Ilmu-Ilmu Gaib Dalam Perspektif Islam

Monday, 28 Nov 2011 By: sumarito

Ilmu yang satu ini adalah satu ilmu yang cukup banyak peminatnya. Sebagian orang ada yang bersungguh-sungguh mencarinya, mereka datang kepada para dukun atau paranormal untuk berguru pada mereka, tentu disertai dengan membayar mahar kepada sang dukun. Ilmu-ilmu semacam itu di antaranya, ilmu tenaga dalam, ilmu menerawang alam gaib, ilmu pellet, ilmu kebal, ilmu santet, ilmu sihir dan sejumlah ilmu gaib lainnya. Setelah memiliki ilmu-ilmu semacam itu, seseorang akan menjadi manusia super, ia kebal tidak tembus benda tajam, tidak mempan dibakar api, bisa menghilang dan terbang, melihat jin dan keahlian-keahlian gaib lainnya. Luar biasa.

Konon, untuk dapat menjadi manusia super tidaklah mudah, seseorang harus bekerja keras melakukan tirakat dan ritual-ritual tertentu lainnya. Orang yang ingin mendapatkan ilmu semacam ini biasanya akan berpuasa, tapi puasanya berbeda sebagaimana lazimnya dilakukan kaum Muslimin. Puasa yang mereka lakukan seperti “puasa mutih”, seseorang dituntut untuk berpuasa dan berbuka hanya dengan nasi putih saja, tanpa yang lainnya. Ada juga puasa bernama “pati geni”, puasa yang dilakukan sehari semalam dengan keharusan berdiam diri di sebuah ruangan tanpa berkomunikasi dengan orang lain.

Jika dirunut di dalam ajaran Islam, sebenarnya Islam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk mempelajari ilmu semacam itu. Rasulullah Saw sebagai utusan Allah hanya mewajibkan kepada umatnya untuk menjalankan syari’atnya, dan syari’at itu sangat jauh sekali dengan hal-hal semacam itu.

Kalau pendapat tentang adanya ilmu-ilmu gaib memang benar adanya, maka yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dahulu Rasulullah dan para sahabatnya tidak menggunakannya? Mengapa para sahabat sampai berguguran di medan jihad? Sedemikian banyak di antara mereka yang putus tangannya, ada yang mati kena panah, tombak, pedang dan lainnya. Mengapa tidak ada satu pun yang mempelajari ilmu-ilmu gaib? Dan mengapa Rasulullah Saw tidak memrintahkan para sahabat untuk mempelajari ilmu pernafasan, tenaga dalam, kekebalan dan sejenisnya?

Hal-hal gaib memang sering kali terjadi pada diri Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Semua itu merupakan ta’yidullah (sokongan dari Allah) kepada hamba-Nya karena mereka memperjuangkan agama-Nya. Dan sama sekali bukan dengan cara dipelajari, melainkan semata-mata pertolongan yang datang begitu saja. Dan hal ini dikatakan sebagai mukjizat Nabi Saw dan karamah para sahabat.

Selain itu, dalam literature fiqih, ilmu-ilmu itu tidak pernah didapat. Bahkan pengalaman mengatakan bahwa jenis ilmu seperti itu umumnya menggunakan kekuatan magis yang notabene adalah kekuatan jin dan sihir. Karena logikanya bahwa orang yang secara ijma’ disepakati sangat dekat dan dikasihi Allah, bahkan tidak diberikan karunia ilmu-ilmu gaib. Bahkan Rasulullah Saw sendiri yang merupakan makhluk yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah, tidak juga diberikan ilmu seperti itu. Bila demikian, lalu bagaimana orang-orang biasa mendapatkan kehebatan seperti itu? Padahal dibandingkan dengan Rasulullah Saw dan para sahabat, tentu kedudukan mereka di sisi Allah tidak ada apa-apanya.

Jawaban atas masalah ini sungguh jelas dan nyata. Mereka mendapatkan keajaiban itu tidak lain dan tidak bukan, kecuali melalui perantaraan jin dan sihir. Apalagi fenomena yang terjadi di masyarakat mengatakan bahwa ilmu itu bisa diajarkan tapi harus dengan menyetor uang tertentu. Jelas ini merupakan perbuatan syirik yang justru akan menyeret ke jalan yang menyimpang.

Di sinilah syaitan memainkan peran liciknya. Terkadang untuk mengelabuhi calon mangsa, dia membuat aksesoris yang oleh mata awam kelihatan islami, misalnya seseorang diminta puasa, menuliskan ayat Al-Qur’an pada benda tertentu dan lainnya. Padahal bila kita sedikit lebih paham masalah syari’ah, saat itu juga kita akan mengatakan bahwa perbuatan itu melanggar aturan syari’ah dan syirik.

