Dari Mana, Untuk Apa, dan Kemana Manusia Diciptakan

  Pendidikan Agama   January 17, 2012

Segala puji milik Alloh, pemelihara hamba-Nya di waktu malam dan siang, yang Maha Mengetahui dan Maha Adil, yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Ya Robb, teguhkan hati ini, jangan jadikan ia condong kepada kemaksiatan sesudah Engkau memberi petunjuk-Mu dan anugerahilah kami Rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau pemelihara dan pemberi petunjuk yang paling baik.

Manusia merupakan makhluk mulia yang diciptakan oleh Robb, sang pen-desain seluruh jagat semesta. Sungguh, semua dan setiap yang Alloh SWT ciptakan, baik di langit, di bumi, maupun yang ada diantara keduanya bukanlah sesuatu yang main-main atau iseng yang hadir sebagai makhluk pelengkap, dan bukan pula sesuatu yang sia-sia. Semua yang diciptakan mempunyai maksud dan tujuan serta manfaat yang saling bergantung antara satu dan yang lainnya. Laksana penciptaan mobil yang dibarengi dengan penciptaan sarana lain seperti roda misalnya. Tanpa roda, mobil tidak mampu berjalan dengan baik, begitupun sebaliknya. Toh, bila keduanya telah ada, kendaraan butuh bahan bakar untuk berjalan. Dan bukan kebetulan juga jika Alloh telah merancang kematian hewan atau tumbuhan purba untuk selanjutnya dijadikan bahan bakar.

Dan semua itu Dia satu kehormatan besar bagi makhluk yang disebut manusia untuk mengendalikannya, bukan makhluk lain seperti kuda, sapi, atau bahkan kera yang dinotabenenkan oleh beberapa pakar Ilmu Teknologi yang ingkar kepada hakikat penciptaan sebagai spesies yang dekat dengan manusia. Tidak hanya kendaraan, lebih luas lagi manusia diberi kuasa untuk mengatur dan memanfaatkannya sesuai yang sudah ditetapkan oleh Sang Maha Pengatur.
Oleh karena itu, mari kita tundukkan hati untuk sejenak memahami hakekat penciptaan manusia, dari mana? Untuk apa? Dan kemana kita akan kembali? Agar kita lebih mengenal diri sebagai pribadi individu dan sosial yang mengenal dan mampu berjalan dalam fitrahnya. Alloh SWT berfirman dalam Qur’an Surat [51] Adz-Dzariyat : 20-21

20. dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
21. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?

1. Dari Mana Manusia Diciptakan?
Manusia pada dasarnya terdiri atas 2 unsur utama, yaitu Jasmaniyah dan Ruhaniyah. Jasmaniyah manusia pada umumnya dibentuk oelh Alloh SWT dari saripati tanah, sebagaimana firman Alloh dalam Qur’an Surat Al-Mu’minuun [23] : 12-14

Kemudian setelah jasmani dalam rahim (janin) ini siap, maka Alloh meniupkan ruh ciptaan-Nya kedalam janin, Firman Alloh dalam Qur’an Surat Shaad [38] : 72

Inilah secara global penciptaan manusia, lalu Alloh SWT memberikan potensi yang bisa berkembang dan dikembangkan oleh manusia sehingga manusia mampu membedakan diri dari makhluk lainnya seperti hewan. Para Fuqoha berkata :

“Manusia ini laknasa hewan, (yang membedakannya) adalah diberikannya kepada manusia Natiqoh (akal fikir yang sesuai fitrah)”

Seluruh potensi yang diberikan kepada manusia pun tidak lepas dari hakekat pemberian yakni harus disyukuri, dan dimanfaatkan kepada jalan yang diridloi oleh yang memberi tadi. Alloh SWT berfirman dalam Qur’an Surat An-Nahl [16] ayat 78

2. Untuk Apa Manusia Diciptakan?
Setelah memahami hakikat penciptaan diri, kita faham bahwa kita diciptakan oleh Alloh SWT tidak sia-sia, dan memiliki tugas yang harus dilakukan, agar tetap diakui sebagai hamba-Nya yang berjalan pada fitrahnya, yang akan menjadikan diri sebagai makhluk mulia diantara ciptaan yang lain dihadapan Alloh SWT. Alloh berfirman dalam Qur’an Surat Ali-Imron [3] : 191

191. …”Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Salah satu hakekat penciptaan manusia yang bisa kita uraikan di sini adalah tugas mulia untuk mengabdi kepada Alloh SWT. Alloh berfirman dalam Qur’an Surat Adz-Dzariyaat [51] : 56

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dalam ayat tersebut jelas bahwa Alloh tidak menciptakan manusia melainkan dengan perintah dasar agar manusia tetap berada dalam fitrahnya, yakni mengbadi (beribadah) kepada sang Kholik. Di sini seperti ada pembebanan yang harus dipikul manusia. Padahal Alloh SWT tidak akan membebani kepada hamba-Nya melebihi apa yang mampu dipikul oleh hamba tersebut. QS. Al-Baqoroh [2] : 286

286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesang-gupannya…

Alloh Maha Adil dan sekali-kali tidak berbuat dzolim pada hamba-Nya. Pengabdian yang dibebankan kepada kita hanyalah bagi orang-orang yang mau, yang ridlo menjadikan Alloh sebagai Robb mereka dan ridlo mengikuti milah Nabi-Nya. Bukankah pembebanan tugas pengabdian itu hanya untuk orang-orang yang ikhlas. Alloh SWT berfirman dalam Qur’an Surat Al-Bayyinah [98] : 5

5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, …

Tugas pengabdian itu bukanlah, perintah yang tanpa menjalankan perintah tersebut sudah Alloh ciptakan dan kesemua itu juga diperuntukkan kepada manusia, dari mulai tempat berpijak, yang disebut Bumi, Alloh memilihkan bumi sebagai tempat tinggal, didalamnya banyak terdapat kekayaan yang melimpah yang bisa dimanfaatkan oleh manusia hingga ke permukaan bumi yang kita gunakan untuk bercocok tanam, penciptaan langit yang tak memiliki tiang, yang dipenuhi warna dan hiasan bintang. (dibalik itupun tersembunyi hikmah yang besar) dan juga penciptaan apa yang ada diantara langit dan bumi segalanya sudah disiapkan untuk manusia. Alloh berfirman dalam Qur’an Surat Al-Baqoroh [2] : 29

29. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Untuk itu wahai saudaraku, kita yang diciptakan oleh Alloh SWT dengan penuh bakat dan potensi, serta bentuk penciptaan yang paling sempurna, yang telah mengikrarkan bahwa Alloh adalah Robbunnas (Robb manusia) yang memelihara, menjaga, mengembangkan, dan menyayangi manusia harus pula mengikrarkan diri untuk tulus ikhlas mengabdi kepada Alloh, dan menjadikan Alloh satu-satunya Ilah yang berhak disembah. Alloh berfirman dalam Qur’an Surat Al-Ikhlas [112] : 1 – 4

Janganlah kita menyembah selain Alloh , menduakan Alloh, da segala perbuatan yang menjadikan tandingan-tandingan selain Alloh. Maha Suci Alloh dari apa yang disekutukan kepada-Nya.

3. Kemana Akhir Manusia?
Perjalanan panjang yang ada didunia adalah sekelumit perjalanan kecil dan perjalanan panjang sesungguhnya di bumi ini segalanya akan berakhir (binasa) termasuk manusia. Alloh berfirmandalam Qur’an Surat Al-Mu’minuun [23] : 15 dan Qur’an Surat An-Nahl [16] : 61

15. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
61 … Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.

Dan diperjalankannya kita pada hari pembalasan, yang dibalasnya seluruh amal perbuatan kita. Jika baik berseri-serilah wajah kita pada hari itu karena akan menghadap Alloh dengan keselamatan dan jika buruk maka bersiap untuk berteman dengan azab Alloh. Wana’udzubillahi min dzalik.

Wahai saudaraku sebelum bertemu dengan kematian, mari kita renungi segala sesuatunya dan berbekal untuk itu semua, “ya Robb yang maha memberi petunjuk, bimbinglah diri ini kepada jalan-Mu, jalan para Nabi-Mu, Syuhada, Shadiqin, dan Sholihin. Jadikan kami hamba-hamba yang ikhlas dalam ridlo-Mu dan hamba yang Shobar serta ridlo berada dalam jalan-Mu”.

Sumber: http://www.maswins.com

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE