AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Tokoh Muslim Al-hallaj

Posted by Areiz Hiugan 0 Comment

Sejarah Singkat

Al-Hallaj hidup dibawah pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah, beliau lahir di Iran Selatan, daerah yang cuacanya cukup panas, pada tahun 858 M/ 244 H. Beliau wafat di Baghdad, setelah pemerintah ketika itu mengeksekusinya dengan cara yang paling sadis selama pemerintahan Islam, pada tanggal 26 Maret 922 M/ 308 H.

Dalam hal ini Farid al-Din al-Farizi menceritakan proses hukuman mati al-Hallaj sebagai mana dikutip oleh Muhammad Ghallab, sebagai berikut : “Algojo-algojo menaikannya keatas menara yang tinggi (salib). Banyak orang yang datang dari berbagai penjuru mengerumuninya. Kepada mereka diperintahkan oleh para algojo itu untuk melempari batu-batu kepadanya. Setelah itu para algojo mencabik-cabik tubuhnya dengan cemeti, darah segar mengalir deras dari tubuhnya yang berusia 53 tahun. Setelah itu Beliau minta waktu untuk melaksanakan sholat 2 roka’at, diriwayatkan dalam raka’at pertama beliau membaca surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah ayat 155-156. Setelah melaksanakan sholat dipotonglah kakinya, namun beliau tetap tersenyum, belum puas menyiksa seperti itu, para algojo memotong lidah dan mencukil kedua matanya, dalam  kondisi yang sangat mengerikan seperti itu, beliau berucap dengan sisa potongan lidahnya dan mengulang do’anya untuk memintakan ampunan kepada Allah bagi para algojo dan orang yang memusuhinya seraya berkata : “Mereka semua hamba-Mu. Mereka berkumpul membunuhku karena fanatik terhadap agama-Mu dan untuk mendekatkan diri kepada-Mu, maka ampunilah mereka. Dan kau singkapkan kepada mereka apa yang Kau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tidak melakukan apa yang mereka lakukan sekarang ini.” Setelah al-Hallaj wafat, jasadnya dibakar dan abunya dibuang ke sungai Tigris. Kemudian secara kebetulan pada tahun dibunuhnya al-Hallaj sungi Tigris meluap sehingga mendorong para pengikutnya untuk berpendapat bahwa luapan sungai tersebut karena abu al-Hallaj yang dibuang kedalamnya.

Adapun penyebab terjadinya eksekusi sadis diatas dikarenakan selain banyak yang mengaguminya, banyak pula yang membencinya dari berbagai kalangan. Pertama, dari ahli hukum (al-Fuqaha’) terutama aliran Dhahiriyah yang sangat membencinya. Al-Hallaj dituduhnya sebagai orang yang menganggap ringan terhadap hukum Islam dan ibadah, selain itu para Fuqaha’ menuduhnya telah membuat bid’ah. Golongan kedua yang membenci al-Hallaj adalah kalangan sufi, termuka mertuanya sendiri Abu Ya’qub dan mantan gurunya al-Junaid, yang menuduhnya telah menyimpang dari ajaran tasawuf yang benar, bahkan memakai ilmu sihir yang telah dipelajarinya tatkala pergi ke daerah Timur. Adapun musuhnya yang ketiga dari kalangan teologi, al-Hallaj dituduhnya mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan prinsip tauhid, atau kata-katanya bernafaskan panteistik. Selanjtunya serangan yang keempat datang dari kalangan politisi, menteri Ali Ibn al-Furat dan Ali Ibn Isa menganggap al-Hallaj sebagai orang yang berbahaya. Akibatnya beliau mengalami dua kali kehidupan di penjara, yang akhirnya mentri Hamid berhasil menyeretnya ke hukuman mati.

Latar Belakang Keluarga

      Sebutan al-Hallaj yang berarti pemintal, dinisbatkan kepada ayahnya yang bekerja sebagai benang kapas wol. Julukan lengkapnya adalah al-Hallaj al-Asrar, menurut putra bungsunya Hamd, berarti pemintal dilubuk hati, karena mengetahui segala yang tersembunyi di dalam hati manusia. Ada yang mengatakan al-Hallaj keturunan Abu Ayyub, salah seorang sahabat dekat nabi Muhammad SAW.