Modus Operandinya

Untuk mendapatkan beragam keajaiban dan fasilitas ilmu gaib, seperti ilmu pelet, atau santet dan sebagainya, maka manusia diminta melakukan beragam dosa dan kemaksiatan tingkat tinggi. Misalnya, melakukan berbagai macam jenis dosa syirik kepada Allah, seperti memberikan sesajen kepada jin atau ruh, atau memasang jimat, susuk, penglaris, meminta kekuatan kepada kuburan atau arwah dan seterusnya.

Selain itu juga dengan melakukan beragam dosa besar. Seperti bertapa di gua atau tempat-tempat angker, membuat lafadz do’a-do’a yang mungkar dan bertentangan dengan apa yang diajarkan Rasulullah Saw. Termasuk menulis ayat Al-Qur’an dengan cara menghina, seperti menuliskannya dengan terbalik-balik, atau salah penulisan, bahkan ada yang menulisnya dengan darah haidh. Pendeknya, untuk mendapatkan kemampuan sihir itu, syetan dan jin akan meminta manusia melakukan beragam kejahatan dan kemusyrikan. Agar manusia bisa menjadi teman sejati di dalam neraka.  

Berpuasa yang sering dijadikan syarat ternyata sering dengan cara yang melanggar, misalnya puasa wishal (bersambung tanpa buka), atau puasa aneh-aneh seperti puasa mutih, pati geni, ngepel dan lain-lain. Tulisan ayat Al-Qur’an yang kelihatannya baik sering justru merupakan penghinaan atas ayat Al-Qur’an itu sendiri. Misalnya menuliskan ayat itu dengan darah haidh, atau pada tapal kuda, atau salah tulisannya dan lain sebagainya. Aksesoris inilah yang sering menipu orang awam, karena dengan hal itu dia menganggap perbuatan ini islami, padahal justru syirik dan kufur.    

Kosekuensi Bagi Pelakunya

Para ulama mengatakan bahwa dalam sistem hukum Islam yang tegak, orang yang melakukan atau mengajarkan ilmu gaib (seperti sihir dsb) wajib dibunuh, karena sihir adalah kemungkaran. Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata bahwa para ahli fiqih berbeda pendapat tentang hukum tukang sihir muslim dan dzimmi. Imam Malik berpendapat bahwa seorang muslim apabila menyihir sendiri dengan suatu ucapan yang berwujud kekafiran maka ia dibunuh, tidak diminta taubatnya, dan taubatnya tidak diterima karena itu adalah perkara yang dilakukannya dengan senang hati seperti orang zindiq dan berzina. Juga karena Allah menamakan sihir dengan kekafiran di dalam firman-Nya. (Lihat Imam Al-Qurthubi, Tafsir Ahkam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 102)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata penyihir itu dia tidak kafir, tetapi hukumnya dibunuh, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Syafi’I dan Imam Ahmad, keduanya berkata, “Telah menceritakan kepada Sufyan ibnu Uyainah dari Amr bin Dinar bahwa ia mendengar Bajjah bin Abdah berkata: Umar bin Khattab memutuskan agar setiap tukang sihir lelaki atau pun wanita agar dibunuh. Ia (Bajjah) berkata, ‘kemudian kami membunuh tiga tukang sihir’. (Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, surah Al-Baqarah ayat 102).

Telah shahih pula dari Hafshah Ummul Mu’minin, bahwasanya ia memerintahkan untuk membunuh budak wanitanya yang telah melakukan sihir terhadap dirinya, lalu wanita itu pun dibunuh tanpa diminta untuk bertaubat. (Lihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Tukhfatul Ikhwan biajwabati muhimmah tata’allaq bi arkanil Islam, terj, hal. 73)

Imam Syafi’I berkata bahwa tukang sihir tidak dibunuh kecuali jika mengakui bahwa dia membunuh dengan sihirnya.

Lihatlah pendapat-pendapat para ulama kita tehadap ilmu gaib semacam sihir, santet dan sebagainya. Mereka semua sepakat mengharamkan ilmu semacam itu, karena hal itu dapat menimbulkan kekafiran, kemusyrikan bagi pelakunya dan membahayakan bagi orang lain.

Akhirnya, penulis menyarankan kepada kaum muslimin yang hendak mempelajari ilmu-ilmu gaib sebaiknya mengurungkan niat untuk mempelajari ilmu-ilmu seperti itu dan segeralah bertobat. Meski tujuannya mulia untuk kebaikan, namun caranya menyimpang dari ajaran Islam, maka hal itu menjadi haram. Bila kita ingin menolong orang dan bisa menyembuhkan, maka lebih baik kita kuliah kedokteran dan mengambil spesialis, lalu buka praktek. Sedangkan bila kita belajar ilmu-ilmu gaib seperti ini, iman kita akan tergadaikan dan keislaman kita akan batal dengan sendirinya. Na’udzubillahi min dzalik.

«

»


Leave a Reply

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE