A.    GAMBARAN UMUM

Kalau kita perhatikan, Rasulullah Saw. berjuang dalam waktu 23 tahun. Setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul pada umur 40 tahun, sampai beliau wafat pada umur 63 tahun, berarti beliau berjuang selama sekitar 23 tahun. Walaupun hanya sebentar, tapi beliau mampu merubah kehidupan masyarakat yang dulunya sangat jahiliyah.

Dalam perjuangan Rasulullah Saw, paling tidak ada tiga hal yang telah beliau rubah :

1.      Dalam bidang aqidah (kepercayaan). Masyarakat Jahiliyah waktu itu menyakini adanya banyak tuhan, atau yang dikenal dengan musyrik (politeisme). Kemudian, berkat perjuangan Rasulullah Saw., mereka mentauhidkan Allah atau mengimani adanya Allah, Dzat Yang Maha Esa.

2.      Dalam bidang hukum. Kalau waktu itu, mereka sama-sekali tidak mengenal hukum, yang kuat menindas yang lemah, maka berkat perjuangan Rasulullah Saw, mereka menjadi masyarakat yang taat dan patuh kepada hukum.

3.      Dalam bidang akhlak atau moral. Masyarakat pada saat itu adalah masyarakat yang biadab, masyarakat yang sama-sekali tidak menghormati kaum dhu’afa, tetapi berkat perjuangan Rasulullah Saw, mereka menjadi orang-orang yang berakhlak. Dengan demikian, perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah ini sangat signifikan dan sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia sampai saat ini. Bahkan, beliau juga berhasil mendirikan suatu negara Madinah yang kelak kemudian hari menjadi satu kekuatan politik yang luar biasa.

Sehingga dalam sejarah tercatat, bahwa Nabi Muhammad melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Begitu beliau sampai di Madinah, beliau mendirikan Madinah sebagai pusat kekuatan Rasulullah dalam mengembangkan Islam. Dalam waktu singkat, tidak lebih dari 11 tahun beliau di Madinah, seluruh Jazirah Arab sudah tunduk di bawah kekuasaan Rasulallah SAW. Bahkan setelah wafat, berkat didikan Rasulullah para sahabat mampu mengembangkan negara Madinah. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, dilanjutkan oleh Abu Bakar selama 2 tahun, kemudian Sayyidina Umar selama 12 tahun. Pada masa Sayyidina Umar ini, dunia Islam bukan hanya meliputi wilayah di Jazirah Arab, tetapi sudah mampu menaklukkan dua negara adi daya waktu itu, yaituPersia dan Romawi.

Setelah masa khulâfaurrâsyidîn, maka berdirilah Dinasti Bani Ummayyah yang berkuasa hampir selama 90 tahun. Dinasti ini menguasai bukan hanya di daratan Asia, tetapi juga Eropa, bahkan pernah mendirikan negara di Spanyol, sebagai kerajaan yang sangat besar. Kemudian setelah itu dilanjutkan oleh Dinasi Abbasiyah yang melahirkan ulul albâb (cendekiawan muslim). Dengan demikian, selama lebih dari 500 tahun Islam menguasai dunia. Hal itu semata-mata berkat perjuangan Rasululloh Saw dan para sahabatnya.

Maka di sinilah, banyak orang yang menilai dan mencari informasi, mengapa Rasululloh Saw mampu mengembangkan ajaran Islam dalam waktu singkat? Mengapa Rasululloh SAW mampu mendidik para sahabatnya, sehingga setelah beliau wafat, para sahabat mampu mengembangkan Islam ke seluruh penjuru dunia dan sukses sempurna dalam dakwahnya? Maka, dapat kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa Rasululloh berhasil, karena beliau berpegang teguh pada wahyu yang disampaikan Allah Swt kepada beliau, pada saat beliau diangkat sebagai nabi dan rasul.

B.     FAKTOR KEBERHASILAN DAKWAH NABI

Bila kita perhatikan dengan seksama, faktor-faktor objektif yang melatarbelakangi keberhasilan dakwah Rasulullah s.a.w. telah banyak dikemukakan oleh para pengamat sosial-keagamaan. Terdapat bukti historis yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa tidak ada variabel yang sangat spesifik yang menjadi penyebab keberhasilan dakwah Rasulullah s.a.w.. Instrumen dan lingkungan sosialnya bahkan tidak cukup kondusif untuk melahirkan perubahan. Tetapi, bila kita cermati faktor subjektifnya, maka kita akan menemukan variabel pengikatnya yang cukup dapat diperhitungkan untuk menciptakan perubahan signifikan. Yang paling utama adalah syakhshiyyah (kepribadian) beliau sebagai da’i.

