Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa menyelamatkan seorang pemuda dari terkaman harimau. Ujarnya ketika itu, dulu sekali di desa kami pernah ada seorang pemuda pincang yang hidup sehari-harinya dari hasil menjual kayu bakar di pasar. Tak ada lagi sanak keluarga maupun famili yang ia punyai. Ia betul-betul hidup sendirian. Setiap pagi ia pergi dengan kapak kecilnya, menjelajahi hutan di belakang desa kami, memunguti kayu bakar, mengumpulkan, mengikat lalu membawanya ke pasar untuk dijual. Dari sanalah ia hidup, begitu kata ibuku. Sejak lama ia telah menekuni pekerjaan satu-satunya itu, sejak usia belasan tahun mungkin. Dan ia tahu betul seluk beluk hutan kami, sudut mana yang belum ia jelajahi, ia hapal betul jalan-jalan tikus yang tersebar di seantero hutan, bahkan pada malam haripun ia berani menjamin tak akan tersesat berjalan di sana. Hebat. Nah, menurut ibuku, suatu hari pemuda itu pergi ke hutan, seperti biasa dengan kapak kecilnya, tidak lain untuk mencari kayu bakar di sana untuk mengasapi dapurnya.
Entah nasib sial atau apa namanya tiba-tiba di tengah perjalanan ia bertemu dengan seekor harimau yang kelaparan. Bukan main takutnya ia. Ia sampai gemetaran hingga sampai kembali di desa dengan salamat. Pemuda itu lalu menceritakan pengalamannya bertemu dengan harimau itu pada penduduk termasuk pada ibuku yang kala itu masih remaja baru menginjak usia belasan. Katanya ketika bertemu dengan harimau itu yang pertama kali terlintas di benaknya adalah kata lari. Tapi ia kemudian urung mengingat kondisi kakinya yang tak mendukung, kalau ia lakukan itu berarti sama saja dengan bunuh diri karena ia yakin tak sampai lima langkah ia berlari harimau itu akan menyusulnya dan menerkamnya. Untung itu tak ia lakukan hingga ia masih bisa bertutur tentang pengalamannya itu. Ia memilih berdiam diri, tak bergerak menyandar di pohon asam. Ia menahan nafasnya. Harimau itu mendekatinya, ia semakin ketakutan, lututnya gemetar tak karuan. Keringat dingin mengalir, bahkan katanya hampir terkencing ia di sana karena sangat takutnya. Pada saat genting itu ia teringat petuah seorang tetua desa yang mengatakan bahwa membaca bismillah itu mendatangkan rahmat Allah, memberikan keamanan bagi yang sedang ketakutan, memberikan ketenangan bagi yang sedang gelisah dengan syarat orang itu yakin dengan apa yang ia baca. Sementara harimau itu semakin dekat kepada pemuda itu, bahkan ia mengaum pas di depan mukanya. Gigi taringnya yang lancip itu menyapun permukaan muka si pemuda, tambah takutlah pemuda itu. Terdesak begitu tanpa pikir panjang pemuda itu meyakini saja apa yang terlintas di benaknya. Dibacanya lafal bismillah berkali-kali, bukan hanya puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan. Namun harimau itu bukannya pergi malah berdiam di kakinya, menjilati ujung kakinya yang pincang. Ia semakin gemetaran untung saja tak keluar kencingnya. Berkali-kali nafas anyir harimau itu menyapu permukaan mukanya yang ketakutan. Sekali lagi auman harimau itu menciutkan nyali pemuda itu dan ia semakin ketakutan. Dan harapannya tinggal menunggu keajaiban dari Allah, Tuhan yang diyakininya keberadaan-Nya. Namun keajaiban itu tak jua datang hingga hampir putus asanya, kakinya penat bendiri dan harimau itu tak jua pergi dari sana, seakan sengaja menunggu. Ketika itulah tiba-tiba melintas seekor kelinci putih di dekat sang harimau, makhluk kecil putih itu tentu saja mengalihkan perhatiannya, ia meloncat mengejar kelinci itu di semak-semak hingga jauh meninggalkan tempat itu. Dengan hembusan nafas lega yang tak terkira pemuda itu berjalan tertatih, setengah berlari pulang tanpa hasil, namun selamat dari maut. Warga begitu terpesona dengan cerita itu. Begitu kata ibuku dulu, namun hingga sekarang aku belum pernah merasakan khasiat dari lafal bismillah itu, aku antara yakin dan tidak dengan cerita itu.
