Hukum Permainan Catur


Catur(asy syathranj) dalam al Mu’jamul Wasith adalah  jenis permainan di atas papan yang mempunyai 64 petak, yang menggambarkan dua imperium(kerajaan) yang sedang berperang dengan 32 buah catur, terdapat dua raja, dua wasir, kuda, benteng, gajah, dan tentara. Permainan ini berasal dari India.

Para Ulama’ dari kalangan fuqaha’, ahli tafsir, ahli hadits dan ahli syarah bersepakat bahwa catur itu belum dikenal Bangsa Arab pada zaman Nabi saw. Mereka baru mengenalnya setelah penakhlukan[1]. Permainan ini mereka dapatkan dari orang-orang Persia, sedangkan mereka mendaptkannya dari India.

Hukum catur dalam Islam masih terdapat perbedaan pendapat antara para ulama’ dan fuqaha’, perbedaan pendapat tersebut terjadi karena tidak adanya nash syar’i yang jelas. Perbedaan pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menurut Imam Abu Hanifah

Catur dianggap sebagai perjudian yang hukumnya haram sama seperti khamr, sehingga kesaksiannya tidak diterima. Pendapat ini merupakan pedapat Mayoritas Ulama’ Afrika Selatan (imigran dari India yang mayoritas bermadzab Hanafi).

Dalam Kitab Matan al Kanz disebutkan bahwa orang yang lalai shalat karena berjudi baik dengan dadu maupun dengan catur itu kesaksiannya ditolak dengan menyamakan antara nardasyir (permainan dadu) dengan catur. Namun, Ibnu Najm dalam kitab al Bahr  membantah tentang pendapat tersebut karena di dalam kitab al Inayah disebutkan bahwa bermain dadu itu menggugurkan kesaksian secara mutlak sedangkan catur itu sebaliknya, yaitu diperbolehkan menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i. Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Syahnah yang berpendapat bahwa permainan itu bertujuan untuk mengkonsentrasikan pikiran. Bahkan, Abu Zaid al Hakim  menghalalkannya (Syamsul Aimmah as Syarkhasi)[2].

 

  1. Menurut Imam Syafi’i

Madzab Syafi’i lebih mempermudah di dalam menentukan hukum permainan ini. Imam Nawawi berkata dalam ar Raudlah: “Bermain catur itu makruh(lit tanzih) hukumnya, bahkan ada yang mengatakan mubah. Al-Hulaimi cenderung mengharamkannya, dan pendapat ini yang dipilih oleh ar Rauyani. Tetapi pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama.”[3]

Imam Nawawi menguatkan pendapat yang memakruhkannya dalam ar Raudlah bahwa jika permainan catur itu disertai dengan perjudian, perkataan kotor atau tertundanya shalat dengan sengaja maka kesaksiannya ditolak dan permainannya itu dianggap berjudi jika disyaratkan adanya harta taruhan dari kedua belah pihak. Namun, jika yang mengeluarkan harta hanya salah satu pihak yang kemudian harta itu diberikan kepada pemenang maka ini tidak termasuk judi dan kesaksiannya tidak ditolak. Karena itu hanya sebagai ajang perlombaan. Jika permainan itu menjadikan yang bersangkutan menunda shalat hingga keluar waktunya dengan sengaja dan tidak dilakukannya berulang-ulang, maka kesaksiaanya tetap sah. Tetapi jika hal itu dilakukan secara berulang-ulang maka ia dianggap sebagai orang yang durhaka dan kesaksiannya ditolak.

  1. Menurut Imam Malik

Imam Ibnu Rusyd salah satu penganut madzab Maliki mengutip keterangan dari al- Utaibah sebagai berikut: “Imam Malik pernah ditanya tentang permainan catur, lalu beliau menjawab, ‘Tidak ada kebaikan padanya, dan permainan itu tidak ada nilainya sama sekali bahkan ia termasuk batil. Oleh karena itu orang yang berakal sehat hendaklah dapat dicegah oleh jenggot, kumis, dan usianya untuk melakukan kebatilan.’ Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Aslam mengenai suatu urusan, ‘Apakah belum tiba waktunya engkau dapat dicegah oleh jenggotmu dari hal ini?’ Aslam berkata, ‘ Lalu saya termenung lama sekali, dan saya kira hal itu akan mencegahku melakukan hal ini.’”[4]

Ia juga pernah ditanya tentang seseorang yang yang bermain bersama isterinya di rumah dengan permainan empat belas, lalu beliau menjawab, “Aku tidak suka itu, dan bermain itu bukan urusan orang mukmin”

Komentar Ibnu Rusyd mengenai hal itu:

“Permainan empat belas itu adalah potongan-potongan yang biasa digunakan untuk permainan seperti nard (dadu).

من لعب با لنرد شير فكانما غمش يده في لحم خنزير

Artinya: barangsiapa yang bermain dadu seolah- olah ia mencampakkan tangannya ke dalam daging babi.

