AreizHiugan world

membuka dunia dengan membaca

Imam Ghazali

Posted by Areiz Hiugan 0 Comment

Siapa saja yang pernah mendengar kitab Ihya Ulumuddin akan lekat dengan sosok karismatik Imam Ghazali yang memiliki nama lengkap Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Abu Hamid Al-Ghazali Al-Mujtahid Al-Faqih Al-Ushuli Al-Mutakallim Ath-Thusi Asy-Syafi’I, lahir di Thus; 1058 / 450 H sebuah dataran ditanah Persia, karenanya beliau dikenal sebagai seorang filosof dan teolog Persia, didunia barat abad pertengahan beliau dikenal sebagai Algazel. Beliau wafat di Thus pada usia 53; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H.
Al-Ghazali mempunyai seorang ayah yang soleh sufi menjaga hati dan tangannya untuk melakukan yang halal. Sebelum ayahnya meninggal beliau berwasiat kepada temannya yang sholeh juga sufi untuk menjaga putranya yang bernama abu hamid Al-Ghazali sama saudaranya yang bernama Ahmad Al-Ghazali.
Setelah beranjak beberapa tahun berlalu, uang dan bekal yang dititipkan sang ayah untuk Imam Al-Ghazali dan saudaranya Imam Ahmad Al-Ghazali akhirnya habis juga sehingga mereka berdua terpaksa disekolahkan di Madrasah Nidzomiyah di Baghdad, Iraq. Setelah Al-Ghazali mengusai segala bidang ilmu, baik dalam Ilmu Fiqih, ilmu Jidal (debat ilmiah), Ilmu Ushul dan Filsafat. Akkhirnya Al-Ghazali memilih jalan Shufi dan beliau menuju ke negara Syam untuk ‘Uzlah (menjauh dari hiruk pikuk) serta Kholwah (menyendiri) di Menara Masjid.
Adiknya, Ahmad lebih awal memilih jalan Shufi. Nah, di sini ada sebuah kisah anatara Al-Ghazali sama Ahmad Al-Ghazali. Pernah suatu Al-Ghazali menjadi Imam dalam Shalat berjama’ah sedangkan Ahmad menjadi Ma’mumnya, sampai di pertengahan Ahmad berpisah dari jama’ah (Mufaroqoh) Kakaknya Al-Ghazali. Setelah selesai Shalat Al-Ghazali menanyakan kepada Ahmad kenapa dalam Shalat tadi engkau berpisah dari jama’ahku wahai saudaraku kata Al-Imam Al-Ghazali.
Lantas Ahmad menjawabnya mengapa saya harus berjama’ah dengan seseorang yang berlumuran darah di pundaknya. Akhirnya Al-Ghazali terbayang-bayang dengan menjawabnya: “Wahai saudaraku, engkau memang benar tadi ketika saya jadi Imam, memang saya tidak Khusu’ saat Shalat, akan tetapi saya mengingat-ngingat tentang Darah Haid, Darah Nifas dan Istihadoh.

Al-Ghazali waktu itu sudah mempunyai karangan Kitab Al-Basith, Al-Wasith dan Al-Wajiz yang menjelaskan tentang Ilmu Fiqih dalam Madzhab Syafi’i. Ternyata masih kalah hebatnya dengan saudaranya sendiri yang bernama Ahmad Al-Ghazali. Akhirnya Al-Ghazali memilih jalan Shufi dan memilih untuk pergi ke Negara Syam.
– Perjalanan Ilmiah Imam Al-Ghazali
Beliau mulai menuntut ilmu sejak masa kecilnya yaitu Ilmu Fiqih kepada Al-Imam Ahmad Bin Muhammad Ar-Rodhakoni di kota Baghdad, lalu Al-ghazali melanjutkan studinya ke negara Jurjan, beliau belajar kepada Al-Imam Abi Nashr Al-isma’ili, Kemudian Al-Ghazali melanjutkan studinya ke Kota Naysabur untuk menimba ilmu kepada Al-Imam Al-Haromain Mufti Kota Mekkah dan Madinah.
Setelah Al-Imam Haromain wafat, Al-Ghazali keluar menuju seorang Mentri. Pada saat itu Nidhomul Mulk mengumpulkan para ahli ilmu dan semua para Ulama’ berusaha untuk memusuhi Al-Ghazali. Setelah Al-Ghazali menjelaskan ilmunya yang didapatkan dari Guru-Gurunya, akhirnya semua Ulama’ mengerti keutamaan Al-Ghazali. Hingga akhirnya Al-Ghazali diperintahkan pergi ke Madrasah Nidhomiyah di Baghdad pada Tahun 484 Hijriyah. Dan Al-Ghazali mengajar di sana hingga semua orang terheran dengan kepiawaian Al-Ghazali dalam mengajar dan berargumen, serta mempunyai keutamaan yang indah dan fasih lisannya semua orang mencitainya.
– Wafatnya Al-Ghazali
Setelah Al-Ghazali melanjutkan lagi perjalanannya ke Negeri Syam dan Berziarah ke Baitul Maqdis sudah 10 tahun Al-Ghazali menetap di sana dan berpindah-pindah di beberap Masjid kemudian bertempat di suatu gunung untuk melatih dirinya agar tidak mengikuti hawa nafsunya dan berusaha untuk jihad di jalan Allah, selalu beribadah dengan ketaatan sampai Al-Ghazali menjadi Ulama’ terkemuka di masanya dan mendapatkan keberkahan yang melimpah sehingga sampai di jalan keridoan Ilahi.
Setelah Al-Ghazali kembali ke Baghdad untuk membahas tentang ilmu Hakikat, ahkirnya Al-Ghazali mengarang sebuah kitab yang berjudul ‘Ihya’ Ulumuddin. Dalam kitab ‘Ihya’ ‘Ulumuddin terdapat Hadist Nabi Muhammad SAW yang sangat banyak sekali sehingga Al-Ghazali jika mau meletakKan Hadist Nabi SAW dicium dulu Hadist itu, jika Hadist itu harum maka Al-Ghazali menulisnya dalam kitab ‘Ihya’ ‘Ulumuddin, jika tidak maka Al-Ghazali tidak menulisnya.
Kemudian Al-Ghazali melanjutkan ke Khurosan dan mengajar di Madrasah Nidzomiyah Naysaburi di masa yang sebentar setelah Al-Ghazali mengajar di Madrasah Nidzomiyah akhirnya kembali ke negeri kelahirannya yaitu Ath-Thusi dan belajar dari beberapa Ulama’ Fiqih, beliau juga selalu menjaga waktunya untuk menghatamkan Al-Qur’an dan selalu berpuasa dan Istiqomah dalam semua bentuk ibadahnya. Imam Al-Ghazali wafat di negeri kelahirannya Ath-Thusi pada hari senin 14 Jumadil Akhir pada tahun 505 H. dan dimakamkan di Pemakaman Ath-Thobron.

Categories: Short Story

PROFIL AKU

Areiz Hiugan


Popular Posts

Bismillah

Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa ...

Gambar Bertulisan "K

ADAKAH suatu tempat, di dunia, di mana tangis mengalun lirih, ...

The Existence Of Rel

In the Islamic tradition, Moslem believed that text is not ...

Berkompetisi untuk k

Apa yang harus diluruskan dalam kompetisi politik yang dilakukan oleh ...

Alasan Hakiki di Bal

Kota suci Jerusalem yang mulia dan beberapa tempat suci umat ...