AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Serdadu Malam

Posted by Areiz Hiugan 0 Comment

Terik mentari yang tak terperi telah hancur bersamaan dengan berakhirnya perjalanan siang yang panjang. Senja itu sepasang kelelawar hinggap di dahan jambu, di tengah lebatnya rimbunan pohon-pohon asam yang berjejer mengelilinginya. Sang jambu kokoh berdiri walau dengan keterasingan yang mengelilinginya. Sepasang kelelawar itu hinggap sebentar lalu terbang kembali ke arah tenggelamnya matahari, di ufuk barat sana.
Jangkrik malam mulai mengeliat dari tidur panjang, siang yang memuaskan. Ia menjerit, memanggil kawanannya yang terlelap. Begitu malam mulai agak larut jeritan srigala hutan melolong, memberi isyarata pada yang hidup, kehidupan malam yang penuh misteri telah dimulai. Saat ini, rembulan yang hanya sepotong telah naik, meninggi dengan cepat seiring dengan perputaran waktu yang kian larut. Tak jauh dari tepian hutan yang lebat, sebuah gardu ronda berdiri, reot, tak terurus. Kosong melompong, tak ada ronda yang siaga dengan pentungannya. Semuanya tak ada. Suasana desa terasa hambar, tanpa sinar petromaks, tanpa riuh kelana bocah kecil di bawah temaram rembulan, sunyi. Dan hanya suara jangkrik yang terdengar kian nyaring. Sudah beberapa hari desa kecil ini membisu, sejak tenggelam matahari hingga subuh menjelang, tak ada kehidupan yang terasa, semuanya diam, menenggelamkan diri dalam kebisuan yang panjang. Sepanjang malam. Kelip lampu templek di setiap rumah bergoyang, menghadirkan bayang semu yang mencekam. Selimut-selimut ditarik kencang, menutupi kaki-kaki kasar, menutupi badan-badan bau yang kehilangan wanginya setelah sekian lama tak menyentuh air mata pemandian. Desa kecil ini telah berubah sejak kedatangan serdadu-serdadu malam yang menyatroni desa kecil ini.
Tak terasa malam sudah sedemikan larut, namun aneh tak satupun penduduk desa yang lelap. Tak ada yang dapat memejamkan matanya. Setiap penduduk larut dalam pikirannya masing-masing, dan semuanya kembali pada sebuah pertanyaan, sudah pergikah para serdadu malam…?
Diluar sana, semburat kuning tipis cahaya bulan separuh menembus rimbunan dedaunan. Tiba-tiba dari atas sana melayang jatuh sehelai bulu angsa berwarna putih keperakan. Melayang kesana-kemari, berayun dipermainkan angin malam, bentuknya yang besar membuatnya lain dan berbeda dari bulu angsa kebanyakan. Lagi pula tangkainya yang keperakan itu mengundang sebuah pertanyaan retoris, benarkah ini bulu angsa…?
Bulu itu terus melayang jatuh, tersangkut di dedaunan pohon, tertiup angin malam lalu kembali melayang jatuh kebawah. Sebelum menyentuh tanah, seekor tupai kecil menyambar dan membawanya naik ke atas. Tupai kecil itu menggigit ujung tangkainya. Giginya yang tajam mencengkram keras tangkai keperakan itu. Ia bertengger di dahan kecil. Dicobanya untuk mengamati bulu angsa itu, entah apa kiranya ia tak tahu. Namun kemudian bulu itu jatuh dan melayang ke bawah.
Ajaib ketika menyentuh tanah, tangkainya bukannya berada di bawah melainkan di atas. Bulu-bulunya yang keperakan menyapu permukaan tanah, lalu dari ujung tangkainya tiba-tiba keluar seberkas asap putih yang harum tak terkira. Asap tipis itu semula melayang ke atas, membumbung tinggi tapi kemudian berbalik turun ke bawah lalu menyapu permukaan tanah dan menggumpal tebal. Sedikit demi sedikit gumpalan asap itu membentuk sebuah rupa, sebuah relief unik yang lebih mirip dengan sebuah patung wanita dengan rambu tergerai sepinggang. Tanpa wajah, rata tak berbentuk. Hanya berupa bayang-bayang yang semakin padat. Udara di sekitarnya menghangat beberapa saat kemudian, dan wangi kesturi yang menyebar itu semakin harum tercium dari sana.
Sekitar setengah hari perjalanan dari hutan itu, sebuah puri hitam berdiri dengan kokoh. Relief dasar ukirannya menggambarkan sebuah pribadi usang yang kian kelam dalam kedzalim pemiliknya. Gambar-gambar wajah tanpa mata dengan mulut terbuka lebar dan gigi-gigi hitam yang panjang tak terkira menyembul jelas dari permukaan dinding puri. Orang yang baru saja melihatnya akan terpekik karena dari sana tercium bau busuk kematian yang amat sangat. Telinga-telinga lebar dengan cuping tajam bertaji menyungging di tepi kepala patung-patung aneh itu. Dari dalam puri tercium bau-bau aneh yang setiap kali berganti menimbulkan mual yang teramat, bau-bau yang menusuk dan mengaduk perut itu menyebar ke sekitar puri. Tanam-tanaman layu, rumput menguning, kelapa yang menjulang tinggi tak berbuah, semangka berdaging putih pucat dan terasa pahit dagingnya.
Malam itu terdengar tawa menggelegar dari dalam puri. Tawanya menggetarkan dinding puri, menyebarkan serpih kapur-kapur dinding.Kerikil-kerikil kecil di tepian puri menyisih ke arah luar, terbawa arus getaran.
“Akhirnya…. Akhirnya keluar juga …ha…ha…ha…” tawanya semakin menggelegar.
Bola kristal di depannya berkilatan, mengusung lurik putih gemerlap ke permukaan. Senyumnya merekah, giginya yang kehitaman menyembul dari balik bibir kehitam-hitamannya. Asap kemenyan memenuhi ruangan itu, kelelawar bergelayutan di atap-atap, sarang laba-laba memenuhi dindingnya. Laki-laki itu tetap asik dengan kegiatannya, ia mengusap-usap permukaan bola kristal dan mulutnya komat-kamit melafalkan mantra.
Cahaya tipis berpendar dari pusat kristal. Menyilaukan mata, pedas. Mulutnya semakin cepat melafalkan mantera-mantera. Tiba-tiba dari dalam bola terlihat sebuah visual ,semula hitam, kabur namun semakin jelas. Beberapa saat kemudian nyatalah bahwa visual itu adalah seorang putri cantik dengan mahkota bunga teratai yang melingkar di kepalanya. Tapi sayang tak ada wajah cantik, tak ada lekuk tubuh, hanya datar dan yang lebih menakjubkan dari tungkainya menyembul sepasang sayap putih berkilau yang menakjubkan. Raut wajah datarnya menunduk, memandangi tanah tempatnya berdiri.
Laki-laki itu meraih serbuk hitam dari laci mejanya, mulutnya kembali komat-kamit lalu…
“Blar…” ledakan kecil membahana dari tungku kemenyan. Asap hitam kembali menyepul, memenuhi ruangan. Bau kemenyan basi terasa menyesakkan. Tawanya merekah, ia terbahak dan terus terbahak. Tak terasa malam kian larut. Suara-suara jangkrik semakin nyaring terdengar, menghiasi malam.
Di tengah hutan belantara sana, sang asap mulai membentuk rupa. Matanya mulai jelas berbentuk sedikit demi sedikit lalu hidungnya menyembul dari tengah mukanya di susul bibir mungilnya dan terakhir alisnya yang hitam, melengkung bak sayap elang perkasa. Namun ia belum juga membuka kelopak matanya. Tangannya yang panjang dan ramping terulur ke bawah, jemari yang lentik tanpak menjuntai di ujung lengannya. Kuku-kukunya panjang dan tampai serasi dengan jemarinya yang lentik.
Rinai-rinai cahaya keperakan menyebar, berotasi mengelilingi jasadnya yang kaku. Wangi kesturi yang memancar dari tubuhnya tak kunjung hilang, malah kadang berganti dengan wangi mawar kadang bahkan melati. Harumnya menyebar hingga ke tepian hutan, mengusik penduduk yang belum juga dapat lelap. Semula mereka cuek, acuh dan tak perduli. Namun ketika wanginya semakin semerbak dan memenuhi udara mereka mulai gerah. Satu-satu bangun dari tempatnya berbaring, saling menatap satu sama lain. Mereka bertanya-tanya wangi apa gerangan ini…?. Yang pria menarik parang dari alas kasurnya, yang wanita menarik belati dari lipatan sarungnya. Mereka satu-satu keluar dari rumahnya. Ketika melihat yang lain mereka saling pandang tak mengerti, siapa sebenarnya yang mengundang mereka keluar, padahal para serdadu malam sedang keliling pada saat-saat seperti ini. Entah kekuatan apa yang membuat mereka tak gentar dengan ancaman serdadu malam yang kian hari kian kejam. Kekuatan wangi murni yang merasuki paru dan dada mereka. Perlahan mereka bergerak ke arah hutan, tanpa obor. Hanya mengandalkan cahaya rembulan yang hampir tertutup awan hitam. Langkah mereka semula lambat namun semakin cepat dan akhirnya mereka lari-lari kecil di sela-sela semak-semak rimbun hutan belantara. Tujuan mereka menyatu, menuju pusara wewangian yang mengundang mereka.
Carik dan kades yang pertama kali tiba di pusara wewangian itu. Mereka terpana melihat fenomena alam yang menakjubkan. Keduanya terpaku memandangi gumpalan asap putih menyilaukan yang kini berwujud seorang putri cantik dengan mahkota teratai di kepalanya. Wangi yang mengundang mereka berasal dari jasadnya yang berpendar. Beberapa saat kemudian warga tiba di tempat itu. Mereka sama terpananya dengan kades dan carik. Mereka mengelilingi objek berpendar itu dengan mulut menganga, takjub. Tak ada komentar yang terdengar, semuanya sibuk dengan tebakannya sendiri-sendiri, apa gerangan ini…? Mimpikah…? Atau apa…?
“Apa ini…?” suara pak kades bergetar pertama kali terdengar. Warga menoleh ke arahnya tapi kemudian kembali memalingkan muka ke arah objek itu.
Sunyi tak ada yang menjawab, semuanya bertanya-tanya. Sampai akhirnya seorang senior berbicara.
“Aku tahu…” ujarnya.
Semua warga langsung menoleh dan memperhatikan siapa orang tua itu. Oh, ternyata ia adalah pak Fathullah, seorang pendatang alim yang katanya pernah nyantri di pondok syaikhona Kholil pada masa mudanya. Pak Kades mendekatinya, matanya tak lepas dari wajah pak Fathullah.
“Apa yang kau tahu…?” tanyanya dingin.
“Dulu, saya pernah mendengar dari guru saya. Katanya di alam ini terdapat sebuah unsur ke enam yang tak dapat di indera oleh manusia. Suatu saat nanti, jika hari kian hancur dan mendekati akhir, unsur ke enam itu akan menurunkan sebuah sabdanya kepada manusia. Konon sabdanya itu akan membawa rahmat bagi manusia sekaligus juga kerusakan jika ia jatuh ke tangan orang yang jahat…” jelasnya. Warga tampak terpana, sungguh penjelasan yang jauh dari akal mereka yang hanya terbiasa dengan terik mentari dan hujan serta sawah dan seluruh hal yang berkaitan dengannya.
“Jadi menurutmu ini adalah sabda unsur ke enam…” timpal pak Kades.
“Ya. Dan menurut hemat saya, kedatangan Serdadu Malam yang selama ini menyatroni desa kita bermaksud untuk mendapatkan sabda ke enam ini..”
Semuanya tiba-tiba tersadar dari keterpanaan ketika mendengar nama Serdadu Malam di sebutkan. Mereka saling berbisik. Saling berkomentar. Tiba-tiba mereka sadar, mereka kini sedang berada di alam bebas, di hutan belantara. Serdadu Malam bisa kapan saja menghabisi mereka. Dan anak-anak mereka sedang kesepian, ditemani ketakutan di rumah sana. Warga mulai gelisah.
