Nilai-Nilai Pendidikan Hijrah Dalam Al-Qur’an (Menyingkap Makna Memetik Hikmah Sejarah)

e

NILAI-NILAI PENDIDIKAN HIJRAH DALAM AL-QUR`AN

(Menyingkap Makna Memetik Hikmah Sejarah)

Pendahuluan

Bermula dari sebuah obrolan ringan di kalangan para shahabat, kemudian berubah menjadi diskusi kecil di antara mereka. Seorang diantaranya adalah Abu Hindun al-Bajalli ra. yang menceritakan seperti ini: “ketika kami sedang duduk bersama Mu’awiyah bin Abi Sofyan ra., sungguh beliau telah memicingkan kedua matanya karena mengantuk. Terjadilah pembicaraan di antara kami mengenai hijrah; di antara kami ada yang berpendapat bahwa hijrah itu sudah berakhir. Lalu Mu’awiyah ra. pun terbangun seraya berkata: Apa yang sedang kalian bicarakan?, kami pun (para shahabat) memberitahukan kepadanya. Maka beliau (Mu’awiyah) mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

لاَ تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ مَا تُقُبِّلَتِ التَّوْبَةُ وَلاَ تَزَالُ التَّوْبَةُ مَقْبُولَةً حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنَ الْمَغْرِب

“Hijrah belum berakhir sehingga berakhirnya taubat, dan taubat tidak akan berakhir sehingga matahari terbit dari sebelah barat” (H.R. Ahmad dalam Musnad, no. 17030 dan H.R. Abu Dâwud 2/337 no. 2479 Bab fil Hijrah Hal Inqatha’at)

Ucapan Rasulullah SAW ini mengisyaratkan bahwa hijrah dalam arti luas tanpa dibatasi waktu, artinya berlaku sepanjang masa dan sudah menjadi sunnatullah bagi manusia. Adapun hijrah dalam maknanya yang khusus, adalah hijrahnya Rasulullah SAW dan para shahabatnya keluar dari mekkah hingga pembebasan mekkah dari cengkraman orang-orang yang memusuhi dakwah rasulullah. Inilah yang dikenal dalam sejarah sebagai peristiwa Fathu Makkah. (lihat Muhammad Abdullah al-Khâtib dalam Min Fiqhil Hijrah)

Makna Hijrah

Sesuai dengan makna aslinya, hijrah memiliki pengertian meninggalkan (at-tarku) atau berpindah (al-intiqâl). Salim bin ‘Ied al-Hilaly menerangkan dalam Bahjatun Nâzhirin Syarh Riyâdhus Shâlihin, selain makna hijrah itu berpisah dari suasana mencekam ketakutan menuju kawasan aman dan damai seperti halnya hijrah kaum muslimin ke Habasyah atau hijrahnya kaum muslimin pada permulaan hijrah ke Madinah, juga mengandung pengertian berpindahnya kaum muslimin dari negeri yang diselimuti kekufuran menuju negeri yang dihiasi keislaman seperti halnya setelah kaum muslimin kokoh dan kuat di Madinah (Al-Hilaly, 1994:31)

Pandangan senada dikuatkan oleh Ibnul ‘Araby dalam tafsirnya Ahkâmul Qur’an sebagai berikut:

1.    Hijrah dari satu negeri yang sedang berperang atau dalam status darurat-perang ke negeri yang aman damai. Contohnya ialah seperti hijrah Rasulullah dan para shahabat dari negeri Mekkah ke Madinah. Hukumnya adalah wajib.

2.    Menyingkirkan diri dari negeri yang didominir oleh perbuatan-perbuatan keagamaan yang diada-adakan, yang tidak bersumber kepada al-Qur`an dan Sunnah.

3.    Keluar dari negeri yang dikuasai oleh perbuatan-perbuatan maksiat (haram). Menantang perbuatan haram itu wajib bagi tiap-tiap Muslim.

4.    Menyingkirkan diri dari tindasan-tindasan dan terror yang bersifat fisik. Contohnya seperti menyingkirkan diri Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan lain-lain.

5.    Keluar dari satu negeri yang dijangkiti wabah penyakit.

6.    Menyingkirkan diri karena khawatir atau merasa tidak ada jaminan keselamatan harta-benda.

Perlindungan terhadap keselamatan harta-benda itu, menurut pandangan Islam setaraf dengan perlindungan terhadap jiwa kaum keluarga dan lain-lain.

