AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Mati Sendiri

Posted by Areiz Hiugan 0 Comment

Pemuda itu terduduk lemas di kursinya. Ia menebar pandangan ke segala penjuru ruang yang kini tampak buram di matanya. Ia melemparkan pandangan ke arah belakang, menatapi sekian banyak mata yang memandang dengan segala macam pandangan padanya. Tersungging senyum tipis di bibir seorang laki-laki tua itu, seakan mengiriskan seribu perih di ulu hatinya. Ia kemudian melengos.
Seorang perwira mendekat, menyentak borgolnya lalu dengan agak kasar menggiringnya keluar dari ruang sidang. Sebelum benar-benar keluar dari ruang sidang ia sempatkan sekali memandangi wajah-wajah hakim yang telah menghancurkan seluruh asanya. Terekam kuat di benaknya bagaimana senyum kemenangan atas kekalahannya itu membias di bibir-bibir hitam mereka. Ia ingin berteriak pada dunia, ini tidak adil. Tapi takkan ada yang akan mendengarnya. Ia sudah terbuang, tersisih dari percaturan dunia. Ia kini hanyalah sisa-sisa kehidupan yang tinggal menunggu saatnya. Ia kini hanya menunggu. Menunggu saat akhir perjalanannya.
Tentunduk lesu, ia duduk di sudut selnya. Baju putihnya kusam, nomor punggungnya sudah usang. Baju yang dikenakannya baju yang juga dipakai oleh narapidana kelas berat yang telah mendekam selama empat puluh tahun di penjara ini tapi seminggu yang lalu telah bebas. Dan ia kini menggantikannya, tak kan lama. Takkan lama, ia akan memakainya hanya untuk beberapa minggu, bahkan mungkin hanya beberapa hari. Ia hanya akan memakainya beberapa hari saja. Bukan karena ia dihukum sebentar tapi karena ia hanya harus memakainya untuk sebatas kehidupannya di penjara ini, selebihnya ia akan mengenakan pakaian yang lebih mengerikan daripada hanya sekedar pakaian penjara, pakaian kematian.
Ia merenung sekian lama, membiarkan ransumnya dingin tanpa disentuh. Baginya kini makan atau tidak sama saja, toh besok ia akan mati juga. Yah, tak lama lagi hanya tinggal 24 jam lagi. Tepat pada saat matahari terbit esok pagi ia harus meninggalkan dunia ini. Ia harus meninggalkannya. Tak ada lagi harapan, sudah tak mungkin lagi ada dispensasi, ia memang sudah tak ada harapan lagi.
Ia merasa begitu sial hidup di dunia ini.
“Coba bayangkan…!” ujarnya kesal.
“Sejak kecil telah kehilangan Ibu… lalu ketika sedikit besar ayah membuangku. Mencampakkanku di jalanan… aku tak kenal siapa-siapa dan tak tahu apa-apa. Lalu pada saat aku berusaha untuk hidup dengan tanganku segerombolan orang lalu kembali menghinakanku, mereka menjebloskanku dalam lingkungan kotor yang sama sekali tak kuketahui di mana jalan keluarnya. Dan pada saat aku tahu jalan itu serta berhasil keluar aku kembali dicampakkan…” ia menyesali nasib.
“Aku berontak. Menjerit pada dunia. Dan kubuktikan bahwa aku bisa eksis dengan diriku, tapi apa… lacur. Mereka malah kemudian mendorongku masuk ke dalam lingkaran yang tak kalah parahnya… dan akhirnya tanpa merasa salah mereka ingin mengakhiri hidupku setelah sekian lama mengekangku, membelengguku, mengaturku…” tambahnya.
“Tuhan tidak adil…?” akhirnya ia bergumam.
“Tapi tunggu…!” jerit hati kecilnya.
“Kamu tidak bisa begitu saja memvonis Tuhan tidak adil. Adil menurut kamu dan Tuhan jelas tidak sama…” hati kecilnya berucap membuatnya kembali merenung, dalam.
“Ah. Persetan. Yang jelas Ia telah membuat hidupku sama sekali tak berarti. Ia hanya ingin menertawakanku dengan keputusan-Nya yang tak pernah adil bagiku…” ia membalas sengit.
“Itukan hanya menurutmu saja. Itu karena kamu tidak pernah berpikir tentang apa sebenarnya yang tersirat dibalik itu semua. Kamu saja yang malas untuk merenung dan mencari hikmah di balik suatu kejadian…” hati kecilnya kembali mengoceh.
“Ah, sudahlah. Yang pasti besok aku akan mati. Aku tak ingin tahu yang lain.. Titik…” makinya kesal.
Tapi hati kecilnya malah menertawakannya.
“Diam…!!” ujarnya tambah kesal.
