“Seperti apa sih, Sang Hyang Widimu?” “Seperti ini ?” Lawan bicaraku mengeluarkan sebuah patung dari tas di bahunya. “Seperti itukah, Ah…ah..ah…!” Saya tertawa terbahak-bahak. “Sungguh, kamu ini bodoh kawan, masak arca sebegitu kecil itu kau Tuhankan, itu kan layaknya boneka mainan anjingku di atas apartment sana. Kok, bisa-bisanya kau agung-agungkan!?” “Kau menaruhnya dalam tas, tas
read more..
Malam terus merambat mendaki pucuk kegelapan. kemudian menepi pagi. Namun sebelum benar-benar pagi. Seorang renta. Bagitu renta, sedang khusuk memetik tasbih yang meliliti jari-jemarinya di sebuah masjid. bersila menghadap kiblat. Merajut kata-kata tauhid serta mengemis ampunan dari tuhan-NYA, yang tanpa dirasanya. Butiran-butiran air bergulir pelan menjelma kristal bening berkilau. Bercucuran membasahi sajadahnya yang lusuh. Semakin
read more..
Bayang-bayang itu kembali mengusikku, hadir dalam rentetan pilu yang menggebu, kata-kata yang ku rangkai pada secarik kertas seolah hidup dan menatap syahdu penuh keluh, ia datang dengan rona yang memudar dibalik kenikmatan yang terngiang, hatiku sesak oleh rindu, rindu akan datangnya waktu yang telah lama ku tunggu, sejak masa-masa itu terungkap dalam mimpi-mimpi burukku, entah
read more..
Hari itu aku sangat lelah sekali setelah berjalan sejauh lima kilo meter lebih dari terminal. Sungguh sangat sial sekali, hari sesiang ini tak ada satupun angkot yang terlihat berseliweran. Sungguh aneh, aku sampai celingukan dibuatnya. Masak, kota sebesar kota Sampit ini tak ada satupun taksi yang terlihat, jangankan angkot dan taksi becak pun bak lenyap
read more..
Subuh itu dingin menusuk tulang, kurasakan dinginnya meresap sampai ke tulang sumsum, baru kali ini aku merasakan hawa sedingin ini, sudah tiga jam sejak tengah malam tadi aku mengarungi laut Jawa, laut tempat nenek moyangku mempertaruhkan hidup matinya demi hidup, laut tempat aku besar, laut tempat aku dulu bermain, segalanya kulakukan di laut. Dan kini
read more..
Terik mentari yang tak terperi telah hancur bersamaan dengan berakhirnya perjalanan siang yang panjang. Senja itu sepasang kelelawar hinggap di dahan jambu, di tengah lebatnya rimbunan pohon-pohon asam yang berjejer mengelilinginya. Sang jambu kokoh berdiri walau dengan keterasingan yang mengelilinginya. Sepasang kelelawar itu hinggap sebentar lalu terbang kembali ke arah tenggelamnya matahari, di ufuk barat
read more..
Pada paruh abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda memberikan kesempatan luas bagi kalangan pribumi untuk mengenyam pendidikan. Sebagai wujud kongkrit dari pemberian kesempatan tersebut adalah didirikannya Volkshoolend atau sekolah Desa (Nagari), dengan masa belajar selama tiga tahun. Namun dalam perkembangannya sekolah ini cukup mengecewakan, tidak berhasil mencapai tujuan seperti yang Belanda harapkan, karena tingkat putus sekolah
read more..
Dulu ibuku pernah bercerita tentang lafal bismillah yang katanya bisa menyelamatkan seorang pemuda dari terkaman harimau. Ujarnya ketika itu, dulu sekali di desa kami pernah ada seorang pemuda pincang yang hidup sehari-harinya dari hasil menjual kayu bakar di pasar. Tak ada lagi sanak keluarga maupun famili yang ia punyai. Ia betul-betul hidup sendirian. Setiap pagi
read more..
Pemuda itu terduduk lemas di kursinya. Ia menebar pandangan ke segala penjuru ruang yang kini tampak buram di matanya. Ia melemparkan pandangan ke arah belakang, menatapi sekian banyak mata yang memandang dengan segala macam pandangan padanya. Tersungging senyum tipis di bibir seorang laki-laki tua itu, seakan mengiriskan seribu perih di ulu hatinya. Ia kemudian melengos.
read more..
Dan… Tak…tak…tak… Suara itu… Dia datang! Lantai putih yang dipijaknya mulai melagukan sebuah irama. Lagu tanpa kata indah dan musik merdu yang justru selalu dinanti-nantikannya penuh harap. Ia tertegun menikmatinya. Gendang telinganya menajam, seolah ia berharap ada suara yang lebih dari tak…tak…tak…yang mengalun panjang itu. Dan suara itu kian dekat, kian lekat menghentak-hentak, seolah suara
read more..
Setahun telah berlalu, tiada hal yang terdampar di hati kecuali rasa dan perasaan yang terbekas, walaupun singgasana telah berusaha untuk melepaskan persoalan ini akan tetapi gagal, masih lebih kuat di bandingkan itu. Suasana yang sempit menajadi luas, mahluk yang lemah menjadi buas, buah yang keras menjadi terkelupas yang disana terdapat tumpukan makna yang tertimbun oleh
read more..
The clinking of Gegenta, thundering of sea, clinking of its water, wind rusthing, light shine, supple of grains sand. Silent. There was not a sound. Clinking of Gegenta saddle horses, kungfu house, thundering of free sea, in red Egypt, wind rushing of Tibet, grains sands of Sahara. Didn’t again keep silence, following to pray, begining
read more..
In daily activities, human beings always looked for the pleasure in extravagance until the whole of desires were fulfilled but that happiness didn’t bring the profit in their life; they got happiness by the wealth and finance. Finally, we have known that faith and moral as source of shine in people’s, that is has to
read more..
Lihat jejak langkahku ini Jauh sudah mengejar bayangmu kasih Coba kau artikan semua Sebagai tanda rasa tuk menyayangimu Pagi yang cerah, menemani kesunyian hatiku menepi di sandaran kursi kelas yang mulai ramai oleh kedatangan para murid. Namun suasana ini tidak melengkapi perasaanku yang terus berkecamuk dengan bahasa yang sulit kupahami. Perasaan gersang yang tengah
read more..
Saudaraku! Melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak kita semua untuk merenung. Barang sejenak saja, barangkali kita sudah lupa akan dia. Kita kadang sudah menghapusnya dari memori hati kita, padahal dia adalah sosok yang sangat berperan dalam kehidupan kita. Dia adalah ibunda tercinta, dia adalah ayahanda kita tersayang. Penulis sadar, bahwa masing-masing kita memiliki gaya tersendiri
read more..