Potret kepribadian beliau dinyatakan oleh Allah sebagai “uswah hasanah”[1] Menyangkut firman-Nya yang menyatakan bahwa beliau (Rasulullah s.aw.) merupakan uswah hasanah, dalam hal ini dapat dipahami bahwa beliau menjadi qudwah shâlihah fî kulli al-umûr (teladan terbaik dalam semua aspek). Sementara ‘Aisyah r.a., ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah.s.aw., beliau menjawabnya dengan ringkas: “khuluquhu al-Qurân”.[2]

Diantara bentuk keprbadian dan Sifat Nabi Muhammad SAW sebagai orator adalah :

1. Tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan

Keoratoran rasulullah SAW baik sebagai pendakwah maupun sebagi pemimpin tidak pernah memisahkan antara apa yang beliau ucapankan dengan apa yang beliau perbuat. Artinya apa yang beliau sampaikan terlebih dahulu beliau kerjakan dan sebaliknya. Setiap yang dikatakan dan dikerjakan Nabi adalah dakwah. Jadi pidato Nabi berbeda sekali dengan pidato yang sekarang ini, perbedaan ini dapat dimaklumi karena pengaruh situasi, da kondisi serta keberadaan orang yang menyampaikan, apalagi jika dilihat dari isi dan tujuan pidato yang disampaikan.

Kepribadian yang pertama ini merupakan keharusan bagi Rasulullah SAW, tanpa hal tersebut keberhasilannya sebagai orator sekaligus pendakwah tidak terwujud. Bahkan Allah SWT telah mengancam orang-orang yang hanya pandai beretorika saja tetapi tidak mengamalkannya. Firman Allah dalam surat Asshafat ayat 2dan 3

Artinya : “Dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat), Dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran,”

Bila dikaitkan dengan unsur kepribadian maka ciri pertama ini merupakan bagian dari unsur kejiwaan (psikis) dan unsur tingkah laku (sosiologis).

2. Pemberani

Dalam tingkatan tertentu seorang adalah pemimpin masyarakat, kapasitas kepemimpinan seorang orator bisa jadi dalam satu bidangnya, tetapi lainnya dengan diri Rasulullah SAW. kapasitas kepemimpinannya mencakupi kesemua bidang kenegaraan, pendidikan dan militer maupun dibidang agama. Salah satu kepribadian Rasulullah SAW. dalam bidang tersebut adalah keberanian.

Secara psikologis semua manusia memang tertarik kepada keberanian, keberanian dalam hal ini jelas berbeda dengan keberanian seseorang dalam pertandingan. Misalnya keberanian seorang pembalab hanya semata-mata hanya untuk meraih kemenangan dan mengganggap lemah lawan, sementara keberanian Rasulullah SAW. terutama dalam bidang keoratorannya semata-mata hanya karena kebenaran

Firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 39 :

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan”

Disamping itu Rasulullah SAW.juga memerintahkan untuk bersikap berani, sebagaimana sabdanya yang berbunyi :

قُلِ الْحَقُّ وَلَوْكَانَ مُرًّا

Artinya : “Katakanlah yang benar itu walaupun pahit”(H.R. Ibnu Hibban)

Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari Umar R.A.berkata ;

مَارَاَيْتَ اَحَدً اَسْجَعَ وَلاَ اَنْجِدَ وَلاَ اَجْوَدَمِنْ رَّسُوْلُ اللهِ

Artinya : “saya belum pernah melihat seseorang yag lebih berani dan lebih tabah hati serta pemurah selain Rasulllah SAW. (H.R. Ad-Darimi).

Keberanian Rasulullah SAW.sebagai seorang orator dalam menyampaikan risalah Islam tidak pernah surut, meskipun nyawa taruhannya. Jangankan berbicara dihadapan orang banyak, memimpin pasukan dalam setiap perperanganpun beliau tidak pernah gentar.

3. Kebenaran isi penyampaiannya

Sebagai azas dasar kebenaran yang disampaikan Rasulullah SAW adalah firman Allah SWT dalam surat An-Najmi ayat 2

Artinya : “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.

