Asslamu alaikum wr wb!!!!

Sobat Tumangakasaraka yang budiman. semalaman sy di depan laptop mengerjakan tugas dari madrasah hingga kejenuhan menghinggapi. tak terasa saya membuka semua berkas-berkas laptop dan mengecek kembali file-file kuliah. Awalanya saya tdak ingin memposting artikel ini dikarenakan ini merupakan tugas kuliah beberapa thun kemarin. tp hati saya berkata lain, sehingga terbitlah artikel ini. artikel ini saya bagi ke dalam 4 bagian. jika saya posting dalam satu artikel takutnya terlalu kepanjangan. jika sobat tumangkasaraka berminat membaca silahkan klik salah satu artikel di bwah ini:

Hakekat dan karakteristik pendidikan islam

Tugas dan Fungsi pendidikan islam

Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam

Komponen dasar pendidikan Islam

1. Hakekat dan karakteristik pendidikan islam

Pendidikan Islam bertujuan untuk memberikan penyadaran kepada peserta didik akan dirinya sebagai seorang hamba (khalifah) yang mengerti akan kelebihan yang diberikan kepadanya; dengan demikian diharapakan setelah memperoleh pendidikan peserta didik sampai pada tujuan akhir dari seluruh aktifitas umat manusia yaitu takwa. Hal ini pula yang seharusnya memberi kesadaran penuh kepada peserta didik untuk mengerti apa saja yang memberinya jalan terang.

Seiring berubahnya zaman pemikiran dan orientasi manusia pun ikut berubah.[1] Dibarengi dengan tujuan-tujuan singkat keduniawian yang menganggap pendidikan sebagai sebuah investasi masa depan untuk meraih kehidupan dunia yang lebih baik, kemudian mengedepankan hasil dari pada proses panjang yang seharusnya dilalui.[2] Dengan demikian tujuan yang dicapai bukan buah instant yang hanya mampu bertahan sesaat tetapi pandangan dasar yang terbersit dalam angan manusia itu kemudian akan menggerakkan seluruh manifestasi serta gerak langkahnya.

      Pandangan tersebut tidak luput mempengaruhi pendidikan Islam, sehingga terjadi kekeliruan yang akhirnya menyebabkan seorang hamba lupa tujuan akhiratnya. Disini letak pentingnya sebuah proses dan sebuah proses itu harus dimulai dengan niat. Mengenai pentingnya niat Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel mengingatkan kembali janji manusia terhadap Allah semasa di dalam rahim ibu. Allah berfirman di dalam Al- Qur’an Surat Al-A’raf ayat 172 sebagai berikut:

Artinya:

            Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

      Ada dua hal yang penulis tekankan berkenaan ayat ini adalah pertama bahwa manusia tidak lahir “bim salabim” namun ada sebuah proses yang dilaluinya, kedua ayat ini juga memberikan peringatan kepada setiap jiwa manusia untuk meluruskan niat mengingat perjanjian yang telah di sepakati.

      Persoalan proses dengan niat ini sangat penting karena menentukan arah pencitraan diri seseorang dalam proses pendidikan, dari persoalan pemahaman yang berbeda tentang hakikat pendidikan Islam.

Islam sangat menginginkan arus hubungan antara tujuan akhir setiap individu yang menghambakan diri kepada-Nya dengan tujuan sementara berupa penghidupan yang layak dan duniawi terpelihara sehingga memberikan petunjuk dalam perjalanan (pekerjaan duniawi), kesadaran hakekat kehidupan memberikan perasaan lapang dan tidak mudah dihinggapi penat dan stress, dengan kesadaran itu pula akhirnya mengembalikan segala sesuatunya keharibaan Allah.

Ilmuan Islam sejati selalu mengedepankan tanggung jawab dirinya sebagai seorang hamba seperti keluarga dan lingkungannya, rasionalisasi antara teori keilmuan yang dipelajarinya dengan realitas masyarakat harus seiring sejalan pada yang benar. Hal ini bertujuan untuk mencapai hakekat pendidikan Islam, karena gelar keduniawian yang kita sandang hari ini belum tentu mengantarkan kita ke dalam sorga bahkan diceritakan di dalam bukunya mengenai hal tersebut:

“Dan meriwayatkan oleh setengah ulama bahwa sesungguhnya orang yang lari dari pada ahlinya itu seperti menempati hamba yang lari dari tuannya yaitu tiada diterima baginya sembahyangnya dan tiada diterima pula puasanya hingga kembali kepada ahlinya (dan) diriwayatkan oleh setengah ulama banwa sesungguhnya pertama-tama yang bergantung dengan seorang laki-laki pada hari  kiamat itu yaitu ahlinya dan anaknya maka memperbantahkan mereka itu akan dia antara hadapan Allah ta’ala maka berkata oleh segala ahlinya: hai tuhanku ambil olehmu dengan hak kami  dari pada laki-laki ini bahwa sungguhnya orang ini tiada mengajarkan akan kami akan satu hukum yang kami jahil akan dia [3]”.

Penyatuan dua unsur dasar manusia baik jasmani maupun rohani ke dalam sebuah kaidah pemikiran pendidikan Islam yang komprehensip selalu di dasarkan pada tauhid kepada Allah. Untuk melihat lebih jauh hakikat pendidikan Islam tercermin dalam perumpamaan pendidikan yang diberikan Luqman kepada anak-anaknya di dalam suratal Luqman 15-17  [4]:

 Artinya:

            Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

            (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

            Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Kisah Luqman di atas menjelaskan beberapa rumusan penting dan dominan untuk mencapai hakekat pendidikan Islam antara lain:

  1. Luqman menyampaikan prinsip tauhid dan larangan syirik kepada putra–putrinya.
  2. Luqman mengajarkan ilmu pengetahuan (hikmah) dan batasan potensi manusia untuk mengetahui sesuatu.
  3.  Luqman mengajarkan sholat untuk menumbuhkan amal shaleh.
  4. Luqman mendidik putra-putrinya akhlaqul karimah, baik pada diri sendiri, sesama manusia, alam terutama kepada Allah SWT.
  5. Luqman mendidik putra-putrinya untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar[5]

       Keseluruhan dari proses fungsi rububiyah Allah terhadap manusia, sejak dari proses penciptaan serta pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap dan berangsur-angsur sampai sempurna, sampai dengan pengarahan serta bimbingannya dalam pelaksanaan tugas kekhalifahan dengan sebaik-baiknya.[6]  Implementasi proses rububiyah tersebut tercermin dalam tingkah laku dan akhlaq yang baik pada diri manusia, sebagaimana di tulisnya:

Bahwasanya seyogyanyalah baginya bersifat dan berpakai ia dengan dia seperti adalah bahwa kelakuannya khusyu’ yakni rendah diri bagi Allah dan Mutawaddhi’ yakni merendahkan diri lagi zahid ia dari dunia, ridha hatinya dengan sedikit dari padanya, menafkahkan bagi yang yang lebih pada hajatnya dari pada barang yang ada pada tangannya lagi menasehat bagi hamba Allah takut atas ahli maksiat dari pada mereka itu, dan kasih sayang dengan mereka itu lagi menyuruh dia dengan ma’ruf mencegah ia dari pada segala mungkarat, dan bersegera ia pada kebajikan, jauh ia dari pada segala larangan-Nya, melazimkan dirinya bagi segala ibadah fardhunya dan sunnatnya, lagi banyak malu tiada menyakiti bagi orang bagi segala mukmin, benar lidahnya, sedikit perkataannya, berbuat baik bagi ibu bapaknya lagi menghubungi bagi segala kerabatnya, kasih sayang bagi segala saudara yang muslim takut akan Tuhannya, dan harap akan rahmat-Nya, dan memberi ia akan Allah, dan marah ia karena Allah, dan ridha ia karena Allah lagi kasih ia bagi Allah dan rasul-Nya dan bagi segala sahabatnya dan bagi ahli rumahnya dan kasih bagi Ulama’nya dan segala orang yang shaleh lagi baik sangka dengan Allah ta’ala dan dengan sekalian saudaranya yang mukminin.[7]

Sumber Tulisan:

[1] Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam terj. Salman Harun, (Bandung: Al Maarif, 1993), hlm. 17. selanjutnya disebut “Sistem”
[2] Dr. Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan; (Yogyakarta: Bigraf Publishing, 2001), hlm. 34-35.
[3]  Soleh Chambali, Intan…, hlm 15.
[4] Al Qur’an merupakan kerangka dasar pemikiran Islam, mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya proses pendidikan dilaksanakan yakni ketika Luqman mengajarkan pengetahuan putranya  ketika pertama kali menyampaikan prinsip tauhid dan larangan syirik, karena syirik merupakan kejahatan terbesar. Kemudian ia mengajarkan ilmu pengetahuan Islami (hikmah), dan memberikan bagas-batas potensi manusia untuk mengetahui, mengajarkan shalat menumbuhkan amal shaleh, mendidik akhlaqul karimah, baik yang berkaitan dengan Allah Swt, diri sendiri dan  sesama manusia terutama orang tua yang dituakan- maupun dengan segenap isi alam dan akhirnya mendidik putranya agar terus menerus melakukan amar makruf nahi mungkar. Lih. A.Syafi’I Ma’arif, dkk., Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hlm 56-57. Selanjutnya disebut “Cita dan Fakta”
[5] Moch Eksan, Kiai…,  hlm 30.
[6] Drs. Muhaimin, MA. Et. Al., Paradigma Pendidikan Islam Upaya mengefektifkan pendidikan agama Islam di sekolah, (Bandung: Rosda Karya, 2004), hlm. 28-29. Selanjutnya disebut “Paradigma”
[7]Ibid., hlm 90-91. 
[8] Mengajarkan kanak-kanak dengan sehingga nyata dan aku harapkan tuhan yang amat murah bahwa dijadikan dia memberi manfaat bagi segala kebanyakan orang awam al muslimin, dan ikhlas bagi wajah- Nya semata-mata. Lih. Soleh Chambali, Ta’lim…,  hlm. 3.