari Aku, akan Kucari dia. Siapa yang mencintai Aku, akan Kucintai dia. Dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, pasti Kuampuni dia.”
Terasa alangkah mesra hubungan Al-Khaliq dengan ciptaan-Nya. Lebih-lebih jika firman kudus-Nya kita resapi dalam munajat menjelang dini hari, seperti kerinduannya yang tertuang dalam hadist qudsi lainnya: “Andaikata hamba-Ku mendekati Aku sejengkal, Kudekati dia sehasta, andaikata ia mendekati Aku sehasta, Kudekati dia sedepa, dan kalau ia dating kepada-Ku dengan berjalan kaki, akan Kudatangi dia sambil berlari-lari”.
Itulah kelembutan Tuhan yang membuka jalan bati bagi para hamba untuk berjumpa dengan Sang Raja, atau para makhluk untuk bercengkrama dengan Sang Pencipta. Sebab, dengan menempuh formalitas agama yang hangar-bingar, dilengkapi pengeras suara dalam tabligh akbar yang memekakkan telinga, Tuhan tak dapat disentuh. Sebaliknya, melalui jenjang-jenjang ruhani, manusia, dalam kelemahan jasmaninya, bisa berakrab-akrab dengan Yang Maha Kekal. Jalan batin itu dikenal dengan sebutan “tasawuf”, dan jenjang-jenjang ruhaninya dinamakan “suluk”.
Pada abad ke-19 ketika dunia Islam diserbu oleh ide-ide Barat sekular, seperti gerakan rasional dan gerakan antimistik, tasawuf pernah dituding sebagai biang keladi kemunduran Islam dan dikutuk oleh beberapa kalangan modernis ketika itu. Iman Al-Ghazal dan Ihya’ Ulumuddin-nya cukup lama “dihujat” sebagai biang keladi kemunduran Islam. Jatuhnya kekuasaan politik dunia Islam ke penjajahan sering kesalahannya dialamatkan kepada tasawuf oleh orang Islam yang kebarat-baratan, dan mereka bahkan berteori bahwa kajian tasawuf itu sengaja direkayasa oleh pihak kolonialis Barat untuk melemahkan Islam dari dalam. Para orientalis sangat berperan dalam menanamkan kesan dangkalnya nilai keruhanian dan metafisik ajaran-ajaran Islam kepada kaum terpelajar muslim yang menimba ilmu di Barat, yang karena faktor bahasa, yakni mereka tidak mampu memahami literatur berbahasa Arab, menjadi sangat tergantung kepada karya para orientalis trsebut. Menurut Sayyid Hussein Nashr, pada akhir perang dunia II dapat djumpai oleh dua kelompok mahasiswa di Universitas di negeri kaum muslimin yang mengalami modernisasi sekular, pertama yang anti Islam dan yang kedua muslim tetapi tidak respek kepada syariat Islam, dan keduanya menentang tasawuf.
Akan tetapi hal-hal berikut ini : (a) disentegrasi nilai-nilai kebudayaan Barat serta kekecewaan yang dirasakan akibat modernisasi, (b) ancaman malapetaka yang dibawa oleh peradaban Brat, dan firasat makin dekatnya ancaman itu, dan (c) bukti ketidak jujuran intelektual Barat terhadap Islam menyatukan dua kelompok itu, dan kini mereka justru nampak haus terhadap tasawuf, atau sekurang-kurangnya sudah ada sikap baru yang lebih positif terhadap tasawuf.
Memang peradaban Barat yang telah mencapi puncaknya, di sisi lain juga mencapai titik jenuh dengan sekularisasi yang melampaui batas dan kebebasan yang negative, suatu proses yang tidak lain merupakan penjauhan benda-benda dari makna spiritualnya. Dari kejenuhan itu masyarakat Barat akhirnya menerima kehadiran dukun-dukun kebatinan dan ahli Yoga yang dating ke Barat secara berduyun-duyun membentuk organisasi. Manusia kini secara naluriah merasakan pentingnya meditasi dan kompletasi, namun hanya sedikit agama yang secara disiplin menjalankan syariatnya yang otentik sebagai satu-satunya jalan yang mendatangkan keabadian surgawi. Karena mereka tidak menemukan jalan yang meyakinkan akhirnya mereka lari kepada obat-obat bius, atau menurut S.H Nashl merupakan bentuk pembalasan dendam luar biasa terhadap Brat atas semua yang dilakukannya terhadap tradisi-tradisi Timur pada masa penjajahan.
Di sinilah kehadiran tasawuf benar-benar merupakan solusi yang tepat bagi manusia modern, karena tasawuf Islam memiliki semua unsure yang dibutuhkan oleh manusia, semua yang diperlukan bagi realisasi keruhanian yang luhur, bersistem dan tepat berada dalam koridor syariah. Betapun paket dzikir, wirid dan suluk dalam tarekat lebih bisa “dipahami” oleh orang terpelajar disbanding paket miditasi Budhis atau Kong Hoe Chu.
Relevansi tasawuf dengan problem manusia modern adalah karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syariah sekaligus. Ia bisa dipahami sebagai pembentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluky, dan bisa memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi. Ia bisa diamalkan oleh setiap muslim, dari lapisan sosial manapun dan tempat manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah, yaitu Ka’bah dan secara ruhaniah mereka berlomba-lomba menempuh jalam tarekat melewati ahwal dan maqam menuju kepada Tuhan yang satu, Allah Swt.
Tasawuf adalah kebudayaan Islam, oleh karena itu budaya setempat juga mewarnai corak tasawuf sehingga banyak dikenal banyak aliran dan tarekat. Telah disebut dimuka bahwa bertasawuf artinya mematikan nafsu dirinya untuk menjadi diri yang sebenarnya. Jadi dalam kajian tasawuf nafs dipahami sebagai nafsu, yakni tempat pada diri seseorang dimana sifat-sifat tercela berkumpul, al-ashlu al-jami’ li as-sifat al-mazmumah min al-insan.

.

2 Comments to "Tasawuf di Era Globalisasi"

  1. Chad Lappa says:

    I like the helpful information you provide in your articles. I’ll bookmark your blog and check again here regularly. I am quite sure I’ll learn many new stuff right here! Best of luck for the next!

  2. c6u1k1 Somewhere in the Internet I have already read almost the same selection of information, but anyway thanks!!….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

membuka dunia dengan membaca

Performance Optimization WordPress Plugins by W3 EDGE