AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

PAHATAN MIHRAB

Posted by Areiz Hiugan 0 Comment

Hari itu aku sangat lelah sekali setelah berjalan sejauh lima kilo meter lebih dari terminal. Sungguh sangat sial sekali, hari sesiang ini tak ada satupun angkot yang terlihat berseliweran. Sungguh aneh, aku sampai celingukan dibuatnya. Masak, kota sebesar kota Sampit ini tak ada satupun taksi yang terlihat, jangankan angkot dan taksi becak pun bak lenyap ditelan bumi, apalagi ojek, entah ke mana mereka semuanya. Aku bingung, sampai akhirnya kuputuskan untuk jalan kaki saja. Walaupun lumayan jauh, tapi lebih baik dari pada cuma bengong di terminal, menunggu tanpa ada kepastian.
Adzan dzuhur mengingatkanku bahwa aku telah berjalan selama dua jam lebih, kakiku terasa panas dan sakit, sepatu kulit yang kukenakan masih terlalu baru dan keras untuk dibawa berjalan sejauh lima kilo meter lebih. Setelah melewati PT. Inhutani 3, kulihat kubah Masjid Darul Iman menyembul, kontras, mencolok diantara bangunan bertingkat di sekelilingnya, masih seperti dulu tak banyak yang berubah. Masih dengan warna abu-abunya, belum dipugar tampaknya. Aku masih ingat dengan jelas, sepuluh meter dari masjid Darul Iman itu ada gang Baamang 2, nah masuk gang itu, sekitar sepuluh rumah dari jalan raya kau akan temukan rumahku yang megah.
Tapi aku menjadi terkejut-kejut dibuatnya, karena sejauh dua puluh meter dari Masjid Darul Iman tak satupun gang yang kutemukan, apa ingatanku salah…? Ataukah ada renovasi besar-besaran di sini…? Yang kutemukan hanya bangunan kokoh yang menjulang tinggi menyaingi kubah Masjid Darul Iman. Aku celingukan dibuatnya. Aneh, pertanyaan besar tanpa jawaban menggelayuti benakku.
Aku kembali ke arah semula, dan berhenti di depan Masjid Darul Iman, iqamat baru saja selesai, jamaah pun belum berdiri semuanya. Walaupun dengan kegerahan yang lumayan, aku segera mengambil air wudlu lalu ikut tumplek blek bersama jamaah yang lain.
Sejuk sekali rasanya, seusai shalat jamaah aku duduk di tangga masjid, meresapi sejuknya terpaan angin timur yang berhembus sepoi-sepoi. Dalam sekejap kegerahanku berganti dengan kesegaran yang hmmm…
Aku mencoba mengingat-ingat, merepro ulang memori yang ada di kepalaku. Kucoba mengingat apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika aku pergi meninggalkan bumi Mentaya ini, mencoba memetakan ulang visual terakhir yang berhasil kurekam melalui retina mataku dari atas gladak KM. Binaiya. Tapi gagal, nihil, aku tidak menemukan apa-apa, kosong melompong.
” Kai…Kai…”
Bocah kecil dengan wajah imut-imut, lugu, polos menggoyang-goyang lengan kakek tua di sampingnya sambil menunjuk ke arah mihrab dengan telunjuk mungilnya. Kakek itu bergeming, ia masih dengan goyangan kepala dan gerak jari serta lafal tauhid yang mendengung dari mulutnya, persis suara kepakan sayap lebah yang menggetarkan udara di sekitarnya ketikan terbang.
“Kai itu to apa…”
Ulangnya seusai kakek itu bertirakat. Kakek itu melihat ke arah yang ditunjuk bocah itu, aku pun ikut melihat ke arah yang ia tunjukkan. Aku melihat sebuah ukiran berwarna keemasan, tampaknya mahal. Ayat kursi, yah ukiran itu memang menyuratkan ayat kursi. Diukir dengan gaya jepara, lekuknya jelas sekali mensiratkan seni ukir yang tinggi.
Kakek itu menerangkan tentang bacaannya, kegunaannya dan juga tentang khasiat yang tersembunyi di dalamnya. Aku jadi teringat pada masa kecilku, waktu itu aku juga pada posisi anak kecil itu, bertanya pada kakekku tentang tulisan itu, hanya saja aku tidak melihat tulisan sebagus itu, aku hanya melihat tulisan mirip benang kusut pada secarik kertas bekas bungkus nasi yang kemudian dilipat-lipat sampai kecil sekali dan dibungkus dengan kain kuning lalu dengan kain hitam sebagai pembuingkus luarnya dan terakhir dijahit dengan benang merah. Hasilnya sebuah jimat yang di kalungkan di leherku. Aku hanya memandang tak mengerti waktu itu dan terlontar pertanyaan seperti yang diajukan oleh bocah kecil itu.
“ini ngarannya jimat tulak bala….” Terang kakekku ketika kutanya tentang jimat di leherku. Beliau lalu bicara panjang lebar tentang kegunaannya. Salah satunya yang menarik perhatianku waktu itu dan sampai sekarang masih jelas kuingat adalah tentang khasiatnya yang mampu membuat sang iblis durjana lari terbirit-birit begitu ayat ini dibacakan, jangankan dibacakan melihatnyapun sang Iblis akan sangat ketakutan. Dan jika dipakai pada seseorang maka si Iblis tidak akan berani mendekati orang itu, selain itu jika ada orang yang ingin berbuat jahat maka maksudnya tidak akan kesampaian.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku, ketika menoleh kulihat ada sepotong wajah yang sangat kukenal.
“Hai..!! bang Kusai…”
sentakku gembira sambil menyambut tangannya.
“Pabila ikam datang…?”
“Hanyar baesokan tadi bang…” jawabku. Ia duduk di sampingku.
Ia banyak bertanya tentangku, tentang kuliahku, tentang Firqiatu Jannah tunanganku yang asli jawa itu, tentang segalanya.
“Rumah kita …?” tanyaku.
“Itu…!!” jawabnya sambil menunjuk ke seberang jalan, kulihat sebuah rumah yang lumayan besar, tapi agak tua tampaknya.
“Dulu, ketika terjadi kerusuhan di sini, rumah kita hangus terbakar dan akhirnya pindah ke sini..” tuturnya tanpa kuminta.
“Hangus…!” ujarku heran, karen asetahuku kami bukan dari keturunan suku Madura, kami asli Banjar, darn dari yang kubaca di koran katanya yang dibakar hanya harta benda milik orang -orang madura, lalu kenapa rumah kami juga bisa ikut menjadi korban.
“Yah, kamukan tahu, di sebelah rumah kita ada rumah orang Madura,di sebelah kanan ada rumah ampun Amat, lalu di sebelah kiri ada rumah ampun Iyan … waktu kerusuhan kedua rumah itu sudah kosong, kita ikut pindah juga ke rumah kai di hilir sana. Nah, hari itu, rasanya hari minggu, aku ke sini handak melihat rumah kita, pas sampai di hadapan gang, kulihat orang baikat kapala habang banyak di halaman rumah kita ampun kita, aku sudah bakariak, mamadahi bahwa rumah itu ampun kita, lain ampun orang Madura. Tapi kadida nang parcaya, dan seperti yang kamu lihat sekarang rumah kita sudah menjadi Hotel Mentari 3. Lipas kebakarn itu aku menjual tanah bakasnya kepada amang Huaki, lalu duitnya kita belikan rumah itu…” jelasnya sambil menunjuk ke rumah itu.
“Lalu sepeda motorku…?”
tanyaku agak khawatir. Ia menghela nafas berat, aku semakin khawatir.
“Sama…” jawabnya pendek, tapi cukup membuatku melongo beberapa lama.
“Ayo bulik…” ajaknya. Aku mengikuti langkahnya dengan perasaan tak menentu.