“Kenapa…?! Kenapa kau begitu marah melihatku tertawa. Tertawalah selagi kau bisa, tertawa itu menyehatkan…” hati kecilnya semakin tertawa.
“Diam…!!” teriaknya tak sabar membuat seisi penjara menoleh ke arahnya. Ia lalu tertunduk sendiri. Risih.
Dan tawa hati kecilnya semakin membahana. Ia menutup telinganya namun tawa itu malah semakin membahana.
***
Hari yang menentukan itu telah tiba.
Ia berjalan tegap melewati kisi-kisi ruang yang akan mengantarkannya ke tempat terakhir yang akan ia kunjungi. Seragam kebesarannya telah dicopot berganti dengan baju putih polos tanpa noda. Tampaknya mereka masih sedikit menghargainya sebagai seorang manusia. Wajahnya bersih, ia telah berubah. Perenungannya tadi malam telah mengantarkannya pada sebuah keputusan, ia ingin mati atas kehendaknya sendiri. Ia tak akan membiarkan orang lain mengurus atau ikut campur dengan kematiannya. Ia ingin mati dengan caranya dan keputusannya sendiri. Tak ada yang boleh ikut campur.
“Sudah cukup seluruh perjalanan hidupku diatur oleh orang lain dan sekarang aku ingin mengatur diriku sendiri, aku ingin mati dengan keputusan dan keinginanku sendiri…” ujar hatinya mantap usai perenungan tadi malam.
Ia memang telah memutuskan untuk mati, apapun yang tejadi, keputusannya sendiri tentang dirinya yang pertama itu harus terlaksana, apapun yang terjadi tak ada yang boleh ikut campur apalagi mengahalangi niatnya. Mati atas keputusannya sendiri harus terjadi hari ini, waktu ini. Tak ada yang berhak mengundurkan waktu mati yang telah ia tetapkan sendiri pula tadi malam. Pokoknya tidak ada yang ikut campur dengan urusan kematiannya. Tak ada seorangpun yang boleh ikut campur. Ia ingin mati sendiri.
Kedua pengiring mendorong ia masuk ke dalam ruangan yang telah disiapkan. Ruang kedap suara yang seluruh jendelanya ditutupi dengan kain hitam. Di sana ia mendapati tiga orang berpakaian jendral dan sepuluh orang tentara dengan senapan di tangan tiap orang. Tampaknya ia akan dieksekusi dengan hukum tembak. Tapi tunggu, di sana juga ada tiga orang berpakaian dokter, entah apa mereka yang akan melakukan otopsi atau malah menjadi algojo dengan suntikan mautnya. Namun bukan itu saja di sana juga ada Kepala Penjara dan sebuah kursi yang berlilitkan kabel yang terhubung dengan aliran listrik, kursi mati yang jelas untuk menghukum mati terpidana.
Ia tersenyum sendiri melihat semua itu, tak ada satupun yang sesuai dengan keinginannya. Ia ingin mati dengan mudah saja, tidak usah muluk-muluk. Tidak usah ada regu tembak atau suntikan serum maut bahkan kursi listrik. Ia hanya ingin mencabut nyawanya sendiri. Entah dengan apa ia akan melakukannya yang jelas ia tak mau mati dengan ketiga alat itu dan tak ingin mati di tangan siapapun, ia ingin mati dengan tangannya sendiri.
“Jadi bagaimana ini Pak…?” tanya salah seorang anggota regu tembak ragu apakah ia akan dipakai atau tidak.
“Tunggu dulu. Aku akan musyawarah…” ujarnya tak kalah bingung.
“Bagaimana ini Pak. Kalau tidak saya punya pasien yang sedang menunggu…” ujar si dokter tak kalah.
“Lho. Jangan begitu, kita akan cari cara terbaik… kita akan musyawarah agar tidak ada yang dirugikan..” ujar jendral satunya.
“Haru pakai kursi listrik. Pihak penjara telah mahal-mahal membeli kursi itu masa eksekusinya malah dengan regu tembak atau dengan suntikan…” ujar kepala penjara tak kalah sengit.
“Oke… oke tenang semuanya. Kita akan musyawarahkan bagaimana baiknya, baik bagi dokter, baik bagi regu tembak dan baik bagi pihak penjara…” tanggap jendral yang sejak tadi masih diam, bingung.
“Kami akan musyawarah. Tolong semuanya duduk dulu… Anda juga mas terpidana…” ujar jendral yang satunya. Regu tembak, dokter dan kepala penjara duduk lesehan menunggu keputusan sementara ia masih saja berdiri tegak dengan pandangan mantapnya. Ia tersenyum kecut.
“Dasar raja musyawarah… mati saja harus dimusyawarahkan. Yang akan mati kan aku kok mereka yang sibuk. Dasar tolol…” rutuknya dalam hati.
