AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

SANG RAJA HIU

Posted by Areiz Hiugan 1 Comment

Subuh itu dingin menusuk tulang, kurasakan dinginnya meresap sampai ke tulang sumsum, baru kali ini aku merasakan hawa sedingin ini, sudah tiga jam sejak tengah malam tadi aku mengarungi laut Jawa, laut tempat nenek moyangku mempertaruhkan hidup matinya demi hidup, laut tempat aku besar, laut tempat aku dulu bermain, segalanya kulakukan di laut. Dan kini akupun seorang pelaut, mencari rizki di laut yang penuh maut.
Sebenarnya bukan mauku untuk menjadi seorang pelaut, cita-citaku dulu adalah seorang Pedagang Emas, aku terobsesi oleh salah seorang kerabatku yang bekerja di salah satu toko emas. Menurutnya pedagang emas itu selalu untung besar, bagaimana tidak untung jika ada seorang pembeli yang membeli perhiasan lalu sejam kemudian ia menjual kembali perhiasan itu karena satu dan lain hal, harga langsung turun beberapa persen dari harga semula, padahal baru satu jam. Dan yang paling diuntungkan dari transaksi itu jelas si pedagang emas, ia bisa menjual kembali perhiasan itu dengan harga semula. Siapa yang tidak tergiur.
Tapi ternyata suratan berkata lain. Semenjak meninggalnya ayah, aku harus menghidupi keluarga kami, ibuku hanya bisa membantu dengan berjualan kue, selebihnya akulah yang menanggung, sedang keterampilan tak ada sedikitpun, kecuali melaut yang memang menjadi makananku sejak kecil, jadilah aku seorang pelaut, mewarisi jejak sejak berumur tujuh belas tahun, hingga kini di usiaku yang keduapuluh tiga aku tetap menjadi seorang pelaut. Perahu yang kupakaipun warisan dari ayahku juga jalanya.
Enam tahun bergulat dengan asinnya laut dan dinginnya pelukan malam membuat aku kebal, namun entah kenapa subuh ini aku merasa beda sekali. Dingin sangat menusuk, hampir membuat aku menggigil karena dinginnya. Riak-riak berbuih yang semula kecil dan mulai membesar membuat aku agak gugup. Ketegaranku entah kemana lenyapnya, luasnya hamparan permadani bersulam buih putih yang beriak menggetarkan lubuk sanubariku, maha besar sang maha pencipta.
Seiring dengan fajar yang menyingsing, riak air semakin besar, bahkan bukan lagi riak tapi ombak. Tiba-tiba cuaca mendadak berubah, matahari gagal terbit, awan berarak menutupi wajah istana para malaikat. Angin mulai berubah arah, dan tingkahnya pun ikut tidak bersahabat.
Perahuku mulai terombang-ambing, semula kucoba untuk membalikkan arah tapi tidak mungkin, kalau itu aku lakukan berarti aku bunuh diri, melawan tiupan angin, dan kupikir tak seorangpun yang mau melakukan hal itu. Aku berpegangan erat pada tepian perahu. Ujung perahuku terangkat, buritannya turun lalu buritannya naik dan ujungnnya naik. Berulang kali terulang, kepalakupun mulai pusing, seumur-umur aku belum pernah mabuk laut, apalagi hanya karena goyangan yang tak terlalu keras, tapi kali ini aku mengalaminya. Berulang kali perahuku terangkat tinggi, sampai aku dapat melihat lunas ujung perahuku dengan jelas dari tempat aku berdiam. Saat itu perasaanku mulai tak menentu, ada khawatir yang sangat, juga takut, cemas, aku merasa sangat kecil sekali, kegagahanku yang selama ini diperbincangkan teman-temanku bablas, lenyap, pergi hilang entah kemana.
Aku tak mampu berbuat apa-apa, berdiripu aku tak mampu. Aku hanya dapat berdoa dan berdoa, kiranya Yang Maha Segala Maha mendengar jeritan kecemasanku, melihat kelemahan jiwa pelaut malang ini. Aku merasa seperti titik kecil di tengah lapangan yang maha luas, kecil sekali, tak berarti.
