Mata Pena Universitas Terbaik

Dengan pena aku berdakwah untuk mengharap ridha Allah SWT


قال الله تعالى : … يقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُمْ مِنْ إِلهٍ غَيْرُهُ …

“Wahai kaumku, sembahlah Allah ! Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya (Q.S. Al-Arâf/7 : 59, 65,73, 85)

Seruan tersebut disampaikan oleh Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Syu’aib dan para Nabi ‘alaihimussalam kepada kaumnya masing-masing. Demikian pula Rasulullâh shalallâhu ‘alaihi wa sallam, 13 tahun lamanya menyeru kaumnya di Makkah, mengajak bertauhid dan meluruskan aqidah mereka. Hal ini dilakukan semata-mata karena tauhid merupakan asas utama dalam menegakkan agama (iqâmatud Dien). Sungguh para penyeru da’wah (du’ât) hendaknya mengutamakan “Da’wah Tauhid” dan membenahi keyakinan kaumnya (Islâhul ‘Aqidah). Kemudian melanjutkannya dengan urusan-urusan agama (umûrud dien) lainnya

Para ulama’ memaparkan akan hal ini sangat banyak sekali. Semua itu menunjukkan betapa “Aqidah Tauhid” merupakan seruan yang utama dan pertama. Diantaranya adalah Syeikh Abu Bakar Al-jazâiry memberikan definisi ‘Aqidah dalam bukunya “’Aqidatul Mu’min” sebagai berikut : “Sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan aqal, wahyu dan fithrahnya, kebenaran itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini kesaksian dan kebenarannya (secara pasti) dan di tolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu”. (Al-Jazâiry, hal 23)

Lebih rinci lagi, Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullâh Al-Fauzan menjelaskan dalam  bukunya “Aqîdatut Tauhîd” bahwa Aqidah berasal dari kata al-‘Aqd (العقد)     yang berarti pengikatan. Kalau dikatakan “اعْتَقَدْتُ كَذَا” (saya ber’itiqad begini), maksudnya saya mengikat hati terhadap hal tersebut. Jika dikatakan : Dia memiliki aqidah yang benar, berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.” (al-Fauzan, hal. 5)

Adapun menurut syara’ yaitu beriman kepada Allâh ‘Azza wa Jalla, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, kepada hari akhir, serta kepada qadar baik ataupun buruk. (al-Fauzan,ibid).

Demikian pula Dr. Nashir Abdulkarim Al-Aql dalam bukunya “Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah”, menyimpulkan bahwa yang dimaksud “‘Aqidah Islamiyah” adalah :

“ Keimanan yang bersifat pasti kepada Allâh ‘Azza wa Jalla dengan segala pelaksanaan kewajiban bertauhid dan taat kepada-Nya, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadar dan seluruh perkara ghaib (metafisika) yang telah ditetapkan adanya, serta seluruh berita qath’i (jelas ada dalil) baik secara ilmiyah maupun amaliyah (Abdulkarim al-Aql, hal.5)

Berikutnya, bagaimana seseorang dapat mengamalkan sikap beraqidah secara ilmiyah ataupun ‘Amaliyah ?, dan mana saja yang termasuk dalam keduanya ?. Penyusun buku Fathul Majid Lisyarhi Kitabit Tauhid memberikan jawabanya sebagai berikut :

1.   Tauhid ilmi i’tiqadi, disebut juga Tauhid Filma’rifat wal itsbât, sebahagian menyebutnya Tauhidul Ilmi al Khabari. Yaitu :

Tauhid yang berkaitan dengan pemahaman dan pengenalan terhadap Allâh ‘Azza wa Jalla, Asma’ dan shifat, perbuatan-perbuatan-Nya, serta qadla dan qadar-Nya. (sikap beraqidah semacam ini, lebih umum para ulama menyebutnya dengan Tauhid Rububiyah Asmâ’ wash-shifât)

2.   Tauhid al-Irâdi at-Thalabi, disebut juga Tauhîd Fit-Thalabi Wal-Qashdi, yaitu : Tauhid yang menjadi kehendak dan tuntutan Allâh ‘Azza wa Jalla terhadap manusia, agar manusia mengabdikan diri kepada-Nya dalam bentuk amalan-amalan yang diperintahkan-Nya(‘Amaliyyâh). (Sikap beraqidah semacam ini, lebih umum para ulama’ menyebutnya dengan Tauhid Uluhiyah atau ilahiyah ; karena berhubungan erat dengan pengabdian hamba terhadap Rabb-Nya disebut juga dengan Tauhid Ubudiyah). (lihat Abdurrahman ‘Alu as-Syaikh, jilid 1 hal. 79-80)

Ringkasnya, seseorang tidak dapat menunaikan Tauhid Uluhiyah dengan sempurna sebelum meyakini Tauhid Rububiyah serta Asmâ’ dan shifat-Nya. Kesempurnaan Tauhid dapat terjadi apabila keyakinan i’tiqadiyyah (keimanan/’aqidah) dapat seiring dan sejalan dengan keyakinan ‘Amaliyyah (Praktek pengabdian/Ibadah).

Sejauhmana keterkaitan keduanya dapat berpadu ?, Allah ‘azza wa jalla melukiskan dalam ayat-Nya :

…فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَ لاَ يُشْرِكْ بِعِبَادِتِهِ أَحَداً

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-Nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya”. (Q.S. Al-Kahfi / 18:110).

Al-Hâfizh Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa syarat diterimanya sebuah amal adalah hendaknya seseorang ikhlash (semata-mata mengharap ridlo Allâh dan bertemu wajah-Nya) dan beramal shalih (benar dan mengikuti syari’ah Rasulullâh salallâhu ‘alaihi wa sallam) (Ibnu Katsir, jilid 3 hal. 1753).

Wallahu a’lam bishawab.

Categories: Aqidah, Tafsir

PROFIL AKU

sumarito


Popular Posts

“Matahari Terbit

[caption id="attachment_198" align="aligncenter" width="599" caption="PIMNAS UMY"][/caption] PIMNAS 2012 - Kampus Universitas ...

Mewaspadai Bahaya In

Seputar Istilah Inkarus Sunnah Meyakini Sunnah rasulullah saw. sebagai sumber hukum ...

Kiat-Kiat Menumbuhka

Tawadhu’ merupakan kebalikan dari sifat takabbur, dimana ia memiliki banyak ...

Perbedaan Bukan Ber

Menarik untuk ditafakkuri, nasihat-nasihat emas para ulama ketika memaparkan penjelasan ...

Sebab-Sebab Terjadin

Perbedaan Merupakan Sunnatullâh Hakikatnya, perbedaan merupakan anugerah Allah ‘Azza wa ...

AQIDAH ISLAM: Penger

AQIDAH ISLAM: Pengertian, Sumber dan Karakteristik, Sebab-Sebab Penyimpangan Serta Solusinya. Pengertian Aqidah Sebagaimana ...