Definisi Yasinan

Yasin merupakan salah satu nama surat yang terdapat di dalam al-Qur’an, tepatnya surat ke-36. Di tengah-tengah masyarakat ada satu ritual yaitu mereka berkumpul membaca surat yasin untuk keperluan tertentu seperti tahlilan, atau seseorang membacanya pada setiap malam jum’at dengan tujuan tertentu lainnya karena keyakinan tentang fadhilah-fadhilah yang terdapat di dalamnya dibandingkan surat-surat yang lainnya. Sehingga ritual tersebut dinamakan “yasinan.”

Kebanyakan masyarakat tersebut membiasakan membaca surat yasin baik pada malam jum’at, ketika mengawali atau menutup majlis ta’lim, ketika ada atau setelah kematian seseorang, dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting. Saking seringnya surat Yasin dijadikan bacaan diberbagai pertemuan dan kesempatan.

Pada umumnya, orang-orang tersebut membacanya karena mereka tergiur oleh fadhilah atau keutamaan suratYasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar atau menurut keterangan guru-guru mereka.

  1. Dalil-Dalil yang Menganjurkan Yasinan dan Fadhilah-Fadhilahnya
  • Dalil naqliy

Kebanyakan masyarakat membaca suratYasin, sebagaimana yang telah dikemukakan diatas terkait fadhilah dan ganjaran yang dijanjikan bagi orang yang membacanya sangatlah besar.

Akan tetapi, setelah dilakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah suratYasin tersebut ternyata semua haditsnya lemah, bahkan ada yang berstatus palsu, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengamalkannya.

Adapun hadits-hadits yang semuanya Dhaif (lemah) atau Maudhu’ (palsu) yang mereka jadikan dasar tentang fadhilah surat yasin, diantaranya adalah sebagai berikut:

        إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يسٍ مَنْ قَرَأَيسٍ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِه قِرَاءَةَالْقُرْآنِ عَشَرَمَرَّاتٍ

Artinya : Sesungguhnya segala sesuatu itu memiliki jantung, dan jantungnya al-Qur’an itu adalah surat Yasin. Barangsiapa yang membaca Yasin maka Allah akan mencatatkan baginya pahala membaca al-Qur’an sepuluh kali lipat.

Hadits ini di-takhrij oleh Ad-Darimi (2/456), Tirmidzi (4/46), dan Baihaqi (2223). Kemudian Tirmidzi mengomentari bahwa hadits ini adalah hadits yang Gharib yang tidak di ketahui sanadnya kecuali dari riwayat Hamid bin Abdul Rahman, dan di dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang bernama Harun atau Muhammad, dia adalah seorang guru/syaikh yang tidak dikenal (majhul). Hadits ini tidak shahih karena keadaan sanadnya yang dla’if .[1]

مَنْ قَرَأَيسٍ في لَيْلَةٍابْتِغَاءَ وَجْهَ اللهِ غُفِرَلَهُ

Artinya : Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada suatu malam karena mencari ridla Allah maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.[2] 

                               مَنْ قَرَأَ يس فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّات

Artinya : Barangsiapa yang membaca surat Yasin maka pahalanya seperti membaca al-Qur’an sepuluh kali.[3]

Hadits ini adalah hadits yang mursal[4]  dan sebagian ulama menolak hadits ini untuk berhujjah, namun sebagian ulama hadits ada yang menerimanya dengan beberapa syarat.[5]

Masih banyak hadits-hadits yang terkait dengan fadhilah keutamaan surat Yasin yang lain yang tidak kami cantumkan, yang kesemuanya berstatus Dhaif(lemah) bahkan Maudhu’ (palsu). Satupun tidak ada yang berstatus Hasan apalagi Shahih. Jadi tidak bisa diamalkan sama sekali.

Mengapa Yasinan Dilarang?

Tradisi Yasinan yang sudah lazim di masyarakat Indonesia khususnya di daerah pulau Jawa ini sudah menjadi kebiasaan yang sudah di anggap sunnah, oleh karena dalil-dalil di atas setelah di teliti tidak ada hadits satupun yang sohih maka penulis menjelaskan, yang ringkasnya :

  1. Hadits tentang yasinan semuanya tidak shohih, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Dan kita tidak boleh mengatakan bahwa hal itu bersumber dari Nabi SAW.

مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ الْنَارِ

Artinya: Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah bersiap-siap mencari tempat duduknya di neraka.

  1. Kita tidak boleh mengamalkan isinya, karena ibadah itu harus ada dalil yang shorih dan harus sesuai apa  yang di contohkan oleh Nabi
  2. Yasinan adalah bid’ah yang di anggap sunnah. Karena hal ini tidak pernah di contohkan oleh Nabi.Sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh imam ahmad dan imam muslim dari ‘Aisyah ra yang berbunyi :

 مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَليْهِ اَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ[6]

Artinya: barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan ( agama) yang tidak ada perintahku untuk melakuklannya , maka perbuatan itu tertolak.

  1. Karena Nabi SAW dan para shababat tidak pernah melakukannya, maka kita sebagai umat yang mengaku mengikuti risalahnya wajib untuk tidak mengadakan yasinan (tanpa reserve).
  2. Nabi SAW telah melarang kita mengkhususkan hari Jum’at atau malamnya untuk diisi dengan ibadah-ibadah tertentu. Rasulullah SAW bersabda :

لَاتَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الجُمْعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخْصُوا يَوْمَ الْجُمعَةِ بِصِيَامِ مِنْ بَيْنَ الْأَيَّامِ إلَّا أنْ يَكُوْنَ فِي صَوْمٍ يَصُوْمُهُ أحَدُكُمْ (رواه مسلم)

 Artinya: “ janganlah kalian mengkhususkan malam jum’at dari   malam-malam lainnya untuk shalat malam. Jangan pula kalian mengkhususkan hari jum’at dari hari-hari lainnya untuk puasa kecuali bila bertepatan dengan puasa sunnah yang biasa dia lakukan

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dan penelitian yang telah kami lakukan, maka menjadi jelas bahwa:

  1. Semua hadits tentang yasinan, setelah melewati penelitian, disamping juga berdasarkan sumber-sumber lain, tidak dapat dijadikan hujjah karena status hadits-hadits tersebut satupun tidak ada yang shahih.
  2. Berdasarkan argumen-argumen di atas, bahwa pelaksanaan ritual yasinan tidak ada dasarnya dalam agama, sehingga ritual tersebut tergolong dalam kategori bid’ah dhalâlah (sesat) yang tidak bisa diamalkan.

 

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim

Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, Tanya Jawab Agama Jilid Dua dan Empat.

Yuniardi, Harry, Santri NU Menggugat Tahlilan, Bandung: Mujahid Press, 2009

Munawwir, Ahmad Warson,  Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997

Hassan, A. Qadir,  Kata Berjawab, Solusi untuk Berbagai Permasalahan Syariah, Surabaya: Pustaka Progressif, 2007

Khalaf, Abdul Wahab, Prof. Dr.; Alih Bahasa: Prof. Drs. KH. Masdar Helmy, Ilmu Ushul Fiqih, Bandung: Gema Risalah Press, 1997

Asy-Syaukani, Fath al-Qadir al-Jami’ Baina Faniyyi ar-Riwâyah wa ad-Dirâyah fi ‘Ilmi at-Tafsîr, Lajnah at-Tahqiq al-Bahts al-‘Ilmi Bidar al-Wafa, tth.

Baihaqi, Syu’abu al-Iman, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth.

Thahan, Mahmud Dr., Taysîr Musthalah al-Hadits, Dar al-Fikr, tth.

Abu Dawud, Sunan Abu Dawud

Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari

At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi

Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4135127, 10/10/2011

 


[1]Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr al-Jami’ Baina Faniyyi ar-Riwayah wa ad-Dirayah fi ‘Ilmi at-Tafsir. Hal, 472-473 (Lajnah at-Tahqiq al-Bahts al-‘Ilmi Bidar al-Wafa, tth).

[2] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban no 2565 (Muassasah ar-Risalah, tth), Didla’ifkan Albani dalam Dla’if At-Targhib Wa At-Tarhib

[3] Baihaqi, Syu’abu al-Iman no 2232 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth).

[4] Hadits mursal adalah hadits yang gugur perawi setelah tabi’in pada akhir sanadnya. Mahmud Thahan, Taysir Musthalah al-Hadits, hal. 59 (Dar al-Fikr, tth)

[5]Lihat Taysir Musthalah al-Hadits, hal. 60 (Dar al-Fikr, tth)

[6] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, No. 75, hal. 289.