AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Sejak perkembangan awalnya, Islam telah menjadi suatu agama dan sekaligus peradaban yang senantiasa bersentuhan dengan agama dan peradaban lain. Di awal pertumbauhan dan perkembangannya, Islam berhadapan dengan budaya dan peradaban masyarakat Arab jahiliyah yang menganut kepercayaan paganisme. Nabi Muhammad sebagai pembawa pesan (risalah) dan ajaran Tuhan berusaha meluruskan dan membenahi akidah masyarakat Arab itu dengan tetap menjalin baik dengan mareka. Walaupun dalam perjalanan menyampaikan dakwahnya sering terjadi benturan dengan masyarakat jahiliyah, namun sebanarnya benturan dan perang itu hanya ditempuh sebagai alternatife terakhir setelah segala jalan damai yang diusahakan tidak berhasil.
Dengan demikian, Islam sebenarnya tidak pernah mengajarkan umatnya untuk memusuhi umat beragama lain. Sebaliknya, Islam menyuruh manusia untuk menjalin kerja sama dan hubungan yang baik untuk bersama-sama membangun peradaban manusia yang lebih baik.
Salah satu hal penting untuk mendukung perkembangan kehidupan manusia adalah perdamaian. Perdamaian merupakan suatu hal yang sangat didambakan dalam kehidupan manusia. Karena hanya dengan kehidupan damai kebahagiaan akan tercapai. Tanpa kedamaian maka kebahaian akan menjadi barang yang langka dan bahkan tidak akan didapatkan.
Agama yang diyakini manusia sebagai amanah Tuhan, yang didalamnya mengandung pesan-pesan perdamaian, adalah suatu hal yang diharapkan oleh umat manusia untuk dapat mewujudkan harmanmoni dalam kehidupan ini. Dengan demikian “pesan Tuhan” agar manusia hidup damai dalam kehidupan dunia yang fana ini menjadi kenyataan.
Kini, para pemikir di bidang agama banyak yang berusaha mengadakan suatu dialoq antarumat beragama agar terjalin suatu hubungan yang harmonis. Dengan demikian akan tercipta suatu dunia yang damai sesuai dengan tujuan hidup manusia yang senantiasa mendambakan kedamaian dan ketenangan.
Islam, sebagai agama yang datang untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin, mempunyai pandangan tersendiri tentang hubungan antarumat beragama. Dalam Al-Qur’an, manusia digolongkan dalam tiga hal, yaitu Muslim, ahl kitab, dan golongan diluar Muslim dan ahl kitab, yaitu kaum watsaniy (pagan). Menurut Al-Qur’an, semua golongan itu mempunyai tempat dan kedudukan tersendiri dalam hubungan sosial dengan umat Islam.
Beberapa pemikir Islam yang mempunyai konsep dan pandangan tersendiri mengenai hubungan antarumat agama Islam dan umat agama lain. Gagasan tentang wahyu yang berhubungan dengan ahli kitab yang kemudian dia lebih senang menggunakan istilah “masyarakat-masyarakat kitab” untuk menyebut ahli kitab. Itu dilakukan untuk menghindari berbagai konotasi polemis yang ditimbulkan oleh ungkapan Al-Qur’an itu dan untuk menarik perhatian pembaca pada keperluan akan suatu ancangan sosial-historis.
Pemikir Islam yang mempunyai komitmen terhadap perselisihan antaragama yang terjadi, khususnya agama-agama Semit – Yahudi, Kristen dan Islam – yang masing-masing mereka mengklaim dirinya sebagai pewaris “tradisi Ibrahim”. Konsep “Masyarakat Kitab” mencoba mendekonstruksi pemahaman terhadap wahyu, khususnya dalam Islam, untuk membangun sebuah hubungan yang harmonis antara ketiga agama Semit tersebut.
Pentingnya sebuah dialog antaragama, yang mana didalamnya terdapat pemahaman agama yang diyakini oleh manusia sebagai anamah Tuhan, dan juga terkandung pesan-pesan perdamaian. Oleh karenanya, manusia membutuhkan kemampuan untuk memandang agama-agama lain bukan sebagai musuh, melaikan sebagai teman dan saudara. Untuk itu dibutuhkan dua sikap utama agar tercipta interaksi sosial antar keyakinan agama dan ideologi (dialog) yaitu inklusivisme dan pluralisme.
Kita perlu tahu bagaimana melakukan kritik epistimologis terhadap ilmu-ilmu keislaman klasik dan konterporer seperti yang pernah dilakukan oleh Immanuel Kant terhadap kemampuan akal murni (pure reason). Arkoun juga menyerang dan menolak secara kritis karya-karya dan penafsiran-penafsiran tentang Islam dan Al-Qur’an yang lahir dari upaya mitologisasi dan ideologisasi yang ditulis oleh umat Islam sendiri yang bersifat statis, eksklusif dan fragmentaris.
Dialog antaragama tidak mungkin bisa dilakukan dengan baik apabila metodelogi dan pendekatan yang digunakan pada Abad pertengahan, yang mana metode tersebut menganggap sumua wilayah agama adalah sakral dan normative, tidak bisa lagi digunakan untuk membangun sebuah hubungan dialogis dan kritis. Dalam hal ini, umat Islam perlu sepenuhnya menyadari bahwa hanya dengan melalui pemahaman Al-Qur’an secara konprehensif dan utuh.
Manusia membutuhkan kemampuan untuk memandang agama-agama lain bukan sebagai musuh, tetapi sebagai teman dan tetangga, bahkan saudara. Untuk itu dibutuhkan dua sikap utama didalamnya; inklusifisme dan pluralisme. Sikap inklusif meniscayakan adanya paham pluralisme. Sebaiknya, pluralisme juga menuntut adanya sikap inklusivisme. Di sinilah kemudian muncul satu cara interaksi sosial antar keyakinan, agama dan ideologi, yaitu apa yang disebut sebagai dialog.
Dialog sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup di tengah pluralisme. Dan pluralisme itu pun muncul dalam berbagai macam dan ragam bentuknya; pluralisme kebertuhanan, pluralisme keyakinan, pluralisme kepentingan, puralisme entik, pluralisme agama dan sebagainya. Dalam pluralisme agama, berarti berkaitan dengan pluralisme keyakinan dan kebertuhanan.
Setiap pemeluk agama harus menyadari keyataan pluralisme di atas. Sebab hanya dengan dengan kesadaran inilah hubungan dialogis antarumat beragama bisa dibangun. Untuk itu, paling tidak ada tiga prinsip dasar yang bisa dijadikan landasan dialog ketika sebuah keyakinan dan pemahaman akan kebenaran agma seseorang berinteraksi dengan keyakinan dan pemahaman akan kebenaran agama orang lain.
Hendaknya setiap umat beragama hendaknya mengakui adanya suatu logika yang menyatakan bahwa yang Satu (Tuhan) bisa dipahami dan diyakini dengan berbagai cara dan bentuk penafsiran. Kedua, banyaknya tafsiran dan pemahaman mengenai Tuhan Yang Satu itu harus dipandang hanya sebagai “jalan” menuju ke hakikat yang absolut. Ketiga, setiap umat agama, meskipun memandang agama yang di anutnya hanya sebagai “jalan” menuju hakikat yang absolut, tetap meyakini sebagi suatu yang memiliki nilai kemutlakan.
Di sinilah arti pentingnya dialog antaragama, bahwa umat beragama menyadari adanya persamaan dan perbedaan di antara mereka, tetapi etika perilaku agama-agama memiliki banyak kesamaan. Maka pertama-tama yang harus disadari adalah dialog antaragama bukan hanya bertujuan untuk bersama secara damai dengan membiarkan pemeluk agama lain ‘ada’ (ko-eksistensi), melainkan juga berpartisipasi secara aktif meng-’ada’-kan pemeluk agama lain itu (pro-eksistensi).
Dengan adanya dialog antaragama yang dilakukan secara sehat, cerdas dan dewasa, kita semua akan menyadari betapa kebersamaan dalam hidup beragama dapat menjadi pendorong munculnya sikap kritis yang sejati, yang tidak terhalang oleh perbedaan dan batas-batas formalisme agama. Dan jika dikatakan bahwa setiap manusia memiliki daya kritisnya sendiri dalam memahami realitas, serta menjadi sumber moral bagi kehidupan yang lebih bermakna, maka setiap pemeluk agama memiki alasan kuat untuk saling memberdayakan iman masing-masing.
Dapat kita simpulkan bahwa wahyu, harus dipahami dengan berbagai metode pendekatan, seperti metode hermeneutika, semiotik dan linguistik. Secara historis-antropologis, wahyu dibedakan menjadi tiga tingkatan; pertama, wahyu sebagai firman Allah yang transenden, kedua, wahyu yang ditampakkan dalam sejarah melalui nabi-nabi dan ketiga, wahyu yang sudah tertulis menjadi sebuah Kitab Suci.
Hermeneutika akan memberikan kepada kita suatu pandangan yang lebih konprehensif mengenai pemaknaan teks itu sekarang dengan melihat latar belakang sosio-historis yang yang memunculkan suatu teks. Dengan demikian teks tersebut akan terasa lebih hidup dan tidak baku, tapi dinamis. Sementara semiotik dan linguistik akan memberi gambaran yang jelas mengenai struktur bahasa suatu teks dan sejarah yang melatarbelakangi lahirnya teks tersebut; semiotik dan linguistic memandang keterkaitanantara kondisi budaya yang melahirkan bahasa atau suatu teks dengan teks yang sudah tertulis dan dipelajari oleh masyarakat sehingga dapat memberikan sebuah pengertian yang mendalam mengenai maksud dari teks tersebut.
Pandangan di atas mempunyai implikasi yang cukup signifikan terhadap pandangan Arkoun mengenai konsep ahl al-kitab dan dialog antaragama. ahl al-kitab merupakan golongan penerima wahyu Tuhan yang dalam perkembangan sejarah agama-agama wahyu, kata itu telah menimbulkan banyak polemik teologis yang berkepanjangan, sehingga konsep “Masyarakat Kitab” untuk mendekonstruksi konsep ahl kitab itu dengan mengacu kepada semua metode illmu-ilmu sosial dan kemanusiaan untuk menghindari polemik teologis tersebut.
Untuk itu, dialog antaragama harus dilakukan dengan adanya saling memahami dan saling mengenal antar tradisi secara kritis, terbuka dan dialogis. Dialog juga memerlukan pendekatan multidisipliner yang mengharuskan pesertanya untuk memmandang suatu tradisi dengan berbagai sudut pandang. Untuk itu, metode-metode yang ada dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan modern harus digunakan untuk memikirkan kembali konsep-konsep lama tentang agama dan masyarakat agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekarang. Islam memandang dirinya sebagai bagian dari tradisi keimanan Ibrahim yang mengjarkan ketuntukan total kepada Tuhan. Iman semacam ini tidak hanya terbatas pada Ibrahim, tetapi lebih merupakan ekspresi keimanan para nabi sebelum dan sesudahnya, termasuk Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Oleh karenya, Nabi Muhammad dan penggantinya kemudian (khulafa al-rasyidin) tidak memaksa golongan ahli kitab-kerena menurut Al-Qur’an tidak boleh ada pemaksaan dalam beragama – untuk meninggalkan agama mereka sebagai syarat untuk hidup berdampingan dengan kaum muslim.
Al-Qur’an mengajarkan kepada para penganutnya untuk bercermin kepada orang-orang yang menerima kita Suci sebelumnya demi pengetahuan dan kenyakinan, ”bertanyalah kepada orang-orang yang memberi peringatan (ahl adz-dzikir) apabila kamu tidak mengeahui” (Q.S.An—Nahl/16:43) dan “apabila kamu dalam keraguan berkenaan dengan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, maka bertanyalah kepada mereka yang telah membaca kitab-kitab suci sebelum kamu”. (Q.S.Yunus/10:94).dengan begitu, Al-Qur’an telah menegaskan hubungan geneologis agama-agama wahyu yang berpangkal dari Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad.
Al-Qur’an menegaskan bahwa iman tidak semata-mata kepercayaan yang benar, tetapi Islam yang genuine dan sungguh-sungguh adalah penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Dalam hal lain Al-Qur’an mengajarkan dua tingkatan identitas iman. Pertama, iman yang bersifat illegal, sosial dan kultural yang diungkapkan dalam konteks keanggotaan pribadi dalam komonitas umat Islam yang mana Islam sebagai sebuah institusi agama dan sisem hukum, sedangkan yang kedua adalah sebuah identitas yang lebih dalam yang disandarkan pada ketakwaan atau iman, dalam hal ini semuanya kembali pada Tuhan, dan hanya Tuhan sendirilah yang dapat menentukan kebenaran atau kesalahannya.
Oleh karenanya, sudah selayaknya bila umat beragama membangun sebuah kerangka teologis untuk menciptakan dialog antargama yang konstruktif, karena dialog merupakan perbincangan antara dua orang atau lebih yang masing-masing mememiliki krangka yang berbeda dan memahami dengan penuh terbuka dan simpati, tujuan utamanya adalah saling belajar, yang mana dapat mengubah dan menambah pengalaman religiusitasnya.
Dialog bukanlah perdebatan. Dalam dialog, setiap kawan harus mendengarkan kawan yang lain secara terbuka dan penuh simpatik sehingga masing-masing berupaya memahami posisi yang lain secara tepat dan memandangnya harus dari sisi mereka yang dipahami.

.

Categories: Article

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...