Mata Pena Universitas Terbaik

Dengan pena aku berdakwah untuk mengharap ridha Allah SWT

Seputar Istilah Inkarus Sunnah

Meyakini Sunnah rasulullah saw. sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur`an, bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan lagi. Disamping banyak ayat yang menunjukkan dan mengisyaratkan wajibnya mengambil Sunnah rasulullah, yaitu (QS. Al-Hasyr/59: 7), mentaati rasulullah berarti mentaati Allah (QS. An-Nisâ`/4: 80, QS. Ali Imran/3: 32,  QS. An-Nisâ`/4: 59), menjadikan rasulullah sebagai hakim (QS. An-Nisâ`/4 : 65, QS. An-Nisâ`/4 : 105), kafir terhadap rasulullah berarti kafir terhadap Allah (QS. An-Nisâ`/4 : 150-151) dan menjadikan rasulullah sebagai penjelas (mubayyin) (QS. An-Nahl/16 : 44). Juga hadits rasulullah saw., diantaranya pentingnya berpegang kepada dua perkara yang beliau wasiatkankan (Kitabullah dan Sunnah rasulNya) dan Ijma’ para shahabat selama hayatnya maupun setelah wafatnya. (lihat Keputusan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Aliran Yang Menolak Sunnah, tertanggal 16 Ramadhan 1403 H. / 27 Juni 1983 M.)

Namun demikian, masih ada di kalangan kaum muslimin yang masih meragukan bahkan menolaknya, baik secara terang-terangan ataupun secara diam-diam, menolak total (inkârus sunnah muthlaqan) ataupun sebahagiannya (inkâru biba’dhis sunnah). Dan ada pula yang melakukan penolakan dengan gaya yang lebih khusus, dimana Sunnah rasulullah ditolak dikarenakan tidak melalui jalur pengajaran imam ataupun guru (bighairi tharîqil manqûl) dalam sebuah kelompok tertentu. (lihat Ahmad Husnan dalam Harakah Inkârus Sunnah war Radd ‘Alaihâ; Gerakan Inkarus Sunnah dan Jawabannya)

Fenomena ini ternyata bukan fenomena lokal yang sekedar terjadi di suatu tempat atau negeri tertentu, melainkan fenomena global yang memang sengaja diprogram oleh kekuatan musuh Islam yang tidak menginginkan tegaknya ajaran agama berdasarkan al-Qur`an dan Sunnah rasulullah saw. dimana keduanya merupakan sumber hukum Islam yang disepakati (muttafaq ‘alaihi) bukan sumber hukum yang masih diperdebatkan (mukhtalaf ‘alaihi).

Kesimpulan tersebut, bukan pernyataan yang mengada-ada, melainkan fakta yang tidak dapat terbantahkan, dimana keterlibatan pihak asing berkedok lembaga ilmiah ataupun penelitian, kerapkali mewarnai dalam upaya pergeseran nilai-nilai Islam ini. Salah satunya pendangkalan pemahaman terhadap Sunnah dengan mengatakan “Islam cukup difahami dengan al-Qur`an saja.” Mereka beralasan karena al-Qur`an adalah firman Allah, sedangkan Sunnah adalah omongan manusia biasa. Sepertinya ucapan itu benar, padahal didalamnya  mengandung kebatilan (kalimatul haq urîda bihil bâthil)

Pemahaman seperti ini terus dikumandangkan oleh para tokoh dan pengikutnya, sehingga mereka benar-benar menjadi komunitas tersendiri dengan menamakan Jam’iyyah Ahlil Qur`ân. Mereka pun disebut Aliran Qur`âni, sehubungan keyakinannya hanya pada al-Qur`an saja. Dan disebut gerakan Inkârus Sunnah, karena secara otomatis merekapun mengingkari sunnah.

Akar Sejarah Munculnya Inkârus Sunnah

Secara akar sejarah, faham inkarus sunnah telah muncul seiring dengan kemunculan sekte-sekte dalam Islam. Pengingkaran sekte-sekte ini tidak lepas dari penilaian cacatnya sebagian shahabat karena dianggap tidak layak menjadi periwayat hadits (râwi) disebabkan fasiq, tidak adil, bahkan kafir. Pandangan semacam ini muncul dari golongan Khawârij.

Sementara golongan Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, mereka mengingkari sunnah yang diriwayatkan bukan dari golongan Ahlul Bait (menurut mereka). Tuduhan tidak adil, fasiq dan celaan lainnya, mereka arahkan kepada ‘Aisyah Ummul Mukminin, Umar bin Khathab, Utsman bin ‘Affan, Thalhah, Zubeir dan pribadi Abu Bakar ridhwânullâh ‘alaihim. Bahkan golongan Syi’ah Ghulât meyakini bahwa kenabian itu sebenarnya buat Ali, bukan Muhammad. Malaikat Jibril keliru menyampaikan wahyu, sebenarnya untuk Ali bukan untuk Muhammad. Namun demikian, adapula golongan Rafîdhah ini meyakini bahwa kenabian itu untuk Muhammad, adapun kekhalifahan untuk Ali bukan untuk Abu Bakar dan shahabat lainnya. Kelompok ini menghukumi pendukung Abu Bakar sebagai orang sesat dan berhak mendapat laknat Allah, akhirnya merekapun mengkafirkan para shahabat. Karena itulah, mereka tidak mau menerima sunnah sebagai dasar hujjah, karena diriwayatkan oleh orang-orang yang bergelimang dengan kekafiran.

Sedangkan golongan Mu’tazilah, memiliki pandangan bahwa hadits nabi atau sunnah yang tidak mencapai derajat mutawâtir, tidak dapat dijadikan hujjah agama artinya mereka menolak hadits ahad dengan alasan masih zhanni dan tidak qath’i. (Musthafa as-Sibâ’iy, As-Sunnah wa Makânatuhâ Fit Tasyrî’il Islâmi, 1405, hal. 168-169)

Diantara tokoh (yang disebut-sebut) mewakili terhadap penolakan hadits ahad di zaman ini adalah Mahmud Syaltut yang berpendapat dalil zhanni tidak dapat menetapkan aqidah (lihat Yazid Ibnu Abdul Qadir Jawaz, Kedudukan as-Sunnah dalam Syari’ah Islam, 2005, hal. 105)

Adapula kelompok Mu’tazilah yang bukan sekedar menolak hadits ahad, melainkan termasuk penolakannya terhadap hadits mutawâtir, bahkan menolak al-Qur`an dengan alasan karena bertolak belakang dengan akal.

Pandangan ini tercermin dari pandangan Qâdhi Abdul Jabbâr yang mengatakan akal merupakan peringkat pertama sebelum al-Qur`an, Sunnah dan Ijma’. Lalu Ibnu Nazham yang menyebutkan: “Tajamnya analisa akal dapat menghapus hadits-hadits nabi.” Juga ‘Amr bin ‘Ubaid yang berkomentar: “Jika aku mendengar rasulullah mengatakan begini dan begitu, maka aku akan menolaknya. Dan jika aku mendengar firman Allah begini dan begitu, maka aku katakan bukan seperti itu yang aku pahami. (lihat Abu Lubabah Husein, Pemikiran Hadits Mu’tazilah, hal. 62, Ibnu Abu Syahbah, Difa’ ‘anis Sunnah, hal. 210-211 dan Daud Rasyid, Sunnah di Bawah Ancaman, hal. 109-110)

Lahirnya Gerakan Inkârus Sunnah Kontemporer

Menurut M. Amin Djamaluddin dalam bukunya Bahaya Inkar Sunnah, menyebutkan bahwa pengingkaran terhadap sunnah atau hadits merupakan alternatif para orientalis dalam mempreteli Islam dari dalam. Faham ini muncul dari hasil analisa seorang orientalis Yahudi Honggaria Goldziher (1850-1921). Pada usia 19 tahun, yaitu pada tahun 1869 Goldziher dilantik menjadi Doctor dalam bidang Islamologi di Jerman dengan bimbingan Prof. Rodiger. Tahun 1873-1874 mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas Al-Azhar  Cairo guna memperdalam pengetahuan Islam. Aktivitasnya, menjadi sekretaris Masyarakat Israel Modern selama 30 tahun (1876-1904) dan mengajar Filsafat Agama Yahudi di Jewish  Theological Seminary. (M. Amin Djamaluddin, 2000, hal. 15).

Setengah abad berikutnya, buku Muhammadenische Studien (dalam bahasa Jerman) karya Goldziher yang mengupas tentang penelitian hadits, dipublikasikan kembali oleh Schat (lihat Huda Ali dalam Gerakan Islam Kontemporer di Indonesia, 1991, hal. 149)

Banyak murid-murid Goldziher, langsung ataupun tidak langsung yang menjadi penyebar dan sekaligus pembela faham Inkârus Sunnah, baik di Timur ataupun di Barat. Dan kini pemahaman  ini menyebar di kalangan akademisi melalui karya-karyanya.

