Mata Pena Universitas Terbaik

Dengan pena aku berdakwah untuk mengharap ridha Allah SWT

As Shidqu  artinya benar, kebalikan dari al kidzbu yang berarti dusta. Sedangkan ash shiddîqu itu sendiri memiliki pengertian ad dâimut tashdîq, yaitu orang-orang yang selalu membenarkan atau orang-orang yang selalu percaya. (Muhammad bin Abî Bakr bin Abdul Qâdir ar Râzî dalam Mukhtârush Shihhah, hal. 315).

Disebutkan pula dalam Mu’jamul Wasîth bahwa ash shiddîq berarti yushaddiqu qaulahu bil ‘amali, membenarkan ucapannya dengan perbuatan. (Ibrâhîm Musthafâ, hal.511).

Adapun kata ash shiddîqîn dalam ayat yang dimaksud, sebagaimana dijelaskan Syaikh Abdurrahmân Nâshir as Sa’di dalam tafsirnya adalah mereka orang-orang yang sempurna pembenarannya terhadap apa yang datang dari Rasulullah SAW dengan penuh keyakinan dan disertai komitmen, baik dalam ucapan maupun perbuatan serta menda’wahkannya di jalan Allah SWT. (Taysîrul Karîmir Rahmân, hal.186).

Melengkapi penafsiran ayat di atas, al Hâfidz Ibnu Katsîr menukil beberapa hadits Rasulullah SAW, diantaranya:

 

“إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَؤُوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا تَرَؤُوْنَ الْكَوْكَبَ الدَّرِيِ الْغَابِرِ فِيْ الأُفُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلٍ مَا بَيْنَهُمْ. قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الأَنْبِيَآءِ لاَ يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ, قَالَ: بَلَى, وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ رِجَالٌ أَمَنُوْا بِاللهِ وَصَدَّقُوْاالْمُرْسَلِيْنَ” (رواه الشيخان و مالك عن أبي سعيد الخدري)

“Sesungguhnya penduduk surga pasti akan melihat ahlal ghuraf (para penghuni kamar) di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang bersinar yang melewati ufuq dari timur atau barat untuk menunjukan keutamaan mereka. Mereka (para shahabat) bertanya: “wahai Rasulullah, itu merupakan tempat para nabi yang tidak akan ada seorang pun (selain mereka) yang akan sampai kesana”. Rasulullah menjawab: “benar, demi diriku yang berada dalam genggaman tanganNya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan RasulNya (merekapun dapat sampai disana)”. (HR. Bukhârî, Muslim dan Mâlik dari shahabat Abi Sa’îd al Khudrî dalam Tafsîr Ibnu Katsîr I/ 718).

Oleh karenanya, sangatlah wajar bila sebagian ulama (diantaranya Imam asy Syaukâni) memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud “ash shiddîqîn” itu adalah para pengikut utama para nabi (fudlalâu atbâ’il anbiyâ). (Fathul Qadîr I, hal.619)

Demikian pula dalam sirah Rasulullah SAW dan para shahabatnya, cerminan sifat tersebut ada pada diri para pengikutnya yang setia semisal shahabat Abû Bakar RA, tidaklah gelar ash shiddîq dinisbatkan kepada dirinya melainkan sebagai bukti pembenarannya terhadap ajaran yang dibawa RasulNya yang mulia.

Categories: Tafsir

PROFIL AKU

sumarito


Popular Posts

“Matahari Terbit

[caption id="attachment_198" align="aligncenter" width="599" caption="PIMNAS UMY"][/caption] PIMNAS 2012 - Kampus Universitas ...

Mewaspadai Bahaya In

Seputar Istilah Inkarus Sunnah Meyakini Sunnah rasulullah saw. sebagai sumber hukum ...

Kiat-Kiat Menumbuhka

Tawadhu’ merupakan kebalikan dari sifat takabbur, dimana ia memiliki banyak ...

Perbedaan Bukan Ber

Menarik untuk ditafakkuri, nasihat-nasihat emas para ulama ketika memaparkan penjelasan ...

Sebab-Sebab Terjadin

Perbedaan Merupakan Sunnatullâh Hakikatnya, perbedaan merupakan anugerah Allah ‘Azza wa ...

AQIDAH ISLAM: Penger

AQIDAH ISLAM: Pengertian, Sumber dan Karakteristik, Sebab-Sebab Penyimpangan Serta Solusinya. Pengertian Aqidah Sebagaimana ...