Sementara itu di puri tua sana. Sang lelaki tua itu sedang memandang dengan kesal. Ia mengusap-usap bola kristalnya.
“Dasar kalian manusia-manusia bodoh. Kalian kira aku akan melewatkan kesempatan ini heh…”
Ia lalu meraup segenggam bubuk kuning dari cawan hitam di bawah meja reotnya. Ia melafalkan beberapa bait mantera lalu meniupkannya ke genggamannya. Lalu…
“Blar…” asap kemenyan kembali membumbung.
“Wahai abdi setiaku, keluarlah….” Teriaknya membahana.
Dari gumpalan asap terlihat sosok-sosok kerdil yang berwujud aneh. Bertanduk, berekor dan mulutnya mengeluarkan asap tipis yang berbau busuk. Semakin banyak dan semakin busuk bau yang keluar dari mulut mereka. Makhluk-makhluk kerdil itu berjejer, mengelilingi sosok tua yang kian cepat melafalkan manteranya. Sepuluh, dua puluh dan tambah lagi, lagi dan lagi hingga seratus lebih. Mereka menyesaki aula puri. Berbaris dari barat ke timur dengan rapi dan patuh. Si laki-laki tua itu meraih tongkat bengkoknya lalu berjalan mendekati barisan makhluk kerdil itu. Ia mengangkat tongkatnya lalu berkata dengan lantang.
“Wahai abdi setiaku…” teriaknya.
“Hu…hu….huhu…huhu…” sahutan makhluk kerdil itu terdengar serempak.
“Hari ini. Hari yang kutungu-tunggu selama beratus-ratus tahun telah tiba. Hari kemenangan Raja Malam dan kehancuran bagi manusia…”
“Hu…..!!”
“Pergilah. Jemput Kumala Intan. Di tengah hutan belantara sana…” titahanya lalu berbalik. Para makhluk kerdil itu serentak memberi hormat lalu lenyap dari pandangan mata.
Laki-laki tua itu tertawa terbahak-bahak dan terus terbahak-bahak.
Pak Fathullah tampak sedang berbicara serius dengan pak Kades. Wajahnya tampak tegang, mereka tampaknya sedang bersebarang kehendak.
“Pak Kades gila apa…?! Kalau kita serahkan sabda ke enam ini, berarti kita memberikan kemenangan kepada Raja Malam. Itu sama saja dengan menghancurkan dunia ini…” ujarnya sengit.
“Wah pak Fathullah ternyata belum mengerti maksud saya. Tentu saja kita tidak menyerahkan begitu saja…” balas pak Kades.
“Maksudnya..?”
“Kita ajukan syarat kepadanya. Kita minta ia tidak menganiyaya penduduk desa…” ujarnya.
Pak Fathullah tampak berfikir sejenak.
“Tidak bisa. Walau bagaimanapun kita tidak bisa memberikan sabda ke enam…” ia berkeras.
“ada apa …? “ sebagian penduduk mendekat.
“Begini saudara-saudara…” pak Kades mengawali.
Semua penduduk memperhatikan kadesnya.
“Saya pikir sebentar lagi Serdadu Malam akan datang dan mengambil sabda ke enam ini dan mereka mungkin saja akan menganiyaya penduduk desa kalau kita menghalangi mereka…”
Penduduk sontak resah.
“Oleh karena itu, saya punya usul bagaimana kalau kita melakukan barter dengan mereka. Kita berika sabda ke enam dengan jaminan mereka tidak akan mengganggu penduduk…” ujar pak Kades.
Beberapa penduduk tampak lega.
“Tapi saudara-saudara. Anda harus ingat. Kalau kita menyerahkan sabda ke enam ini berarti kita sama saja dengan memberikan otoritas kepada Raja Malam. Dengan sabda ke enam ini ia akan menjadi penguasa dan tak mungkin ada yang dapat mengalahkannya. Sebaliknya jika kita dapat menyelamatkan sabda ke enam ini kita akan hidup makmur…”
Tentang pak Fathullah.