Muhammad Musthafa A’zhami dalam Dirâsat fil Hadîtsin Nabawi Wa Târikh Tadwînih menyebutkan, diantara ‘tokoh-tokoh pemikir’ kaum muslimin yang dipengaruhi faham Inkârus Sunnah adalah Abu Rayyah (penulis Adhwa` ‘Alâs Sunnah al-Muhammadiyyah) di Mesir, yang menyandarkan pendapatnya kepada Muhammad Abduh. Diantara ucapannya adalah “Segala sesuatu selain al-Qur`an adalah penghalang antara al-Qur`an, ilmu dan amal.” Lalu Taufiq Sidqi yang mengatakan ‘Islam adalah hanyalah al-Qur`an semata’, bahkan Muhammad Rasyid Ridha turut mendukungnya, namun mencabutnya kembali. Kemudian Ahmad Amin (penulis Zhuhrul Islâm dan Fajrul Islâm) dan Ismail Adham yang meragukan keautentikan Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. (Musthafa A’zhami (terj.), 1994, hal. 46-49)

Bahkan Ali Hasan Abdul Qadir, dengan arogan dia mengatakan: “Aku belajar di al-Azhar sekitar 14 tahun lamanya, namun tidak berhasil memahami apa Islam itu. Aku memahami Islam selama studi di Jerman (Musthafa as-Siba’iy dalam M. Amin Djamaluddin, hal. 16)

Tokoh dunia Arab lainnya adalah Husein Ahmad Amin, Sayyid Shaleh Abu Bakar dan Ahmad Zaki Abu Syadi.

Adapun di Benua India, disamping Mirza Ghulam Ahmad (sang nabi palsu), muncul pula Sayyid Ahmad Khan, Syirag Ali, Abdullah al-Jukralawi, Muhibbul Haq al-Azhim Abadi, Nadzir Ahmad ad-Dahlawi, Ahmad Din al-Amritsari, Inayatullah al-Masyriqi, al-Qadhi Muhammad Syafi, Aslam al-Jyrajafuri dan Ghulam Ahmad Parwez yang mendirikan Jam’iyyah Ahlil Qur`an. (lihat Shalahuddin Maqbul Ahmad dalam Jawabi’ fi Wajhis Sunnah Qadîman wa Hadîtsan; (terj.) Bahaya Mengingkari Sunnah)

Di Amerika dan Eropa, gerakan Inkârus Sunnah dikomandani oleh Rasyad Khalifah yang mendakwakan bahwa “ Hadits-hadits itu adalah buatan Iblis, mempercayai hadits berarti mempercayai omongan iblis.” (M. Amin Djamaluddin, hal. 18)

Seperti tak mau ketinggalan, di Asia Tenggara (khususnya Indonesia dan Malaysia) dihebohkan dengan munculnya buku Hadits Are Evaluation, karya Kasim Ahmad (Malaysia) diterjemahkan menjadi Hadits Ditelanjangi (Sebuah Reevaluasi Mendasar Atas Hadits) yang diantarkan Hassan Hanafi (Profesor Filsafat Universitas Cairo). Lalu munculnya Tafsir al-Qur`an karya Nazwar Syamsu, buku Muhammad Irham Sutarto dan buku-buku Dalimi Lubis serta kaset-kaset Inkârus Sunnah produksi PT. Ghalia Indonesia.

Penutup

Dari semua pemahaman gerakan Inkârus Sunnah, baik yang mengingkari secara muthlaq sunnah rasulullah saw., mengingkari sebagian sunnah ataupun mengingkari sunnah karena tidak menyandarkan kepada imam atau amir kelompok (manqûl ‘alal amîr), semuanya merupakan pengingkaran yang nyata kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dan rasulNya. Wa makarû  wa makarallâh Wallâhu Khairul Mâkirîn

Categories: Lain-Lain

PROFIL AKU

sumarito


Popular Posts

“Matahari Terbit

[caption id="attachment_198" align="aligncenter" width="599" caption="PIMNAS UMY"][/caption] PIMNAS 2012 - Kampus Universitas ...

Mewaspadai Bahaya In

Seputar Istilah Inkarus Sunnah Meyakini Sunnah rasulullah saw. sebagai sumber hukum ...

Kiat-Kiat Menumbuhka

Tawadhu’ merupakan kebalikan dari sifat takabbur, dimana ia memiliki banyak ...

Perbedaan Bukan Ber

Menarik untuk ditafakkuri, nasihat-nasihat emas para ulama ketika memaparkan penjelasan ...

Sebab-Sebab Terjadin

Perbedaan Merupakan Sunnatullâh Hakikatnya, perbedaan merupakan anugerah Allah ‘Azza wa ...

AQIDAH ISLAM: Penger

AQIDAH ISLAM: Pengertian, Sumber dan Karakteristik, Sebab-Sebab Penyimpangan Serta Solusinya. Pengertian Aqidah Sebagaimana ...