Analisis CVP pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Era BPJS

BAB I

Di dunia, peningkatan biaya terus terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang. Di Indonesia sendiri biaya kesehatan telah meningkat sebanyak tiga kali lipat dari mulai tahun 2005 – 2012. Salah satu hal yang mempengaruhi biaya kesehatan adalah asuransi keehatan. Harusnya dengan adanya asuransi, biaya kesehatan menjadi berkurang. Namun hal ini menyebabkan dilakukannya pemeriksaan yang tidak perlu, sehingga permintaan pelayanan kesehatan meningkat, sedangkan provider kesehatan belum banyak. Hal ini mengakibatkan naiknya biaya kesehatan. Selain itu, banyak ditemukan kerugian materi akibat asuransi kesehatan. Rumah sakit di Amerika kehilangan sekitar $ 262 miliar per tahun akibat ditolaknya klaim dari perusahaan asuransi. Hal ini juga terjadi di Indonesia, masalahnya antara lain pembayaran klaim yang membutuhkan waktu berbulan-bulan dan tarif yang diberikan pemerintah (BPJS) seringkali dibawah tarif operasional rumah sakit. Keterlambatan cairnya klaim dirasakan oleh Puskesmas dan juga Rumah Sakit.

Salah satu asuransi kesehatan di Indonesia yang paling besar adalah BPJS yang dimulai pada tahun 2014. Warga negara Indonesia diharuskan membayar premi setiap bulan untuk mendukung warga yang membutuhkan layanan kesehatan seperti klinik, rumah sakit, kemoterapi, operasi, dan lain-lain. Namun pada prakteknya banyak kendala yang muncul, salah satu masalah besar yang muncul dari program BPJS adalah ketidaksetaraan antara total pendapatan yang diterima melalui iuran peserta dengan total pengeluaran baik untuk pembayaran yang diklaim (rumah sakit) dan kapitasi (fasilitas kesehatan primer). Hal tersebut sulit dihindari karena tariff yang diberlakukan pemerintah dibawah perhitungan tariff yang dilakukan oleh aktuaria.

Untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang bekerjasama dengan BPJS, pembayaran dilakukan dengan sistem kapitasi. Tarif kapitasi adalah besaran pembayaran per-bulan yang dibayar dimuka oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Sistem ini berlaku untuk FKTP seperti Puskesmas, RS. Pratama, Klinik Pratama, Praktek Dokter, atau Fasilitas Kesehatan yang setara. Tarif kapitasi di Indonesia belum ditetapkan berdasarkan resiko. Diferensiasi tarif kapitasi hanya dibedakan berdasarkan jenis fasilitas kesehatan dan sumber daya manusia. Tanpa penyesuaian risiko (risk adjustment) dalam menentukan biaya pelayanan kesehatan, penyedia layanan kesehatan bisa saja dibayar kurang atau lebih dari pelayanan yang dilakukan. Menurut penelitian, tariff kapitasi di Indonesia masih belum sesuai. Puskesmas cenderung dibayar lebih tinggi, sedangkan  DPP (Dokter Praktek Perorangan) dan klinik cenderung dibayar lebih rendah daripada pengeluaran yang sebenarnya. Oleh karena itu sangat penting untuk menghitung biaya pada FKTP di era BPJS agar FKTP tidak rugi dalam melakukan pelayanan dengan sistem kapitasi, terutama pada DPP dan klinik.

Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan laba rugi adalah analisis Cost Volume Profit (CVP). Analisis CVP dapat memberikan gambaran keuangan yang luas dan membantu untuk memperkirakan bagaimana perubahan biaya, harga, dan volume penjualan mempengaruhi laba dan saling berkaitan. Manfaat dari analisis CVP adalah untuk pengambilan keputusan seperti apakah ada produk yang harus dihentikan produksinya, mana produk yang sebaiknya dipromosikan, dan apa yang terjadi jika kita mengurangi harga jual. Hasilnya dapat ditemukan jumlah produk minimal yang harus dijual tanpa membahayakan keuangan perusahaan. Hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi FKTP agar tidak rugi ketika bekerjasama dengan BPJS. Oleh karena itu dalam penelitian saya, saya menggunakan analisis CVP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah FKTP yang bekerjasama dengan BPJS untung atau rugi, dan agar FKTP dapat merencanakan laba.

 

BAB III

Metode yang saya gunakan adalah metode kuantitatif deskriptif karena saya menyajikan  rangkuman  data  atau  nilai  yang  dihitung berdasarkan  data  yang  tersedia  atau  data  yang  dikumpulkan  kemudian  disajikan dalam bentuk instrument analisis tabel, yang selanjutnya akan dilakukan penjumlahan dan  dianalisa sesuai rumus yang ada. Kemudian hasilnya  akan  disimpulkan.

Data didapatkan dari pencatatan biaya di FKTP, dan juga wawancara dengan pemilik dan manager FKTP untuk mengetahui hal-hal tentang biaya tersebut.

Populasi di penelitian saya adalah FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) di Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang yang bekerjasama dengan BPJS.  FKTP yang diikutkan dalam penelitian ini adalah FKTP yang bersedia untuk menjadi objek penelitian dan yang mempunyai data yang dibutuhkan untuk penelitian. Samplingnya menggunakan metode total sampling.

Tahapan penelitian saya pertama-tama adalah memisahkan biaya-biaya pada FKTP menjadi biaya variabel (biaya yang berubah seiring dengan pertambahan pasien) dan biaya tetap (biaya yang tidak berubah meskipun jumlah pasien bertambah). Setelah itu saya akan menghitung biaya modal, langkah ini diperlukan agar perusahaan tahu laba yang harus ditahan sebagai modal. Setelah itu saya akan menghitung Unit Cost (biaya satuan) yang sebenarnya pada pelayanan pasien  di FKTP. Ketika

sudah ditemukan biaya  tetap, biaya variabel, biaya modal, dan unit cost, maka analisis CVP dapat dilakukan. Hasilnya dari analisis CVP akan diketahui bahwa FKTP untung atau rugi, dan juga FKTP dapat melakukan perencanaan laba di masa depan.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar