Mata Pena Universitas Terbaik

Dengan pena aku berdakwah untuk mengharap ridha Allah SWT

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَتَجَلَّى لِلْمُؤْمِنِيْنَ فَيَقُوْلُ: سَلُوْنِيْ, فَيَقُوْلُ رِضَاكَ

“Sesungguhnya Allah Ta’âlâ menampakan diri kepada orang-orang mukmin (di surga) lalu berfirman: “mintalah kepadaKu”, kemudian mereka berkata: “ridhaMu”.

(HR. Thabrâni).

 Permintaan orang-orang mukmin akan ridha setelah melihat Allah SWT merupakan puncak dari segala keutamaan. Mereka meminta ridha dariNya, karena ridha merupakan sebab untuk senantiasa bisa melihatNya, seolah-olah mereka berpandangan bahwa tujuan dari segala tujuan adalah terangkatnya hijab (penghalang). Dalam sebuah riwayat disebutkan: “berbahagialah orang yang telah diberi petunjuk kepada Islam, rizkinya dicukupi dan dia ridha kepadaNya”. (HR. Tirmidzi).

Diriwayatkan, shahabat Abdullâh ibnu Mas’ûd RA pernah berkata: “sungguh aku menjilati batu kerikil yang panas lebih aku sukai ketimbang aku mengatakan: “seandainya tidak terjadi” terhadap sesuatu yang telah terjadi atau “seandainya terjadi” terhadap sesuatu yang tidak terjadi”. Sungguh benar ucapan Ibnu Masûd di atas, sebab Rasulullah pun pernah menegaskan bahwa berandai-andai adalah perbuatan syaithan.

Ridha Allah SWT pada hambaNya ditentukan oleh seberapa besar ridha hamba terhadap segala ketentuan-ketentuanNya (qadha dan qadar). Ketika suatu kejadian telah terjadi sedangkan sebelumya telah diusahakan dengan kerja keras (fisik), kerja cerdas (fikir) dan kerja ikhlas (do’a dan dzikir), maka tak ada yang tersisa yang harus dilakukan seorang hamba, selain ridha terhadap ketentuan Allah SWT.

Bagaimanapun hasilnya; memuaskan ataukah tidak –menurut ukuran hamba, di sisi Allah SWT bisa jadi lain, sebab ‘bisa jadi kalian membenci sesuatu (padahal) itu baik bagi kalian dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu (padahal) itu buruk bagi kalian…(QS. Al Baqarah/2:216).

Tatkala sesuatu telah terjadi hanya ridhalah yang kemudian akan menentukan derajat ketaqwaan seorang hamba terhadap Allah SWT, dimana ketika dia mengetahui hasilnya yang tidak memuaskan dan tidak sesuai dengan harapan, apakah ia akan marah-marah, dongkol dan berandai-andai ataukah akan bersabar dan muhâsabah diri (introspeksi) ?. di titik inilah sesungguhnya kadar keimanan seseorang diuji. Kenyataannya, semua telah terjadi; dongkol ataupun tidak, marah-marah atau ridha, sama saja: telah terjadi!.

Harus jadi catatan penting bahwa Allah SWT menilai usaha seorang hamba, bukan dari hasilnya. Jika ternyata hasilnya tidak memuaskan, setelah memaksimalkan do’a dan ikhtiar berarti justru itulah yang terbaik bagi dirinya di sisi Allah SWT, sebab Dialah yang lebih mengetahui terhadap apa yang terbaik bagi dirinya, dari pada dirinya sendiri.

Allah SWT adalah Sang Khâliq (pencipta) dan hamba adalah makhluqNya. Mungkinkah ciptaan lebih mngetahui dari pada penciptanya?. Dan hanya orang-orang yang mengatakan: “sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepadaNyalah kami sesungguhnya akan kembali (QS. Al Baqarah/2:156)” yang layak disebut orang beriman. Merekalah orang-orang yangberlapang dada dan ridha terhadap ketentuan Allah SWT dan mampu mengambil hikmah dan ‘ibrah (pelajaran) dari semua kejadian. Bagi mereka tidak ada hal yang sia-sia, tiap desah nafas dan detak jantungnya adalah untaian dzikir, fikir adan ikhtiar penghambaan kepada Allah SWT Ta’âlâ.

Berasabar dan introspeksi diri adalah ciri orang terpilih ketika menerima musibah. Bersabar untuk tetap berada di jalur kebenaran seberat apapun musibah itu dan intospeksi diri sebarapa banyak kekeliruan yang diperbuat nya sehingga hasil yang dicapai tidak maksimal, agar kemudian tidak terulang lagi di kemudian hari. Sebab orang-orang beriman tidak akan teroperosok ke lubang biawak dua kali.

Orang-orang beriman adalah hamba yang tidak dapat menyalahkan pihak lain yang bernyawa ataupun benda mati yang ketika disalahkan tidak dapat membela diri dan melawan. Orang beriman bukanlah si pengecut yang hina dina. Orang beriman adalah orang yang berberat hati dan berlapang dada untuk melihat dulu ke dalam, adakah yang salah pada dirinya?, sebab bisanya hasil-hasil yang buruk itu timbul dikarenakan seorang hamba yang tidak mampu manata hati dan dirinya.

Lazimnya, kesalahan sering ditimbulkan oleh diri sendiri. Sayangnya sangat sedikit orang yang menyadari hal itu. Lebih sering mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi kekurangannya dan kebusukannya. Na’ûdzubillâh…

Sungguh tepat jika kita mau berintrospeksi diri bercermin dan merenungkan gambaran sederhana seorang ulama yang berkaitan dengan hal ini, beliau berkata: “kalau nasi sudah menjadi bubur, campurkanlah seledri, bawang goreng, daging ayam, kecap, kacang polong, maka jadilah buru ayam spesial”.

Kalau nasi sudah menjadi bubur, haruskah kita buang? Atau kita harus marah-marah ?, tentu tidak. Ambilah sikap terbaik dengan mengambil hikmah dan ‘ibrah untuk perbaikan di masa mendatang, sebab marah-marah juga tetap nasinya sudah menjadi bubur tidak bisa kembali lagi menjadi nasi, mendingan ridha, agar mendapat berpahala.

Jika ingin menjadi hamba-hamba pilihan, maka tugas kita hanya dua; meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar dengan dzikir dan do’a. pasrahkanlah hasilnya pada Allah SWT, ridhalah terhadap segala ketentuanNya dan bersabar di dalam ujianNya.

Maka berbahagialah orang yang mampu berlapang dada dengan ridha (terhadap segala ketentuan) Allah SWT. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya”. (QS. Al Bayyinah/100:8). Wallâhu a’lam bish shawâb.

 

Categories: Lain-Lain

PROFIL AKU

sumarito


Popular Posts

“Matahari Terbit

[caption id="attachment_198" align="aligncenter" width="599" caption="PIMNAS UMY"][/caption] PIMNAS 2012 - Kampus Universitas ...

Mewaspadai Bahaya In

Seputar Istilah Inkarus Sunnah Meyakini Sunnah rasulullah saw. sebagai sumber hukum ...

Kiat-Kiat Menumbuhka

Tawadhu’ merupakan kebalikan dari sifat takabbur, dimana ia memiliki banyak ...

Perbedaan Bukan Ber

Menarik untuk ditafakkuri, nasihat-nasihat emas para ulama ketika memaparkan penjelasan ...

Sebab-Sebab Terjadin

Perbedaan Merupakan Sunnatullâh Hakikatnya, perbedaan merupakan anugerah Allah ‘Azza wa ...

AQIDAH ISLAM: Penger

AQIDAH ISLAM: Pengertian, Sumber dan Karakteristik, Sebab-Sebab Penyimpangan Serta Solusinya. Pengertian Aqidah Sebagaimana ...