Mari Belajar Ke Universitas Terbaik

Coba Tengok Universitas Terbaik Ah…

Nilai Agama Dalam Seni Macapat

Posted by Nitaque Andang Jaya 0 Comment

Nilai Agama Dalam Seni Macapat

 

Latar Belakang Masalah :

Pertama kali mendapatkan tugas untuk mengikuti kegiatan di PWM Muhammadiyah Jl. Gedong Kuning berupa “Macapatan dan Dialog Seni” yang ada dalam benak saya adalah kita kembali ke masa lalu di mana segala sesuatunya berkaitan dengan suasana tradisional dan syair-syair yang tidak saya mengerti.

Tapi, semuanya berubah ketika syair-syair itu dinyanyikan dalam bahasa Indonesia dan syair macapatnya pun berasal dari terjemah ayat-ayat al-Qur’an yang dimacapatkan. Sehingga macapat menurut saya juga bisa menjadi sarana Dakwah Kultural yang tentunya sasaran dakwahnya juga masyarakat yang memang masih memegang budaya atau kultur tradisional. Sehingga nilai-nilai ajaran agama Islam bias lebih mudah mereka terima dan akan mengurangi clash di masyarakat.

 

Pembahasan

 

MACAPAT

Sebetulnya belum banyak sich yang saya tahu tentang Macapat, tapi saya akan mencoba mengapresiasi seni luhur nenek moyang tanah jawa yang lumayan asyik didengar dan tentunya bias bikin awet muda. Hehehe…Berikut keterangan yang berhasil saya himpun.

Macapat adalah puisi tradisional genre jawa baru yang dilagukan dan terikat oleh konvensi guru gatra (jumlah larik tiap baris), dan guru wilangan (jumlah suku kata dalam larik) dan guru lagu (bunyi suku kata pada akhir larik). Sedangkan puisi yang dilagukan inilah yang disebut tembang. Oleh karena itu puisi macapat disebut juga dengan tembang macapat

Ada beberapa pendapat mengenai etimologi kata “macapat”.

Pertama, dari kata maca-pat lagu, yaitu tembang tahapan yang keempat. Tembang yang pertama disebut maca-sa lagu yang masih disebut juga dengan tembang gedhe atau sekar ageng. Tembang tahapan kedua disebut maca-ro lagu, yang masih disebut juga dengan tembang gedhe. Tembang tahapaan ketiga disebut maaca-tri lagu, yang disebut juga dengan tembang tengahan.

Kedua, dari kata manca-pat (manca = lima, pat = papat, empat) yaitu sebagai penyebutan klasifikasi dalam kebudayaan Jawa. Misalnya sebutan keblat papat, lima pancar yang berarti empat arah mata angin dengan berpusat di tengah.

Ketiga, dari kependekan kata-kata “maca papat-papat” yaitu membaca empat demi empat (suku kata). (Prabowo et al., 2007: 163-164)

 

Macapat adalah kelanjutan dari seni tembang sebelumnya, yang meliputi kakawin, kidung, tembang gedhe, suluk dan tembang tengahan.

Kakawin adalah tembang dalam bahasa Sansekerta. Asalnya dari kata “kawi” yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia disebut puisi atau sajak. Ada aturan khusus tentang larik (baris), wanda (suku kata), guru (tembung antep atau abot), dan lagu (enteng atau ampang).

Kidung, kalau diterjemahkan berarti nyanyian. Konon kidung ini diciptakan pada zaman Majapahit, yang masuk bahasa Jawa tengahan.

Tembang Gedhe adalah tembang yang terdiri dari 4 (papat) larik dan setiap larik suku katanya berjumlah sama.

Suluk adalah karya sastra yang memuat renungan filsafat

Tembang Tengahan adalah karya sastra setelah tembang gedhe sebelum munculnya tembang macapat. Tembang tengahan disebut juga tembang cilik atau sekar alit. (Subalidinata, 1994: 18-30)

 

Sekalipun batasan kata “macapat” sampai sekarang belum memperoleh kepastian yang memuaskan (Darusuprapta, 1985: 9), namun popularitas jenis tembang ini sampai sekarang tidak pernah diragukan orang, terutama dikalangan pengagum seni tembang jawa. Kesukaran menetapkan asal-usul kata macapat ini disebabkan penciptaan dari tembang macapat yang pertama tidak pernah diketahui (Zawimah et al., 1985: 8).

Sebagai karya sseni tembang yang sudah sangat popular tentu saja sangat memungkinkan untuk dipakai sebagai salah satu sarana untuk keperluan dakwah islamiyah apalagi bentuk karya sastra ini berupa puisi. Seperti diketahui sastra puisi sangat memungkinkan memuat ajaran agama yang tidak jarang mengandung muatan yang sifatnya sangat iterpretatif. Orang bias bebas berolah seni dan berolah tafsir dalam bingkai perpuisian ini.

Macapat adalah masalah seni. Seni sastra dan seni lagu (nada suara). Seni ini memancing pada seni lain yang mendukung, yaitu seni music dan seni pertunjukan. Karena tembang-tembang macapat memiliki sifat sendiri-sendiri, maka pemakaian macapat lebih bisa memilih tembang mana yang lebih tepat dipakai menurut kondisi, tempat dan orang yang sedang dihadapi.

Dalam suasana budaya yang lebih bernuansa progresif ini, seperti terjadi dewasa ini, maka usaha melestarikan unsure-unsur kearifan local akan menjadi makin penting. Alasannya bukan untuk romantisme, melainkan untuk menfungsionalkam secara kreatif terhadap kekayaan kearifan local tersebut. Dengan demikian pemanfaatan seni tembang macapat juga mendapat tempat di sini.

 

Categories: pendidikan

PROFIL AKU

Nitaque Andang Jaya


Popular Posts

Nilai Agama Dalam Se

Nilai Agama Dalam Seni Macapat   Latar Belakang Masalah : Pertama kali mendapatkan ...

Contoh RENCANA PELAK

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)   Nama Sekolah             : SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta Mata Pelajaran            ...

Contoh RENCANA PELAK

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)   Nama Sekolah             : SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta Mata Pelajaran            ...

Kumpulan Puisi Terba

HUJAN BULAN JUNI Sapardi Djoko Damono   tak ada yang lebih tabah dari ...

Kumpulan Puisi Terba

AKU INGIN Sapardi Djoko Damono   Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang ...