Mif's Blog

Belajar Menjadi Lebih Baik

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Islam adalah agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW. Tauhid adalah esensi iman kepada Allah. Tauhid berarti mengesakan-Nya, baik dalam zat, asma wa shifat, maupun af’al (perbuatan)-Nya. Tauhid, yang bermakna mengesakan Tuhan, yaitu Allah SWT saja satu-satunya Tuhan, dalam kajian ilmu Islam merupakan hal yang mendasar dan fundamental. Posisi penting tauhid ini adalah karena ia merupakan dasar keyakinan yang utama bagi seorang muslim atau dalam istilah lain disebut sebagai dasar Aqidah Islamiyah (Keyakinan Islam). Aqidah inilah yang membedakan seseorang, apakah ia seorang muslim atau seorang yang kafir. Dikatakan seorang muslim manakala ia mempercayai, meyakini bahwa Tuhan itu satu, esa (mentauhidkan Tuhan) dan selain muslim, atau sering disebut sebagai kafir apabila tidak mentauhidkan Tuhan.

Selain sebagai landasan utama, tauhid adalah perkara yang menentukan apakah apakah suatu amalan itu bernilai ibadah ataukah tidak. Apabila amalan yang dilaksanakan semata-mata sebagai amalan yang diniatkan hanya untuk Allah SWT saja berarti aspek tauhid menempati posisi utama berarti ia adalah ibadah kepada Allah dalam pengertian yang benar. Akan tetapi, ketika ibadah tidak diperuntukkan untuk Allah SWT dengan niatan lain maka hal ini dinamakan sebagai perbuatan syirik (mengadakan sekutu bagi Allah SWT) dan amalan yang dilakukan tidak termasuk ibadah.

Hal ini sebagaimana dituntukan oleh Allah dalam al-Qur’an surat al-Bayyinah (98) ayat 5:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus [berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”

Tujuan dakwah Islam yang dibawa para Nabi tanpa terkecuali Nabi Muhammad SAW adalah membawa risalah tauhid. Misi inilah yang pertama kali didakwahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW di masa berdakwah di Kota Makkah dimana kondisi Kota Makkah saat itu penuh dengan kesyirikan dan kebodohan manusia (masa jahiliyyah).

Oleh karenanya banyak ayat-ayat wahyu yang diturunkan kepada beliau berisi ajakan atau seruan untuk mengesakan Tuhan agar manusia kembali kepada fitrah Islam yaitu mengesakan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan dengan harapan dengan keimanan yang baik ini maka manusia akan kembali ke jalan yang lurus. Selain ayat-ayat Al Qur’an yang difirmankan Allah SWT untuk disampaikan kepada umat. Diantaranya adalah surat yang singkat namun penuh dengan makna mendalam untuk mengesakan Tuhan yaitu QS. Al Ikhlas: 1–4:

 “Katakanlah, Dialah Alloh yang Esa (1), Dialah tempat bergantung (dari segala urusan dan segala sesuatu) (2). Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (3). Dan tidak ada (sesuatu makhluk pun) yang setara dengan Dia (4).”

Menurut mayoritas ulama, surat ini masuk dalam kategori surat Makiyyah, yaitu surat yang diturunkan di kota Makkah. Diturunkannya surat ini merupakan jawaban atas pertanyaan sementara kaum musyrikin yang ingin mengetahui bagaimana Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad. Hal ini karena kaum musyrikin menyangka bahwa Tuhan yang Masa Esa itu serupa dengan berhala-berhala yang disembah mereka. Namun ada juga yang berpendapat bahwa surat ini turun untuk memberikan jawaban pada orang-orang Yahudi di Madinah atas pertanyaan mereka terkait ajakan Nabi Muhammad.

Kata ahad dalam surat al-Ikhlas, terambil dari kata wahdah yang berarti kesatuan, seperti juga wahid yang berarti satu. Kata ahad bisa berfungsi sebagai nama dan bisa juga sebagai sifat. Jika ia berkedudukan sebagai sifat, maka ia hanya digunakan untuk Allah semata. M. Quraish Shihab menafsirkan kata ahad ini berfungsi sebagai sifat Allah, dalam arti bahwa Allah memiliki sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya. Berbeda dengan kata wahid sebagaimana dalam ayat lain yang menunjuk kepada keesaan Dzat-Nya disertai dengan keragaman sifat-sifat-Nya, seperti Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan sebagainya.  Kata ahad dalam surat al-Ikhlas mengacu hanya kepada keesaan Dzat-Nya saja, tanpa memperhatikan keragaman sifat-sifat tersebut.

Keesaan Allah SWT, menurut M. Quraish Shihab, mencakup beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  1. Keesaan Dzat. Hal ini mengandung pengertian bahwa seseorang harus percaya bahwa Allah SWT tidak terdiri dari unsur-unsur atau bagian-bagian. Karena bila Dzat Yang Maha Kuasaitu terdiri dari dua unsure atau lebih maka ini berarti Dia membutuhkan unsure atau bagian itu, atau dengan kata lain unsure atau bagian itu merupakan syarat bagi wujud-Nya dan ini bertentangan dengan sifat Ketuhanan yang tidak membutuhkan suatu apapun.
  2. Keesaan Sifat. Hal ini menuntunkan bahwa Allah SWT memiliki sifat yang tidak sama dalam substansi dan kapasitas-Nya dengan sifat makhluk, walaupun dari segi bahasa kata yang digunakan menunjuk sifat tersebut sama. Sebagai contoh, kata Rahiim merupakan sifat bagi Allah, tetapi juga digunakan untuk menunjuk rahmat/kasih sayang makhluk. Namun substansi dan kapasitas rahmat dan kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk-Nya. Allah Maha Esa di dalam sifatnya, sehingga tidak ada yang menyamai substansi dan kapasitas sifat tersebut.
  3. Keesaan dalam perbuatan. Hal mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik system kerjanya maupun sebab dan wujudnya, kesemuanya adalah hasil perbuatan Allah semata. Tetapi ini bukan berarti bahwa Allah berlaku sewenang-wenang, atau “bekerja” tanpa sistem. Keesaan perbuatan-Nya dikaitkan dengan hukum-hukum, atau takdir dan sunatullah yang ditetapkan-Nya.
  4. Keesaan Beribadah. Hal ini menuntukan kepada makhluk bahwa wajib untuk beribadah kepada Allah secara tulus. Keesaan beribadah ini sesungguhnya merupakan pewujudan dari ketiga keesaan di atas. Ketiga keesaan di atas merupakan hal-hal yang harus diketahui dan diyakini.

Tauhid selanjutnya akan menuntunkan bagi orang yang menyakininya kepada kehidupan yang bahagia, jauh dari murka Allah SWT. Sebaliknya, orang yang berbuat syirik, yang menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang lain, akan terjerumus dirinya pada perbuatan dosa besar dan dosa syirik ini merupakan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Sebagaimana firman dalam al-Qur’an surat an-Nisa/4: 48

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya, barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk selalu menjaga kemurnian aqidah/ketauhidan kita dengan sungguh-sungguh. Menjaga ketauhidan dapat kita lakukan dengan terus berupaya belajar untuk memahami Islam dengan benar, mengamalkan segala ajaran-ajaran Islam, menjaga keikhlasan, menjauhi perbuatan dosa baik kecil maupun besar, dan terpenting adalah bagaimana kita selalu memiliki kesadaran bahwa Allah SWT itu ada, di mana pun kita berada, dan mengetahui apapun yang kita lakukan. Kesadaran kehadiran Allah SWT dalam setiap ruang dan waktu dari kehidupan kita, maka niscaya akan menjadikan aktifitas apapun yang kita lakukan selalu dalam koridor kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT.

 

Miftahulhaq, Dosen AIK FKIK UMY

Categories: Teks Ceramah

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Popular Posts

Menyikapi Perbedaan

Manusia diciptakan Allah dalam kondisi yang berbeda-beda. Walaupun berasal dari ...

Iman dan Kemerdekaan

Muadz bin Jabal pernah ditanya seseorang, “manakah yang lebih baik ...

Kajian Dluha: Berbua

Kajian Dluha Fkik Umy 22 Desember 2012 Q.S. Al-Israa (17) ayat ...

UAS Kemuhammadiyah P

Soal Uas Kemuhammadiyahan Untuk Manajemen Dal Ip 12

UAS Kemuhammadiyahan

Soal Uas Kemuhammadiyahan Tahun 2012 Akuntansi

Sponsors