“Bagaimana enaknya pak. Menurut saya akan lebih baik jika di eksekusi dengan regu tembak. Soalnya terpidana ini semasa hidupnya banyak menyusahkan pihak berwenang dengan itu paling tidak pihak berwenang akan merasa puas dengan keputusan ini. Mereka akan puas karena pembuat pusing mereka telah dieksekusi oleh regu tembaknya…” ujar jendral pertama.
“Wah, nggak bisa begitu pak…” tanggap jendral satunya lagi.
“Terpidana ini semasa hidupnya lebih menyusahkan para dokter dari pada pihak berwenang polisi. Anda tahu, akibat pekerjaan busuknya setiap hari para dokter harus bekerja keras sampai larut malam selama setengah tahun untuk menerima pasien hasil pekerjaan orang ini. Bayangkan dalam setengah tahun setiap hari harus lembur bagaimana rasanya. Orang ini harus dieksekusi dengan serum. Para dokter akan merasa puas dan tidak akan merasa dianak tirikan…”
“Ooo…. Tidak bisa begitu. Anda tahu…?! Orang ini telah melewati lima tahun penjara dan setiap hari kerjanya hanya membuat pusing kami, pihak penjara. Membantu tahanan kabur, memperkosa ibu dapur dan yang paling parah membunuh kepala penjara sebelum ini. Bisa tidak bisa ia harus dieksekusi dengan kursi listrik milik penjara. Harus…!!” jendral satunya tak kalah garang.
“Tidak…! Regu tembak. Para tentara lebih berhak…” ngotot.
“Ah, masa bodoh pokoknya harus pakai serum..!”
“Kursi listrik…!!”
“Regu tembak…!!”
“Serum…”
“Kursi listrik…!!”
“Regu tembak…!!”
“Serum…”
“Kursi listrik…!!”
“Serum…”
“Kursi listrik…!!”
“Regu tembak…!!”
Ribut. Tak ada kata sepakat. Regu tembak, dokter dan kepala penjara memandang dengan keheranan, kok bisa atasan seperti itu. Sementara ia memandang dengan pandangan meremehkan, ia tersenyum kecut. Dasar orang-orang bodoh, tahunya hanya adu urat leher. Menyelesaikan masalah itu saja diributkan.
Ketegangan berlanjut hingga adu tarik kerah baju. Para regu tembak dan dokter serta kepala penjara masing-masing mendukung jendralnya.
“Serum…”
“Kursi listrik…!!”
“Regu tembak…!!”
“DIAMMM….!!!”
Teriaknya.
Semuanya terdiam dan memandang padanya. Ia maju ke tengah mereka.
“Diam…! Dasar tolol semuanya. Aku tidak akan mati di tangan siapapun. Aku akan mati di tenganku sendiri. Dengan caraku sendiri…” ujarnya lantang.
Semuanya terperangah. Ia tersenyum.
“Kalian telah mengaturku sejak lama dan kini tak ada seorangpun yang akan mengaturku. Aku akan mati dengan aturanku sendiri. Tidak atas aturanmu…” ujarnya ketus sambil menunjuk kepada jendral pertama.
“Kamu juga…” lanjutnya menunjuk pada jendral kedua.
“Apalagi kamu…” ujarnya pada jendral ke empat.
“Hari ini. Waktu ini. Kalian tidak ada hak untuk mengaturku. Aku yang mengatur diriku sendiri. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusanku ini. Tak ada seorangpun…” ucapnya pongah.
“Dan malaikat maut telah tiba sejak tadi. Di sini…” lanjutnya membuat seisi ruangan terkejut.
“Ia telah menyapa..” lanjutnya lesu.
“Dan inilah waktunya. Aku akan mati dengan keputusan dan caraku sendiri. Selamat tinggal…” ujarnya sambil mencekik lehernya sendiri.
“Hei… jangan…!! Jangan…! Cepat hentikan dia…” ujar jendral panik. Para regui tembak serempak menyergap tubuhnya dan merenggangkan tangannya yang mencekik leher. Tapi terlambat ia telah mati.
“Beri nafas bantuan…” ujar jendral satunya pada dokter. Dua dokter maju memberikan nafas bantuan.
“Ia tidak boleh mati sekarang, kita belum memutuskan dengan apa ia harus mati. Ia harus tetap hidup, kalau perlu sampai besok. Ia harus hidup sampai kita bisa memutuskan bagaimana ia akan mati…” oceh jendral yang ketiga.
Namun, tak lama kemudian kedua dokter itu akhirnya menyerah. Mereka gagal dan ia telah pergi. Mati. Ya, mati dengan cara dan atas keputusannya sendiri. Sekilas senyum mengembang di bibirnya, ia bangga bisa memutuskan sesuatu tentang dirinya tanpa campur tangan dan gangguan orang lain. Ia bangga, ia bangga mati dengan tangannya sendiri. Ia bangga….

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...