AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Jari-Jari Pemetik Tasbih

Posted by Areiz Hiugan 0 Comment

Malam terus merambat mendaki pucuk kegelapan. kemudian menepi pagi. Namun sebelum benar-benar pagi. Seorang renta. Bagitu renta, sedang khusuk memetik tasbih yang meliliti jari-jemarinya di sebuah masjid. bersila menghadap kiblat. Merajut kata-kata tauhid serta mengemis ampunan dari tuhan-NYA, yang tanpa dirasanya. Butiran-butiran air bergulir pelan menjelma kristal bening berkilau. Bercucuran membasahi sajadahnya yang lusuh. Semakin cepat ia memetik tasbih, semakin cepat pula butiran-butiran yang berjatuhan mambasahi sajadahnya.
Seorang renta itu masih bersila searah kiblat. Bersama tasbih yang masih melilit jari-jemarinya. Perlahan ia terhenti. ketika kokok ayam menyentil gendang telinganya. Ia keluar masjid, seraya menabuh bedug pertanda waktu subuh telah tiba.
Ketika suara adzan mendayu-dayu dari corong masjid. warga kampung mulai berduyun menuju masjid. mulai anak-anak hinga kakek-kakek, riang gembira menyambut waktu subuh. Tak setitikpun terpancar dari raut wajah para warga yang terkesan bosan dan tidak bergairah, atas datangnya waktu subuh.
Seusainya menunaikan subuh berjamaah. masjid menyajikan ceramah agama, yang akan disampaikan oleh imam subuh tadi, dan tak lain adalah seorang renta yang semalaman telah amat banyak menguras butiran-butiran air matanya.
Namanya Kiai Sarbini. Tetapi akrab di sapa warga dengan sebutan Ki Sarbini. Kurang lebih satu jam Ki Sarbini menyampaikan ceramah agama kepada warga. Menyampaikan masalah-masalah agama saat ini, sekaligus cara penelesaiannya. Penyampaian ceramah yang khas dan humoris. Membuat warga betah berlama-lama menyimak ceramah Ki Sarbini.
***

Kehidupan tidak selaras seperti kehidupan Ki Sarbini di kampungnya. Di kampung sebelah. Hidup seorang pemuda yang hari-harinya senantiasa bermaksiat. Tiada yang lain. Seperti terlahir ke dunia hanya untuk bermaksiat. Tidak ada hiasan dalam hidupnya. Pekerjaanya hanya mencuri, merampok, menyabung ayam hingga balapan liar yang sarat akan segala kerusakan. Ketika malam tiba. Pemuda itu begadang sampai mencapai pucuk kegelapan. Ditemani oleh meja judi, botol-botol beralkohol, batangan rokok serta kupu-kupu malam yang berhamburan di bibir-bibir jalan.
Pagi itu. Pemuda bernama Kamandanu membuntuti seorang ibu-ibu yang kulitnya sudah kriput. Sambil lalu ia bernyanyi riang layaknya pencuri kelas kakap. Ia terus mengendap-ngendap di belakang ibu. Sampai tiba pada tempat yang benar-benar lengang. Dan diyakininya tidak seorang pun warga yang berada di sekelilingnya. Terlihat Rumah warga tertutup rapat-rapat. yang seluruh penghuninya sedang bekerja di pasar, di lading, bahkan di kota yang jaraknya berkisar puluhan meter. Kemudian dengan satu sergapan. tas yang berada di tangan ibu tadi. Telah berpindah ke tangan Kamandanu. Dengan kelihaianya ia dapatkan tas itu dengan mudah. Lantas dengan gesit ia menerobos ilalang yang tingginya setara badanya. Sementara ibu tadi hanya diam mematung. hendak teriak. Namun suaranya tersangkut di keronkonganya. Hingga Kamandanu benar-benar raib dari pengelihatanya di balik ilalang-ilalang yang menghamar luas. Ibu tadi baru berkata-kata. ketika rasa takut dalam dirinya mulai memudar. Seraya berteriak. “jambret… jambret….”
Tak seorang pun mendengar suaranya. warga tengah berfantasi bersama pekerjaanya. Hanyalah binatang-binatang kecil yang dapat mendengar kata-katanya. Ibu itu tertunduk lusuh. “Oh Tuhan. sadarkanlah pencuri itu. berikanlah hidayah kepadanya.”
Sejurus kemudian. ibu itu bangun dari ketertundukannya. Wajahnya yang terbungkus rapi jilbab berwarna putih itu, tampak berseri kembali. Bergegas ia pulang dengan langkah tegap sambil menjinjing belanjaannya.

“Sebaiknya ibu bersukur. ibu masih diberi keselamatan. Ikhlaskanlah barang yang telah tiada.”
“Tapi. Pak!” Sanggah anak gadisnya. “Pencuri itu telah merampas tas ibu.”
“Neng. pencuri itu tidak akan mencuri. Kalau tidak ada sebab yang mengharuskannya mencuri. Mungkin, pencuri itu kelaparan hingga untuk membeli sebutir nasi pun sangat sukar. mungkin juga untuk berobat keluarganya yang sedang sakit parah.”
“Ibunya yang menyaksikan hal itu, hanya diam membisu. Sesekali memandangi wajah tua suaminya. Sungguh penuh kearifan dan ketangkasan dalam menyelesaikan pelbagai masalah.”Desisnya dalam hati
***

Senja mulai merona di balik cakrawala. Kamandanu sudah siap mengadu si Kimbal ayam jagonya. Penonton yang dari tadi bersorak-sorai, riuh ramai memberi dukungan dengan teriakan, tepukan tangan hingga injakan kaki kepada ayam pilihanya.
Hampir setiap senja. ia datang bersama si kimbal yang ia jinjing dicangkangnya, untuk dipertarungkan di arena sabung ayam. Tapi, entah jampi-jampi apa yang ia lafadzkan dari bibirnya yang hitam legam bekas hisapan rokok. Hingga ia selalu dan selalu menuai kemenagan. Jagoanya tak sekalipun dipercundangi lawan. Rupiah demi rupiah pun mengalir deras membanjiri kantongnya.
Setelah Kamandanu memastikan tak ada lagi lawan yang sanggup melawan si kimbal . Ia bergegeas meninggalkan arena sabung. Ditemani oleh senja keemasan yang meraba sekujur tubuhnya yang kumal dan lusuh. Menemani setiap derap langkahnya yang gontai.

Tiba di rumah. Kamandanu disambut suara bedug yang membumbung di langit-langit rumahnya. Diikuti suara adzan yang bertalu-talu dari corong-corong masjid, yang jaraknya berdekatan. Suara itu menerobos rumah rumah warga. Bakan bisa menerobos lobang semut yang teramat kecil sekalipun. Sungguh dahsyat panggilan Ilahi itu. Namun, suara-suara merdu orang adzan, tak kuasa membuka hati telinganya. Entah setan apa yang merasuk tubuhnya. Sungguh panggilan-panggilan Ilahi yang bersahutan itu. Tak mendapat tempat sedikit pun di lubuk hatinya. Ia abaikan panggilan itu, seraya menyampiran handuk di lengan kanannya, kemudian bergegas menuju kamar mandi.
Seusai makan malam bersama ibu bapaknya. Tanpa pamit. Kamandanu nyelosor dari rumah dengan motornya, hendak menyapa kepekatan malam. Tujuan utamanya tempat tongkrongan di simpang tiga, tempat biasa sebagai ajang balap liar. Sesampainya di sana. Teman-temannya sudah bersiap memacu gasnya masing-masing. Meraung-raung suara kenalpot. Memecah keheningan malam. Tanpa berceloteh. Ia masuk ke dalam barisan pembalap yang sudah bersiap melesat ke depan. Dengan hitungan mundur balapan pun dimulai, “four, three, two, one, zerooo…,” ucap salah satu temenya dengan nada tinggi.
Motor-motor meluncur tajam bagai halilintar melambai-lambai ke bumi. Meliuk-liuk menyusuri jalanan beraspal dengan saling senggol, saling kejar hingga tak jarang terjadi kecelakaan, yang terkadang sampai merenggut nyawa. Jaraknya yang lumayan dekat. Membuat telinga teman-temanya yang sedang tenggelam dalam aura balapan. Serasa tertusuk-tusuk jarum, pedih menyakitkan. Sesekali ajang balapan liar itu terdeteksi oleh polisi. Hingga beberapa pambalap terpaksa mendekam di jeruji besi. Sedang Kamandanu yang gesit dan lincah selalu lolos dari cidukan polisi yang hendak menyergapnya.
Balapan liar berakhir. Muda-mudi berhanburan menuju rumah-rumah yang berjejer di samping kiri-kanan jalan. Pun begitu dengan Kamandanu. Ia habiskan sisa malamnya bersama meja judi, botol-botol beralkohol, serta kupu-kupu malam yang berjejeran memadati seisi rumah.

***

Ketika keheningam malam mulai menepi pagi. Ki Sarbini bangun dari tidurnya. lantas berjalan agak tergopoh menuju tempat wudhu. Di keheningan malam yang mencekam. Ia bangun hendak menegakkan qiyyamul lail. barulah ia duduk bersila seraya memungut tasbih yang tergeletak lusuh di sampingnya. Kemudian mulailah ia memanen pahala yang sangat berlimpah ruah bergelantungan di langit-langit jagat raya. Petikan awalnya yang pelan nun lembut, terus mengalir. Hingga semakin cepat dan cepat. Sampai tak dirasakanya desau angin yang bersliweran keluar masuk masjid. seakan melambai-lambaikan salam kepada Ki Sarbini yang sedang tenggelam dalam kekhusukannya. membuatnya tidak sadar apa yang terjadi di sekelilingnya. Dan baru tersadar ketika suara ayam jago berkokok. Kemudian ia bergegas malaksanakan tugasnya. Menabuh bedug, adzan, menjadi imam untuk jamaahnya dan berceramah.
Begitulah aktivitas Ki Sarbini setiap pagi. Hingga sampai suatu pagi. Ia merasa di gelayuti perasaan ganjil. perasaan Yang tiba-tiba menabraknya di saat ia menyampaikan ceramah subuh. Memang perasaan itu menyangkut kelangsungan masa depan kampungnya. siapakah yang akan menggantikannya kelak kalau bukan suami dari anak gadisnya? yang sampai saat ini belum juga menikah. Maka ia memutuskan untuk membicarakan perihal pendamping hidup anaknya. Tepat pada malam jumat kliwon nanti. Bersaman istri dan anak gadisnya.
Malam jumat kliwon. Sedikit berbeda dengan malam-malam jumat sebelumnya. Bulan tidak lagi memancarkan cahayanya. sungguh kegelapan benar-benar nyata malam itu. udara pun sedang berjaya menggigit setiap kulit yang berada di kolong langit. Namun kondisi itulah yang dinanti Kamandanu untuk segera melesat jauh menerobos kepekatan malam menuju kampung sebelah. Ia hendak mensatroni rumah yang letaknya dekat masjid. Ingin rasanya segera mengeruk segala harta benda yang bersemayam di dalam rumah itu.
setelah menyusuri jalan setapak. Kamandanu sampai di kampung sebelah. Dengan nafas yang agak tersengal. ia sampai juga di hadapan rumah yang hendak disatroninya. Ia masuk mengendap ke pelataran rumah dan memilih jendela sebagai jalan masuk. Namun ketika ia sudah berada di dekat jendela. sayup-sayup terdengar olehnya percakapan sedang berlangsung dalam rumah. Ia pun berdiam diri seraya menempelkan daun telinganya lekat-lekat pada jendela. Seketika rasa perasaannya membuncah dalam jiwanya. “Apa yang diperbincangkan penghuni ruma. padahal malam benar-benar telah larut.” Ucapnya dalam hati
Beberapa menit berlalu. Tapi daun telinga Kamandanu masih saja menempel di jendela. Ia mendengar percakapan rumah itu lekat-lekat.
“Neng… kamu anak satu-satunya bapak. kamu sudah cukup umur dan sudah saatnya punya pendamping hidup. Apakah Neng sudah punya pilihan sendiri dalam hal itu? Tanya Ki Sarbini kepada Neng Lilis anak gadisnya. Kemudian dengan sopan Lilis menjawab. “Belum pak.” Kemudian bapaknya menuturkan kepada Lilis perihal calon pendamping hidupnya kelak. Bapaknya memutusakan untuk calon pendamping anaknya kelak. tidak lain seorang jamaah shalat jumat yang datangnya pertama, pulangnya terakhir dan duduk persis berada di belakang imam. Ya. Itulah keputusan Ki Sarbini kepada Lilis.
Lalu anaknya yang tertunduk manis. Mengiyakan keputusan bapaknya. Percakapan pun usai dengan titik temu yang jelas.
Beberapa menit berlalu. Tak terdengar suara pun yang keluar dari dalam rumah. Kamandanu membisu. Matanya melolong laksana baru mendengar kabar dirinya mendapatkan hadiah mobil Honda jazz. Sungguh kondisi Kamandanu tenggelam dalam kata-kata yang terucap dari penghuni rumah. Kata-kata itu hangat terasa. menerobos celah-celah jendela dan mereba tepat di pintu daun telinganya. Hingga terbesit dalam benak Kamandanu ingin segera mempunyai pendamping hidup. Sama halnya dengan perkataan bapak yang berbicara dalam rumah itu. Kamandanu masih membatu. pikirannya melesat. membumbung dan bergelantungan pada bintang-gemintang. Setelah kata-kata itu mengalir pelan bersama aliran darahnya. pikiran-pikiran yang tadinya membanjiri seisi otaknya. seketika meleleh ke permukaan. Lantas ia urungkan niat buruknya. Ia berbalik arah. pergi menyelinap bersama kepekatan malam.

Pagi-pagi benar. Tapi tidak terlalu pagi benar. Karena cahaya pagi sudah mereba di pelataran rumah. Pagi itu Kamandanu beserta ibunya hendak pergi ke pasar, untuk membeli alat-alat shalat. Tiba di pasar. ia buru-buru menyapu pandangannya ke toko-toko yang tersedia alat-alat shalat. Namun, ia dapati pemandangan yang kurang manis. Dilihatnya wajah-wajah penjual yang tampak lusuh dalam kecemasan. Takut kalau barang dagangannya tak sehelai pun terjual. Bahkan untuk sekedar hinggap pun pembeli rasanya sukar.
Kamandanu telah mendapatkan alat-alat shalat, dari sebuah toko yang penjualnya ramah tamah. Wajahnya selalu menyunggingkan sepotong senyum nan indah. Kemudian ia bergegas kembali ke rumahnya. Untuk menyiapkan diri pergi shalat jumat di kampumg sebelah.
Setelah dilihatnya rapi. dengan kopyah putih, koko putih, sarung agak keputihan serta sajadah yang menyampir di bahu kirinya. Ia ayunkan kakinya menuju masjid di kampung sebelah.
Sampai di depan masjid. tak dilihatnya seorang pun yang lebih awal dari dirinya. Ia masuk dan segera mengambil posisi persis di belakang imam. Usai shalat jumat. Jamaah berhamburan pergi meninggalkan masjid hingga tak tersisa seorang pun dalam masjid. Tak terkecuali Kamandanu yang sedang tertunduk dalam posisinya. Yang terkesan menancapkan tubuhnya di atas kelusuhan sajadahnya. Setelah masjid benar-benar dalam keadaan lengang. Sejurus kemudian telinganya menangkap suara dentakan kaki yang mendekatinya. Tiba-tiba ia mendengar suara serak menyapanya; dan terdengar oleh Kamandanu sepetri suara semalam didengarnya. Dengan sigap ia mencari sumber suara yang menyapapanya itu. Maka didapatinya seorang renta yang sudah berada di sampingnya. “Maaf anak muda, bisa kita berbicara sebentar,” pinta Ki Sarbini kepada Kamandanu. Dengan tatapan dingin. Kamandanu mengangguk pelan. Lantas Ki Sarbini menuturkan keinginanannya kepada Kamandanu. perihal calon pendamping hidup anak gadisnya. Ya. Anak muda-lah yang pantas bersanding hidup bersama anak saya. Kenapa saya tiba-tiba memilih anak muda? Sungguh. anak mudalah yang datang ke masjid ini pertama, pulang terakhir, serta duduk tepat di belakang imam. Itu semua persis petunjuk yang saya terima dari setiap munajatku, tahajudku, juga getaran hatiku ketika usai memetik tasbih. Maka sudikah anak muda menikahi anak saya?
Kamandanu yang tertunduk lusuh mendengarkan penuturan Ki Sarbini. Tiba-tiba mengatupkan bibirnya seraya berkata, ”sii…ap.si..ap! pak Kiai.” Katanya putus-putus. Ki Sarbini yang mendengar jawaban itu. Sungguh bahagia batinnya. Serta tak hentinya kalimat-kalimat syukur meletup-letup dari bibirnya.
***

