Syirik adalah termasuk dosa besar yang sangat membuat Allah swt marah besar. Allah adalah dzat yang Maha Pengampun atas segala dosa. Namun untuk dosa syirik Allah swt benar-benar murka terhadap pelakunya sampai-sampai Allah swt tidak akan memasukkan pelakunya ke Surga sampai ia benar-benar bertaubat di dunia. Allah swt telah berfirman:

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.” (Qs al-Nisa (4) : 48).

Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan[1] menyebutkan bahwa syirik merupakan dosa yang besar karena lima hal :

  1. Syirik adalah kedlalilam yang besar. Karena syirik menyerupakan antara makhluk (yang diciptakan) dengan khalik (yang menciptakan). Dan ini merupakan kedlaliman yang besar. Karena tidak mungkin khalik itu sama atau sederajat dengan makhluk.
  2. Allah swt telah mengharamkan surga bagi pelaku syirik. Allah swt berfirman :

 إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Artinya : Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Qs al-Maidah (5) : 72)

  1. Syirik dapat menyebabkan terhapusnya seluruh amalan kebaikan kita. Ini merupakan kerugian terbesar dari seorang hamba. Ketika seorang hamba yang telah bersusah payah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya hanya dikarenakan syirik maka segala pahala yang ia dapatkan menjadi lenyap. Allah berfirman :

Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah mereka kerjakan.

  1. Syirik menghalalkan darah dan harta pelakunya. Allah swt berfirman :

Artinya : Maka Bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. (Qs al-Taubah (9) : 5)

  1. Syirik merupakan dosa-dosa besar.

 

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْوَاسِطِيُّ ، عَنِ الْجُرَيْرِيِّ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

         Artinya : diceritakan oleh Ishaq, diceritakan oleh Khalid al-Wasithi, dari al-Jurairi, dari abdul al-Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya Ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda : “Apakah kalian mau aku beri tahukan apa itu dosa besar?” Kami mwnjawab : “Tentu ya Rasululllah.” Rasulullah bersabda : “menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orang tua. (HR Bukhari)[2]

Imam Ibnu Qayyim berkata : “ Sesungguhnya Allah swt telah memberitahukan kepada kita bahwa tujuan adanya penciptaan dan tujuan dari perintah adalah agar hambanya senantiasa menyembah kepada-Nya tidak menyekutukan dengan sesuatupun, berbuat adil dan agar diketahui nama dan sifat-sifat-Nya. Kemudian Allah swt juga memberitahukan bahwa telah diutus rasul-Nya dan diturunkan kitab-kitab-Nya supaya manusia senantiasa berbuat adil.[3] Dan diantara perbuatan adil yang terbesar ialah tauhid (mengesakan) kepada Allah.”

Oleh karena itu, sebagai seorang mukmin yang mencintai dan takut kepada Allah untuk senantiasa mendekatkan diri kita dengan melaksanakan apa yang telah di perintahkan kepada kita dan menjauhi apa yang telah dilarang kepada kita. Dan diantara hal yang dilarang tersebut adalah syirik. Tapi sebagai seorang hamba yang memiliki sifat salah dan lupa pasti tak luput dari perbuatan dosa. Oleh karena kita hanya mampu berdoa memohon perlindungan agat dijauhkan dan tidak melakukan perbuatan syirik.

اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك شيئاً وأنا أعلمه وأستغفرك لما لا أعلم[4]

Artinya : Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu sedangkan aku  mengetahuinya, dan aku mohon ampun kepada-Mu  dari apa-apa (dosa-dosa) yang tidak aku ketahui.


[1] Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Kitab tauhid, Samnud Mesir, Dar Ibnu Abbas, cet 2003, hlm 8-9.

[2] Sahih Bukhari, no. 5976.

[3] Yang dimaksud adil disini adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Lawan katanya adalah dlalim yang berarti tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya.

[4] Musnad Abu Ya’la, no. 60.

 

Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Metodologi Dakwah Di PUTM