HUBUNGAN ANTARA KESENIAN DAN KEBUDAYAAN DENGAN AGAMA

1.        Pengertian kesenian dan Kebudayaan

a.     Kesenian

–       Kesenian berasal dari kata seni yang berarti “hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang bernilai keindahan sehingga dapat dirasakan oleh manusia”. Kata tersebut mendapat awalan “ke” dan akhiran “an” yang berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan seni.

–       Dalam Ensiklopedi Indonesia dijelaskan pengertian seni yaitu penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan peantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihatan (seni lukis) atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari dan drama).[1]

b.    Kebudayaan

Ada beberapa pengertian mengenai kebudayaan, antara lain:

–       Kebudayaan berasal dari kata “budaya” yang merupakan singkatan dari kata budi (alat batin yg merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk) dan daya (kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak) atau dengan kata budidaya secara langsung yang berarti  usaha yg bermanfaat dan memberi hasil.[2]

–       Hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.

–       Secara antropologi à keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman bagi tingkah lakunya.

2.        Kesenian dan Kebudayaan dalam Islam

Kesenian dan kebudayaan sangat beragam macam dan jenisnya sehingga penulis membatasi pembahasan tentang seni vocal dan musik, pendengaran serta tari karena tiga hal tersebut merupakan aktivitas yang sering dilakukan oleh manusia baik dari paling sederhana sampai yang paling kompleks. Adapun pandangan Islam mengenai tiga hal tersebut di atas adalah sebagai berikut:

1.      Seni Vocal dan Musik. Seni musik merupakan bidang seni yang berhubungan dengan peralatan musik dan irama yang keluar dari peralatan musik tersebut. Bidang ini membahas bagaimana cara memainkan musik dengan tepat sehingga menghasilkan suara yang bagus. Masing-masing peralatan musik mempunyai nada yang berbeda-beda. Selain itu, seni ini membahas cara membuat not dan bermacam-macam aliran musik.

Seni vocal atau bisa juga disebut dengan seni suara adalah melagukan syair yang hanya dinyanyikan dengan perantara oral (suara) tanpa iringan instrumen musik, sedangkan seni musik adalah seni suara yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik.  Kedua jenis seni ini bisa disatukan sehingga menghasilkan perpaduan suara yang sangat bagus.

2.      Seni Pendengaran. Seni ini menggunakan suara sebagai medium pengutaraan baik dengan alat tunggal (biola, piano, dll) maupun dengan alat-alat majemuk (orkes simponi, band dan juga lirik puisi yang diiringi dengan irama musik maupun tak berirama).

3.    Seni Tari. Seni tari adalah seni menggerakkan tubuh secara berirama dengan iringan musik. Gerakannya bisa sekedar dinikmati sendiri yang merpakan ekspresi suatu gagasan atau emosi dan cerita. Seni tari juga digunakan untuk mencapai ekskatase (mabuk atau tidak sadar diri).

Untuk pembatasan pembahasan masalah dalam makalah ini penulis mengambil satu pembahasan penting dari ketiga seni tersebut yaitu hukum seni vokal (menyanyi) dan main musik. Dalam seni ini terdapat golongan yang mengharamkan dan membolehkan.

è    Golongan yang mengharamkan adalah Ibnu al-Jauzi, Imam Qurthubi dan Imam asy-Syaukani dengan dalil sebagai berikut:

a.       QS. Lukman: 6 yang artinya: “dan di antara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahualhadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan-Nya sebagai olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.

Sebagian sahabat seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan tabi’in seperti Ikrimah, Hasan al-Basri, Mujahid dan lain-lain menafsirkan “lahualhadits” sebagai nyanyian atau menjual belikan biduanita.

 

Sanggahan:

Ayat ini tidak ada hubungannya dengan nyanyian, tetapi berhubungan erat dengan sikap dan perbuatan orang-orang kafir yang berusaha menjadikan ayat-ayat Allah SWT sebagai senda gurau dengan tujuan untuk menghina dan merendahkan serta berusaha untuk menyesatkan orang islam dari jalan yang benar.

b.      QS. Al-Isra’: 64 yang artinya: “dan bujuklah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan shautika (suaramu)…

 

Sanggahan:

Sama seperti surat Lukman di atas, ayat ini tidak ada hubungannya dengan nyanyian tetapi berhubungan erat dengan perbuatan iblis yang dibiarkan hidup dan bebas melakukan apa saja yang ia kehendaki untuk menggoda dan menyesatkan manusia dari jalanNya. Shautika secara bahasa adalah suaramu, tetapi bermakna kiasan karena tidak ada seorang manusia pun yang bisa mendengarkan suara iblis. Manusia hanya bisa merasakan bisikan darinya yang berbentuk seruan atau ajakan untuk mengerjakan maksiat. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Qatadah, Ibnu Jarir serta pendapat ahli tafsir yang lainnya yang terdapat dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid III ayat 50.[3]

c.       Hadits Bukhari yang diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari yang artinya: “sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak dan alat musik. Kemudian golongan itu akan pergi ke tebing bukit yang tinggi. Lalu para pengembala dengan ternak kambingnya mengunjungi golongan tersebut. Lalu mereka didatangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Ketika itu mereka berkata: ‘datanglah kepada kami esok hari.’ Pada malam hari Allah membinasakan mereka dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka. Sisa mereka yang tidak binasa pada malam tersebut ditukar rupanya menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.”

 

Sanggahan:

Hadits ini tidak dapat digunakan dalil untuk mengharamkan nyanyian dan penggunaan alat-alat musik. Dalam hadits tersebut terdapat petunjuk bahwa mereka berani menghalalkan perzinaan, memakai sutera, menenggak khamr dan memainkan alat-alat musik. Mengenai perzinaan dan khamr jelas dilarang dalam al-Qur’an sedangkan memakai sutera dan memainkan peralatan musik diatur oleh syara’ sebagai berikut:

–         Syara’ menghalalkan sutera bagi wanita tetapi haram bagi laki-laki kecuali jika ada alasan yang membolehkannya.

–         Untuk peralatan musik, maka syara’ membolehkannya dalam acara pernikahan, hari raya atau hari-hari gembira lainnya. Tetapi dalam hal ini syara’ mengharamkan seorang wanita menjadikan nyanyian dan memainkan peralatan musik sebagai profesi sehingga mereka tidak boleh menerima imbalan dari profesi tersebut.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hadits di atas ditujukan kepada segolongan kaum muslimin yang berani menghalalkan penggunaan peralatan musik di luar batas yang telah ditentukan. Misalnya memainkannya di tempat umum (televisi, stadion atau panggung-panggung pertunjukan terbuka lainnya).

d.      Dan lain sebagainya.

è    Golongan yang membolehkan adalah Imam Malik, Imam Ja’far, Imam al-Ghazali dan Imam Abu Daud dengan dalil sebagai berikut:

a.       QS. Lukman: 19 yang artinya: “… dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.

b.      Hadits Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang menceritakan kebencian Rasul terhadap pernikahan siri, karena itulah rebana ditabuh seraya didendangkan syair yang artinya: “kami datang kepadamu, kami datang kepadamu. Karenanyalah hormati kami, sebagai gantinya kami akan menghormatimu.

c.       HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik berkata: “sesungguhnya Nabi melewati beberapa tempat di Madinah. Tiba-tiba beliau berjumpa dengan beberapa jariah yang memukul rebana sambil menyanyikan ‘kamilah bani Najjar. Alangkah bahagianya bertetangga dengan nabi besar’. Mendengar dendang mereka Rasul bersabda: ‘Allah mengetahui bahwa aku benar-benar sayang kepada kalian’.

d.      Dan lain sebagainya.

Dari penjelasan yang singkat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak semua seni dan budaya itu dibolehkan karena belum tentu keduanya bernilai positif, begitu juga sebaliknya. Salah satu contoh tarian yang diharamkan adalah tarian yang mengandung unsur-unsur kesyirikan, misalnya Tarian Pendet.

Jika ditelusuri lebih lanjut, maka akan ditemukan beberapa alasan kenapa tarian tersebut diharamkan. Sebelum dikemukakan alasannya maka terlebih dahulu akan dipaparkan secara ringkas tentang sejarah tarian tersebut. Di bawah ini adalah sejarahnya[4]:

Tarian Pendet berasal dari Bali yang diciptakan oleh seorang seniman yang bernama I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an. Tarian ini dipentaskan untuk upacara keagamaan yaitu agama Hindu (agama yang menyembah dewa-dewa sebagai Tuhan). Tarian ini sangat kental dengan tarian-tarian ritual di India. Menurut mitologinya, tarian ini diciptakan oleh Dewa Brahma dan Siwa Nata Raja yang terkenal dengan tarian kosmisnya. Dalam tarian ini menggambarkan bahwa Dewa Siwa memutar dunia dengan kekuatan ghaibnya. Setiap sikap tangan dan gerakan tubuhnya mempunyai makna dan kekuatan tertentu sehingga tarian ini tidak hanya memiliki keindahan rupa dan pakaian saja akan tetapi juga mempunyai kekuatan sekala dan niskala. Tari pendet ini memiliki makna untuk menyambut dewata yang turun ke bumi. Ia seakan sebuah simbol yang diberikan warga Hindu untuk menyambut Tuhannya ke muka bumi.

Jadi, Tarian Pendet diharamkan karena ada beberapa alasan, yaitu:

1.      Dipentaskan untuk acara keagamaan (agama Hindu).

2.       Dalam tarian tersebut terdapat kepercayaan tentang adanya kekuatan lain selain Allah.

3.      Percaya bahwa Dewa Siwa dan Brama sebagai Tuhan.

4.      Tarian ini dipersembahkan untuk menyambut Tuhan mereka yang turun ke bumi.


[1]  Lihat “Ensiklopedi Indoesia”. PT. Ikhtiay Baru-Van Hoeve, Jakarta. Jilid V hakaman 3080 dan 3081.

[2]  Software KBBI V1.1

[3]  Abdurrahman al-Baghdadi. 1991. Seni dalam Pandangan Islam (Seni Vokal, Musik dan Tari). Jakarta. Gema Insani Press. Hal. 45.

Tentang Mari'atul Qiftiyah 14 Articles
Mahasiswi UMY alumni PUTM Pi jurusan PAI

1 Comment on HUBUNGAN ANTARA KESENIAN DAN KEBUDAYAAN DENGAN AGAMA

  1. isi artikel ini menarik dan cukup bermanfaat bagi saya, disini saya juga ingin memberikan informasi bahwa Sehubungan dengan akan diselenggarakan kegiatan Seminar Ilmiah Nasional PESAT 2013 dengan tema Seminar Ilmiah Nasional Untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa Melalui Revitalisasi Peradaban pada tanggal 8-9 Oktober 2013 maka kami mengundang bpk/ibu/sdr/sdri turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada alamat URL http://penelitian.gunadarma.ac.id/pesat/seminar.aspx?page=home

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Lewat ke baris perkakas