AQIDAH ISLAM: Pengertian, Sumber dan Karakteristik, Sebab-Sebab Penyimpangan Serta Solusinya.

Monday, 26 Dec 2011 By: sumarito

AQIDAH ISLAM:

Pengertian, Sumber dan Karakteristik, Sebab-Sebab Penyimpangan Serta Solusinya.

Pengertian Aqidah

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab kamus (salah satunya Lisânul ‘Arab dan al-Mu’jamul wasîth), secara bahasa ‘aqidah memiliki arti: ikatan (ar-rabth), pengesahan (al-ibrâm), penguatan (al-ihkâm), menjadi kokoh (at-tawatstsuq), pengikatan dengan kuat (as-syaddu biquwwah), komitmen (at-tamâsuk), pengokohan (al-murâshah), penetapan (al-itsbâtu, al-jazmu) dan yakin (al-yaqîn).

 

Maka dikatakan ‘aqidah, berarti ketetapan hati yang sudah pasti, di mana tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan, baik benar atau pun salah. (Abdullah bin Abdil Hamid al-Atsari dalam al-wajîz, 1422: 33-34)

Apabila dikaitkan dengan istilah ‘Aqidah Islam, berarti keimanan yang pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban mengesakanNya dan taat kepadaNya, meyakini malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, taqdir dan seluruh perkara ghaib yang ditetapkan adanya serta seluruh berita yang pasti (qath’iy) baik secara ilmu dan amal. (Nâshir bin Abdil Karim al-Aql dalam Mujmal Ushûl Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah fil ‘Aqîdah, 1412:5)

Rincian dari definisi istilah ini, merupakan cerminan rukun iman yang enam, di mana para ulama meyebutnya dengan pokok keimanan yang enam (Ushul imân as-sittah), pokok agama (ushuluddîn), pokok keyakinan (ushûlul I’tiqâd) atau asas keyakinan Islam (asâsul ‘aqidah al-islâmiyyah).

Sumber dan Karakteristik Aqidah Islam

Merupakan sesuatu yang telah disepakati di kalangan ahli ilmu bahwasanya al-Qur’an dan sunnah shahihah sebagai pijakan atau petunjuk dasar (mashdarul hudâ) dalam memahami inti ajaran Islam, baik yang berkaitan dengan keyakinan (‘aqîdah), amalan pengabdian (‘ibâdah) dan kehidupan keseharian kaum muslimin (mu’âmalah).

 

Kemudian, mayoritas ulama menambahkan dengan ijma’ (sebagaimana dijelaskan Ibnu Taimiyyah dalam al-Fatâwa) yang mengatakan: “sesungguhnya pijakan dasar dalam berIslamnya seseorang itu (mashdarut talaqqi) adalah merujuk kepada al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Al-Qur’an merupakan asas keyakinan, di mana suatu ayat memerlukan  penafsiran ayat al-Qur’an yang lain, kalau tidak ada dalam ayat maka ditafsirkan dengan sunnah, kalau tidak ada dalam sunnah maka merujuk kepada perkataan shahabat, kalau tidak ada pada shahabat maka merujuk kepada perkataan yang telah disepakati para tabi’in,” (Ibrahim Abdullah bin Saif al-Mazru’i dalam Durûs fil ‘Aqîdah wal manhaj, 2005:11). Dalam kitab Mashâdirul Istidlâl ‘Ala Masâ’ilil I’tiqâd, Utsman ali Hassan (Riyadh:1413 H.) menyebutkan pijakan dalil dalam masalah aqidah adalah: pertama, al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Kedua, akal yang sehat dan fithrah yang selamat (artinya: sesuai dengan fithrah) (Ali Hassan, 1413:7).

Dengan demikian, ‘aqidah Islam bersifat tauqifi, yaitu telah dijelaskan secara tetap dan pasti. Artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya. Karena itu, sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada dalam al-Qur’an dan as-sunnah. Sebab tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagiNya dan apa yang harus disucikan dariNya melainkan Allah sendiri. Dan tidak ada yang lebih mengetahui tentang Allah selain Rasulullah saw. Oleh karena itu, generasi terdahulu ummat dan pengikutnya dalam mengambil aqidah terbatas pada al-Qur’an dan as-sunnah. Segala yang ditunjukkan al-Qur`an dan as-Sunnah tentang hak Allah, mereka mengimaninya, meyakininya dan mengamalkannya. Sedangkan apa yang tidak ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah mereka menolak dan menafikannya. Karena itu pula, di kalangan mereka (salâfus shâlih) tidak ada pertentangan dalam I’tiqad. (lihat Shalih Fauzan, ‘Aqidatut Tauhid, tp. Tahun: 8).

Ibnu Taimiyyah berkomentar: “I’tiqad Imam Syafi’i dan generasi lainnya semisal Imam Malik Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Ibnu al-Mubarak, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawiyah, tidak terjadi pertentangan dalam ushuluddin di kalangan mereka”. Demikian pula dengan al-Ashfahani yang mengatakan: “sekiranya kitab-kitab para ulama dikumpulkan (baik yang dulu dan sekarang) dengan perbedaan negeri dan zaman, maka akan ditemukan dalam penjelasan I’tiqad itu adalah sama tidak berbeda-beda dan berpecah-pecah” (lihat al-Mazrû’i, 2005: 11, lihat pula I’tiqâdul Aimmah al-arba’ah oleh Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais:1992).

Adapun karakteristik aqidah Islam, Ibrahim Abdullah bin Saif al-Mazrû’i menukil pandangan-pandangan para ulama dalam Durûs fil ‘aqîdah wal manhaj dengan menyimpulkan sebagai berikut:

  1. ‘Aqidah Islam senantiasa selamat rujukannya (salâmatul mashdar), yaitu berpegang kepada kitabullah dan Sunnah serta ijma’  salaful Ummah.
  2. Menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dan rasulNya (terutama dalam masalah ghaib)
  3. Senantiasa menyambung periwayatan sanadnya kepada Rasulullah, para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik.
  4. Adanya kejelasan dan terhindar dari kontradiksi persepsi dan interpretasi (tanâqudh, ta’ârudh) yang diakibatkan dari pemahaman penafsiran akal (seperti halnya pemahaman kaum falsafah)
  5. Aqidah Islam senantiasa selamat dari kegoncangan dan pengikutnya tidak terkontaminasi (talabbus) yang menyebabkan terjerumus ke dalam bid’ah dan cacat lainnya.
  6. Selalu berpegang kepada konsep al-jama’ah (yaitu mengikuti rasulullah dan jejak langkah para shahabatnya) serta berkumpul di atas landasan mereka.
  7. Senantiasa teguh dan kokoh dalam beraqidah (tsabât), karena hal ini merupakan sumber kemenangan dan kejayaan.

Sebab-sebab penyimpangan dan solusinya

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menyimpang dari aqidah yang benar, di antaranya menurut Shalih bin Fauzan dalam Aqidatut Tauhid (Riyadh, tp. tahun: 11-13) sebagai berikut:

  1. Faktor kebodohan (al-jahlu) yang disebabkan karena seseorang tidak mau atau kurang perhatian terhadap aqidah yang benar itu.
  2. Faktor fanatik (at-ta’ashshub) terhadap ajaran nenek moyang yang telah mendarah daging (sebagaimana digambarkan Q.S. al-Baqarah/2: 170)
  3. Faktor ikut-ikutan (taqlid a’mâ) kepada pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya
  4. Faktor berlebih-lebihan (al-ghuluw) dalam mencintai para wali dan orang yang dianggap shaleh (seperti halnya berlebih-lebihannya kaum jahiliyah kepada wadd, suwa’, yaguts, yauq dan nasr)
  5. Faktor kelalaian (al-Ghaflah) terhadap renungan ayat-ayat Allah baik yang tertuang dalam kitabNya (ayat-ayat Qur’aniyyah) atau ayat-ayat Allah yang terhampar di jagad rayaNya (ayat-ayat kauniyyah) sehingga terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan sampai mengira bahwa semua itu hasil kreasi manusia semata.
  6. Faktor kelengahan dari petunjuk yang lurus (khâliyan minat taujih as-sâlim), di mana rumah-rumah kaum muslimin kosong dari petunjuk aqidah yang benar (salah satunya rumah kaum muslimin lebih banyak diisi dengan tayangan hiburan semata dari pada petunjuk penanaman aqidah).
  7. Faktor keengganan media pendidikan dan media informasi dalam melaksanakan tugasnya (yaitu dalam turut serta meluruskan aqidah ummat).

Adapun solusinya, masih menurut Shalih bin Fauzan adalah:

  1. Kembali kepada kitabullah dan sunnah rasulullah saw. dalam mengambil sandaran aqidah shahihah seperti halnya generasi pendahulu yang shalih mengambil dari keduanya.
  2. Memberi perhatian pada pengajaran aqidah shahihah di berbagai jenjang pendidikan dengan pelajaran yang cukup dan evaluasi yang ketat (mulai tingkat kanak-kanak hingga perguruan tinggi).
  3. Menjadikan kitab-kitab rujukan terpilih dan bersih dalam materi pelajaran aqidah dan menjauhi rujukan-rujukan yang membahayakan.
  4. Menyebarkan para penyeru dakwah yang mampu meluruskan aqidah yang bathil, menjawab dan menolak seluruh aqidah yang bathil itu dan mengembalikannya kepada aqidah yang lurus.

 

«

»

One Response to “AQIDAH ISLAM: Pengertian, Sumber dan Karakteristik, Sebab-Sebab Penyimpangan Serta Solusinya.”


  1. Zainuddin says:

    Syukran Ilmunya…
    JazaakumuLLAAHu khairan katsiran…


Leave a Reply

Performance Optimization WordPress Plugins by W3 EDGE