Semenjak dari kecil Rasulullah SAW.terkenal dengan kejujurannya hingga beliau digelari Al-Amin (orang yang terpercaya) yang tak pernah yang tidak pernah berbohong meskipun dalam bentuk bergurau. Setelah beliau diangkat jadi Rasul, Abu Jahal sangat memusuhi beliau, ada pada suatu saat karena yakin dengan Rasulullah SAW bukan seorang pendusta, Ia berkata kepada Rasulllah SAW. “ sesungguhnya kami tidak mendustakan enkau, tetapi kami apa-apa yang engkau bawa.”

Kebenaran isi penyampaian beliau sebagai orator, merupakan suatu keharusan beliau karena ucapannya akan menjadi pegangan bagi umatnya dikemudian hari dengan kebenaran isi penyampaian beliau itu, telah menambah kharisma beliau sebagi pendakwah atau orator, yang selalu membuat orang terdiam mendengarkan apa yang beliau sampaikan.

4. Pasih lidahnya

Sebagaimana yang dijelaskan pada pembahasan terdahulu, salah satu syarat pidato yang baik adalah harus memiliki lidah yang pasih. Maka Rasulullah SAW.sebagai seorang pendakwah atau orator juga diberi oleh Allah SWT.kepasihan lidah, melebihi pasihnya lidah orang Arab.

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ مِنْ اَفْصَحَ العَوْبِ وَكَانَ يَتَقَلَّمَ بِاالْكَلَّمِ لاَيَدْعُوْنَ مَاهُوَحَتَّى يَخْبَدَ هُمْ

Artinya : “ Kepasihan lidah Rasulullah SAW. adalah kepasihannya lidah orang Arab dalam berbicara, beliau berbicara dengan mereka apa artinya pertanyaannya itu, sehingga beliaulah yang menjelaskan kepada mereka itu. (H.R. Abu Hasan Ad Dahak).

Abu Bakar membenarkan bahwa Rasulullah memiliki lidah yang fasih, sebagaimana ungkapannya : “ Saya telah mengelilingi tanah Arab dan saya telah mendengar orang-orang yang pasih berbicara diantara , tetapi belum pernah saya mendengar orang yang lebih pasih dari pada enkau (Muhammad). Kepasihan lidah beliau bukan berarti beliau berbicara dengan cepat tetapi jelas, melainkan kepasihan tersebut memiliki ciri sebagai berikut :

a. Ucapannya terang dan jelas sehingga orang yang mendengarnya paham akan apa yang disampaikannya.
b. Suaranya teratur dan perlahan-perlahan hingga apa yang disampaikan beliau bisa dihafal oleh pedengarnya, jika ucapan itu penting beliau mengulangnya sampai tiga kali atau lebih.

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَعِيْدَ الْكَلَمَةَ ثَلاَثًا لِتَعْقَلَ عَنْهَ

Artinya : “ Rasulullah SAW.mengulang-ngulang tutur kataya sampai tiga kali agar diperhatikan oleh pendengarnya. (H.R. Ahmad).

c. Ucapan beliau tidak pernah mubazir atau mengambang dari pokok persoalan dan lebih banyak diam dan hanya berbicara bila diperlukan saja, sehingga para pendengar tidak pernah bosan mendengarkan apa yang disampaikan beliau.

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ طَوِيْلَ السَّكْتِ لاَيَتَكَلَّمَ فِىغَيْرِ حَاجَةِ

Artinya : “ Rasulullah SAW.itu seorang pendiam, beliau tidak berbicara yang mubazir. (H.R. At-Tarmizi).

d. Kalimat yang diucapakannya ringkas, tetapi berarti luas, sebab Allah SWT telah menganugrahkan hikmah yang dalam kepada beliau, hingga diakui oleh sejarah. Bahwa tidak ada perkatan yang paling indah dan dalam maknanya setelah Al-Quran, selain dari perkatan Rasulullah SAW.

Sabda rasulullah SAW. Artinya : “ Aku diberi kalimat-kalimat yang ringkas, berarti luas (H.R. Abu Daud).

Beliau tidak saja pasih dalam bahasa Arab daerah lain yang sesuai dengan logat mereka masing-masing. Karena begitu luasnya ucapan yang disampaikan beliau hingga melahirkan beberapa kitab tafsir mengenai hadis beliau.

5. Tawaddu’ (rendah hati)

Dibalik semua ciri kepribadian beliau tersebut diatas erat hubungannya dengan akivitasnya sebagai orator, beliau juga mempunyai sifat yang mulia sekaligus menjadi kepribadian bagi beliau yaitu tawaddu’ dengan jiwa ketawaddu’annya itulah orang semakin simpatik dengannya, sifat arogan, sombong, melecehkan orang lain, atau menghina orang lain sangat jauh dari diri beliau. Bahkan ketika beliau disanjung-sanjung oleh umatnya, beliau melarang. Tidak itu saja , ketika beliau datang kepada suatu majlis kemudian para sahabat menyambutnya berdiri, beliau juga menolaknya. Dan dalam suatu majlis beliau tidak pernah menonjol duduknya dari para sahabatnya, dan selalu duduk bersama-sama dengan para sahabat.

كَانَ رَسُوْلِ اللهِ يَجْلِسُ مَعَنَا نَحْنُ مِنْ فَقِيُ وَعَبْدِي

Artinya : “ Rasulullah SAW.duduk bersama kami yakni orang-orang miskin dan hamba sahya. (H.R. Ibnu Majjah).
Dikisahkan ketika seorang sahabat menghadiri majlis Rasulullah SAW. Orang tersebut tidak tahu dimana duduk RasulullahSAW.hingga bertanya kepada para sahabat tetang keberadaan Rasulullah dan para sahabat memberitahunya.

6. Cerdas (sempurna akal pikirannya)

Cerdas merupakan salah satu sifat yang wajib bagi Rasul, terutama Nabi Muhammad SAW.sebagaimana kita ketahui kecerdasan merupakan modal dasar bagi seseorang bila ingin menjadi pembicara hebat. Kecerdasan lebih banyak dititik beratkan kepada materi yang disampaikan. Rasulullah SAW telah dikaruniai oleh Allah SWT. berupa kecerdasan akal,hingga ia mudah menerima pelajaran (wahyu) dari Allah SWT sebagai bahan pidatonya untuk disampaikan kepada umatnya. Kesempurnaan akal Rasulullah SAW tidak hanya terkait dengan masalah ukhrawi saja, namun tentang masalah keduniaan juga mengetahui. Bila beliau dihadapkan dengan masalah yang rumit berkenaan dengan hukum syari’at beliau selalu mendapat pertolongan dari AllahSWT.

Untuk mengimbangi kecerdasan beliau sebagai orator, orang yang mengerti bahasa Arab cukup memperhatikan dan menganalisa perkataan beliau yang ringkas tetapi memiliki makna dan kandungan yang dalam, hal ini masih tercatat dalam kitab sunnah.

7.      Dakwah Dengan Kelembutan

Kebenaran yang pada asalnya susah untuk diterima oleh jiwa, ketika disampaikan dengan cara yang buruk, cara yang kasar, tentunya justru akan membuat orang semakin lari dari kebenaran. Oleh karena itulah, dakwah pada dasarnya harus disampaikan dengan cara lemah lembut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kelemah-lembutan itu tercabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya menjadi jelek.” (HR. Muslim).

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mauidzoh hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).

Lemah lembut di dalam berdakwah mempunyai banyak sekali faidah. Salah satu di antaranya adalah dapat menyadarkan orang-orang yang telah terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Al-Fushshilat: 34).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok teladan bagi kita dalam hal akhlaq dan perilaku. Alangkah indahnya kisah beliau ketika menasihati seseorang yang hendak berbuat kemaksiatan. Kisah ini dituturkan oleh sahabat beliau, Abu Umamah. Beliau bercerita, “Sesungguhnya ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berbuat zina’. Lalu ada sekelompok orang yang mendatangi dan menegurnya, ‘Diam… Diam…!!’ Lalu beliau bersabda (kepada para sahabat beliau), ‘Dekatkan ia kepadaku.’ Lalu ia pun mendekati beliau. Setelah ia duduk, beliau bertanya, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai ibumu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai ibunya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai putrimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai putrinya’. Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu senang apabila ada orang menzinai saudarimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, Demi Allah. Semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu’. Beliau bersabda, ‘Manusia pun tidak senang apabila ada orang menzinai saudarinya…’ Lalu beliau meletakkan tangannya kepada pemuda tadi sambil berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya’. Setelah peristiwa itu, pemuda tadi tidak berfikir untuk berbuat zina lagi’.(HR. Ahmad, Shohih)

 8.      Memliki keyakinan dalam berdakwah

‘al-haqqu min rabbika fa lâ taku nanna min al-mumtarîn’(kebenaran datang dari Tuhanmu, maka janganlah engkau menjadi orang yang ragu). Maka, kalau kita benar-benar ingin memperjuangkan Islam, pertama-tama, kita harus yakin kebenaran Al-Qur’an. Jangan sampai kita ragu terhadap pemikiran-pemikiran yang muncul sekarang ini, yang semua itu bisa meragukan kebenaran Al-Qur’an.