Pernikahan berlangsung sederhana. antara Kamandanu dengan Lilis putri Kiai Sarbini. Kamandanu yang sebelum menikah dengan Lilis, hari-harinya penuh kemaksiatan. Tapi sekarang, sangat terbalik. Hari-harinya hanya untuk beribadah. Ia benar-benar bertaobat.
Jumat pagi. Ia mendapat amanah dari mertuanya, untuk menggantikanya menjadi khotib jumat. Dengan sedikit keterpaksaan. ia terima dengan senyum tersungging dari ujung bibirnya. Padahal hati kecilnya bergeming. ”bagaimana saya berkhotbah di depan orang banyak, sedang saya tidak tahu sehuruf pun bahasa Arab?” Tapi inilah beban yang harus dijalankannya sebagai menantu Kiai. Maka dengan berdegup jantung yang teramat kencang, ia naik ke atas mimbar untuk berkhotbah. Tapi, setelah sampai di atas mimbar. ia diam tanpa kata. Tidak pun bergerak. Tiba-tiba nampak dari kulitnya, butiran-butiran air merembas dari tubuhnya. sangat deras hingga basah kuyup bajunya. Jamaah yang menyaksikan hal ini hanya menganga.
“Ada apa dengannya?” Jamaah bertanya-tanya. Mereka saling berpandangan. Lama. Hampir setengah jam sang khatib tidak berucap. Tiba-tiba. sangat tiba-tiba khatib turun. Lari menerobos jamaah di depannya. Jamaah pun terpana melihat tingkah khatib yang sangat aneh dan tak pernah terjadi disepanjang hidup mereka. Maka jamaah pun buru–buru keluar masjid mengikuti sang khatib yang sudah berada di tengah lapangan depan. Dan aneh. benar-benar aneh. Ketika tidak seorang pun berada di dalam masjid. Seketika masjid ambruk lebur rata dengan tanah. Jamaah yang menyaksikan fenomena itu sangat terpana. perasaan takjub, aneh, haru, sedih dan senang. Bercampur aduk merasuki tiap-tiap jiwa jamaah jumat. Kamandanu yang yang juga terpana seraya bersujud syukur yang diikuti oleh jamaah. Rasa syukur yang mendalam melebur bersamaan dengan serpihan debu yang berserakan. Semua orang terkagum-kagum pada Kamandanu.

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...