Menurut al Laits bin Sa’ad, bahwa catur itu lebih buruk dari dadu. Semua bentuk permainan catur digunakan sebagai jalan perjudian dan taruhan yang tidak halal dan tidak diperbolehkan menurut kesepakatan Ulama’, karena itu termasuk maisir (judi). Firman Allah SWT QS. Al- Maidah: 90.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Hai orang- orang yang beriman, sesugguhnya (meminum) khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji dan termaasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan- perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Meskipun dadu ini tanpa disertai judi, ia tetap tidak boleh karena Nabi saw telah bersabda:

من لعب با لنرد فقد عصى الله ورسوله

Artinya: Barangsiapa yang bermain dadu maka sesungguhnya dia telah melanggar kepada Allah dan Rasul-Nya.[5]

Hadits ini berlaku umum, tidak hanya untuk dadu yang disertai judi saja. Orang yang tenggelam dalam permainan ini maka keimanan dan kesaksiannya cacat. Oleh karena itu, apabila Abdullah bin Umar melihat salah satu keluarganya bermain dadu maka ia pukul keluarganya dan ia pecahkan dadu yang dipakai.

Ibnu Rusyd berpendapat bahwa tidak ada perbedaan apakah seseorang itu bermain dadu di rumahnya atau di luar rumahnya, jika permainan itu disertai dengan perjudian maka hukumnya adalah haram menurut ijma’. Apabila tidak disertai dengan perjudian maka hukumnya adalah makruh.

  1. Menurut Iman Ahmad bin Hambal

Pendapat Hambali tentang catur ini diungkapkan oleh Ibnu Qudamah dalam Kitab al- Mughni, sebagai berikut: “Semua permainan yang disertai dengan taruhan hukumnya haram, apapun jenisnya karena itu termasuk judi yang harus kita jauhi dan barang siapa yang berulang-ulang melakukannya maka akan ditolak kesaksiannya. Namun, permainan yang tidak ada unsur taruhannya–baik itu dari kedua belah pihak maupun salah satu pihak–maka ada yang haram dan ada yang mubah. Yang haram adalah permainan dengan dadu, dan inilah pendapat Abu Hanifah dan mayoritas sahabat Syafi’i. Tetapi sebagian dari mereka ada yang berkata makruh bukan haram.”

Al Qadhi Husen berkata: “Di antara orang yang berpendapat bahwa catur itu haram adalah Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Sa’id bin al Musayyab, al Qasim, Salim, Urwah, Muhammad bin Ali bin Husen, Mathar al Warraq, Imam Malik, dan Abu Hanifah.”

Imam Syafi’i dan para sahabat beliau yang meriwayatkan dari Abu Hurairah yaitu: Sa’id bin Musayyab dan Sa’id bin Juber berpendapat bahwa catur itu boleh. Dengan alasan bahwa hukum asal segala sesuatu itu mubah dan tidak ada hukum nash yang mengharamkannya, sedangkan catur tidak termasuk pada cakupan nash. Karena itu ia tetap pada kehalalannya.

Permainan catur berbeda dengan dadu karena dilihat dari dua segi, yaitu:

  1. Dalam catur si pemain memikirkan siasat perang, sehingga lebih mirip dengan permainan anggar, memanah dan pacuan kuda.
  2. Yang menang dalam permainan dadu itu ditentukan oleh dadu yang keluar sehingga menyerupai azlam (mengundi nasib dengan anak panah dan sebagainya), sedangkan dalam permainan catur yang menang itu karena kecerdasan dan kecekatannya sehingga lebih menyerupai memanah.

Penulis menyimpulkan bahwa permainan catur itu boleh karena ada 2 hal yang harus diperhatikan, yaitu: 1) kebolehannya itu dengan adanya syarat, 2) karena permainan catur mempunyai manfaat.

Syarat-syarat bolehnya permainan catur antara lain: tidak disertai dengan perjudian, tidak sampai melalaikannya dari kehidupan dunia dan akhiratnya, pemain harus bisa menjaga lisannya agar tidak mengatakan suatu ucapan yang tidak seharusnya diucapkan, tidak bermain di jalan karena dapat merusak martabat dan harga diri, tidak terlalu sering memainkannya sehingga kecanduan, tidak terlalu lama dalam bemain karena bisa menyia-nyiakan waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang lain.

Beberapa manfaat dari permainan catur brdasarkan penelitian[6] yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a)      keunggulan dalam matematika dan membaca,

b)      keunggulan dalam menyelesaikan soal-soal matematika berbasis cerita,

c)      memiliki pemahaman lebih tinggi dalam spasial (ruang), numerik (deretan angka), pengetahuan verbal (bahasa dan kata-kata) serta pekerjaan-pekerjaan administratif.

 


[1]  Dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam  Irsyad-nya sebagaimana dikutip dalam Nailul Author, juz 8, hlm. 259, terbitan Darul Ma’rifah, Beirut.

[2]  Al- Bahrur Ra’iq Syarh Kanzud Daqaaiq, 7: 91.

[3]  Ar- Raudlah, juz 11, hlm. 225, terbitan al- Maktab al- Islami.

[4]  Al- Bayan wat- Tanshil, juz 18, hlm. 436.

[5]  HR. Ahmad dalam kitab muwattho’, 2: 958;  Ahmad dalam al- Musnad , 4: 394, 397, 400; Abu Daudno. 4938; Ibnu Majah no. 3762; dan al- Hakim 1: 50, dan beliau mengesahkannya  menurut syarat Shahihain, serta disetujui oleh adz- Dzahabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam  al- Adabul-Mufrad.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Lewat ke baris perkakas