9.      Memiliki akhlak yang baik

fa thahhir’ adalah ‘ay ahsin khulûqaka’ (almudatsir: 4) (perbaiki akhlakmu).

Rasul berhasil dalam berjuang, sehingga beliau mampu mengembangkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Hal itu berkat kebersihan jiwa, dan akhlak beliau. Maka, Allah tidak pernah memuji Rasulallah karena kehebatannya dalam medan perang, bukan karena keberaniannya menghadapi musuh-musuh Islam, bukan pula karena kepintarannya dalam menyampaikan dakwah, tetapi Rasulallah dipuji oleh Allah karena akhlaknya  ‘wa innaka la’alâ khuluqin ‘azdîm’ (sesungguhnya engkau [Muhammad] berada pada akhlak yang sangat luhur).

 10.  Meninggalakan perbuatan dosa dan maksiat

‘wa al-rujza fahjur’ (almudtsir: 5). Dan hendaknya engkau meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat. Rasulallah berhasil dalam berdakwah dan berjuang, karena beliau mampu meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Kalau beliau melarang orang lain untuk berzina, maka beliau menjadi pelopor untuk meninggalkan perzinahan. Kalau beliau melarang larang lain untuk korupsi, maka beliau menjadi pelopor untuk meninggalkan korupsi. Kalau beliau melarang orang lain untuk berjudi, maka beliau menjadi pelopor untuk meninggalkan perjudian. Karena beliau konsekuen terhadap apa yang beliau ajarkan, maka beliau menjadi orang yang berhasil dalam dakwahnya.

11.  Memiliki keikhlasan

‘wa lâ tamnun tas taktsir’ (almudatsir: 6). Kunci keberhasilan Rasulallah adalah, beliau dalam berjuang selalu disertai dengan keikhlasan, tanpa mengharapkan imbalan jasa apapun. Karena beliau ikhlas dalam berjuang, maka ketika orang-orang Quraisy merasa kewalahan untuk membendung dakwah rasul, mereka membujuk pamannya yang bernama Abû Thâlib, dengan mengatakan: “Wahai Abû Thâlib, tolong sampaikan kepada keponakanmu, kalau memang Muhammad ingin mendapatkan harta benda yang banyak, hentikan perjuangan, kami orang-orang (kafir) Quraisy siap memberikan harta berapapun yang diminta oleh Muhammad. Kalau Muhammad ingin wanita yang cantik, maka kami siap untuk menikahkan dengan wanita yang menjadi pilihannya, asal berhenti berdakwah. Kalau Muhammad ingin menjadi pemimpin tertinggi, kami orang-orang Quraisy siap menjadikan Muhammad sebagai pemimpin kami yang paling tinggi, asal berhenti berdakwah.” Maka, pesan orang-orang Quraisy ini disampaikan pamannya kepada Rasulallah. Mendengar pesan itu, Rasulallah marah dan mengatakan: Wahai pamanku, jangankan harta, tahta, wanita, seandainya orang-orang kafir Quraisy mampu meletakkan matahari di tangan kananku, mampu meletakkan bulan di tangan kiriku, kemudian mereka minta untuk menghentikan perjuangan, pasti tidak akan kami gubris permintaannya, sehingga Allah memenangkan perjuangan ini atau saya lebih baik mati dalam membela agama Allah. Inilah tekad Rasulallah, sehingga beliau betul-betul berhasil dalam perjuangannya.

