Mata Pena Universitas Terbaik

Dengan pena aku berdakwah untuk mengharap ridha Allah SWT


Tawadhu’ merupakan kebalikan dari sifat takabbur, dimana ia memiliki banyak pengertian; bersikap tenang, rendah hati, sederhana, bersungguh-sungguh menjauhi sifat sombong dan membangkang, disamping memiliki arti tunduk dan taat melaksanakan yang haq dan bersedia menerima kebenaran dari manapun datangnya.

Dalam al Qur’ân Allah SWT menjelaskan ada beberapa jenis sikap tawadhu’; pertama, tawadhu’ kepada perintah Allah dan RasulNya (QS. An Nûr/24:51), kedua, tawadhu’ kepada sesama manusia (QS. Asy Syu’ârâ/26:251) dan ketiga, tawadhu’ kepada kebenaran (QS. Al Hadîd/57:16). Semua itu merupakan sarana yang dapat mengantarkan pelakunya menuju surga, karena hanya orang-orang yang taat kepada perintah Allah dan RasulNya, tawadhu’ sesama manusia dan setia terhadap kebenaran yang dapat masuk ke dalamnya.

Adapun orang-orang takabbur, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak akan pula mereka masuk surga (QS. Al A’raf/7:40). Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat takabbur meskipun sebesar biji sawi”. (HR. Muslim I/56 dari Abdullâh bin Mas’ûd RA).

Disamping itu, Rasulullah SAW menyerukan agar umatnya senantiasa memelihara sikap tawadhu’

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْعِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling tawadhu’ sehingga seseorang tidak akan berbuat sombong dan menzhalimi orang lain”. (HR. Muslim II/651 dar ‘Iyâdl bin Himâr).

Diterangkan pula, bagaimana ketawadhu’an Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari; sikapnya ketika menyapa anak kecil, khidmah beliau kepada istrinya dalam pekerjaan rumah tangga, penghargaan atas hadiah apapun yang diberikan kepadanya dan sikap-sikap kerendah hatian beliau yang lainnya. (Abdurrahmân Hasan al Maidâni, al Akhlâqul Islâmiyyah wa Asâsuhâ, juz I, hal.672-673).

Untuk menghindari sikap takabbur dan menumbuhkan sifat tawadhu’, Sayyid Muhammad Nuh dalam Âfât ‘Alâth Thârîq memberikan beberapa terapi, diantaranya: mengingat kembali bahaya yang ditimbulkan karena sifat takabbur, sering menengok orang sakit atau orang yang sedang sakâratul maut, menghindari pertemuan dengan orang-orang yang sombong dan lebih dekat dengan orang-orang yang rendah hati, menjalin kebersamaan dengan kaum dhu’âfâ, merenungkan apa yang telah di dapat hari ini dan dari siapa itu semua, merenungkan riwayat bagaimana gelapnya orang-orang takabbur semisal Namruz, Fir’aun, Hâmân, Abû Jahal dan Ubay bin Ka’ab, giat menghadiri majlis tazkiyyatun nafs, giat melakukan instrosfeksi diri dan selalu memohon pertolongan Allah (Sayyid Muhammad Nuh, 218-222).

Categories: Lain-Lain

PROFIL AKU

sumarito


Popular Posts

“Matahari Terbit

[caption id="attachment_198" align="aligncenter" width="599" caption="PIMNAS UMY"][/caption] PIMNAS 2012 - Kampus Universitas ...

Mewaspadai Bahaya In

Seputar Istilah Inkarus Sunnah Meyakini Sunnah rasulullah saw. sebagai sumber hukum ...

Kiat-Kiat Menumbuhka

Tawadhu’ merupakan kebalikan dari sifat takabbur, dimana ia memiliki banyak ...

Perbedaan Bukan Ber

Menarik untuk ditafakkuri, nasihat-nasihat emas para ulama ketika memaparkan penjelasan ...

Sebab-Sebab Terjadin

Perbedaan Merupakan Sunnatullâh Hakikatnya, perbedaan merupakan anugerah Allah ‘Azza wa ...

AQIDAH ISLAM: Penger

AQIDAH ISLAM: Pengertian, Sumber dan Karakteristik, Sebab-Sebab Penyimpangan Serta Solusinya. Pengertian Aqidah Sebagaimana ...