Puasa; Mesin Proses Yang Hebat

Zaman modern merupakan zaman dimana semua dimensi kehidupan manusia mangalami kemajuan. Perkembangan disemua sektor kehidupan merupakan tuntutan zaman yang harus dipenuhi. Sehingga wajah kemajuan zaman ini dipenuhi oleh persaingan antar negara dalam rangka mengaktualisasikan eksistensi dirinya. Begitu pula Indonesia, sebagai salah satu komponen dari masyarakat dunia, Indonesia merasa dituntut untuk senantiasa ikut andil dalam percaturan perkembangan dunia. Oleh karena itu, pembangunan di setiap lini kehidupan merupakan suatu keharusan, seperti penyiapan peralatan canggih untuk sarana transportasi dan komunikasi, tempat hiburan yang serba mewah serta tersedianya makanan cepat saji guna menunjang aktivitas manusia modern telah menjadi hal biasa bagi manusia.
Namun, sadarkah mereka bahwa kehidupan manusia modern ternyata telah menyeret pada situasi dan kondisi yang menyedihkan. Aktivitas mereka dalam bingkai perkembangan dan kemajuan telah menjurus pada ketidakseimbangan yang semakin rumit, baik secara individual, sosial maupun spiritual. Begitu banyak penyakit-penyakit individu yang besifat fisik dan spiritual telah banyak mendera manusia modern. Meningkatnya peredaran minuman keras, semaraknya konsumen obat-obatan terlarang, perkelahian dimana-mana sampai pada penyalahgunaan obat penenang dengan dalih meraih ketentraman jiwa merupakan indikator bahwa wabah penyakit ini telah meluas.
Begitu pula penyakit-penyakit sosial yang mulai menjangkiti sebagian besar masyarakat, yang pada akhirnya mengerogoti tatanan kehidupan yang telah dibangun selama ini. Penyakit moral ini sudah dalam tingkatan akut dan kronis. Kita dapat melihat bagaimana sifat dengki atau iri berakhir dengan pembunuhan, pemerkosaan yang tidak pandang usia serta hilangnya kepekaan sosial kepada sesama merupakan rangkaian peristiwa yang telah menjadi baju keseharian kita. Bangsa yang dulu terkenal dengan sikap ramah-tamah dan suka tolong-menolong, kini seakan telah menjadi sejarah yang terkubur oleh lintasan waktu. Kegersangan rohani yang menimpa manusia modern berbias pada “pelarian” untuk menenangkan batin atas segala problematika hidupnya. Hal ini dapat kita jumpai dari semakin menjamurnya tempat-tempat hiburan bahkan sampai pada kegiatan meditasi segala. Manusia modern telah berada pada situasi dan kondisi kritis, terjebak pada konsep-konsep artifisial yang mereka ciptakan sendiri. Mereka ingin hidup dalam irama yang serba cepat dan serba instan yang tanpa disadari telah menempatkan mereka pada problem yang rumit dan sulit untuk dipecahkan.
Lantas apa solusinya? Jawabannya hanya satu: Puasa. Ibadah ini telah didesain oleh Yang Maha Kuasa untuk mengantisipasi problem masyarakat modern, menyelesaikannya secara individu, spiritual sekaligus sosial. Ibadah ini dapat merubah kualitas seorang muslim dari “beriman” menjadi “bertaqwa” hanya dalam waktu satu bulan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Ayat ini menggambarkan secara jelas bahwa puasa dapat merubah tingkatan beriman menjadi bertaqwa hanya dalam jangka waktu satu bulan. Namun perlu disadari bahwa pada kata “agar” terkandung makna implisit, yaitu tidak semua orang yang berpuasa Ramadhan bisa menjadi bertaqwa, ada peluang untuk tidak berhasil. Hal ini berdasarkan Sabda Rasulullah “Berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapat haus dan lapar”. Namun, semangat ayat tersebut merupakan motivator bagi kita untuk menjadi orang yang bertaqwa melalui ibadah puasa.
Ya, puasa merupakan mesin proses yang hebat, begitulah kata Agus Mustafa. Karena dengan puasa Ramadhan paling tidak kita akan mendapat tiga manfaat, diantaranya. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan kita akan memperoleh manfaat lahiriah berupa kesehatan, ketajaman serta kejernihan fikiran. Karena tubuh kita laksana mesin yang selama satu tahun penuh dipakai untuk bekerja (mengkonsumsi makanan), maka di bulan Ramadhan inilah kita memberikan kesempatan untuk beristirahat, memperbaiki onderdil-onderdil yang rusak guna mempersiapkan diri untuk bekerja sebelas bulan yang akan datang. Kedua, adalah manfaat batiniah atau spiritual. Manfaat ini bersifat meneguhkan keyakinan dan pengendalian diri dalam mengarungi derasnya kehidupan yang pada intinya adalah pengendalian hawa nafsu. Kenapa nafsu? Karena nafsu yang tidak proporsional penggunaannya akan menyebabkan rusaknya tatanan kehidupan manusia. Dalam hal ini Rasulullah menegaskan “belum Islam seseorang sampai dia bisa menundukkan hawa nafsunya”. Dan yang terakhir adalah manfaat sosial, yang berfungsi untuk membangun kembali sendi-sendi kehidupan sosial agar diperoleh format kehidupan kolektif yang adil dan sejahtera (madani). Karena dengan berpuasa kita dilatih untuk merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang hidup dibawah garis kemiskinan. Sehingga dengan puasa kita diharapkan dapat menumbuhkan kembali jiwa-jiwa kemanusiaan kita yang selama ini terpendam dan terkubur di dalam jurang materialis. Oleh karena itu, penyakit manusia modern dalam dimensi individual, spiritual dan sosial akan teratasi dengan berpuasa Ramadhan. Asalkan ibadah puasa Ramadhan tidak hanya dijadikan sebagai lambang kesalehan atau sekedar memenuhi tuntuan kewajiban formal agama belaka, melainkan berangkat dari kesadaran diri yang telah menghujam di lubuk hati yang paling dalam.

.

One Comment to "Puasa; Mesin Proses Yang Hebat"

  1. Bula Tamas says:

    I’m hoping the similar exceptional work from you the next occasion too.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

membuka dunia dengan membaca