12.  Memiliki kesabaran dalam berdakwah

‘wa li rabbika fashbir’ (almudatsir: 7). Untuk berhasil dalam berjuang, hendaklah sabar dalam menghadapi berbagai kendala yang akan menghambat perjuangan umat Islam. Rasulallah berhasil dalam berjuang, tentu beliau menghadapi musuh-musuh Islam. Bahkan beliau dilempari batu oleh orang-orang tha’if, tetapi beliau sabar dan berdo’a, “ya Allah, tunjukkan kaumku, jangan Engkau siksa, karena mereka orang-orang yang tidak tahu.” Karena kebesaran hati Rasulallah, walaupun beliau disakiti dengan dilampari batu, tetapi beliau tetap bersabar. Bahkan, ketika beliau berhasil menaklukkan kota Makkah, orang-orang kafir Quraisy merasa ketakutan (jangan-jangan Muhammad akan dendam), tetapi Rasulallah mengatakan, ‘al yauma yaum al-marhamah’ (hari ini adalah hari perdamaian, tidak ada dendam di antara kita. Barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, mereka adalah orang yang aman. Kalian adalah orang-orang yang bebas).

Dan masih banyak lagi kepribadian dan prilaku Rasulullah yang menjadik factor keberhasilan dakwah Nabi, seperti : (1) kepahaman tentang agama; (2) keteladanan yang baik; (4) memudahkan dan tidak mempersulit; (5) murah senyum dan lembut dalam bertutur-kata; (6) Kedermawanan; (7) memiliki kesedian untuk melayani dan membantu keperluan orang lain.

Dari beberapa sifat dan kepribadian Nabi tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwa faktor subjektif yang menyangkut kepribadian beliaulah yang semestinya lebih dicermati. Karena, dalam banyak hal, persyaratan kepribadian inilah yang sering luput dari perhatian kita untuk pelaku dakwah. Sementara, kita lebih banyak mecermati hal-hal teknis dan manajerial yang hingga saat ini masih menjadi pusat perhatian dari lembaga-lembaga dakwah.

C.    FAKTOR KEMUNDURAN DAKWAH SAAT INI

Kemunduran dakwah Islam dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

1. Ummat islam saat ini kurang begitu kenal dengan tuhan-nya dan cenderung tak mau berusaha untuk mengenal tuhan nya, tuhan yang menciptakan nya, yang memeliharanya, yang memberinya rezeki, Dia-lah Allah Subhaanahu Wata’ala, padahal tak kurang 6.000 ayat Al-Quran di turunkan melalui Rasul-nya Nabi Muhammad Saw, untuk mengenalkan dzat allah kepada manusia.

2. Ummat ISLAM kurang memahami kelebihan AKAL yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Padahal AKAL ini menjadi pembeda manusia dengan makhkuk2 lain. Dan dengan akal juga manusia bisa membedakan mana yang baik dan manayang buruk. Mana yang menjadi perintah dan mana yang menjadi larangan allah.

3. Dakwah Islam saat ini kurang bisa meneladani sifat yang dimiliki Rasulullah SAW dalam berdakwah. Sehingga ruh tabligh yang ada pada jiwa rosululloh tidak ada pada jiwa da’i-da’I padasaatini dengan mulai mengikisnya semangat juang untukmempertahankan afama islam sebagaiagama yang haq dan tidak ada agama lain yang bisa selamat kecuali islam dan juga mempertahankan agama islam sebagai agama rahmatan lilngalamin

4. Umat Islam terlalu terlena dengan kehidupan dunia atau lebih memetingkan urusan dunia daripada akhirat (agama). Sehingga mereka tidak begitu memperhatikan dakwah-dakwah yang sejatinya mereka butuh dengan dakwah itu. Namun karena kecenderungan umat yang mengalami kemunduran ini, lebih-lebih dengan adanya factor dari luar yangsangat menggiurkan berupa hal-hal yang bersifat duniawi, maka dakwah islampun pada masa kini dirasa sebagai dakwah yang kampungan dan jadul

5. Umat Islam saat ini banyak dipengaruhi oleh budaya barat yang tidak sesuai dengan ruh ajaran Islam.

6. Dakwah islam pada saat ini cenderung mengedepankan lawakan-lawakan dan banyolan-banyolan yang menyenangkan para pendenganr sehingga apa yang didapat oleh masyarakat bukanlah esensi dari dakwah atau ajakan tersebut, akan tetapi kelucuan-kelucuan yang masuk dalam pikiran mereka, yang itu semua akan menurunkan fungsi dari dakwah itu sendiri. Dan inilah yang terjadi pada saat ini.

7. Dakwah islam saat ini cenderung monoton dengan masih mengedepankan masalah-masalah yang klasik untuk dipermasalahkan lagi, sehingga masalah-masalah yang besar yang terjadi pada masa kini terlalaikan bahkan terabaikan seperti rusaknya moral anak-anak bangsa karena pengaruh dari luar atau barat yang sangat pesat dakwahnya untuk menjerumuskan umat islam menjadi umat yang tidak memahami hakikat agama dan moral hidup. Banyak sekali dakwah-dakwah barat yang dengan mudahnya menggoda umat islam baik secara langsung maupun tidak langsung. Diantara dakwah yang mereka lancarkan kepada umat islam adalah dengan menghadirkan teknologi-teknologi modern yang dengan mudahnya mereka merasukannya pada jiwa-jiwa umat islam yang bisa merusak baik aqidah maupun moral umat islam. Dengan film-film, alat komunikasi dan dalam segala aspek mereka bisa merasukannya pada umat islam yang pada intinya ingin menjerumuskan umat islam untuk tidak patuh kepada aturan-aturan agama islam dan dakwah islam.

D.    SOLUSI UNTUK MENJADIKAN DAKWAH SAAT INI BERHASIL

1. Perlunya peningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan aktif kepada Tuhan Yang   Maha Esa dengan memperdalam pemahaman dan kesadaran beragama yang seimbang antara hablum minallah dan hablum minannas. Di sinilah perlunya mengaktifkan nilai-nilai pasif keberagamaan atau passive value system ke aktif dan dinamis. Ajaran sabar misalnya, selama ini lebih banyak difahami sebagai aspek nerimo-pasrah akomodatif dalam menerima musibah. Sabar perlu diterjemahkan sebagai loyal to the standard principles. Yakni konsisten dengan prinsip-prinsip standar yang harus dijunjung tinggi oleh pribadi, masyarakat, dan pemerintah.

2. Perlunya keberagamaan yang memihak wong cilik dengan tetap berbuat adil kepada yang kuat. Ini adalah upaya demokratisasi dalam bidang politik dan sosial budaya  yang harus dikembangkan karena kontrol sosial demikian melemah. Di sini barangkali dibutuhkan pengembangan teologi pembebasan dalam setiap agama. liberation, empowerment, dan intellectualization yang mengarah pada kecendrungan “melek” dan kritis dalam masyarakat agama perlu ditegakkan secara kontinyu, konsisten, dan proporsional.

3. Perlunya dikembangkan budaya mengapresiaisi dan mendengarkan orang dan kelompok lain secara empatik. Sejalan dengan poin ini adalah perlunya peningkatkan kualitas kerukunan antar umat beragama melalui dialog intensif alami, bukan seremonial dan bukan dipaksakan, antar lembaga agama dan perlunya pengembangan teologi yang inklusif

4. Perlunya keteladanan dan kerjasama tokoh masyarakat, LSM, pemuka agama, ulama, cendikiawan, budayawan, dan pemerintah dalam menangani masalah-masalah sosial. Silaturrahim secara fungsional, bukan seremonial diantara tokoh-tokoh yang difollow-upi dengan social action secara sistemik akan meringankan beban umat yang semakin hari semakin berat.

KESIMPULAN

Pada akhirnya, setiap dakwah yang dilakukan oleh rosulullah pada zaman dahulu merupakan acuan yang harus benar-benar diperhatikan oleh umat islam pada saat ini, terutama para da’i-da’I yang terjun secara langsung ke dunia dakwah islam. Karena segala sesuatu yang pernah dilakukan oleh rosulullah baik berupa kegiatan sehari-hari maupun ajaran-ajarannya adalah tolak ukur yang bisa dijadikan acuan oleh para da’i-da’I sekarang untuk menyampaikan dakwahnya kepada umat islam pada masa sekarang.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • http://khoirurrijal.multiply.com/journal/item/8/Faktor-faktor_Keberhasilan_Perjuangan_Rasulullah_Saw?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
  • http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/?p=823
  • http://laskarcharles.wordpress.com/2011/01/25/profil-nabi-muhammad-saw-dan-metode-da%E2%80%99wahnya/

 


[1] QS al-Ahzab [33]: 21.

[2] HR Ahmad dari Sa’d ibn Hisyam ibn ‘Amir; HR al-Bahaqi dari Abu Darda’; HR ath-Thabarani dari Abu Darda’.