Lama rasanya perahuku terombang-ambing, terlempar kesana-kemari, seluruh perbekalan yang kubawa lenyap terlempar keluar, perahuku tak berbentuk lagi, layarnya robek disana-sini, tiangnya patah setengah, gladaknya copot dan terakhir perahuku terangkat tinggi lalu…
“Blam…” perahuku terhempas keras, jantungku serasa copot. Mengerikan sekali. Aku takut sekali, seakan maut hadir di sekelilingku. Lalu…
“Allah…!!”
Ujung perahuku terangkat tinggi sekali, kalau kuperkirakan mungkin perahuku tegak lurus di atas air, dan…
“Loncat..!!”
Naluriku cepat tanggap, kulemparkan badanku keluar dari perahuku yang terangkat. Ujung perahuku tak kembali turun lagi malah terus kebelakang dan kemudian jatuh tertelungkup, aku sempat melihat dasar sebelah luar perahuku menyembul sebelum akhirnya lenyap, tenggelam ditelan air laut.
Aku mengerakkan kaki dan tanganku agar tidak tenggelam. Hangat, sungguh aneh sekali air laut terasa hangat. Biasanya, pada saat badai seperti ini air laut terasa dingin menyengat, entah apa yang terjadi hingga air laut terasa hangat pada badai kali ini.
Badai mulai mereda sejam kemudian, matahari pada akhirnya menyembul diantara selimut awan, sudah hampir setengah hari, matahari hampir sampai di ubun-ubunku, sulit untuk menentukan mana barat mana timur dengan letak matahari yang berada pas diatas ubun-ubun.
Aku lelah sekali, tak ada selang waktuku untuk berhenti sebentar saja, tak ada pegangan, tak ada tempat untuk berpegang.
“Ough… habislah aku…”
Bisik hati kecilku, tenagaku hampir habis, aku tak kuat lagi untuk bertahan dalam air, tangan dan kakiku super penat. Akhirnya kakiku kram, aku tak merasakan apa-apa, dinginpun tak terasa lagi di kakiku. Sebisa mungkin aku memberdayakan tanganku agar tidak tenggelam, hasilnya tanganku malah ikut kram.
“Oh, Yang Segala Maha, mana uluran tangan-Mu yang agung…” aku membatin.
“Tolonglah makhluk kecil-Mu ini ya Allah…” bisikku lemah, tubuhku mulai terbenam, hampir air masuk kedalam rongga hidungku kalau saja tidak ada yang mendorong tubuhku keatas.
Secara tiba-tiba kaki dan tanganku kembali normal, dan tenagaku kembali pulih seperti sediakala, ajaib.
“Puji Tuhan Segala Maha, Allahu Akbar…” takbirku penuh syukur. Aku mulai bergerak, berenang. Tapi belum lagi dua kali tanganku mengayuh, tiba-tiba sebuah benda dengan ukuran super besar muncul ke permukaan air, bentuknya seperti moncong ikan, semulas kukira kapal selam tapi ternyata tidak, karena kulihat ada benda bening mirip mata ikan di salah satu ceruk moncongnya.
Dan ia membuka mulutnya, mirip gua mengapung di atas air. Aku terpana tak percaya dengan apa yan kulihat, benar ini seekor ikan raksasa, lumba-lumba, paus atau ikan lain.
Aku mendekati tubuhnya. Namun aku terkejut karena sebuah sirip tajam muncul ke permukaan air, sirip itu persis dengan sirip ikan hiu. Tidak salah lagi, ikan ini memang ikan hiu, giginya tajam dan siap memangsa apa saja yang ia dapati. Secepat mungkin aku berbalik dan menjauhinya. Terakhir kulihat ia membenamkan moncongnya dan tidak muncul lagi, siripnyapun lenyap. Aku baru agak lega setelah sekian lama ia tidak muncul lagi, kukira ia sudah pergi.
Ternyata salah, dari dalam laut ia melesat kepermukaan dan melontarkanku keatas.
“Huaaa…!!!”
Teriakku histeris, badanku terlontar sepuluh meter ke udara, jatuh membelah laut. Dadaku terasa sesak dan sangat sakit. Sodokan moncongnya untung mengenai perutku bukan dadaku, kalau saja mengenai perutku tak dapat kubayangkan bagaimana sakitnya.