“Saudara-saudara. Kita semua tahu bagaimana Serdadu Malam itu. Kita tak mungkin dapat mempertahankannya. Satu-satunya jalan adalah mufakat dan kerja sama dengan mereka. Anda ingat, sudah berapa orang yang menjadi korban. Mustahil kita dapat melawan mereka…” ujar pak Kades.
Penduduk semakin tak menentu. Ada yang memihak pak Fathullah namun tak sedikit yang mendukung pak Kades, terutama mereka yang telah kehilangan gara-gara kedatangan Serdadu Malam. Kedua kubu akhirnya saling bersitegang, saling mempertahankan pendapatnya, tak urung suasana semakin memanas. Sementara tanpa mereka sadari sang makhluk berpendar yang mereka ributkan tampak membuka matanya. Rinai-rinai cahaya yang mengeliling jasadnya menghilang perlahan. Matanya yang indah, memandang heran pada orang-orang yang tampak sedang menggulung lengan baju, bersitegang urat leher.
“Bagaimanapun juga kita tak bisa membiarkan Serdadu Malam mengambil Sabda ke Enam. Bagaimanapun juga, walaupun mati taruhannya…” ujarnya pak Fathullah gigih di iringi teriakan membahana penduduk desa yang mendukungnya.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kehadiran beratus-ratus makhluk kerdil yang mengepung mereka. Mulut-mulut kecil berbibir tipis itu mengeluarkan asap tipis yang menusuk tulang baunya. Semua penduduk desa tampak gemetar melihat kedatangan makhluk kerdil yang mengerikan itu. Hati mereka kecut, nyalinya down dan satu-satu parang dan belati melonggar di pegangan.
Ditengah keterkejutan itu pak Fathullah maju dengan parangnya. Pak Kades terpanan melihat keberanian orang satu ini.
“Serdadu Malam. Makhluk jejadian laknat. Kalau kedatangan kalian kali ini untuk mengambil sabda ke enam, langkahi dulu mayatku…” ujarnya lantang sambil mengacungkan parangnya.
Makhluk-makhluk kerdil itu tampak saling memandang, makhluk mana lagi yang sedang kesurupan ini…? Mereka tampak memamerkan gigi taringnya yang tajam. Bau busuk semakin santer tercium di sekitar tempat itu, mengalahkan bau wangi kesturi yang mengalir dari hidung sang sabda ke enam.
Tanpa diduga-duga tindakan pak Fathullah ini membangkitkan semangat orang-orang yang tadinya mendukung usulnya. Mereka maju dan berbaris di belakang pak Fathullah sambil memegang erat parangnya. Makhluk-makhluk kerdil itu tampak kebingungan. Tiba-tiba mereka melesat pergi, melayang naik ke awan. Semua penduduk terpana, apakah makhluk itu ketakutan melihat mereka.
“Hebat. Mereka ketakutan…” puji seorang warga.
“Bukan..! mereka pergi karena yang mereka cari telah lenyap….” Jawab pak Fathulllah. Mereka serentak menoleh ke arah sabda ke enam. Yah, makhluk itu telah hilang dari tempatnya. Mereka menengadah, tampak di atas sana, di antara awan-awan sang sabda ke enam sedang terbang, saling kejar-mengejar dengan makhluk kerdil, Serdadu Malam.
Wajah tirusnya tampak membeku, beberapa puluh meter di belakangnya tampak Serdadu Malam sedang terbang mengejarnya sambil memamerkan taring mereka yang runcing. Ia berbelok ke bawah, sayapnya yang putih keperakan mengkilat di terpa sinar rembulan malam. Para Serdadu Malam mengekorinya, menukik ke bawah. Lalu tanpa di duga sang Sabda ke enam menukik keatas dan meninggalkan serdadu malam yang kalah langkah. Namun ternyata ia salah perhitungan. Masih ada berpuluh-puluh serdadu malam yang belum menukik turun dan menyongsongnya di atas sana. Ia ingin berbelok tappi terlambat, jaring merah serdadu malam mengikat kedua sayap peraknya. Ia mengepak kesakitan, namun sebelum ia sempat bergerak lebih banyak serdadu malam menyeretnya ke arah puri di bawah sana.
***
Tawa membahana sang laki-laki tua terdengar. Ia memandangi sosok keperakan yang sedang terbelenggu di atas kawah kecil di depannya. Tangannya yang memegang tongkat sihir tampak gatal tak sabar ingin melumat daging keperakan itu. Sang makhluk tak jugha membuka matanya. Padahal fajar hampir tiba. Kalau sampai terlambat maka sia-sia saja ia mendapatkan sabda ke enam ini. Tak ada gunanya menyantap daging keperakan yang telah hilang hasiatnya diserap mentari pagi. Ia tak sabar lagi. Ia mengambil secawan ramuan lalu menuangkannya ke dalam kawah kecil itu. Asap putih membubung tinggi, menyelimuti sosok keperakan di atasnya. Perlahan sosok itu membuka matanya.
Ia terkejut dengan keadaannya yang terpasung di atas kawah kecil. Ia mencoba menggerakkan tangannya, nihil ia tak dapat melakukan apa-apa. Ia terpasung. Sang laki-laki tertawa senang. Ia berhasil, ia berhasil mendapatkan sabda ke enam, ia akan abadi, ia akan menguasai dunia, harapannya tercapai, ialah raja dunia kini.
Ia bersiap-siap untuk memulai upacara ketika sebuah suara gaib tiba-tiba terdengar.
“Hai, makhluk durjana. Dasar tak tahu malu, sudah banyak dosa malah semakin jahat. Hari ini kau telah membangkitkan kemarahanku…” entah dari mana suara itu.
Ia tampak kebingungan. Namun konsentrasinya tak buyar juga. Ia melanjutkan merapal manteranya.
“Sebelum kuhukum, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu karena telah membebaskanku dari belenggu ini…”
Tak urung ia terpana. Lepas dari belenggu, jangan-jangan makhluk itu akan kabur…?! Ia membuka matanya dan memperhatikan makhluk keperakan itu. Masih terbelenggu. Hanya ilusi.
“Kau mungkin tak tahu, dengan membelenggu jasadku berarti kau telah membebaskan jiwa sejatiku… terima kasih… “ lanjut suara itu membuat konsentrasinya buyar. Ia memicingkan mata. Tiba-tiba dari ubun-ubun makhluk itu keluar seberkas sinar kecil yang menyilaukan. Sinar itu lalu membentuk sebentuk makhluk yang sangat berbeda dengan aslinya. Sebentuk seorang laki-laki perkasa dengan dua gada di tangannya.
Laki-laki tua itu terkejut bukan main. Ia mundur beberapa langkah.
“Sekarang terimalah hadiah dari perbuatanmua yang bejat itu…”
Makhluk besar itu mengayunkan gadanya ke arah laki-laki tua itu.
“Ampun….ampun…ampun…” rintih Sang penyihir sambil mengangkat tangannya, ingin menyangga gada itu.
“Apa…!! Ampun…?! Tak ada ampun bagi orang sepertimu…”
“Ampun… hamba berjanji tidak akan mengulangi….” Ujarnya mengharap.
Tapi terlambat gada telah terayun dan…
“Ssssss….” terdengar desisan lembut. Ia membuka matanya. Makhluk itu telah lenyap bersamaan dengan munculnya mentari di ufuk timur. Ia memandang tak percaya. Seakan mendapatkan nafas baru ia menghela nafas berat lalu dengan congkak ia berkata…
“Hai manusia bodoh. Rasakan pemabalasanku nanti…” ujarnya sambil merapal mantera dan menaburkan bubuk hitamnya kembali.
Jauh di tengah hutan sana, tampak pak Kades dan pak Fathullah sedang bersitegang urat leher tentang siapa yang akan menjadi lurah, penduduk telah terbagi dua kubu, pendukung pak Fathullah dan pendukung pak Kades.

.

Categories: Article

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...