# # #

Aku begadang sampai larut malam, sambil menonoton TV dan ngobrol dengan bang Kusai, beberapa teman lamaku ikut nimbrung. Acara kami selesai sekitar jam dua belasan. Rumah kami yang beru memang lebih besar dari yang dulu, tapi aku lebih suka dengan rumah kami yang dulu, walaupu tak selebar yang sekarang, tapi di sanalah aku putanya banyak pengalaman yang manis, pahit dan banyak hal lagi yang membuatku lebih menyukainya ketimbang yang sekarang.
Usia mematikan TV, aku keluar rumah, sepi sekali, seakan tak ada seorangpun yang tidak tidurm jauh sekali dari apa yang ku alami di Jakarta. Yah, Sampit bukanlah kota metropolitan seperti Jakarta, Sampit hanya metropolitan pada siang hari, termasuk dalam masalah macetnya.
Dari beranda kulihat Masjid Darul Iman lengang, namun sebelum masuk aku sempat melihat seseorang memasuki area masjid. Dari geraknya tampak bukan membawa niat baik. Aku ingin memeriksanya, tapi kuurungkan karena kupikir takkan ada yang macam-macam di masjid. Lagi pula itukan rumah Allah, Allah akan menjaganya, siapa yang berani macam-macam di sana. Aku masuk dan tidur di samping bang Kusai.
“Hhh…”desahku sebelum akhirnya terlelap.
Paginya aku terbangun sekitar jam empat pagi, kulihat bang Kusai masih terlelap dalam mimpinya, aku keluar kamar, masih sunyi, jauh berbeda dengan Jakarta, di sana jam segini sudah ramai dengan kegiatan perekonomian.
Tepat seusai adzan subuh bang kusai bangun, ia mengajakku shalat berjamaah di rumah saja, katanya ada sesuatu yang ingin bicarakan setelah subuh nanti.
Namun seusai shalat subuh tiba-tiba terdengar keributan dari arah masjid, aku dan bang Kusai langsung keluar. Kulihat ada banyak orang yang berkerumun di sekitar masjid.
“Ada apa…?” pertanyaan itu menggelayuti pikiranku.
Aku dan bang Kusai mendekat.
Kudengar ada beberapa penduduk yang menggumam tak percaya.
“Ada apa mang…?” tanyaku pada salah seorang yang terlebih dahulu tiba di tempat itu.
“Ini ada orang nang bongol banar, mancuntan di masjid. Mau katulahan kena to …” ujarnya menjelaskan. Aku terpana.
“Apa nang dicuntan …?” tanyaku lagi.
“Itu ukiran di atas mihrab…” ujarnya sambil menunjuk ke dalam. Dari luar aku melihat pahatan itu tak ada lagi, kosong.
Aku tiba-tiba teringat pada orang yang tadi malam, kulihat memasuki area masjid, mungkin orang itu yang mencurinya. Aku menggeleng tak percaya, bukan kerena kenekatan orang itu, tapi karena ternyata ukiran ayat kursi itu tidak hanya bisa mengusir setan tapi juga bisa mangundangnya, buktinya orang yang tadi malam kulihat itu bisa-bisanya berbuat seperti itu, kalau bukan karena rayuan si setan apa mungkin ada orang yang akan berbuat setolol itu.

Daftar istilah:

Mancuntan: mencuri
Kena: nanti
Kai: kakek
Nang: yang
Bulik: pulang
Bongol: bodoh
Amang: paman
Lipas: setelah
Kadida: tidak ada
Katulahan: kuwalat
Ampun: kepunyaan
Habang: merah
Hanyar: baru
Baesokan: pagi
Pabila ikam: kapan kamu Ngarannya: namanya

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...