Belum lama aku masuk air, makhluk hitam besar itu langsung menyambar tubuhku, ia menyeretku di atas moncongnya. Semula kukira ia akan memangsaku, tapi ternyata tidak, ia terus menyeretku ke arah matahari terbenam. Hanya dalam waktu yang sangat singkat aku sampai di tepi pantai, malkhluk hitam itu menurunkan moncongnya kebawah, aku segera berenang ke pantai.
“Tunggu…”
Serak basah, suara yang tak kuketahui asalnya menahanku, aku mengedarkan pandanganku, tak ada seorangpun.
“Hei manusia…!” terdengar lagi, dan tampaknya sangat dekat dari tempatku. Aku kembali mengedarkan pandanganku, tetap nihil, tak satu pun makhluk yang kutemui, hanya moncong ikan hiu itu yang terlihat di permukaan air.
“Hei manusia…” kali ini terdengar dekat sekali, aku melirik ke arah moncong hiu yang menyelamatkanku, apa mungkin Ia yang memanggilku, tapi musthil rasanya.
“Siapa…?!”
Teriakku. Tak ada jawaban.
“Aku..” jawabnya agak lama kemudian. Aku menoleh kearah sumber suara. Hiu itu, tak salah lagi suara itu berasal dari moncongnya.
“Kau..!!” ujarku sangsi.
“Ya aku. Raja Hiu laut jawa…” jawabnya. Aku terpana sejenak. Kucubit lenganku, sakit, berarti aku tidak bermimpi.
“Ya aku…” ulangnya.
“Kau tahu, mengapa aku menyelamatkanmu, padahal kalau aku mau aku bisa saja memangsamu seperti apa yang dilakukan oleh bangsa kalian pada masyarakatku…”
Dalam keterpanaanku aku menggeleng.
“Kenapa…?” pertanyaan bodoh itu terlontar dari mulutku.
“Aku ingin kau menyampaikan ultimatumku …”
“Ultimatum…?!” gumamku tak mengerti.
“Yah, ultimatum kepada bangsamu…” jawabnya. ” maksudmu…?”
“Setelah ini jangan ada lagi manusia yang membunuh bangsa kami, kalau sampai ada, kalian akan merasakan akibatnya… aku akan memerintahkan semua ikan di laut jawa ini mengungsi, dan kalian tidak akan menemukan seekorpun ikan di laut ini” lanjutnya dengan nada mengancam. Aku terjengit sejenak.
“Wah tidak bisa begitu… kau belum menjelaskan alasannya…”
“Alasan…?! Alasan apa lagi yang kau inginkan, bangsamu telah merusak kehidupan laut ini, mereka bisanya hanya menikmati tapi tidak bisa menjaga…”
“Tidak mungkin…!! Kami bangsa yang beradab, makhluk paling mulia, makhluk satu-satunya yang dianugrahi akal dan nafsu sekaligus, kurang rasional jika kau mengatakan bahwa bangsa kami melakukan itu… kalau memang bangsa kami membunuh bangsamu itu karena bangsamu terlebih dulu menyerang kami, kami hanya membela diri…”
Belaku.
“Apa…!! Bangsa beradab… ha…ha..ha…ha…”
Ia tertawa mengejekku, tawanya bergema.
“Dengan membunuhi bangsaku secara kejam kau sebut sebagai bangsa beradab, hm… ternyata kalian memang bangsa yang tak tahu diri. Kau tahu seribu lebih bangsaku mati karena ulah bangsamu, mereka menangkapi bangsaku. Kepalanya dibelah, otak dan siripnya diambil, lalu dibuang begitu saja ke laut. Itu yang kau anggap sebagai bangsa beradab…” sambungnya.
“Belum lagi kekacauan yang mereka buat, mereka membunuhi bangsa kami secara masal, coba kau bayangkan mereka meracuni bangsa kami, mereka membakar bangsa kami dengan bom yang mereka masukkan kedalam air.. kau masih mau memungkiri itu heh…!! Kau masih mau menganggap bangsamu bangsa yang mulia, bangsa yang beradab, bangsa yang berakal. Jika kau belum membuka matamu rasanya kaupun tidak lebih dari mereka…”
“Semula aku mengira kau beda dari mereka, ku akui kau memang jauh berbeda dari mereka, tapi dengan kebutaanmu tampaknya sama dengan mereka. Tapi tak apalah… sampai saja pada bangsamu, jika mereka tetap tidak berubah… mereka akan merasakan sendiri akibatnya…” ujarnya terakhir kali lalu menyelam dan tidak muncul lagi.
