Sebab-Sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat Para Ulama

Monday, 21 Nov 2011 By: sumarito

Perbedaan Merupakan Sunnatullâh

Hakikatnya, perbedaan merupakan anugerah Allah ‘Azza wa Jalla yang diberikan kepada manusia. Dialah yang mengetahui rahasia di balik perbedaan yang dikehendakiNya. Tak terkecuali ‘perbedaan pendapat’ yang menjadi pembahasan bab ini. Dalam al-Qur`ân al-Karîm, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan sekiranya Rabbmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia ummat yang satu, namun mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Dan kalimat (keputusan) Rabbmu telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (Q.S. Hûd/11: 118-119)

Demikian pula rasûlullâh saw. pernah memaparkan kepada para shahabatnya, dimana beliau mengisyaratkan akan banyaknya terjadi perbedaan pendapat. Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertakwa pada Allah, patuh dan taat sekalipun yang memerintah seorang budak sahaya. Sesungguhnya siapa saja yang hidup (di kala aku sudah tiada), maka kalian akan menyaksikan perbedaan pendapat yang sangat banyak….” (al Imâm an-Nawâwi, Syarhul Arba’în an Nawâwiyyah, bab Wujûbu Luzûmis Sunnah, hal. 187).

Maka sangatlah wajar, apabila para ulama menyebutkan perbedaan pendapat itu merupakan sunnatullâh atau sunnah rabbâniyyah, dimana kaum muslimin tidak perlu menghindarinya. Bahkan sebaliknya dituntut untuk lebih mengetahui akar persoalannya, terlebih-lebih dalam memahami permasalahan agamanya.

Mengapa Terjadi Perbedaan?

Dalam memahami ajaran agama, sudah tentu tidak akan lepas dari persoalan bagaimana seseorang memahaminya dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Demikian halnya fiqih yang memiliki karakter ‘peluang memiliki perbedaan’ dimana seorang ulama akan memiliki pemahaman sesuai dengan apa yang difahaminya dan dia akan menyimpulkan dengan kesimpulan yang sesuai dengan standar ketetapan yang diakuinya pula. Ini semua terjadi pada para imam madzhab, dimana mereka menyimpulkan hukum sesuai dengan kriterianya masing-masing. Inilah yang membuat kesimpulan hukum mereka yang berbeda-beda. (Lihat Syah Waliyullâh ad Dahlawi dalam Al-Inshaf fî Bayâni Asbâbil Ikhtilâf dan Prof. DR. Ali Abdul Wahid Wafi dalam Perkembangan Madzhab Islam (terj.) Rifyal Ka’bah M.A.)

Untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya perbedaan, sebenarnya para ulama telah memberikan pendapat yang sangat luas, seperti yang telah dilukiskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Raf’ul Malâm ‘Anil A`immatil A’lâm (sebuah buku yang mengupas bagaimana sikap para ulama dalam menghadapi perbedaan pendapat). Begitu pula kitab-kitab lainnya yang menerangkan pembahasan yang sama, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat itu diantaranya:

  1. Perbedaan qirâ`at, yaitu perbedaan yang terjadi dikarenakan beragamnya cara melafalkan ayat al-Qur`ân oleh para imam ahli Qirâ`at.
  2. Perbedaan dalam pengetahuan hadîts, yaitu perbedaan yang terjadi karena tidak meratanya penyampaian hadits antara yang sudah menerima, belum menerima, bahkan tidak menerima.
  3. Perbedaan dalam menilai keshahîhan hadîts, yaitu perbedaan yang disebabkan karena tidak sama dalam menilai cacat (jarh) dan adil (ta’dil)nya seseorang yang meriwayatkan hadîts.
  4. Perbedaan dalam menafsirkan teks (nash), yaitu perbedaan yang terjadi dikarenakan pengambilan substansi tasyrî’ yang berbeda.
  5. Adanya lafazh isytirâk, yaitu perbedaan yang disebabkan karena lafazh yang mengandung makna lebih dari satu.
  6. Adanya dalil kontradiktif, yaitu perbedaan dalam menilai dalil yang kontradiktif antara yang mengukuhkan dan yang menganggap perlu adanya tarjih dari dalil lain yang menguatkan.
  7. Perbedaan qawâ’id ushûliyyah, yaitu perbedaan qaidah-qaidah ushul masing-masing ulama yang tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya.
  8. Adanya keterbatasan teks (nash),  yaitu perbedaan yang disebabkan karena tidak adanya nash dalam masalah tertentu sehingga memunculkan pandangan lain seperti qiyâs dan lain-lainnya.

(Lihat Muhammad Abdul Ghafar Asy-Syarîf dalam Al-Furqah Bainal Muslimîn Asbâbuhâ wa ‘Ilajuhâ dan DR. Ahmad Ala’ Da`bas dan Husain Abdul Majid Abul A’la dalam Hidâyatul Anâm Lima’rifati Asbâbi Ikhtilâfis Shahâbât wal Fuqahâ` fil Ahkâm)

Sumber lain menyebutkan, terjadinya perbedaan ini dikarenakan seorang ulama lupa dalam membawakan hadîts, memahami hadîts tidak sebagaimana mestinya, tidak mampu membedakan mana yang nâsikh dan mana yang mansûkh serta berdalil dengan hadîts yang lemah. (Lihat Muhammad Shâlih al Utsaimîn dalam Al-Khilâf Bainal ‘Ulamâ`).

Bolehnya Ikhtilâf dan Tercelanya Iftirâq serta Tanâzu’

Di samping ayat al-Qur`ân al-Karîm yang menyerukan kewajiban wajibnya kembali kepada Allah dan rasul-Nya apabila terjadi perselisihan pendapat (Q.S. An-Nisâ`/4:59), kaum muslimin pun diwanti-wantikan untuk memperhatikan larangan berbantah-bantahan (tanâzu’) (Q.S. Al-Anfâl/8: 46) dan berpecah setelah datangnya keterangan yang jelas (tafarraqû min ba’di mâ jâ`ahumul bayyinât) (Q.S. Ali Imrân/3: 105)

Semuanya itu merupakan rambu-rambu yang mengatur perjalanan ikhtilâf agar tidak terjadi tanâzu’ dan iftirâq yang diakibatkan karena keterlibatan hawa nafsu yang dapat melahirkan fanatisme. Dalam hal ini Muhammad Rasyid Ridha berkomentar: sebab-sebab perpecahan kaum muslimin ada empat, yaitu:  disebabkan sengketa politik dan kekuasaan (as-siyâsah wat tanâzu’ ‘alal muluk), fanatik ras dan keturunan (‘ashâbiyyatul jins wan nasab), fanatik madzhab baik dalam hal ushûl maupun furû’ (‘ashâbiyyatul madzâhib fil ushûl wal furû’) dan berkomentar tentang urusan agama dengan mengandalkan akal semata (al qaulu fid dîni birra`yî). Lalu beliau menambahkan, propaganda musuh Allah tak kalah pentingnya dalam merobohkan keutuhan kaum muslimin (dasâisu min a’dâi hâdzad dîni wa kaiduhum) (Al Manâr VIII/217 dalam At Tibyân fî Ma’nal Jamâ’ah was Syahâdah wal Bai’at wal Khilâfah karya H.A. Zakaria al Kurkhi hal. 26 dan DR. Nashir Abdul Karîm al Aql dalam Al Iftirâq Mafhûmuhu Ashbâbuhu: Subulul Wiqâyati fîhi).

Untuk mendapatkan fakta yang akurat, bagaimana rasûlullâh saw. sangat menghargai ikhtilâf, nampak jelas sikapnya ketika menyikapi perselisihan shahabat dalam kasus larangan shalat sebelum sampai di perbatasan Bani Quraizhah pada waktu perang Ahzâb. Rasûlullâh saw. berkata: “Janganlah kalian menunaikan shalat ‘ashar sebelum sampai di perbatasan Bani Quraizhah.” Ternyata hingga matahari terbenam, kaum muslimin belum juga sampai di Bani Quraizhah. Akhirnya, sebagian mereka shalat di jalan dan sebagian yang lain tidak. Namun rasûlullâhh h saw. tidak menyalahkan keduanya. Golongan pertama berpegang kepada ‘ibaratun nash’ dan golongan yang kedua beristinbath dari nash yang khusus.

Adapun pelajaran yang dapat diambil dari sikap rasûlullâh saw. adalah : selama perbedaan pendapat (ikhtilâf) itu dalam rangka ijtihad yang sehat, maka orang boleh mengikuti salah satu pendapat itu. Yang jelas, kedua pendapat itu didorong oleh rasa keimanan, ketakwaan dan keridhaan-Nya. (DR. Thaha Jabir Fayyadh al ‘Ulwani dalam Adâbul Ikhtilâf fil Islâm (terj.) hal. 34)

Tanpa bermaksud menjadikan hadîts dha’îf ‘ikhtilâfu ummati rahmatun’ sebagai hujjah agama, semoga rahmat Allah ‘Azza wa Jalla tetap turun kepada hamba-hamba-Nya dan kita lebih pandai mengambil pelajaran dari sikap para ulama dalam menyikapi perbedaan dan perselisihan pendapat.

 

«

»

One Response to “Sebab-Sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat Para Ulama”


  1. eyvan says:

    Pada saat sekarang ini, kami menganalisa penyebab terjadinya ikhtilaf dalam tubuh umat Islam sbb :
    1. Kehilangan pola pikir Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, yaitu pola pikir ruang.
    2. Memperlakukan sejarah seperti seorang Marxist.
    3. Membangun pola pikir piramida seperti :
    a.Mengambil sebuah tafsir seorang ulama sebagai suatu paket utuh tanpa perlu perbandingan dan koreksi.
    b. Hilangnya musyawarah.
    c. Tidak memberi tempat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
    4. Menjadikan pola politik kekuasaan sebagai panglima (Politik adalah panglima).
    5. Ketidaktegasan pemberlakuan hukum .
    6. Menjadikan Al Qur’an sebagai sesuatu yang asing bagi perkembangan kebudayaan lokal yang dianggap hanya memaksakan pakaian gamis, memelihara janggut dan main ketimpring (arabisasi).
    7. Meragukan kebenaran Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW salah satunya dengan melakukan pemisahan antara Islam dengan negara dan mengakui adanya pembawa risalah yang lain setelah Rasulullah Muhammad SAW.

    Wallahu’alam bissawab.


Leave a Reply