Pengalaman Pendidikan

Sejak kecil al-Hallaj telah banyak bergaul dengan para sufi (orang yang menjalani kehidupan tasawuf). Di usia 16 tahun, beliau berguru kepada sufi terkenal waktu itu, Sahal Ibn Abddullah al-Tusturi. Setelah 2 tahun belajar dan berlatih secara sungguh-sungguh tahun 876 M/ 262 H. Beliau pergi berkelana ke Bashrah lalu ke Baghdad bersama Tusturi, Amr al-Makki dan Abu al-Qasim al-Junaid al-Baghdadi (guru-guru al-Hallaj) serta mengalami hidup dalam pertapaan pada tahun 877-897 M/ 263-283 H. Termasuk sebuah prestasinya dalam bertapa di Masjid al-Haram Makkah di tahun 884M/ 270 H. Selama setahun dalam keadaan duduk, tidak bergerak kecuali untuk keperluan bersuci, thawaf, serta kepentingan manusiawi lainnya, seperti makan dan minum (hanya dua teguk air dan 3 gigit roti kering) yang Beliau lakukan hanya berdzikir dan latihan tasawuf lainnya.

  1. D.    Pengalaman Kerja atau Pengabdian

Dalam berdakwah al-Hallaj tidak hanya berdiam di daerah asalnya, beliau juga melakukan pengembaraan. Seperti pengembaraannya yang beliau lakukan ke Negara-negara Timur di tahun 988-993 M/ 284-289 H, yakni ke India, Turkistan, Azwaz, Persi, Khurasan, dan Turfan untuk berdakwah.

  1. E.     Hasil-Hasil Karyanya

Kemasyhuran al-Hallaj sudah tidak diragukan lagi, tidak saja karena ajaran-ajarannya yang lain dari pada yang lain, tetapi juga karena banyaknya pengikut dan pengagumnya hingga disebut aliran Hallajiyah.

Sebagai orang yang cukup kreatif dan produktif, al-Hallaj banyak menuliskan ajaran-ajarannya baik dalam bentuk puisi maupun karya ilmiyah. Menurut al-Hujwiri, beliau telah menyusun karangan-karangan dan kiasan-kiasan cemerlang serta ujaran-ujaran yang bagus, tidak saja dalam tasawuf tetapi juga mengenai ilmu kalam (teologi) dan fiqh. Bahkan al-Hujwiri melihat 50 buah karyanya di Baghdad, Khuzistan, Fars, dan Khurasan. Namun semua karyanya terdeteksi dan sampai saat ini judul-judul tulisan yang diketahui hanya empat puluh enam, yakni sesuai informasi penting yang diberikan oleh Ibn al-Naqdim pada empat puluh enam tahun setelah al-Hallaj wafat. Adapun judul-judul buku tersebut antara lain :

  1. 1.      Tha Sin al-Azal wa al-Iltibas, buku ini sekarang dimasukkan kedalam pasak enam kitab Thawasin, berkisah tentang kejatuhan setan.
  2. 2.      Al-Jauhar al-Akbar wa al-Sajarah sl-Zaitun al-Mubarakah al-Nuriyah, buku ini menjelaskan tentang adanya esensi tertinggi dan pohon yang bercahaya.
  3. 3.      Al-Ahruf al-Muhadatsah wa al-Azaliyah wa al-Asma al-Kuliyah, Berbicara tentang teologi.
  4. 4.      Al-Dzil al-Mamdud wa al-Ma’ al-Maskub wa al-Hayat al-Baqiya, yang berbicara tentang kosep kehidupan yang abadi.
  5. 5.      Haml al-Nur wa al-Hayat wa al-Ruh, yakni memuat konsep tentang cahaya, kehidupan, dan ruh.
  6. 6.      Al-Sayhur fi Naqd al-Dhuhur, berkisah tentang lamanya siksaan.
  7. 7.      Tafsir Qul Huwa Allah Ahad, yakni penafsiran ayat-ayat 1 surat al-Ikhlas.
  8. 8.      Al-Ibad wa al-Makbud, berbicara tentang konsep keabadian.
  9. 9.      Qira’at Al-Qur’an wa al-Furqan, menjelaskan tentang pembacaan Al-Qur’an dan pemisahan antara Tuhan dengan manusia.
  10. 10.  Khulq al-Insan wa al-Bayan, membahas tentang karakter manusia dan keputusan yang baik.
  11. 11.  Kayd al-Syaithan wa Amr al-Sulthan, berbicara masalah politik.
  12. 12.  Al-Ushul wa al-Furu’, membahs tentng pokok-pokok hukum dan penerapannya.
  13. 13.  Sirr al-Anam wa al-Mab’uts, memaparkan tentang rahasia hari kiamat.
  14. 14.  Al-Adl wa al-Tauhid, sebuah kritik terhadap konsep keadilan dan Tauhid dari aliran Mu’tazilah.
  15. 15.  Al-Siyasah, al-Khulafa’ wa al-Umara’ , membahas tentang teori politik Negara.
  16. 16.  Ilm al-Baqa’ wa al-Fana’ , membahas tentang konsep keabadian dan ketidakadilan (kerusakan).
  17. 17.  Syakhs al-Dzulumat, menjelaskan tentang perbuatan individual dan bayangan pembalasan.
  18. 18.  Nur al-Nur, memaparkan tentang konsep cahaya (Tuhan) yang merupakan penafsiran terhadap Al-Qur’an surat  24:35.
  19. 19.  Al-Mutajalliyat, konsep tentang berkomunikasi dengan alam supranatural.
  20. 20.  Al-Hayakil wa al-Alam Alim, menjelaskan tentang jiwa yang mempengaruhi lingkungan.
  21. 21.  Madh al-Nabi wa al-Matsal al-A’la, memuat tulisan tentang pujian Nabi dan perumpamaan tertinggi.
  22. 22.  Al-Gharib al-Fasih, memaparkan tentang masalah-masalah yang sulit dipahami namun argumentatif.
  23. 23.  Al-Nuqtah wa Bad’ al-Khalq, menguraikan tentang titik primordial dan perencanaan kosmologis.
  24. 24.  Al-Qiyamah wa al-Qiyamat, perbandingan mistis tingkat penyucian jiwa menuju kebangkitan.
  25. 25.  Al-Kibr wa Al-Adzama, membahas tentang keagungan Ilahi dan bukti-bukti kosologis.
  26. 26.  Al-Shalat wa al-Shalawat, menjelaskan masalah shalat dan pujian-pujian Ilahi.
  27. 27.  Khaza’in al-Khairat wa yu’raf bi al-Alif al-Maqtu wa al-Alif al-Ma’luf, membahas tentang kekayaan, kebaikan, dan tentng dua bentuk A (alif), yang berpisah dan yang terpadu.
  28. 28.  Mawajid al-‘Arifin, menggambarkan kegembiraan yang luar biasa dari para ahli bijak.
  29. 29.  Khalq Khala’iq Al-Qur’an wa al-I’tibar, membahas tentang system pewahyuan Al-Qur’an dan tugas mengambil kesimpulan analogis.
  30. 30.  Al-Shiq wa al-Ikhlas, menguraikan tentang kebenaran keyakinan dan ketulusan bahwa Tuhan itu Esa.
  31. 31.  Al-Matsal wa al-Abwab, memuat tentang perumpamaan dan pintu-pintu lampiran. Tulisan ini diidentifikasi dengan bab IV dan V dari kitab Thawasin.
  32. 32.  Al-Yaqin, berbicara tentang keyakinan dan merujuk kepada al-Qur’an surat al-Baqarah.
  33. 33.  Al-Tawhid, sebuah pembahasan tentang keesaan Tuhan.
  34. 34.  Al-Najm Idha Hawa, karya tulis yang merujuk kepada Al-Qur’an surat al-Najm : 1 yang membicarakan tentng kegembiraan yang luar biasa pada umat Muhammad.
  35. 35.  Al-Dharuyati Dharwan, Nutarat al-Ma’rifah, menjelaskan tentang tebaran kebijakan ma’rifat.
  36. 36.  Inna al-Ladzi Anzala Alaika Al-Qur’an, yang menjelaskan tentang hubungan antara Tuhan manusia, melalui firman-firmannya.
  37. 37.  Al-Durra, berbicara tentang mutiara-mutiara hikmah.
  38. 38.  Al-Siyasah, suatu pembahasan tentang politik.
  39. 39.  Huwa Huwa, memaparkan tentang pentahbisan keilahian dalam diri manusia dari khatbah kebenaran diri manusia.
  40. 40.  Kayf  kana wa Kayf yakun, menjelaskan tentang adanya penegasan positif dari tanda-tanda keabadian Tuhan.
  41. 41.  Al-Wujud al-Awwal, yang menjelaskan tentang wujud pertama sebagai model yang diterima dari Tuhan.
  42. 42.  Al-Kibrit al-Ahmar, tampaknya merupakan pembahasan tentang ilmu kimia yang dihubungkan dengan konsep orang suci mistik (menurut al-Makki)
  43. 43.  Al-Wujud al-Tsani, atau Khalq Awwal wa Khalq tsani, sebuah pembahasan tentang kehidupan sekarang dan kebangkitan.
  44. 44.  La Kayf Nafy al-Tashbih, berbicara tentang konsep akidah ketuhanan.
  45. 45.  Al-Kayfiya wa al-Haqiqah, sebuah pembahasan tentang analogi makna sesungguhnya.
  46. 46.  Al-kayfiya al-Majaz, sebuah pembahasan tentang analogi dan makna figuratif.                            
Categories: Article

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...