Aku termenung sejenak di tempatku, kucoba merenungi ucapannya. Apa betul bangsaku begitu, pertanyaan besar yang menggelayuti benakku. Mungkin ada betulnya juga apa yang dikatakan raja hiu itu, aku pernah mendengar tentang nelayan yang meracuni air laut dengan tuba, ada juga yang menggunakan bom, tapi tentang orang yang menangkapi ikan hiu lalu membelah kepalanya dan mengambil otaknya serta siripnya dan tubuh mereka dibuang begitu saja aku belum pernah mendengarnya.
Mungkin kerena kebodohanku aku tidak mengetahuinya.
Aku berenang ketepian, kutemukan keluargaku menunggu dengan tatapan cemas.

# # #

“Apa yang kau katakan Mad… kau katakan kau bertemu dengan raja hiu… ha…ha…ha… tampaknya… tampaknya kau mengigau Mad…” ejek Mamik temanku. Ketika mendengar ceritaku, kusampaikan juga pesan dari si Raja Hiu.
“Mana mungkin ada ikan yang bisa bicara, walaupun raja hiu…”
“Tampaknya kau perlu istirahat Mad… kau mungkin masih tarauma dengan kejadian itu. Istirahatlah yang banyak… cepat sembuh ya…” tambah Adi tak percaya.
“Tapi ‘Di, Mik… aku betul-betul mengalaminya…”
Ujarku mencoba meyakinkan, Adi tersenyum.
“Iya… iya kami percaya, banyak istirahat ya…” ujarnya. Tapi menurutku ia hanya menghiburku, karena kudengar Mamik tertawa begitu keluar dari rumahku. Aku hanya menghela nafas, berharap mereka percaya.
Tapi ternyata harapanku meleset, karena sorenya kudengar sorak-sorai penduduk di tepian laut. Kutanyakan kepada anakku, ada apa sebenarnya.
“Itu bah… mang Asdi menangkap ikan hiu yang besaaar sekali… ” ujarnya. Aku termenung sejenak, jangan-jangan….
Aku segera keluar rumah walaupu istriku melarang. Aku berlari terseok-seok ke tepian pantai, di sana banyak warga yang bergerombol, mereka mengelilingi sesuatu. Aku mencoba menerobos masuk dan kulihat seekor ikan yang sangat besar tergeletak dan rasanya aku mengenalinya, tiudak salah lagi hiu itu adalah Raja Hiu yang telah menyelamatkanku.
“Jangan…!!” cegahku ketika kulihat Mamik akan mengayunkan kampaknya ke kepala hiu itu. Hiu itu adalah Raja Hiu yang menyelamatkanku. Mamik menoleh ke arahku.
Penduduk juga menoleh ke arahku.
“Itu… itu Raja Hiu yang kuceritakan Mik… jangan bunuh dia, kita akan sengsara kalau sampai ia terbunuh, lebih baik kembalikan ke laut…” tambahku.
Tak ada tanggapan, tapi Mamik tersenyum padaku, ia mengejekku. Dan ia mengayunkan kampaknya. Tapi sebelum mata kampaknya mengenai kulit ikan raksasa itu, ia tiba-tiba menjerit kesakitan. Ikan itu menyambar pergelangan, kampak beserta lengannya putus. Warga panik, jaring yang digunakan untuk mempersempit ruang gerak ikan itu robek, ia kini bebas. Tapi ia tak dapat pergi, tak ada air di sekelilingnya.
“Ikan bangsat, mati kau…” teriak Adi histeris. Ia melemparkan tombaknya, tombak itu tepat menembus perut si Raja Hiu, ikan itu menyentak keras, ia mengibaskan ekornya, sepuluh orang yang berada di samping ekornya terpelanting. Kulihat beberapa orang warga yang lain ikut menombaki ikan itu, terakhir kulihat ia membuka moncongnya lalu diam…
Sementara Mamik yang kehilangan lengannya pingsan tak sadarkan diri, ia banyak kehilangan darah. Aku pulang dengan lesu, terbayang di benakku apa yang dikatakan Raja Hiu itu, kalau apa yang ia katakan benar-benar terjadi berarti aku harus mencari pekerjaan lain. Mudah-mudahan saja itu tidak terjadi…

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...