AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

“Seperti apa sih, Sang Hyang Widimu?”
“Seperti ini ?”
Lawan bicaraku mengeluarkan sebuah patung dari tas di bahunya.
“Seperti itukah, Ah…ah..ah…!”
Saya tertawa terbahak-bahak.
“Sungguh, kamu ini bodoh kawan, masak arca sebegitu kecil itu kau Tuhankan, itu kan layaknya boneka mainan anjingku di atas apartment sana. Kok, bisa-bisanya kau agung-agungkan!?”
“Kau menaruhnya dalam tas, tas itu kadang kau gendong, kadang pula kau duduki, ya kan?”
Orang itu hanya mengangguk.
“Di saat kau menduduki tas tersebut, pernahkah kau mengentutinya?!” senyum sinisku menampar wajah merahnya.
“Kalaupun ya, apa urusanmu?”
“Oh, memang tidak ada kawan, tapi hal itu telah menunjukkan kamu sebagai seorang yang bodoh, yang telah sudi menyembah arca, memuja dengan lagu-lagu, kadang pula kau berdo’a memohon pada batu itu. Ah, sungguh kau sangat naïf sekali, Sobat. Mengapa ada orang sepertimu?”
Suara tawaku membahana tak dapat dibendung lagi, bagaikan hujan deras yang mengalir menderai-deraikan air, hingga banjir. Namun, kadung sudah banjir sebelumnya, aliran kata itu makin tak bisa dibendung saja, banjir telah berlalu. Wajah merah padam itu, sayang tak mau marah, saya tinggalkan begitu saja. Egois, sang pemuja Wisnu itu sungguh bodoh, mau-maunya menyembah arca, terbelenggu oleh kasta-kasta, memang tak sama dengan Hindu, mempercayai Ra, Brahma, Syiwa dan Sudranya, kadang ia tunduk pada seekor keledai, sapi-sapi dan para gajah dan tak jarang memuja mereka, memohon pada kesemuanya. Mereka dibiarkan begitu saja di rumah. Bahkan, telek yang dihasilkan, dia bilang adalah berkah. Berkah apa? Berkah mana dari kotoran manusia?
Sepotong cabang pohon pepaya melambai-lambai, bergoyang ke sana ke mari, daun, ya daun itu bersegi lima, layaknya ganja Bob Marley, saya terkesima dibuatnya, kok bisa-bisa membuat manusia berdecak kagum atasnya. Bahkan orang bisa senang, gembira saat musibah menemaninya. Apakah Tuhan bisa berbuat seperti itu? Tidak, dia masih kalah dengan ganja-ganja Marley atau candu-candu yang sempat membuat orang Cina melayang, mana bisa menenangkan, menolong dan membahagiakan manusia, saat saya bilangi, kata-katai pemujanya Dia hanya diam, tak berani menamparku, menyakitiku, seperti halnya rektorku dulu, saat saya tak mau ikutan mendemo, pukulan keras itu memenuhi seluruh mukaku, semua tamparan itu ditambah lagi dengan bogem-bogem mentah teman-teman yang kecapaian teriak-teriak di gedung pemerintahan. Wal hasil, muka benjol, merah bercampur biru dan hijau lebam, kehitam-hitaman yang menjadi trade markku saat itu. Tapi sekarang Tuhan yang kuejek, kucemooh, kukata-katai tak berani berbuat seperti itu. Ah, macam apa pula Kau Tuhan?
“Hei, kamu yang pakai peci!”
“Apa?”
Orang yang saya panggil, menoleh.
“Mau ke mana kau?”
Saya memburu.
“Masjid!”
“Ada konser Scorpion, kah?”
“Oh, tidak teman, saya mau salat Jum’at!”
“Buat apa kau salat, bikin capai badan saja, mending tidur di rumah atau nonton film, yuk di twentyone, itu dekat gedung teater. Bareng saya, nih saya punya tiket dua, filmnya bagus, box office lagi, laku keras sekuelnya di LA dan yang jelas masih baru tenan!”
Saya menjulurkan tangan kanan dengan dua helai kertas yang bertulis tempat nonton paling yahud.
“Terima kasih, Mas, nanti saja, saya mau menghadap Allah dulu, sudah adzan!”
Pemuda itu lantas bergegas dengan langkah seribunya, saat corongan bangunan itu berteriak-teriak kesakitan dilalui suara sumbang, bangunan itu dia sebut masjid dengan suara yang masih kalah merdu dengan suara emas Mag Jagger atau Michel Jackson yang selalu menyanyikan lagu-lagu bernuansa pop.
“Ok, saya tunggu kau nanti!”
“Insya Allah!”
Dia berkata seperti itu, namun saya tak tahui apa yang dia maksudkan dengan sekata tersebut, namun yang pasti saya kan menunggunya di tempat ini.
Angin berdebu mulai menyesakkan, manusia-manusia bertutup kepala hitam kadang putih berseliweran lengkap dengan sarungnya, mereka berbondong menuju masjid itu, bangunan itu adalah tempat mereka, umat Islam, menyembah Tuhannya dengan ritual salat. Rupanya orang yang saya sapa tadi bukanlah yang terakhir di pelataran masjid itu, buktinya orang berpeci banyak menyusul di belakangnya, merangsek ke satu tujuan. Salat itulah langkah mereka menuju keagungan Tuhannya.
Sendiri saya di trotoar, menunggu teman tuk nonton film Hollywood itu, tak ada teman menemaniku, hanya batu bisu tak berbisa berseru, hanya tetumbuhan menguning itu, hanya angin yang berbisik lesu, ditambah debu yang berderu. Merekalah teman sepanjang penantianku. Juga sebotol wiski kebangganku, tetap menemani kegelisahan, kelamangan, kegembiraan selamanya, dia masih tetap setia di kantong tas kulit impor.
Sayup-sayup terdengar suara itu lagi, saat pemuda berpeci itu mau bergegas dan dia katakan itu adalah ‘adzan’, ini yang kedua kalinya saya dengar. Tapi, tetap masih kalah merdu dengan suara penyanyi West Life, F4, oh, apalagi kalau dibanding dengan lengkingan suara Madona, ya jelas tak ada apa-apanyalah.
Perlahan, setelah hari mulai meninggi, tepat di tengah hari, surya menyengat ubun-ubun, panas itu cukup melelehkan lempengan baja, kuningan, bahkan batu sekalipun, niscaya akan lebur lewat panasnya. Suara lantang, memekik terdengar dari corongan yang sama, setelah salah seorang dari manusia berpeci menaiki mimbar, dia berseru, mengajak pada kebaikan, menggulingkan kejahatan, menyuruh yang lainnya, yang hadir untuk menyembah Allah, begitu dia menyebutkan. Uh, bodoh tak ada wujud mereka sembah, hanya dari cerita, dongeng saja mereka rela bercapai-capai menyembah, apa guna?
Ya, sesungguhnya saya sudah tanya itu pada mereka, namun apa coba katanya, “Itulah ritual yang harus saya lakukan untuk tebus dosa, hindari neraka panas durjana!” Seperti itulah jawab mereka semua, hampir, Allah begitu mereka sebut Tuhannya, ah, ada-ada saja! Dan sebenarnya tak ada Tuhan, berapa kali saya tanya pada mereka, para Muslim, Kristiani, Nasrani, Yahudi, bahkan pada Brahmin. Namun mereka tak bisa menunjukkan secara jelas pada sesembahan mereka masing-masing.
Seorang Nasrani akan menunjuk pada Yesus, sebagai Bapaknya Tuhan, seorang pria yang dipasung di atas kayu salib, tak berdaya. Itulah yang mereka sebut sebagai Tuhan. Sungguh idiot sekali mereka, masak manusia yang dapat ditaklukkan itu harus menjadi pujaan, yang apat dipasung, tertunduk tak berdaya, lesu dalam vonis yang didapati dan lagi dia diam di kayu salib. Ah, ada-ada saja, nggak masuk akal sama sekali. Sama halnya dengan para penyembah arca-arca tak bernyawa, yang mana arca tersebut mereka buat, mereka pernis, mereka pahat, yang mereka bawa ke sana ke mari, itu yang mereka sembah sebagai Tuhan, coba dimana logika mereka, apa sudah terbalik?
Bodoh, merekalah manusia-manusia yang paling bodoh yang ada di dunia, yang telah terjebak dalam lingkaran kotak logika sempit, dan mungkin lebih sempit lagi dari daun kelor yang sudah kering.
“Hei, Kawan, sudah?!”
Sapa saya setelah itu.
“Ya, selesai …”
Peci-peci putih kembali berseliweran dengan yang hitam, riuh gemuruh sandal menyapu, mengeraus aspal jalan, gema itu kembali bergema, namun tak sama sebelumnya, bukan lagi adzan yang mereka sebut.
“Apa…?”
“Salawat!” jawabnya singkat.
“Tapi, kan lebih bagus suara Britney Spears, atau Nick Carter yang merdu itu!”
“Ah, itu hanyalah duniamu saja, tak bersekali makna, tak ada maksud di dalamnya!”
Wah, rupanya dia bersastra.
Tak banyak tanya, dia bergegas, bosan mungkin, tapi saya tidak. Saya hanya ingin mengingatkan saja, mereka salah, mereka sesat, ikut-ikutan saja, tak bertujuan sama sekali.
“Bagaimana, jadi nontonnya?”
“Ok, silahkan!”
Saya julurkan tangan kanan menghadap timur, seberang tempat dia salat.
***
Suasana mencekam, geraham menderit, bunyi kuduk bergemplangan, saling benturan, tak selama kan sejalan dengan hidup diinginkan, sekali akan berbeda, tak bertunggal, sama, mengapa harus seragam?
Para penonton sudah berderet rapi, menunggu waktu masuk gedung, saya ada di tengah sana, bersama teman berpeci, mungkin anda juga, di kerumunan manusia haus hiburan, film yang akan ditontonkan tidaklah terlalu melegenda, tapi saya punya kepentingan dengannya.
“Pembaintaian Bosnia-Afghanistan”, seru reklame besar depan gedung, menggelayuti baleho indah depan gedung, mahal tiket nonton di sana. Sebenarnya saya sudah nonton skuel film tersebut beberapa kali.
Semua tenang, tak ada seorangpun yang grasak-grusuk, mengganggu yang lain, apalagi ciuman, pelukan atau yang begituan nyaris tidak ada. Kesepian itu terhenyak saat layar di hadapan mata telanjang manusia mengeluarkan gambar yang menakutkan, mengerikan. Bagaimana tidak, coba bayangkan, bagaimana rasanya kalau melihat anak kecil dibantai, seorang ibu hamil ditebas kandungannya, mengeluarkan cabang bayi, serta potongan-potongan kepala dewasa yang berserakan ditambah lagi serpihan daging akibat letusan mesiu. Dan ada lagi yang cukup ngeres, adegan perkosaan wanita bertutup kepala. Bulu kuduk berdiri, hati bergidik. Namun teman berpeci di samping tak henti-hentinya memekik kata-kata yang saya tak mengerti sama sekali ‘masya Allah, Innalillah’ begitu ucapnya.
“Pulang, yuk!” ajaknya.
“Wah, eman kawan, aku beli karcis dengan harga mahal!”
Dia pun luruh, diam, melanjutkan. Seluruh mata saya yakin memandang dengan iba, penuh kasihan, namun saya semakin menikmati saja, meskipun sesekali bergidik hati.
“Bangun!”
“Cepat, bangun!”
Saya terkejut, mengapa ada yang membangunkan, sedangkan perasaan saya tidak berpejam mata
“Siapa kamu?” tanya saya menggertak.
“Aku adalah kamu!” orang itu bersuara.
Mata orang itu terlihat sinis, senyumnya menggigit, bahkan lebih tajam lagi dari pandangan kerasku pada orang-orang.
“Lalu, itu siapa?”
Saya menunjuk pada sosok yang sedang duduk di samping pemuda berpeci, keduanya asik menatap layar.
“Itu adalah jasad kita!”
“Apa!” saya menghardik.
“Kita, katamu!” saya membentak.
“Oh, tidak saya belum mati!?”
“Kau adalah bayanganku, sedangkan aku adalah bayangan orang itu!” dia menunjukku yang duduk.
“Apa, kau belum percaya!” bentaknya.
“Kalau tidak cepat ikuti aku!”
Bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, saya mengiyakan saja ajakannya, dia mengajakku keluar dari gedung. Kami mirip, sama, sama sekali, keluar meninggalkan wujud ke bawah lampu terang, tepat dibawahnya.
“Lihat mana bayanganmu?!”
Awan hitam – oh, bayanganku tak ada – saya hanya celingukan bak orang culun mendengar pernyataannya, dan saya lihat padanya lain padaku, dia berbayangan, aku.
“Lha ini bayanganku, dan itu adalah kamu!”
Saya masih terheran-heran dibuatnya, dan belum sempat berpikir dia menarikku. Ah, saya bisa terbang, tinggi membubung ke awan, tak kusangka akan begini, terbang menembus awang-awang.
“Aku mau kau bawa ke mana?”
“Ke tempat di mana kawanmu!”
Selama malam itu, saya terus terbang, tinggi di awan, entah mau ke mana saya, namun, saya yang manakah yang telah dibawa olehnya, apakah saya yang jasad? Apakah saya yang bayangan jasad saya, dia adalah saya? Atau saya hanya bertemu dengan saya saja? Ah, saya tak tahu, permainan siapa ini?
Lelah rasanya badan, saya sudah dibawanya ke Moscow, berdiskusi dengan Stelin, menuju Korea temui Kim Il Sung, melangkah ke RRC bercakap bareng Mao Ze Dong. Tapi saya tidak bertemu Yahweh.

.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...