***
Aku berlari sekuatku, meninggalkan kejaran orang-orang yang mengejarku. Nafasku memburu. Aku tak tahu tempat ini, aku orang baru dan sudah dikejar-kejar oleh orang-orang yang juga tak kukenal siapa mereka. Mereka mengejarku dan terus mengejarku. Berkali-kali aku menabrak pejalan kaki, tak sempat kuucapkan maaf karena tergesa, namun dari depan kulihat mereka menunjukkan kekesalan padaku, ah maaf aku tak bisa mengucapkan maaf, aku sedang tergesa.
Pelarianku dari kejaran orang-orang itu tak jua berakhir sedang tenagaku semakin terkuras habis. Aku ngos-ngosan berlari di bawah terik mentari. Aku semakin tak tahu di mana aku berada, aku asing dan merasa asing. Aku terus berlari dan berlari hingga akhirnya terpojok di sebuah belokan buntu. Aku ingin berbalik tapi pasti mereka akan menemukanku. Aku terdesak, kalut. Tanpa pikir panjang aku meloncat ke dalam tempat sampah yang masih mengepulkan asap di tepian jalan. Kutahan nafas, bau busuk sampah tak kuhiraukan yang penting mereka tak menemukanku. Sekitar lima menit berlalu, mereka telah sampai di tempat itu. Di tempat aku bersembunyi. Andai ada yang menengok ke dalam bak sampah ini maka mereka akan menemukanku. Aku gugup sekali, gemetaran rasanya kaki tanganku. Pada saat itulah aku teringat dengan cerita ibu dulu tentang pemuda yang katanya gemetaran berhadapan dengan harimau, mungkin beginilah rasanya gemetaran jika sedang ketakutan. Aku semakin gemetaran ketika mereka tak pergi, mungkin mereka menunggu aku muncul. Wah, payah. Padahal aku hampir tak tahan menahan bau yang menusuk dan mengaduk perutku ini. Aku hampir muntah, tapi kutahan. Aku teringat akan pesan ibuku, tentang khasiat lafal bismillah itu. Walaupun aku dulu tak yakin tapi pada saat seperti ini kuyakini juga akhirnya. Kubaca berkali-kali dengan harapan keajaiban yang dulu terjadi pada pemuda di desa ibuku juga terjadi padaku. Kubaca dan terus kubaca. Tapi tak ada reaksinya, malah ada yang berkomentar mungkin saja aku bersembunyi di tempat sampah ini. Ah, sial. Aku merutuk. Untunglah tak ada yang percaya dan tak ada yang mencoba untuk mengulurkan lehernya ke sini. Untung. Harapanku tak putus, aku berharap pertolongan itu datang. Hampir setengah jam mereka di depan bak sampah ini menungguku keluar. Sampai akhirnya mereka bosan, terjadi perdebatan kudengar, ada yang mengusulkan pulang, ada yang berkeras tak ingin pulang dan tetap menunggu. Namun akhirnya mereka pergi juga. Aku menghela nafas lega, betul juga apa yang dikatakan ibu, lafal ini membawa berkah. Aku tersenyum. Tapi kemudian terlintas di benakku apa benar ini berkat lafal ini, berkat pertolongan Allah…? apa mungkin Allah menolongku…? Aku dikejar orang kan karena aku mencuri nasi di warung terminal. Apa Allah memberikan pertolongannya kepada orang sepertiku.
Tapi mungkin saja, aku mencuri kan karena bekalku habis di todong preman terminal tadi malam, jadi apa salahnya jika aku juga mengikuti apa yang mereka lakukan, toh aku kan mengikuti kaidah hukum kausalitas, aku mencuri karena dicuri. Apa ini salah…?

.

5 Comments to "Bismillah"

  1. kisah yang menarik

  2. Hello, I enjoy your weblog. Is there some thing I can do to obtain updates like a subscription or something? I am sorry I am not acquainted with RSS?

  3. Reduce Tummy says:

    I’m not sure why but this site is loading very slow for me. Is anyone else having this problem or is it a issue on my end? I’ll check back later on and see if the problem still exists.

  4. Like the saying goes, ‘a picture is worth a thousand words’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

membuka dunia dengan membaca