Dalam beberapa syarah hadits tentang hijrah para ulama menegaskan, salah satunya dalam Syarah Riyâdhus Shalihin dijelaskan: “Jika sebuah negeri telah berubah menjadi kawasan Islam, maka hijrah tidak wajib lagi hukumnya. Karena tetapnya hukum wajib hijrah, apabila di sebuah negeri, seorang muslim tidak dapat lagi menunaikan agamanya.” (Musthafa Sa’id al-Khân dan Musthafa al-Bughâ, Nuzhatul Muttaqîn, 1992: 22)

Hijrah dalam al-Qur`an

Hijrahnya Rasulullah SAW dan para shahabatnya, merupakan respon terhadap wahyu Allah yang memerintahkan agar kaum muslimin mekkah yang selalu mendapatkan intimidasi dan penindasan meninggalkan negeri tempat kelahirannya (Q.S. an-Nisâ`/4: 97-100). Salah satunya firman Allah SWT:

أَلمَْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً, فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَا…

“…Bukanlah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu…” (Q.S. An-Nisâ`/4: 97)

Untuk mengetahui lebih lanjut begaimana uslub al-Qur`anul Karim dalam menganjurkan kaum mu’minin untuk berhijrah, shahibul fadhilah al-Ustadz DR. H. Sami’un Jazuli dalam kitabnya al-Hijrah fil Qur`an menjelaskan secara rinci sebagaimana di ikhtishar oleh Romli Qomaruddien Abu Yazied dalam makalahnya Asâlîbul Qur`ânil Karîm fî Hatstsil Mu`minin ‘alal Hijrah. (lihat lampiran)

Namun setelah kota mekkah kembali stabil dan dibebaskan oleh kaum muslimin, negeri mekkah pun kembali menjadi aman, maka hapuslah kezhaliman di negeri ini. Rasulullah SAW mengatakan:

لاَهِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ, وَإِذَاسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا

“Tidak ada hijrah setelah pembukaan kota makkah, melainkan jihad dan niat. Apabila kalian diperintahkan untuk berperang, berangkatlah kalian berperang.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah ra.)

Memetik Hikmah Sejarah

Semangat dakwah Rasulullah SAW yang mendapatkan dukungan para shahabat dengan penuh heroik, merupakan cerminan sebuah keberhasilan yang nyata dari seorang pemimpin yang agung. Dalam tempo yang relatif singkat, sepuluh tahun lamanya mampu mewujudkan tatanan masyarakat baru yang disebut masyarakat Madinah al-Munawwarah. Maka tidak berlebihan, jika fakta sejarah ini dikatakan tak ubahnya sebagai tonggak pancang dalam sejarah kebangunan Islam. Maminjam bahasa Philip K. Hitti (orientalis barat), ‘hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah merupakan gerakan revolusi yang paling besar sepanjang sejarah’. Sekalipun tentunya, Islam tidak mengenal revolusi.

Karenanya, khalifah Umar bin Khatab menjadikan pijakan terhadap peristiwa hijrahnya kaum muslimin ke Madinah sebagai titik tolak penentuan awal bulan hijriyyah, yaitu bulan Muharram sekalipun ada pendapat yang menyebutkan awal bulan Shafar sebagaimana dikutipkan al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahîqul Makhtûm.

Apabila disimpulkan, pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan hijrah itu adalah:

1.    Kesabaran dan keteguhan hati dalam mempertahankan cita-cita sekalipun kesulitan dan rintangan datang silih berganti

2.    Adanya kesediaan berkorban dalam segala hal; mulai dari korban kesenangan diri, korban perasaan, korban harta benda, korban rumah tangga bahkan adakalanya meminta pengorbanan fisik

3.    Yakin adanya harapan, yaitu cita-cita dan kemauan yang tak pernah padam, tidak mengenal kata mundur apalagi putus asa serta memiliki jiwa optimisme.

Semua itu, merupakan mutiara-mutiara terpendam (mengutip istilah DR. M. Abdurrahman Baishar dalam Mutiara Hijrah M. Yunan Nasution) yang mencerminkan kesiapan fisik dan mental untuk melakukan perubahan; bersedianya berkorban demi mempertahankan aqidah melukiskan kemantapan iman yang bersemi dalam jiwa panutan ummat Muhammad saw. dan para shahabatnya, resiko penderitaan yang dialami dikarenakan hijrah merupakan wujud keberanian yang luar biasa dalam menegakkan agama Allah, jiwa yang suci dan pikiran yang jernih merupakan manifestasi hubungan yang dekat antara hamba dengan Tuhannya, kemenangan yang diraih kaum muslimin merupakan buah yang dipetik dari langkah-langkah perjuangan (khitah) yang selama itu mereka lakukan serta hancurnya kebathilan menjadi symbol perlawanan ahlul haq dalam mengikis nilai-nilai kejahilan dan peperangan melawan kemungkaran.

Maka, dikatakan seorang itu ‘Muhajir Sejati’ apabila orang itu mampu menunjukkan kepasrahannya dalam tunduk dan patuh kepada Allah dengan mengikuti petunjuk-petunjuk rasulullah. Inilah yang dimaksudkan Rasulullah SAW dalam sabdanya

المُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَمَانَهَى اللهُ عَنْهُ

“orang yang sebenarnya hijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah SWT”.

Wallâhu A’lam bish Shawâb

CAPek-Ma [Catatan Akhir Pekan Mahasiswa] Universitas Terbaik